Perlukah Sertifikasi Project Management?

Sebagai seorang Project Manager yang sudah menangani project lebih dari 10 tahun, saya sering mendapatkan pertanyaan “penting gak sih mengambil sertifikasi project management?”. Seringkali saya menjawab, “tergantung”.

Umumnya orang-orang yang bertanya sudah mengerti bahwa memiliki sertifikasi bukan berarti orang tersebut jago atau expert di project management. Seperti halnya teman-teman yang jago mengendarai mobil atau motor, belum tentu juga teman-teman memiliki SIM A atau SIM C. Ya kaaan? Terus fungsinya SIM untuk apa? Jawabannya adalah validasi, bahwa kita secara skill dan knowledge berkompeten untuk mengendarai mobil dan motor, dan tentu saja supaya tidak ditilang pak polisi.

Nah, proses validasi itulah yang bisa memberikan gambaran bahwa seorang Project Manager memiliki pengetahuan yang terstandardisasi mengenai project management. Sebagai contoh, sertifikasi PMP (Project Management Professional) adalah sertifikasi project management yang dikeluarkan oleh PMI (Project Management Institute). Dasar sertifikasinya adalah PMBOK Guide yang berisikan best practices dari seluruh Project Manager secara global di berbagai industri. PMP memiliki akreditasi ANSI (American National Standards Institute) dengan ISO 17024 untuk standard lembaga sertifikasi dan ISO 9001:2008 untuk quality management system.

 

Kapan kita harus mengambil sertifikasi?

Sekali lagi, jawabannya adalah tergantung kebutuhan. Berikut beberapa hal yang bisa saya uraikan berdasarkan pengalaman pribadi.

  • Pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan yang project management-nya sudah sangat mature, umumnya mereka memiliki metodologi sendiri hasil process tailoring di internal. Saya melihat mereka mempunyai dasar yang sama, yaitu PMBOK Guide. Satu keuntungan tersendiri ketika kita pernah belajar project management berdasarkan Standard atau Guide yang diakui secara global, kita jadi lebih mudah dan cepat dalam memahami proses integrasi project management secara end-to-end.
  • Saat ini, banyak perusahaan yang sudah melek mengenai sertifikasi. Ada beberapa kasus dimana client meminta Project Manager dengan sertifikasi project management, baik itu PMP ataupun PRINCE2. Saya sendiri pernah ditunjuk oleh perusahaan untuk menangani project global. Ternyata setelah melihat tender requirements, client mencantumkan PMP sebagai syarat mutlak.
  • Selain itu, banyak perusahaan juga sudah memiliki program dan tunjangan sertifikasi sebagai bagian dari personal development plan. Kurang enak apa lagi coba? ambil sertifikasinya dibayarin, pas udah dapet dikasih tunjangan. Nah, jangan lupa ditanyakan ke perusahaan, apakah program sertifikasi ini terikat dengan masa kerja tertentu atau tidak. Sertifikasi tidak murah, tetapi juga tidak mahal jika kita tahu betul bagaimana cara menggunakannya.
  • Memiliki sertifikasi berarti juga harus tunduk terhadap code of ethics. Artinya ada sikap-sikap positif yang harus dimiliki oleh seorang Project Manager. PMI sendiri menegaskan bahwa seorang Project Manager harus mempunyai value, seperti honesty, responsibility, respect dan fairness. Saya pernah dikontak dan ditawari oleh salah satu perusahaan IT dimana mereka bersedia membayar sejumlah uang untuk meminjam nama dan sertifikasi PMP yang saya miliki di project mereka. Kejadian ini cukup sering. Biasanya mereka melakukan hal itu untuk memenangkan sebuah tender. Bahkan ada beberapa teman Project Manager yang secara pribadi meminta saya dengan alasan kantornya tidak memiliki Project Manager bersertifikasi PMP. Terpaksa tawaran tersebut saya tolak karena saya terikat dengan code of ethics dan risiko terbesar adalah kehilangan sertifikasi selamanya.
  • Buat teman-teman yang berada di level strategic, sering buat metodologi dan framework atau guide sebagai bagian dari process improvement di kantor, sertifikasi penting banget. Proses pembuatan metodologi baru atau improvement biasanya mengacu kepada framework/ methodology/ guide yang dipakai secara umum. Seperti risk management, budget and cost controlling, dan proses integrasi project management. Pentingnya pemahaman akan framework dan metodologi adalah supaya kita punya dasar atau acuan dalam process tailoring.
  • Sertifikasi juga bisa dipakai sebagai sebagai jalan untuk “jualan”. Teman-teman pasti sering lihat kata-kata “have certified PMP or PRINCE2 will be an advantage” di beberapa iklan lowongan kerja. Bahkan, ada yang secara explisit menuliskan mandatory. Ada baiknya untuk menanyakan hal ini ke perusahaan baru. Siapa tahu, sertifikasi tersebut bisa masuk ke dalam skema gaji dalam bentuk tunjangan sertifikasi.

 

Sertifikasi apa yang cocok untuk saya?

Umumnya PMP atau PRINCE2 sudah meng-cover seluruh industri seperti konstruksi, telekomunikasi, manufaktur, dan IT. Ada lebih dari 10 sertifikasi project management yang diakui secara global. Beberapa diantaranya adalah PMP (Project Management Professional) dari PMI.org, PRINCE2 (Projects In Controlled Environments) dari Axelos, CompTIA Project+ dari CompTIA Project Co, CPD (Certified Project Director) dari GAQM, Professional in Project Management (PPMP) dari GAQM, Master Project Manager (MPM) dari AAPM, Certified Project Management Practitioner (CPMP) dari EC-Council, Certified Six Sigma Black Belt Certification (CSSBB) dari ASQ, Project Management Certificate (PMC) dari Harvard Extension School.

Untuk mengetahui mana yang cocok adalah dengan mencari tahu lebih detail mengenai sertifikasi tersebut. Apa saja requirements-nya, biayanya, dukungan dari institusinya, dan masa berlakunya. Sesuaikan dengan kebutuhan baik itu secara personal maupun professional.

Sedangkan untuk sertifikasi Agile Project Management, terdapat 270 sertifikasi berdasarkan situs Agile Certification Review. Beberapa yang terkenal adalah PMI-ACP (PMI-Agile Certified Practitioner) dari PMI.org, PRINCE2 Agile dari Axelos, CSM (Certified Scrum Master) dari Scrum Alliance, PSM (Professional Scrum Master) dari Scrum.org, SAFe (Scaled Agile Framework) dari ScaledAgile, LeSS (Large-Scale Scrum) dari Less Company, ICP (ICAgile Certified Professional) dari ICAgile.

Summary of Agile Certifications

 

Di Indonesia sendiri, terdapat asosiasi para praktisi Ahli Manajemen Proyek Indonesia (AMPI) yang tergabung ke dalam Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI). Terdapat 3 kualifikasi keahlian yang  terakreditasi Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yaitu Muda, Madya, dan Utama. Standar sertifikasinya adalah PMBOK dan lamanya pengalaman menangani project.

Kalau ngobrolin sertifikasi, pasti ada juga yang kontra. Alasannya bisa beragam, dari pernyataan yang masih positif sampai pernyataan yang sifatnya negatif. Saya pernah mengalami hal yang tidak mengenakan ketika memfasilitasi Study Group. Salah seorang Project Manager mendatangi kelas kami dan berkata “buat apa ambil sertifikasi, tidak akan terpakai juga di project sehari-hari“. Sangat disayangkan, ucapan yang jauh dari apresiasi terhadap proses pembelajaran. Tapi itulah tantangannya. Di saat kita mau maju untuk terus belajar, ada saja orang-orang yang merasa “gerah” melihat achievement kita. Bersyukur, semua mentees di Study Group kami lulus ujian PMP.

Saya mencoba untuk selalu berpikir positif. Saya tahu, ada orang-orang yang merasa sulit untuk belajar atau mungkin tidak ada waktu untuk belajar karena sertifikasi itu seperti membuat project pribadi. Butuh motivasi, komitmen, mau “menyiksa” diri untuk belajar lagi, ditambah persiapan yang matang sebelum ujian. Tapi saya juga yakin, banyak orang-orang yang masih mau belajar di tengah kesibukan menangani project untuk mengasah kemampuan dan menjadi Project Manager yang lebih baik lagi. Alangkah baiknya jika usaha yang positif itu bisa kita apresiasi sebagai proses pembelajaran yang konstruktif.

 

Indonesia di Urutan ke-5

Pemilik sertifikat PMP terbanyak di Asia Tenggara masih ditempati oleh Singapura sebanyak 10564 orang (data per Juli 2020). Diskusi saya dengan teman-teman Project Manager baik dari client dan partner yang bekerja di Singapura, mereka mengatakan kalau Singapura memberikan subsidi dan insentif yang sangat baik bagi tenaga kerja yang ingin mengambil program sertifikasi.

Indonesia berada di urutan ke-5 sebanyak 935 orang. Jika pada tahun 2016 (data per Mei 2016), Indonesia berada di tempat ke-4 dengan 628 orang dan Vietnam berada di tempat ke-5 dengan 501 orang. Kali ini kita harus tergeser oleh Vietnam dengan 1112 orang. Itu berarti dalam 4 tahun terakhir, Vietnam mampu melipat gandakan pemegang sertifikasi PMP. Sedangkan Indonesia hanya bertambah setengahnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.