Kawah Putih dan Situ Patengan

Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke Pangalengan, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa… yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.

Jumat pagi packing, masuk kantor seperti biasanya, pulang kantor langsung menuju meeting point di halte busway ragunan. Sambil menunggu di pinggir jalan, di bawah pohon nangka yang lebat, tiba-tiba Mitsubishi Galant berwarna biru dongker berhenti dan kaca mobil pun terbuka… terlihat sesosok pria besar memanggil..”Masuk sob!”. “Heh.. ganti mobil sob?”, kata saya. Panji pun menjawab dengan santainya “Ini mobil kita sob?”. “Mobil kita gimana?”, jawab saya dengan penasaran. Dan lagi-lagi Panji pun menjawab dengan santainya “Iyaa… ini mobil dagangan kita”. What?!!

Saya dan Panji cukup lama bersahabat sejak kami masih sama-sama kost di depok. Karena kedekatan dan “kenekatan” kami, akhirnya kami mencoba untuk membuka bisnis jual beli mobil second. Nah, kalo tuh mobil belom laku, biasanya suka kami…(hmmm.. lebih tepatnya Panji) pake terlebih dahulu.

Tol Cikampek dan Cipularang cukup lancar di jumat malam. Perjalanan menuju Ciwidey kami tempuh dalam waktu 3 jam. Malam itu kami menginap di Kampung Pago yang berlokasi di Pasir Jambu. Kampung pago menyuguhkan suasana pegunungan yang asri dan sejuk. Tempatnya dibuat mirip seperti kampung di pegunungan. Yang membuat menarik di tempat ini adalah bangunan rumahnya yang unik ditambah dengan kolam ikan yang cukup besar di halaman depan. Saatnya beristirahat.

Saya kira, saya yang paling pertama bangun pagi diantara kami bertiga, ternyata Panji sudah jalan-jalan terlebih dahulu sambil membawa kamera mengelilingi Kampung Pago.  Semalem kami hanya melihat di halaman depan dan pagi ini kami menyusuri Kampung Pago hingga ke belakang yang jalannya sedikit menanjak. Ternyata Kampung Pago luas juga.

Penginapan Kampung Pago

Setelah sarapan dan packing, kami langsung tancap gas menuju Kawah Putih. Kami harus menempuh jarak lebih dari 10Km. Sepanjang jalan raya Ciwidey, banyak sekali pekarangan strawberry. Daya tarik tempat ini adalah kita bisa memetik strawberry langsung dari kebunnya atau biasa disebut “Strawberry Walk”.

Taraaa… akhirnya kami sampai juga di tempat wisata Kawah Putih. Karena Panji sudah pernah kesini terlebih dahulu, dia menyarankan untuk parkir mobil saja disini. Nantinya kami bisa naik angkutan menuju Kawah Putih. Biaya untuk masuknya 16 ribu saja… cring! Tapi.. tapi.. biaya masuk untuk mobil itu lhoo… 150 ribu. Hahaha… mahal gila! Itulah kenapa kami memutuskan untuk memarkir mobil di bawah saja, cukup 5 ribu… cring!

Perjalanan dari tempat parkir menuju tempat yang terletak pada ketinggian 2430 mdpl ini sekitar 15 menit dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan menanjak. Jalannya pun cukup sempit. Jadi kalo ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya mau nggak mau harus menepi.

Gerimis yang tidak henti-hentinya mengguyur menjelang siang, membuat udara disekitar Kawah Putih sangat dingin. Menyesal kami tidak bawa payung. Ojek payung disini cukup mahal, 7 ribu.. cring! dan dibayar dimuka. Kabut yang cukup tebal membuat pemandangan di sekitat kawah sangat terbatas. Air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di pinggiran danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna abu-abu yang ditumbuhi lumut. Kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha itu memiliki dinding kawah dan air yang berwarna putih.

Kawah Putih

Ahh… rugi berat deh pokoknya, gara-gara hujan pula, niat kami untuk berfoto-foto disekitar kawah batal seketika. Kawah Putih yang berwarna kehijauan itu kali ini berubah menjadi benar-benar putih.. Hahaha. Satu-satunya objek yang bisa dinikmati di kawasan tersebut hanya kawah… yup cuma kawah… dan kondisi saat itu sedang hujan, berkabut… tapi anehnya tetap saja pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Ketika perjalanan pulang, saya mendengaar celotehan rasa kecewa pengunjung lain yang berkata “ah.. cuma gini doang?”. Sepertinya Kawah Putih akan indah dinikmati kalo musim kemarau atau cuaca cerah.. nggak recommended deh kalo musim hujan.

Pintu Masuk Menuju Kawah Putih

Antara puas dan tidak puas menikmati Kawah Putih, kami turun kembali menuju parkiran dan perjalanan kami lanjutkan ke Situ Patengan (atau dibaca Situ Patenggang). Lokasinya tidak jauh dari Kawah Putih. Jadi, dengan mengunjungi satu lokasi, kami bisa menikmati 2 objek wisata sekaligus. Sebelum berangkat, saya, Panji dan Riri menyempatkan diri membeli strawberry di area parkir, 25 ribu per kilo.. cring!

Situ Patengan

Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi wisata, situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, pateangan-teangan (artinya: saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/ Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka. Aihhh… romantis.

Bukit Cinta

Untuk sampai ke Bukit Cinta kami harus menyewa perahu dengan harga sewa 20 ribu per orang. Karena terlalu lama menunggu penumpang lainnya, akhirnya perahu kami sewa untuk bertiga. Tawar menawar pun terjadi diantara Panji dan tukang perahu. Yang tadinya 100 ribu, akhirnya perahu bisa kami sewa 75 ribu untuk kami bertiga… yeaaay… cring! Si Akang Tukang Perahu (panjang bener ye namanya) ini ternyata hapal betul dengan legenda di daeraeh Situ Patengan. Sambil mengantarkan kami menuju Bukit Cinta, Si Akang Tukang Perahu juga sambil bercerita mengenai legenda Bukit Cinta.

Setelah mengitari Situ Patengan, kami beristirahat sebentar sambil menyantap ayam dan ikan bakar di pinggiran danau. Perjalanan masih jauh menuju jakarta…

Leave a Reply