Borobudur, Keindahan Candi Agung

Alkisah Pulau Jawa terapung di tengah lautan. Supaya dapat dihuni manusia, tanah yang mengapung itu harus ditambatkan pada pusat Bumi. Paku yang luar biasa besar itu telah menjelma menjadi bukit. Namanya, Gunung Tidar yang berada di sebelah selatan Magelang. Wilayah sekitar “Paku Jawa” itu dikenal dengan sebutan “Dataran Kedu”. Di sini, kita akan mendapati tanah yang subur dan penduduk yang sangat rajin. Itu pula yang menyebabkan tempat ini berjuluk “Taman Jawa”. Di taman inilah Candi Borobudur berdiri menjulang – sebelah selatan Gunung Tidar.

Potongan-potongan cerita kembali dikumpulkan. Berawal saat WOJ Nieuwenkamp melontarkan dugaan bahwa di sekitar candi terdapat danau kuno yang menggambarkan Borobudur berdiri di puncak bukit bagaikan bunga teratai di tengah-tengah danau.

Senang rasanya kemarin bisa mengikuti Temu Wicara dari National Geographic Indonesia yang mengangkat tema BOROBUDUR “Keindahan Sejarah Candi Agung dan Pemanfaatan Ruang Kawasan Borobudur”.  Acara dialog terbuka yang dihadiri lebih dari 50 peserta ini menghadirkan beberapa pakar, diantaranya:

  1. Marsis Sutopo, MSi – Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala – Kementrian Budaya dan Pariwisata.
  2. Prof Dr Mundardjito, Guru Besar Arkeologi UI dan Dewan Pakar National Geographic Indonesia.
  3. Firman Napitupulu, Ditjen Penataan Ruang – Kementrian Pekerjaan Umum
  4. Dwi Oblo, Fotografer Lepas dan Kontributor National Geographic Indonesia.

Acara diawali oleh Pak Marsis Sutopo yang menerangkan mengenai pemugaran Candi Borobudur. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1907-1911 oleh Theodore Van Erp, seorang perwira zeni Belanda. Van Erp melakukan sejumlah penggalian di halaman candi dan memilih-milih batu hasil penggalian. Kemudian pada tahun 1911, Van Erp berhasil menyelesaikan restorasi candi, diantaranya berhasil melakukan pemugaran bagian arupadhatu yang terdiri dari 72 arca Budha dan 73 stupa. Arca dan stupa-stupa itu dibongkar kemudian dipasang kembali. Sedangkan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983.

Selain itu Borobudur terdapat Zonasi atau pembagian wilayah yang mengatur mengenai tanggung jawab pemerintah dalam mengelola Borobudur, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pak Firman Napitupulu menjelaskan mengenai zonasi yang dibagi ke dalam 5 zona.

  • Zona 1: Zona Inti. Luas areal sekitar 0,078 kilometer persegi. Zona ini merupakan zona perlindungan monumen dan lingkungannya.
  • Zona 2: Zona taman wisata arkeologi. Luas areal sekitar 0,87 kilometer persegi. Zona ini dinamakan zona penyangga.
  • Zona 3: Zona pengembangan. Luas sekitar 10 kilometer persegi. Area permukiman terbatas, pertanian dan jalur hijau.
  • Zona 4: Zona perlindungan kawasan bersejarah. Luas areal sekitar 26 kilometer persegi. Zona ini untuk perawatan dan pencegahan kerusakan.
  • Zona 5: Zona perlindungan kawasan bersejarah. Luas areal sekitar 78,5 kilomter persegi. Zona ini untuk pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam.

Masalah yang dihadapi oleh pemerintah saat ini adalah kurangnya koordinasi antar pihak-pihak terkait yang mengelola zona-zona tersebut. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda-beda terhadap zonasi yang ditanganinya. Contoh dari kurangnya koordinasi itu adalah masih banyaknya visible pollution yang mengganggu keindahan candi. Dari atas candi kita masih bisa melihat banyaknya BTS dan hotel-hotel yang berada di kawasan Borobudur. Hal ini juga ditegaskan oleh Prof. Mundarjito, dimana saat ini masih terdapat paradigma lama yang site oriented. Harusnya saat ini masyarakat mulai berpikir ke arah areal oriented dalam menangani salah satu warisan dunia yang terancama akan dicoret oleh UNESCO ini.

Acara yang berlangsung seru sambil diselingi tanya jawab ini diakhiri oleh pameran foto-foto dari Mas Oblo, fotografer National Geographic Indonesia. Saya sampai berdecak kagum dengan keindahan foto-foto Borobudur yang ditampilkan berdasarkan Zona, mulai dari dekat (Zona 1) sampai Zona 5 dimana kita bisa melihat sunrise dan kabut menyelimuti daerah Borobudur. Kata Mas Oblo, salah satu tempat bagus untuk mengabadikan keindahan Borobudur di pagi hari ada di Situmbu, desa Karangrejo.

Pulang dari temu wicara itu tak tahan rasanya ingin cepat-cepat ke Borobudur yang tinggal 5 hari lagi..

referensi:

National Geographic Indonesia

Konservasi Borobudur

Borobudur Temple Compounds

Leave a Reply