Singapore City Explore

Ini adalah kali pertama saya mengunjungi negara Singapura. Awalnya karena diajak oleh sahabat yang baru saja menetap disana untuk bekerja, selain itu juga karena cuti kantor yang masih tersisa 7 hari. Cuti akhir tahun yang biasa saya ambil menjelang natal hingga tahun baru sengaja tidak saya ambil. Rencana akan saya gunakan di liburan imlek selama 2 hari (20 dan 24 Januari) dan sisa 5 hari akan saya gunakan untuk traveling berikutnya. Ahh.. emang paling enak deh kalo punya cuti tidak hangus di tahun baru.

Persiapan

Persiapan pertama adalah akomodasi, baik tiket pesawat maupun penginapan. Karena disana saya menginap di apartemen teman, jadi biaya penginapan bisa saya skip.. yeaay. Setelah membandingkan harga Air Asia (1,1 juta), Lion Air (1,2 juta) dan Garuda Indonesia (1,3 juta), akhirnya pilihan jatuh ke.. hmm.. saya kira anda sudah bisa menebak maskapai mana yang akan saya pilih. Hahaha…

Persiapan berikutnya adalah mata uang. Saya terlalu mengganggap remeh untuk hal yang satu ini. Seringnya saya melihat 2 money changer di lobby kantor, membuat saya berpikiran “nanti aja deh, besok juga masih ada waktu” setiap ada kesempatan untuk menukar mata uang. Hasilnya, satu hari menjelang keberangkatan 2 money changer itu kehabisan stok Singapore Dollar dan waktu menunjukkan jam 5 sore. Selesai jam kantor, saya langsung menuju Mall Ambassador dan mendapatkan S$300. Semoga cukup untuk 5 hari.

 

Keberangkatan/ Hari 1

Jam 10 pagi saya sudah berada di halte Damri depan terminal Blok M. Cuaca pagi itu sangat cerah dan jalanan cukup lengang. Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta Terminal 2E ditempuh dalam waktu 45 menit. Waktu luang di bandara saya sempatkan untuk mengecek beberapa email dan kerjaan kantor. Ketika check-in, saya hanya menunjukkan passport kepada petugas dan tiket langsung dicetak. Tidak ada lagi pertanyaan mengenai booking code dan tiket dicetak sangat minimalis.

Garuda Indonesia Terminal 2E

Akhirnya, saya bisa juga merasakan maskapai kebanggaan bangsa ini. Haha.. lebay dikit boleh dong yah. Sampai teman-teman kantor tidak ada yang mau menyebut saya backpacker. Mereka bilang, saya lebih cocok jadi turis ketimbang backpacker. “Backpacker mana ada yang naik Garuda Indonesia”. Hahaha… Yah, buat sebagian orang merasa bahwa terbang dengan Garuda Indonesia adalah sesuatu hal yang mewah dan tidak terjangkau, apalagi untuk backpacker. Kalo kita jeli, terkadang harga tiket Garuda Indonesia tidak terpaut jauh dengan maskapai lainnya.

Makan siang dan minuman yang bisa kita pilih sendiri, in-flight entertainment dan pramugrari yang ramah.  Baru kali itu seorang pramugari menyapa dan memanggil nama saya dengan ramah, hanya untuk meyakinkan apakah saya memesan makan siang khusus atau tidak. Absolutely.. Garuda Indonesia Experience.

 

Changi Airport

Wah, kalo udah di Changi Airport, bandara tercinta Soekarno Hatta berasa gak ada apa-apanya. Bandara yang pernah menyandang “The Best Airport In The World” ini benar-benar mewah dan memanjakan pengunjung.

Changi Airport

Di Terminal 3, semua tersaji dengan lengkap, mulai dari restoran, lounge, coffee shop, boutiqe, business center, duty free, free internet access, quite room hingga kamar mandi pun tersedia. Untuk berpindah antar terminal, Changi memiliki fasilitas transportasi yang dinamakan Skytrain. Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum, bandara sebegitu luasnya… karpet semua!!

Suasana di Changi Airport

Kekaguman saya pada bandara Changi hampir melupakan saya untuk menghubungi Indra, sahabat saya, yang sudah menunggu di foodcourt, tepat di bawah bandara.  Ehh.. ternyata ada Indri, adiknya Indra, yang sedang liburan selama 3 minggu. Sambil ngobrol kami bertiga makan malam di pastamania yang merenggut S$9 pertama saya.

Suasana di Changi Airport

Untuk komunikasi, kebetulan operator yang saya gunakan memberikan gratis roaming selama 3 hari untuk pelanggan BB full service. Tapi…tapi… kenapa BBM tidak online di BB saya?!!! Kekesalan ini memaksa saya membeli Starhub Prepaid seharga S$15.

 

MRT

Salah satu transportasi utama di Singapura adalah Mass Rapid Trans (MRT). Dengan MRT, kita bisa mengelilingi negara yang luasnya sedikit lebih besar dari Jakarta ini, dimana jaringannya menjangkau hampir seluruh Singapura, dari Utara ke Selatan dan dari Timur ke Barat. Kita tidak akan kesulitan untuk mencapai tempat dimanapun, sebab Singapura memiliki sistem transportasi publik yang terintegraasi. Jadi tidak mungkin kalau ada orang nyasar di Singapura. Hahaha…

Mass Rapid Transit

Indra menyarankan saya untuk membeli EZ-link, prepaid card seperti BCA Flazz yang akan terdebet automatis setiap kali menggunakan MRT atau Bus. Harganya S$12 yang dapat dibeli di setiap loket stasiun. S$5 untuk harga kartu dan S$7 untuk deposit.

MRT Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu tranportasi massal terbaik. Keamanan, kenyamanan, kebersihan dan juga panduan bagi pengunjung patut diacungi jempol. Kata Indra, kebetulan hari ini adalah hari libur sebelum tahun baru Sincia, jadi MRT agak kosong dan tidak padat seperti hari kerja. Stasiun MRT di Singapura umumnya  menyatu dengan pusat-pusat perbelanjaan dan terintegrasi dengan Bus yang sama-sama menggunakan EZ-link.

Mass Rapid Transit

Indra mengajak saya ke City Hall terlebih dahulu sebelum kami pulang menuju apartemen yang terletak di Telok Blangah Way. Disini kami berjalan hingga Esplanade dan beristirahat di pinggiran sungai sambil memandangi indahnya gedung-gedung pencakar langit di malam hari. Di sebelah kiri tampak Marina Bay Sands dan di sebelah kanan tampak dari kejauhan, ikon negara Singapura, Merlion. City Hall menjadi tempat pertama yang saya kunjungi di Singapura.

Night Cityscape


Apartemen

Betapa beruntungnya saya, jalan-jalan ke Singapura tidak perlu lagi memusingkan biaya pengingapan. Ada benarnya juga kata teman, jalan-jalan kali ini saya tidak pantas disebut Backpacker ataupun Flashpacker. Lebih tepatnya… Turis! Hahaha…

Apartemen Indra terletak di Telok Blangah Way, cukup besar dengan 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Saya mencoba mencari-cari dimana tempat untuk menjemur pakaian karena semua apartemen tidak ada satu pun yang memiliki teras atau balkon. Setelah saya melongok ke luar jendela, barulah saya menemukan jawabannya. Ternyata masing-masing apartemen disediakan 3 sampai 4 lubang di sisi luar jendela, yang nantinya lubang-lubang itu bisa dimasukkan bambu yang cukup panjang. Masing-masing bambu cukup untuk 4 sampai 5 potong pakaian. Jemuran yang unik dan kreatif.

Apartemen di Telok Blangah

Walaupun di kawasan ini banyak sekali blok apartemen, tetapi ruang terbuka hijau tetap diperhatikan dengan baik dan kondisinya sangat terawat. Tamannya terlihat asri. Areal parkir pun tidak terlalu luas dan tertata dengan rapih. Sangat kontras dengan kondisi kebanyakan apartemen di Indonesia. Jangankan ruang terbuka hijau, areal parkir sepertinya tidak mampu menampung semua penghuni. Hihihi…

 

Hari 2

Pagi ini kami berencana sarapan di jembatan Henderson Wave. Sarapan yang kami bawa berupa roti Prata yang berasal dari India dengan isi sayuran, telur dan daging. Ditambah dengan siomay cepat saji yang sudah kami masak terlebih dahulu.

Untuk menuju ke Henderson Wave, kami harus menyusuri Mount Faber Park terlebih dahulu dengan menapaki undakan anak tangga yang sepertinya tidak ada habisnya. Mount Faber merupakan bukit tertinggi yang ada di Singapura. Di Mount Faber terdapat Singapore Cable Car atau biasa yang kita kenal dengan kereta gantung. Ya.. kurang lebih mirip dengan kereta gantung yang ada di taman mini atau di ancol.

Mount Faber

Dengan kereta gantung ini kita bisa melihat pemandangan kota, pelabuhan, Sentosa Island dan juga pulau Batam. Untuk tiketnya sendiri sebesar S$24 untuk sekali jalan dan S$26 untuk bolak balik ke Mount Faber. Disini juga terdapat teropong yang terletak di Mount Faber Loop untuk melihat selatan Singapura. Jangan lupa siapkan koin untuk menggunakan teropong tersebut.

Mount Faber Park

Henderson Wave merupakan jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapura. Tingginya 36 meter dari permukaan jalan dan panjangnya 300 meter. Jembatan ini menghubungkan taman di Mount Faber dan Telok Blangah Hill. Disebut wave karena desainnya yang unik, mirip dengan bentuk gelombang.

Henderson Wave

Dengan napas yang terengah-engah, akhirnya kami sampai juga diujung jembatan. Cukup banyak pengunjung yang berada di Henderson Wave, ada yang jogging, ada juga yang duduk sambil makan-makan (waah.. samaan nih) dan beberapa turis yang sedang asik berfoto. Kebersihannya sangat terjaga, tidak ada sampah sedikitpun dan keamanannya juga mantap. Setiap masing-masing lengkungan/ tempat duduk terpasang CCTV dan pagarnya pun cukup tinggi, sehingga aman untuk anak-anak. Material jembatannya itu lhooo… kayu semua. Walaupun terbuat dari kayu, saya tidak mendengar bunyi decitan atau suara “ngeekk.. ngeekk” sedikitpun. Kuereenn banget deh. Kapan yah negara Indonesia bisa bikin jembatan sekeren itu. Hahaha…

Bersantai di Henderson Wave

Perut kenyang ditambah semilir angin hutan yang sejuk membuat saya sedikit agak mengantuk dan malas untuk kembali ke apartemen. Di tengah perjalanan Indra menanyakan itinerary/ rencana perjalanan saya selama di Singapura. Bingung juga jawabnya, karena saya hanya mencatat semua Place of Interest yang saya dapat dari internet. Mengenai harus kemana terlebih dahulu, saya benar-benar tidak tahu. Iwan melemparkan ide ke saya “Bagaimana kalo kita ke Bugis Street dan Mustafa Centre, gw mo beli oleh-oleh buat keluarga gw di Jakarta, selebihnya nanti kita bisa jalan-jalan ke tempat lain”. Ah… good idea, Iwan!

Kali ini hanya saya, Iwan dan Indri yang pergi ke Bugis. Untuk menuju ke sana, kami harus menuju ke Tiong Bahru Plaza terlebih dahulu menggunakan bus. “Tut..” terdengar suara EZ-link yang saya tap di mesin pencatat automatis ketika saya masuk ke dalam bus. Sebelum turun dari bus, saya harus menge”tap” lagi ke mesin tersebut. Di mesin tersebut akan terlihat berapa tarif dari Telok Blangah hingga Tiong Bahru dan sisa saldo yang saya miliki. Benar-benar “Kondektur-less” Hihihi…

MRT Bus

Bugis Street merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal selain Orchard. Letaknya berada di antara Victoria, Queen dan Rocchor Street. Dulunya, sekitar tahun 1950-an, kawasan ini adalah pasar malam yang menawarkan pilihan berbagai jenis pakaian dan jajanan murah. Sebelum masuk ke dalam, saya sudah disapa oleh kanopi besar yang bertuliskan “Bugis Street: the Largest Street Shopping Location in Singapore”. Wedew!! Kawasan Bugis lebih mirip seperti Tanah Abang, Mangga Dua ataupun Blok M. Barang dagangan yang ditawarkan berupa souvenir seperti gantungan kunci dan boneka mungil hasil kerajinan tangan, t-shirt yang bertuliskan khas Singapura, jam tangan serta pakaian. Beberapa kali saya mendengar celotehan orang Indonesia di Bugis. Wow, banyak juga orang Indonesia dimari. Hasil muter-muter di Bugis, saya membeli 3 kaos seharga S$10 dan gantungan kunci sebanyak 15 buah seharga S$10. Selain Bugis Street, juga terdapat pusat perbelanjaan modern Bugis Junction.

Bugis Street

Dari Bugis, kami langsung menuju Mustafa Centre. Tidak jauh berbeda dengan Bugis, di Mustafa Centre adalah surganya belanja. Supermarketnya guede bangeeed. Lokasinya berada di Syed Ali Road di kawasan Little India. Mustafa Centre adalah satu-satunya tempat belanja di Singapura yang buka 24 jam. Kalau mau berburu oleh-oleh coklat atau cemilan, disinilah tempatnya. Semua cokelat dan makanan tumplek blek jadi satu. Saya, Iwan dan Indri mulai berpencar dan sibuk sendiri-sendiri. Saking banyaknya coklat dan harga yang beragam, Indri mulai kebingungan. Iwan mulai mengambil beberapa bungkus coklat kesukaan untuk keluarga. Sedangkan saya mengambil 1 bungkus besar dan 1 bungkus kecil cokelat Herseys, ditambah 2 kacang campur ukuran besar. Total S$30.

Mustafa Centre

Mendung hitam sudah bergelayut di atas kepala ketika kami keluar dari Mustafa Centre. Kami bertiga mulai melapar. Iwan mengajak kami untuk makan Nasi Briyani yang lokasinya tidak jauh dari Serangoon Plaza. Woow.. 1 porsi Nasi Briyani memang luar biasa. Nasi yang dicampur dengan Ayam Kari ini memang lebih cocok untuk 3 orang. Hahaha.. harganya pun sangat murah, cukup S$3 saja.

Nasi Briyani

Kami tidak berhenti sampai disini untuk berburu oleh-oleh. Tujuan berikutnya adalah Chinatown. Di kawasan ini semuanya serba merah dengan pernak-pernik khas China. Semua jalan disini disulap menjadi lapak-lapak kecil yang menjual souvenir, cinderamata dan perlengkapan imlek. Saya tiba-tiba melihat sebuah souvenir gantungan kunci dengan tulisan “30 for $10”. Hahh… ternyata disini lebih murah dibandingkan dengan di Bugis! Penjual di Chinatown rata-rata fasih berbahasa Indonesia. Berasa di Glodok atau Pasar Pagi Mangga Dua. Hahaha…

Chinatown

Di tengah hiruk pikuk Chinatown, Indra menghubungi kami dan berencana ke Sentosa Island untuk menonton pertunjukkan Songs of the Sea. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 5.30 sore, sedangkan pertunjukan dimulai jam 8.40. Saat itu juga kami bergegas ke sana. Untuk menuju Sentosa, kami harus terlebih dahulu ke Vivo City. Hmm… saya mencoba mengingat-ingat.. “Sepertinya ada National Geographic disini”. “Iyah, ada di Lantai 2” sahut Indri. Cool… semuanya serba National Geographic, mulai dari tas, sepatu, kaos, celana, kemeja sampai majalah. Tapi..  harganya benar-benar membuat saya galau… satu kaos dihargai S$50.

Tiket pertunjukkan Song of the Sea di Sentosa Island dapat dibeli di Vivo City seharga S$10. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan Sentosa Express dan turun di Beach Station. Karena waktu pertunjukkan masih lama, perjalanan kami teruskan hingga Waterfront Station. Disini kami manfaatkan untuk berfoto-foto di depan halaman Universal Studio.

Sentosa Island

Songs of the Sea adalah atraksi pantai yang merupakan gabungan antara pertunjukan musik, permainan air dan cahaya laser yang spektakuler serta kembang api yang memukau. Benar-benar canggih! Pertunjukan ini bercerita tentang seorang pemuda bersuara merdu bernama Li. Bersama teman-temannya, mereka bernyanyi dalam usaha untuk membangunkan Putri Ami yang terkena kutukan. Maskot Songs of the Sea adalah seekor ikan yang bernama Oscar.

Songa of the Sea

Kalau di Indonesia, mungkin lebih mirip dengan air mancur yang ada Grand Indonesia. Hanya saja Songs of the Sea ada alur ceritanya. Saya mencoba membayangkan, seandainya di Indonesia ada pertunjukkan serupa di sekitar Monas atau Bundaran HI. Pasti seru abis dan tentunya… gratis!

Luar biasa hari ini, dari pagi sampai malam, tidak ada istirahat sedikitpun. Kaki berasa mau copot dan badan serasa remuk redam. Pertunjukan Songs of the Sea menutup perjalanan saya di hari pertama. Piuuuuhhh…

 

Hari 3

Lelahnya jalan-jalan kemarin, membuat saya bangun agak siang hari ini. Sambil berleha-leha di atas tempat tidur, saya ambil tablet dan menandai beberapa tempat yang sudah saya kunjungi kemarin.

Pada awalanya saya mencoba membuat itinerary sebaik mungkin, tetapi semuanya menjadi tidak berguna sama sekali. Sekarang saya hanya memperhatikan, tempat mana yang sudah dan yang belum saya kunjungi. Menurut saya itu lebih baik dengan 5 hari yang saya miliki.

Selesai makan siang, saya dan Indra segera menuju Clarke Quay menggunakan Bus. Letaknya berada di pinggir sungai Singapura atau biasa disebut dengan Riverside. Dari Riverside point, saya menyeberang sungai menuju Roberton Quey, Liang Court dan beristirahat sejenak di Clarke Quay.

Clarke Quay

Tampak River Cruise atau River Boat Tours berjejer rapih menunggu penumpang. Dengan River Cruise kita bisa melihat banyak Place of Interest sekaligus dengan melintasi sungai Singapura, dari Riverview hingga Singapore Flyer. Saya dan Indra tidak jauh berbeda dengan kebanyakan wisatawan yang ada di perahu tersebut, hanya saja kami berjalan kaki. Hahaha…

Clarke Quay

Dari Clarke Quay, perjalanan saya lanjutkan hingga ketemu perempatan Hill Street dan River Valley Road. Menyeberang North Bridge Road, saya bertemu gedung Parliament House. Salah satu lanskap kota Singapura yang tidak boleh anda lewatkan. Saya kembali menyeberang menuju Boat Quay dan masuk ke jalan kecil dimana kanan dan kiri saya banyak sekali rumah makan dengan pemandangan sungai Singapura.

Parliament House & Boat Quay

Di pinggiran sungai, saya menemukan patung People of The River yang bercerita mengenai anak laki-laki berjumlah 5 orang dengan telanjang meloncat untuk berenang di sungai.

The Fullerton & People of The River

Setelah puas mengambil gambar, saya lanjutkan kembali menuju The Fullerton Singapore dan akhirnya berhenti di Merlion. Merlion menjadi salah satu titik destinasi favorit para wisatawan. Lokasi ini mampu membingkai lanskap cantik di sekitarnya, seperti Esplanade dan Marina Bay Sands, entah itu siang ataupun malam hari. Saat itu banyak sekali wisatawan yang berburu foto dengan latar belakang Merlion. Saya dan Indra harus bersabar dan sigap untuk mendapatkan gambar terbaik. Alih-alih menunggu wisatawan selesai berfoto, saya dan Indra malah diminta untuk mengambil gambar mereka. Hahaha…

Merlion

Panas yang cukup terik tidak menghalangi niat saya menyusuri sungai yang indah ini. Setelah menyebrangi Esplanade Bridge, saya beristirahat sejenak di Esplande. Cesss… adem. Makan siang sebentar di Thai Express, lalu melanjutkan jalan kaki hingga Singapore Flyer, melintasi jembatan The Helix yang unik, masuk ke Art Science Museum dan berakhir di Marina Bay Sands.

The Helix

Sayang sekali, ketika kami mengunjungi Singapore Flyer, wahana ini sedang ditutup karena cuaca buruk. Huhuhu… gagal deh melihat Singapura dari ketinggian.

Singapore Flyer and Museum

Kemarin malam, Indra bercerita mengenai mal Lucky Plaza yang berada di Orchard. Di mal itu banyak sekali orang-orang Indonesia dan ada beberapa tempat yang menjual makanan Indonesia. Dengan kaki yang masih agak pegal, saya pun mengiyakan ajakan Indra untuk makan malam disana. Sekilas Lucky Plaza tidak jauh berbeda dengan ITC-ITC yang ada di Jakarta dan ternyata benar… banyak juga orang Indonesia disini. Apalagi ketika saya menuju ke lantai 2, suara riuh dengan bahasa yang saya kenal semakin jelas.

Orchard Road di Malam Hari

Kami berhenti di salah satu tempat makan yang bernama Resto Surabaya. Wow.. restoran ini penuh sekali dan tentu saja isinya orang Indonesia semua. Resto Surabaya dan Indo Kitchen merupakan tempat makan yang wajib anda kunjungi jika anda berkunjung ke Lucky Plaza.

Lucky Plaza – Ayam Penyet Resto Surabaya

 

Hari 4

Entah kapan hujan mulai membasahi bumi. Suara rintik hujan makin lama semakin jelas, membuat saya terjaga. Ah… bangun siang lagi! Melihat ke luar jendela, sepertinya hujan akan awet hingga sore, ditambah udara dingin yang membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Sambil mengecek beberapa tempat yang belum saya kunjungi di tablet, saya teringat kata-kata teman kantor yang bercerita mengenai bangunan Gereja di sekitar Victoria Street.

Waiting for the Bus

Di tengah rintik hujan, saya tetap memaksakan diri untuk pergi. Sesampainya di Raffles City Shopping Center, saya sedikit agak bingung mau kemana, sampai-sampai saya melewatkan dua kali lampu hijau di persimpangan jalan. Hihi..

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah Chijmes. Lokasinya persis di seberang Raffles City Shopping Centre. Kalo kita masuk dari pintu samping atau Bras Basah Road, tidak ada kesan istimewa dari tempat ini, yang terlihat hanya café dengan beberapa meja dan kursi yang tersusun rapih. Tetapi begitu melangkahkan kaki ke dalam, barulah terlihat bangunan utama dari Chijmes dengan atap yang menjulang tinggi dan pilar-pilar yang besar. Sekilas tempat dengan gaya artistektur neo-klasik ini tidak ada kesan sebagai rumah makan, tetapi begitu saya menuju ke tengah halaman, mulailah terlihat beberapa restoran, café dan bar di dalamnya. Chijmes diambil dari CHIJ, akronim dari Convent of the Holy Infant Jesus atau Biara Bayi Kudus Yesus. Chijmes dulunya adalah biara dan kapel Gereja katolik.

Cathedral

Tepat di seberang Chijmes berdiri Cathedral of the Good Shepherd yang merupakan Gereja Katolik tertua di Singapura. Berbeda dengan Chijmes, gaya arsitektur Cathedral of the Good Shepherd lebih dipengaruhi gaya Rennaisance. Tidak jauh dari situ, terdapat St. Joseph Church yang mengadopsi gaya arsitektur Gothic dengan dominasi warna putih. Berjalan ke Queen Street, saya menyambangi Church of St Peter and St Paul yang lokasinya berdampingan dengan Singapore Art Museum.

Kembali lagi ke Victoria Street, saya mengambil arah menuju Stamford Road dan bertemu St. Andrew’s Cathedral. Tadinya saya pikir, ini Gereja Katolik juga. Ternyata bukan. St. Andrew’s Cathedral adalah Gereja Anglikan terbesar dan pertama di Singapura. Gereja yang baru saja merayakan hari jadinya ke 150 tahun ini memiliki halaman yang sangat luas dengan gaya arsitektur neo-gothic dan eksterior serba putih. Terlihat begitu megah, sekaligus menawan. Sayang sekali, St. Andrew’s Cathedral sedang tutup selama 2 hari.

Setelah puas memanjakan mata dengan berbagai macam arsitektur Gereja, saya kembali lagi menuju MRT City Hall yang letaknya persis disamping St. Andrew’s Cathedral. Kali ini saya ingin ke Orchard Road. Yaa.. baru saja kemarin malam saya berjalan di Orchard Road selepas makan malam di Lucky Plaza, hanya saja kali ini saya ingin merasakan suasananya di sore hari. Turun di MRT Dhoby Ghaut, saya menyusuri Orchard Road, mulai dari Plaza Singapura dan berakhir di Tangs. Dari Tangs, saya kembali lagi Chinatown untuk kedua kalinya. Soalnya ketika jalan bareng Iwan dan Indri, ada beberapa tempat yang terlewat saya kunjungi. Hihi… niat!

Orchard Road di Sore Hari

Tempat pertama adalah Kuil Shri Mariamman. Shri Mariamman merupakan kuil Hindu tertua dan terbesar di Singapura. Di depan pintu masuk terdapat relief pada kubah kuil dengan patung figuratif dewa dewi dan binatang mitologis. Tempat kedua adalah kuil Buddha Tooth Relic. Bangunannya terlihat megah dengan dominasi warna merah dan emas.

Shri Mariamman & Buddha Tooth Relic

Gerimis masih belum berhenti. Nyanyian perut semakin terdengar jelas ketika saya menapaki jalan kecil di Chinatown. Ah, saya tidak beruntung sore ini, restoran dan kios-kios kecil kebanyakan masih tutup di suasana tahun baru.

 

Hari 5

Hari ini adalah hari terakhir. Barang-barang sudah saya kemas dengan rapih. Tas terlihat menggembung dan membuat pundak tidak nyaman ketika saya coba menggendongnya. Saya sendiri tidak percaya, semua oleh-oleh yang saya beli mampu saya jejali ke dalam backpack yang pas-pasan itu. Hmm… sepertinya saya perlu membeli tas yang lebih besar. Mudah-mudahan saja tidak robek di tengah jalan.

Pagi ini saya manfaatkan untuk berwisata ke daerah Lakeside. Hasil googling ditemukan kalau disitu ada sebuah taman yang cantik, namanya Chinese – Japanese Garden. Untuk menuju ke sana sangat mudah, karena sudah ada MRT tepat di jalan masuk ke Chinnese Garden.

Chinnese Garden

Saya sudah berada di Chinnese Garden jam 9, tapi suasananya terlihat sepi dan hanya ada satu petugas jaga di depan pintu masuk yang tertutup rapat. Saya coba tanya ke petugas tersebut, ternyata loket baru dibuka jam 10. Hihihi… kepagian. Hmm… tahu begitu, saya bisa sarapan dulu di Tiong Bahru Plaza.

Pagoda Chinnese Garden

Tepat jam 10, loket dibuka. Sepertinya saya adalah pengunjung pertama di tempat itu. Hihihi…  Di tengah perjalanan mengelilingi taman, tiba-tiba Indra, Dini dan Indri sudah berada di depan gerbang. Rupanya mereka menyusul saya. Chinnese Garden menutup perjalanan saya di Singapura. Kami makan siang bersama di Bugis Junction dan mereka menemani saya hingga Bandara Changi Terminal 3.

 

Terminal 3

Ada pengalaman menarik ketika berada di Terminal 3. Ketika saya sedang duduk di ruang tunggu, datanglah seorang wanita sambil membawa map lalu meminta ijin untuk duduk disamping saya. Wanita tersebut memberi salam dan langsung mengenalkan diri sebagai petugas bandara Changi. Dia meminta ijin kepada saya untuk menjawab kuesioner mengenai pengalaman saya di bandara Changi. Saya pun menyanggupinya dan pertanyaan demi pertanyaan mulai diajukan, mulai dari kondisi bandara, keramahan petugas, kebersihan kamar mandi, akses internet, penunjuk arah sampai hal-hal detail seperti makan dimana, mahal atau murah, belanja apa. Woww! Kebanyakan jawaban saya Satisfied dan ada beberapa yang Very Satisfied. Di akhir kuesioner, petugas itu mengucapkan salam dengan ramah dan memberikan saya kenang-kenangan berupa pena ekslusif Changi. Yeaahh…

Changi Souvenir

8 Responses to “Singapore City Explore”

  1. wulan

    Eh, gw waktu itu naik jetstar cuma 350ribu pp lho, $40. Apa kabar?

    Reply
  2. nina korda

    Pak tks untuk blognya selama d sin, pak tolong tanya tgl 22 jan’14 sy rencana k KUL Langkawi dan SIN, pulang tgl 3 Peb’14. Pak yg ingin sy tanyakn saat sy imlek d sin tgl 29, apakah universal studio n song of the sea tetap buka ? mall2 d sin apakah tutup selama imlek, berapa hari tutupnya ? atau bk setengah hari ? trs bgmn dgn hotel n tmpat2 makan, apakah semua hrg2 melonjak seperti layaknya lebaran d Ind ?
    Mohon info nya y pak….
    Terima kasih.

    Reply
    • vlado

      Hi nina,

      Universal studio dan song of the sea tetap buka selama imlek/ sin cia. Untuk restoran banyak yang tutup setengah hari, buka lagi di sore sampai malam hari.

      Untuk harga yang masih normal sepertinya hanya makanan aja. Hotel mengikuti harga peak season, jadi lumayan agak mahal dibandingkan hari biasa.

      selamat berlibur 😀

      Reply
  3. nina korda

    Pak tks utk reply nya y….very usefull.
    pak mo tnya lg heheee…..pak tau gk di sin tuh d jl. Lada Puteh ada rumah yang disewakan per kamar milik org indo, ktnya nice banget, cm yg pnh nginep jg gk ktm alamt n contact address tepatnya dmn gitu. Very recommended katanya.
    Apakah area Lada Puteh dkt MRT sehingga sy mudah klo mo kellg2 ? Thanks sebelumnya.

    Reply
    • vlado

      Jalan lada puteh itu di belakang lucky plaza, deket banget sama orchard road dan MRT, pas kalo mau keliling2. Untuk info apartemennya saya kurang tau.

      Reply
  4. nina korda

    Pak tnya lagi y….sy dari KL by bus k sin….itu trn dmn d sin nya ? trs dr stasiun bis itu, krn bw koper besar, yg paling nyaman apakah taxi ? mahal gk ? sekitar brp ? tks.

    Reply

Leave a Reply