Santai di Pantai Surga Sawarna

Hujan deras belum ada tanda-tanda akan mereda. Jalanan yang macet ditambah beberapa genangan melengkapi indahnya Jakarta di jumat sore. Antrian Transjakarta mulai mengular hingga jembatan di Kuningan Timur. Tepat di bus ke-12 akhirnya saya bisa memasukkan diri melalui pintu belakang, berjejal menahan pegal hingga halte Ragunan. Keberangkatan belum dimulai, tetapi saya sudah menikmati serunya perjalanan.

Hari ini, jumat tanggal 4 februari, saya akan kembali melakukan perjalanan. Kali ini bersama teman-teman dari komunitas Backpacker Indonesia (BPI)

Entah apa yang membuat saya terdampar di website BPI. Oh Tuhan, sepertinya saya mulai terkena virus perjalanan. Baru saja pulang dari Singapura, tidak ada 3 hari saya mulai mencari ide mengenai perjalanan selanjutnya. Di website BPI, saya melihat salah satu thread mengenai Desa Sawarna yang dibuat oleh Cendy. Cerita mengenai keindahan Sawarna sepertinya sudah tersebar. Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sangat dekat dengan objek wisata Pelabuhan Ratu.

Banyaknya website yang mengulas indahnya pantai disana membuat rasa penasaran saya semakin memuncak. Itinerary yang dibuat oleh Cendy benar-benar membuat pengunjung terpikat. Biayanya pun cukup terjangkau bagi Traveller berkantong tipis, 360 ribu saja, sudah termasuk biaya akomodasi, makan, tempat wisata dan pemandu. Ditambah dengan senior member yang melekat pada Cendy semakin meyakinkan saya untuk mengikuti perjalanan ke Sawarna.

Keberangkatan menuju Sawarna dimulai dari Warung Bakso di depan Terminal Kampung Rambutan, meeting point kami. Sambil menunggu teman yang lain, saya berjumpa dengan Yani, Bayu, Nata dan Budi. Kami tidak saling mengenal sebelumnya, hanya tas besar di punggung kami yang mampu memberikan tanda kalau kami semua memiliki tujuan yang sama. Yani bercerita kalau ini adalah kali kedua Backpacker’an dengan teman-teman BPI. Sedangkan Saya, Bayu, Nata dan Budi, ini adalah pengalaman pertama kami. Cerita diantara kami tidak jauh dari tema perjalanan. Saya hampir dibuat minder dengan mereka, perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya luar biasa. Budi bercerita dengan antusias tentang perjalanannya menjelajahi kota Bangkok, sedangkan Bayu sudah menjelajahi 4 negara di Asia Tenggara. Sungguh, awal perjumpaan yang menyenangkan dengan mereka.

Pukul 23.30, bus kami pun tiba. Cendy yang sudah terbiasa mengadakan perjalanan bagi komunitas Backpacker mulai mengecek dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam Bus. Saya kebagian duduk di belakang bus, bersama dengan Bayu, Nata dan Budi. Ah… saya paling tidak suka duduk di belakang. Total peserta sebanyak 24 orang.

Perjalanan yang memakan waktu hampir 9 jam benar-benar membuat badan saya pegal. Apalagi ketika bus memasuki ruas jalan yang rusak, posisi di belakang adalah posisi yang paling menderita dimana guncangannya paling kuat terasa. Beberapa kali saya melihat kepala Budi terpentok jendela. Hahaha…  ya sudahlah.. dinikmati saja. Rute perjalanan: Jakarta – Tangerang – Rangkasbitung – Malimping – Bayah – Desa Sawarna.

Tepat pukul 9, kami tiba di Desa Sawarna… yeaaay!! Kami langsung menuju Homestay Java Beach yang terletak di Desa Sawarna. Untuk menuju ke Homestay, kami harus melewati jembatan gantung dan menyusuri gang yang hanya cukup untuk motor. Setelah pembagian kamar, kami diberi waktu hingga jam 12 untuk makan siang dan bersiap melakukan perjalanan.

Bergoyang di Jembatan Gantung Sawarna

Desa Sawarna menyediakan banyak Homestay atau Guest House dengan beragam pilihan mulai dari harga, tempat dan fasilitas. Homestay yang saya tempati cukup nyaman, halaman dan terasnya sangat luas. Pemandangannya langsung menuju ke pematang sawah. Terdapat fasilitas olahraga dan dapur jika sewaktu waktu kami ingin memesan makanan atau minuman. Rombongan kami menempati 3 kamar untuk laki-laki dan 2 kamar untuk perempuan.

 

Goa Lalay

Semua peserta sudah bersiap. Kebanyakan teman-teman yang hobi perjalanan juga memiliki hobi fotografi. Saya melihat ada 10 orang yang membawa DSLR. Saya, Bayu dan Budi menggunakan Canon, sedangkan Nata dan Yani berbeda agama, mereka menggunakan Nikon. Lain halnya dengan Adri dan Fayong, mereka benar-benar seorang fotografer. Persenjataan fotografi mereka sangat lengkap, tripod, lampu flash dan beberapa filter lensa. Sebelum memulai perjalanan, kami saling bertukar pikiran mengenai fotografi.

Melintasi Sungai dan Pematang Sawah

Perjalanan menuju Goa Lalay lebih kurang 2KM. Kami kembali melewati jembatan gantung, kemudian masuk kembali ke dalam desa. Disini kami harus menyeberangi sungai dan menyusuri sawah-sawah. Senang sekali bisa melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain air sedangkan ibu mereka tidak jauh dari mereka sedang mencuci pakaian. Tampak di kanan dan kiri kami, hamparan sawah yang hijau nan asri. Banyak di antara kami yang menjadi bahan kecengan karena terpeleset atau terperosok masuk ke dalam sawah. Senda gurau dan indahnya alam pedesaan membuat perjalanan kami semakin seru dan menyenangkan.

Memasuki Goa Lalay Yang Gelap

Goa Lalay merupakan goa batu gamping. Dalam bahasa sunda, lalay artinya kelelawar. Untuk masuk ke dalam goa diperlukan senter, karena goa ini gelap sekali. Atasnya terdapat stalaktit yang mengucurkan air yang dingin. Sedangkan dasarnya merupakan sungai bawah tanah yang mengalir cukup deras dan berlumpur. Perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke dalam. Dari sekian banyak peserta, hanya saya yang memberanikan diri membawa kamera ke dalam. Hahaha… takut kali yah, kalo kameranya tercebur ke sungai. Terpaksa deh… jadi fotografer seorang diri di dalam goa. Huehuehe…

 

Pantai Laguna Pari

Setelah puas menikmati gelapnya Goa Lalay, kami kembali lagi melewati pematang sawah dan menyeberang sungai. Di tengah pematang sawah, saya melihat gubuk tua dengan bapak-bapak yang sedang mengasah arit. Saat itu juga saya langsung meminta ijin untuk mengabadikan momen tersebut. Syukurlah bapak itu tidak keberatan.

Petani Sawarna

Pantai sudah terlihat dari atas bukit yang dipenuhi pohon kelapa. Saya percepat langkah kaki yang sudah tebal dengan tanah berlumpur, mendaki bukit berbatu dan akhirnya turun dengan jalan tanah yang becek dan licin, hingga akhirnya mencapai pantai. Medan yang cukup berat membuat banyak peserta jatuh terpeleset.

Jejeran Perahu di Laguna Pari

Pantai Laguna Pari sangat indah, pantainya luas, sepi dan bersih. “Hidden Beach” memang pantas disematkan kepada Laguna Pari. Di pinggiran pantai banyak sekali jejeran rapih perahu nelayan yang sedang berlabuh. Seketika langsung menjadi bidikan favorit untuk mengabadikan gambar. Perahu nelayan yang berwarna warni menjadi pemanis indahnya Laguna Pari.

Perahu Nelayan Laguna Pari

Tak terasa, Saya, Bayu dan Nata mulai menjauh dari rombongan. Kami begitu asyik dengan kamera kami. Dari kajauhan, beberapa teman memanggil kami untuk kembali.

 

Ciantir, Karang Taraje dan Tanjung Layar

Di tengah panas yang sangat terik, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Layar untuk mengejar Sunset. Untuk menuju kesana, kami harus melewati Pantai Ciantir dan Karang Taraje. Berbeda dengan Laguna Pari, Ciantir memiliki ombak yang  tinggi. Medan yang kami tempuh pun cukup terjal, banyak sekali karang dan batu-batu besar di bibir pantai dan akhirnya kami harus melintasi bukit yang cukup curam. Ciri khas dari pantai Tanjung Layar ini adalah 2 karang besar.

Karang Tanjung Layar

Tak terasa, jalan panjang yang kami tempuh cukup menguras tenaga. Makan siang dengan porsi besar tidak mampu menahan rasa lapar di sore hari. Untungnya di Tanjung Layar terdapat sebuah gubuk yang menjual makanan dan aneka minuman. Sambil menunggu sunset, kelaparan yang sangat ini memaksa saya menghabiskan satu mangkok mie rebus. Hihihi…

Sunset Tanjung Layar

Semburat jingga mulai terlihat. Teman-teman mulai memilih posisi terbaik untuk mengabadikan sunset. Suasana mendadak sunyi, semua orang begitu serius dengan kameranya masing-masing. Beberapa kali saya mengambil gambar untuk mendapatkan momen terbaik. Selesai matahari terbenam, kami masih menikmati lembayung senja yang terukir di ufuk barat. Thanks God… sunset yang menakjubkan. Benar-benar surga yang tersembunyi.

Lembayung Senja Tanjung Layar

Waktu santai di homestay kami manfaatkan untuk makan malam dan sharing mengenai perjalanan-perjalanan sebelumnya. Jagung bakar dan ikan sudah disiapkan untuk acara barbeque nanti malam. Sedangkan saya… sudah jauh mengelana dalam dekapan mimpi.

 

Perkenalan

Setelah sarapan pagi, kami berkumpul bersama di teras rumah. Waktunya acara perkenalan. Seharusnya acara perkenalan diadakan ketika barbeque tadi malam. Tapi karena teman-teman banyak yang bertumbangan akhirnya acara perkenalan dipindahkan ke pagi ini.

Satu per satu, teman-teman mulai memperkenalkan diri. Kebanyakan dari mereka dari Jakarta, ada juga yang dari Bekasi, Serang dan Bandung. Ada salah satu peserta yang agak mencolok diantara kami. Namanya Pak Soewandi dan kami memanggilnya Abah. Walaupun sudah tua, ternyata Abah masih memiliki jiwa muda untuk bergabung dengan kami.

Abah yang juga teman sekamar, mulai bercerita kepada saya. Kata Abah, anak-anak muda jaman sekarang lebih melek teknologi dibandingkan dengan generasi dahulu, sekarang anak-anak muda sudah punya smartphone dan kamera yang canggih. Menyalurkan hobi dengan kegiatan yang positif.

Awalnya Abah merasa canggung dan memiliki perasaan tidak diterima ketika mengikuti perjalanan dengan anak-anak muda. Ternyata persepesi Abah salah, anak-anak muda yang menyukai perjalanan mempunyai jiwa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Abah bahkan berencana untuk mengikuti perjalanan-perjalanan berikutnya bersama teman-teman Backpacker Indonesia. Semangat Abaaah!!

 

Pasir Putih

Tidak seperti hari kemarin ketika kami menuju Tanjung Layar. Untuk menuju ke Pasir Putih, kami langsung melewati pintu belakang. Lebih kurang 10 menit, kami sudah mencapai pantai. Pantai Pasir Putih memang luar biasa indah. Garis pantainya panjang. Di depan sebuah gubuk terdapat satu buah tanaman dan bangku kayu. Beberapa teman mulai bercerita mengenai keberadaan tanaman dan bangku kayu tersebut. Menurut mereka dua objek itu merupakan objek terkenal di Pasir Putih dan sebagai tempat foto wajib yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Pasir Putih.

Salah Satu Objek Terkenal di Pasir Putih

Waktu yang cukup banyak, saya manfaatkan untuk mengambil gambar beberapa teman dan berguru fotografi bersama Adri. Hasil fotonya Adri memang bagus. Membuat kami semua terpana. Adri yang pernah belajar ke Darwis Triadi ini mulai mengajarkan kepada kami, bagaimana cara mengambil foto yang bagus di pantai. Adri bahkan meminjamkan lampu flash dan mengatur beberapa setingan yang pas di kamera saya. Wow… hasil jepretan saya mendadak lebih bagus kali ini. Hihihi…

Foto Bersama di Pasir Putih

Lagi-lagi, saya orang terakhir yang pulang menuju Homestay. Di tengah perjalanan menuju Homestay, saya dan Cendy mengobrol mengenai kondisi Sawarna. Cendy yang sudah pernah ke pantai Sawarna menyayangkan perubahan drastis di Sawarna. Masyarakat sudah tahu mengenai bisnis, harga sewa homestay dan guide mulai meroket naik. Beberapa tempat yang dulunya kosong, saat ini sudah berdiri beberapa homestay. Beberapa kali saya melihat bekas bungkus permen, coklat dan botol air mineral di tepi jalan, ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Semakin banyak orang mengunjungi Sawarna, semakin terkenal pula Sawarna. Semoga saja, Sawarna akan tetap seperti ini.

Berpose di Pasir Putih

 

Traveler

Perjalanan bersama teman-teman Backpacker benar-benar memberikan pengalaman baru bagi saya. Bertemu teman-teman baru yang hebat, rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat dan sarana bertukar pikiran bagi sesama pencinta fotografi.

Barang-barang sudah kami kemasi. Bus pun sudah menunggu kami di ujung jembatan gantung Sawarna. Makan siang saat itu terlihat begitu akrab. Setiap orang mulai bertanya “Kemana nih, traveling selanjutnya?” Seolah menjadi pertanyaan wajib seorang Traveler.

4 Responses to “Santai di Pantai Surga Sawarna”

  1. angky

    Hi!
    Nanya dong.
    Waktu nginep di sawarna, penginapannya itu Java Beach bukan?
    Bole dong tau, semalem disana berapa ya?
    Lagi cari info ni.
    Thanx sebelumnya ya. ^ ^

    Reply
    • vlado

      Hi Angky,

      Yup, di Java Beach.
      Disana itungannya per orang. Sekitar 100-120 ribu per orang untuk 3x makan dan sekitar 130-150 ribu per orang untuk 5x makan.

      Untuk info, bisa menghubungi Pak Sofi di 085259055425, 087875293598. Kalo rombongan bisa nego harga.

      Semoga membantu. Have a nice trip 😉

      Reply

Leave a Reply