Pengalaman Mengambil Sertifikasi PMP

Saya baru saja lulus ujian PMP. Istilah kerennya Pass on the first try. Rasanya tuh lega bangeeet. Perjuangan selama 1 tahun mulai dari belajar PMBOK dan Exam Preparation setiap hari, training, sampai persiapan ujian, semuanya terbayar sudah. Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman mengambil sertifikasi PMP.

PMP Examination Report

Keinginan untuk mengambil sertifikasi PMP sudah ada sejak saya mengikuti Project Management Seminar yang diadakan oleh Project Management Institute Indonesia Chapter pada Februari 2015. Awalnya agak minder karena isinya orang-orang yang sudah berpengalaman di Project Management dan kebanyakan sudah mendapatkan PMP. Pulang dari situ, saya mendapatkan semangat yang luar biasa, apalagi ditambah teman kantor saya, Bagus, yang lebih dahulu mendapatkan PMP meminjamkan saya buku PMBOK. Karena kesibukan project yang luar biasa, akhirnya keinginan itu lama kelamaan mulai menghilang.

Barulah di bulan Juni 2016, ketika saya mendapatkan nominasi untuk mengikuti Project Management Training yang diadakan oleh kantor, keinginan itu muncul kembali. Kebetulan kantor memiliki PMP Track Program selama 2 tahun dengan membagi materi PMBOK ke dalam Training Class dan Web Based Training. Bagi saya ini adalah fasilitas yang berharga bagi Project Manager. Tapi sayangya, PMP Track ini memakan waktu yang sangat lama. Mulai saat itu saya memutuskan untuk membuat Project sendiri, PMP. Karena ini project pribadi, jadi semua biaya yang saya keluarkan untuk training, buku dan ujian adalah uang saya pribadi. Rasanya tuhhh… sedih kalo liat rekening.. Hahahaha

Sebagai persiapan awal adalah mengetahui apa itu PMBOK. PMBOK saya download secara gratis karena PMI Member. Kemudian saya membeli buku PMP Exam Preparation karya Rita Mulcahy di Book Depository seharga $80. Dari sini saya mulai set waktu selama 6 bulan untuk Self-Study sampai benar-benar siap menghadapi Class Room Training.

Desember 2016 saya mulai mencari informasi mengenai tempat training persiapan PMP dan coba membandingkannya, mulai dari lokasi training, trainer, materi, dukungan belajar setelah training, dan harga. Setelah memilah, akhirnya saya memilih salah satu Registered Education Provider (REP) di daerah Kuningan. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat bekerja. Sayangnya jadwal di bulan Desember 2016 hingga Januari 2017 sudah terisi. Saya harus rela menunggu selama 2 bulan untuk mendapatkan jadwal di Februari 2017.

Training selama 5 hari membedah habis 10 Knowledge Area. Saya mendapatkan PMP Exam Preparation Guide Book, materi presentasi dalam bentuk buku, dan Quick Reference. Banyak hal yang tidak saya dapatkan ketika Self-Study selama 6 bulan, mulai dari diskusi mengenai Project Management yang baik dan benar menurut PMI, cara-cara belajar yang efektif untuk memahami PMBOK, pembahasan yang detail dari latihan-latihan soal, dan juga akses PMP Exam Simulation di PMStudy selama 2 bulan. Ada enaknya juga sudah mempelajari PMBOK dan PMP Exam Preparation sebelumnya. Saya tidak perlu berpikir keras untuk mencerna seluruh materi training.

 

Apa itu PMP

Berdasarkan dari website Project Management Institute (PMI), PMP adalah:

The Project Management Professional (PMP)® is the most important industry-recognized certification for project managers.

You can find PMPs leading projects in nearly every country and, unlike other certifications that focus on a particular geography or domain, the PMP® is truly global. As a PMP, you can work in virtually any industry, with any methodology and in any location

Untuk bisa mengikuti ujian PMP, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

  1. Persyaratan Pengalaman: Minimal harus memiliki 4500 jam pengalaman di Project Management untuk S1, dan 7500 jam pengalaman untuk D3.
  2. Persyaratan Pendidikan: Harus memiliki 35 jam pendidikan di Project Management. Untuk mendapatkan syarat ini, bisa mengikuti Training PMP yang diadakan oleh lembaga-lembaga training sertifikasi (classroom) atau melalui internet/ online.

 

Selanjutnya mendaftarkan diri di website PMI.

  1. Mengisi formulir aplikasi di website PMI. Anda diharuskan untuk mengisi pengalaman Project Management.
  2. Membayar biaya ujian sebesar $405 untuk PMI member dan $555 untuk non-PMI member.
  3. Menerima informasi dari PMI apakah aplikasi kita perlu di audit atau tidak. Jika Anda gagal dalam proses Audit, semua biaya ujian akan dikembalikan.
  4. Mendapatkan PMI Eligibility ID yang berlaku selama 1 tahun.
  5. Menentukan jadwal ujian di website prometric. Anda akan mendapatkan “Appointment Confirmation”.
  6. Pass the exam! Jika gagal dalam ujian, masih diberikan kesempatan untuk mengulang sebanyak dua kali dengan biaya ujian sebesar $275 untuk PMI member dan $375 untuk non-PMI member.

PMP Eligibility by www.whizlabs.com

 

Materi apa saja yang perlu disiapkan?

  • PMBOK: PMBOK adalah standar baku untuk Project Management. Walaupun sebuah standar, belajar dengan hanya mengandalkan PMBOK akan sulit dalam menghadapi ujian PMP. Selain bahasanya yang cenderung kaku dan sulit untuk dipahami, juga banyak materi-materi ujian yang tidak secara eksplisit dijelaskan di PMBOK. Saran saya, bacalah keseluruhan PMBOK untuk mengetahui alur proses dari masing-masing Knowledge Area.

PMBOK Guide

  • PMP Exam Preparation: Saya membeli bukunya Rita Mulcahy di Book Depository seharga $80. Ini adalah buku kedua saya setelah PMBOK. Bukunya sangat mudah dicerna karena berisi penjelasan dengan gaya storytelling dan mampu menjembatani “gap“ antara pengetahuan Project Management yang saya dapat selama ini dengan standar PMI, istilahnya “PMI’ism”. Buku ini memaksa saya untuk mengosongkan pengetahuan yang salah selama ini dan mengisinya dengan PMI’ism. Di akhir masing-masing knowledge area terdapat latihan soal. Bisa dibilang ini adalah “My Bibel“ selama menyiapkan ujian PMP. Strategi belajar saya adalah 1 Knowledge Area per hari dan diakhiri dengan simulasi PM FASTrack. Saya lakukan berulang-ulang selama 4 bulan persiapan.

Rita Mulcahy’s PMP Exam Prep

  • PM FASTrack PMP v8: Ini adalah PMP Exam Simulation Software. Tadinya saya berniat untuk membeli software ini, tetapi teman yang sudah mendapatkan PMP lebih dulu memberikannya ke saya. Isinya adalah latihan soal berdasarkan 5 Project Management Process, 10 Knowledge Area, dan simulasi 200 soal PMP. Masing-masing Knowledge Area terdapat 130-200 soal. Jadi, latihan soalnya lebih banyak dibandingkan dengan buku PMP Exam Preparation. Saya melakukan simulasi PMP Exam setiap 2 minggu sekali selama 4 bulan persiapan.

PMP FASTrack

  • Quick Reference: Isinya berupa ringkasan ITTO dan beberapa catatan penting 10 Knowledge Area sebanyak 8 halaman ukuran A4. Quick Reference saya dapat dari kelas persiapan PMP. Quick Reference sangat praktis untuk dibawa berpergian. Selalu saya baca ketika berada di Transjakarta ataupun di Ojek Online.

PMP Quick Reference

  • PMP Training Module: Isinya berupa slide presentasi pada saat Classroom. Berguna untuk mengingat seluruh materi pada saat Classroom. Berbentuk buku dengan ukuran A4. Sangat praktis untuk dibawa berpergian.

 

Perlukah menghapal 47 Process & ITTO?

PMBOK memiliki 47 proses dan masing-masing proses memiliki Input, Tools & Technique, and Output (ITTO). Bagi saya yang sulit menghapal adalah pekerjaan berat untuk menghapal keseluruhan ITTO. Yang saya lakukan adalah memahami proses dari masing-masing Knowledge Area. Bagaimana mereka bekerja, berhubungan antara satu proses dengan proses yang lain. Sedangkan untuk 47 process, wajib hukumnya untuk dihapal.

Project Management Process Groups

 

Exam Simulation dengan Mock Exam

Mock exam merupakan simulasi yang sangat penting untuk melihat sejauh mana hasil yang kita dapat ketika ujian. Banyak mock exam yang disediakan secara gratis di internet. Dengan semakin sering dan banyak melatih soal-soal, tingkat kepercayaan diri pun akan semakin meningkat. Tidak hanya soal dan jawaban, mock exam juga memberikan penjelasan terhadap jawaban yang benar dari sisi PMBOK atau PMI’ism. Berikut adalah beberapa mock exam yang saya ikuti:

  1. Simplilearn Free PMP Mock Exam
  2. Free PMP Exam Simulator
  3. PMStudy
  4. PM FASTrack PMP

Umumnya orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian PMP akan menyarankan untuk mendapatkan hasil di atas 80% untuk benar-benar siap menghadapi real exam. Ada juga yang percaya diri di atas 70%. Ini juga tergantung seberapa tinggi standar yang ingin anda tentukan dan hasilkan pada saat ujian. Saya sendiri mendapatkan hasil diantara 70% – 82%.

 

Apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi ujian?

  1. Setelah anda mendaftarkan jadwal ujian ke PMI (dalam hal ini prometric sebagai lembaga resmi yang menyediakan ujian PMP), anda akan mendapatkan “Appointment Confirmation“ yang dikirimkan ke email. Saya sendiri memilih jadwal pada hari Senin. Jadwal ujian di Pukul 08.00 s.d Pukul 12.00.
  2. 2 hari menjelang ujian, prometric akan menghubungi anda untuk memastikan kedatangan anda pada saat ujian. Prometric akan mengingatkan anda untuk membawa ID Card yang berlaku dan juga hadir 30 menit sebelum ujian.
  3. 1 hari menjelang ujian, usahakan untuk tidak belajar sama sekali. Setelah seminggu semakin intens mempersiapkan ujian, saya pikir perlu satu hari untuk menenangkan pikiran sejenak. Walaupun Quick Reference tetap saya bawa. Hahaha.
  4. Pada saat ujian:
    • Anda akan diberikan peraturan untuk dibaca terlebih dahulu sebelum memasuki ruang ujian.
    • Anda akan diperiksa secara detail mulai dari atas sampai bawah, pakaian, celana, kacamata, sepatu. Tas dan jam tangan disimpan di dalam loker.
    • Anda tidak diperkenankan membawa apapun ke dalam ruang ujian. Pengawas akan memberikan 2 lembar kertas kosong dan 2 pensil, dan anda tidak diijinkan untuk membuat brain dump (hapalan cepat) sebelum ujian dimulai.
    • Di ruang ujian terdapat headset yang bisa anda pakai jika anda merasa terganggu dengan suara di sekitar anda.
  5. Selama ujian, saya kerahkan seluruh kemampuan dan pikiran. Fokus dan atur strategi dalam menghadapi 200 soal. Di awal ujian, saya sudah menyiapkan strategi dengan menjawab 100 soal, kemudian istirahat, dan melanjutkan kembali 100 soal. Tapi karena melihat tingkat kesulitan soal-soal akhirnya saya memutuskan untuk membabat habis 200 soal sekaligus.

Walaupun ujian di prometric di mulai pukul 08.00. Anda diperbolehkan untuk mengikuti ujian paling lambat 08.30. Itu pun harus menelepon terlebih dahulu ke prometric.

 

Senin pagi, saya berangkat pukul 06.30 dari halte Transjakarta Jatipadang Pasar Minggu. Dengan harapan saya sampai di Menara Imperium Pukul 07.30. Tapi tak disangka, macet sudah dimulai dari Warung Jati, dan sempat mengalami 2 kali “lock” di perempatan setelah Halte Warung Jati dan Imigrasi. Pukul 07.45 bus saya sampai di Halte Mampang Prapatan, dan kondisi jalan berhenti sama sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk turun dan berlari ke luar Halte mencari tukang ojek. Belum sempat menanyakan tarif, saya meminta bapak ojek untuk segera mengantarkan saya ke Menara Imperium, “Ngebut ya pak!”. Bapak ojek dengan gesitnya melintasi jalanan macet, meliuk liuk di antara mobil-mobil.

 

Dengan perasaan panik, saya beberapa kali melihat jam tangan, sambil terus berusaha menenangkan diri. Sampai Menara Imperium Pukul 08.15, dan sampai di prometric Pukul 08.17. Beruntung saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian.

Selama persiapan 3 bulan, setiap sampai kantor, saya selalu mengambil kertas kosong dan membuat tabel 47 proses dan membuat brain dump (terutama untuk rumus-rumus) untuk menghitung berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk membuat tabel dan brain dump tersebut. Pada saat ujian, saya tidak membuat tabel dan brain dump apapun. Hanya seperempat bagian kertas yang saya corat coret, berisi proses Plan Scope Management process, perhitungan EAC dan Network Diagram.

Begitu juga dengan strategi menjawab 200 soal. Selama mock exam, saya selalu membagi 3 bagian: menjawab 100 soal, istirahat 10 menit, dan lanjut 100 soal berikutnya. Pada saat ujian, saya membabat habis 200 soal non stop dan menyisakan waktu 20 menit untuk mereview kembali jawaban yang saya Marking.

Satu menit sebelum waktu habis, saya klik tombol End Exam dan masuk ke dalam Questionnaire mengenai prometric. Semakin mendekati pertanyaan terakhir, degup jantung semakin cepat dan akhirnya tiba di tombol terakhir. Congratulation flashed on my screen. Setelah keluar ruangan, pengawas prometric langsung mencetak hasil ujian kepada saya. Wow, ternyata langsung dicetak! Finally, after 5 months of preparation, I passed the PMP!

Butuh waktu 1 hari untuk melihat nama kita ada di PMI Online Credential Registry setelah lulus ujian PMP

 

Persiapan apa yang cocok untuk saya?

Bagi Project Manager yang akan mengambil ujian PMP, persiapan adalah hal yang paling sering ditanyakan. Menurut saya, tidak ada persiapan baku yang benar-benar sempurna dan cocok untuk semua orang. Setiap orang memiliki pengalaman project yang berbeda, kekuatan menghapal dan memahami materi yang berbeda, waktu dan lokasi belajar tentunya akan menentukan gaya pembelajaran dan kesiapan seseorang dalam meghadapi ujian PMP.

Berdasarkan pengalaman rekan-rekan saya yang telah mengikuti Class Room Training, waktu kritis persiapan ujian PMP adalah 3 sampai dengan 5 bulan. Lebih dari itu biasanya orang akan lupa dengan materi yang diajarkan trainer, kurangnya motivasi, tidak konsisten dalam menyiapkan waktu belajar, dan akhirnya akan kehilangan semangat untuk menghadapi ujian.

PMP Timeline. KA: Knowledge Area. ME: Mock Exam. Setelah Class Room di Februari 2017, saya membutuhkan waktu 4 bulan sampai dengan Juni 2017

 

Lulus di ujian PMP tidak menjadikan seseorang Project Manager yang hebat. Tetapi, ketika memutuskan untuk mengambil sertifikasi PMP, ujungnya adalah ujian, dan proses panjang ini harus dihadapi dengan penuh semangat.

Dibandingkan dengan ujian sertifikasi CCNA 10 tahun yang lalu (yang ilmunya gak kepake karena gak pernah jadi Network Engineer), menurut saya PMP lebih susah.

Wish you PMP success!

Leave a Reply