Sakit Hati

Aku menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Segenap harapan dan mimpiku. Seringkali Ia membuatnya menjadi kenyataan. Karena itulah, ketika segala sesuatunya berawal dengan begitu ajaib dan indah, aku begitu dan yakin bahwa Ia telah menjawab doaku dan mewujudkan mimpiku.

Namun ketika keadaan tidak berakhir seperti yang kuharapkan, dan kenyataan melenceng dari apa yang kubayangkan. Aku terkejut, bingung, kecewa, sedih, dan kalau aku mau jujur aku marah kepada Tuhan. Mengapa Ia ijinkan semua ini terjadi. Mengapa harapan melambung begitu tinggi kalau kemudian terhempas begitu jauh.

Aku begitu bersukacita pada saat itu. Aku telah bersiap-siap untuk menyampaikan berita baik kepada sahabat, saudara, semua orang. Bahwa penantianku tidak sia-sia. Bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan orang-orang yang berharap kepadaNya.

Karena itulah, ketika keadaan tidak berakhir seperti yang akuĀ  bayangkan. Aku terhenyak dan kehilangan pegangan. Mataku tetap tertuju pada Tuhan. Tapi kini dengan pandangan menuduh dan prasangka buruk. Dan sedikit demi sedikit aku mulai menjauh daripadaNya. Aku berusaha berlari dari kekecewaanku.

Ternyata aku berlari ke arah yang salah. Aku berlari menjauh dari Tuhan dan keadaan menjadi semakin buruk, aku terpuruk tak berdaya dan hatiku terluka begitu dalam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Disaat-saat itulah aku mendengar suaraNya. Begitu lembut dan penuh kasih, memanggil namaku. Ketika aku berbalik, aku mendapati Dia dihadapanku. Terkejut aku mendapati air mata membasahi wajahNya. Suatu pengertian Ilahi muncul di benakku. Bahwa Ia turut merasakan kepedihan yang kualami. Dan selama aku berlari menjauh, Ia dengan sabar mengikutiku, tak pernah tinggalkanku

Aku terpaku sesaat akan tulisan seseorang, bahwa kalau ada seribu langkah antara kita dan Tuhan, Ia akan mengambil yang 999 langkah kemudian berhenti. Ia menyerahkan langkah yang terakhir sebagai pilihan bagi kita. Aku juga dihadapkan pilihan pada saat itu. Apakah aku akan terus berlari menjauh membawa luka, dan membiarkan diriku tenggelam dalam kekecewaan. Atau mengambil satu langkah yang tersisa dan kembali kepada Tuhan.

Maafkan aku, bukan karena menginginkan yang diluar rencanaMu, tapi karena menganggap bahwa aku lebih tahu apa yang terbaik bagi diriku. Maafkan aku, bukan karena merasa sedih dan kecewa, tapi karena meragukan kasihMu. Kini kukembalikan pengharapanku hanya kepadaMu. Dan biarlah mataku hanya tertuju kepadaMu. Dengan penuh keyakinan dan penuh kepercayaaan karena aku tahu engkau mengasihiku dan kasihMu itu cukup bagiku, dan aku bersedia menunggu.

Leave a Reply