How to Win a Job

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi dengan career coach saya pada tahun 2013. Yeah, cukup lama tapi menurut saya masih sangat relevan untuk bisa saya ceritakan kembali di 2020. Mudah-mudahan ini juga menjawab beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan oleh teman-teman melalui DM Linkedin.

Pertanyaan pertama yang sering saya ajukan ke teman-teman adalah “Are you feeling good?“. Ada yang merasa masih baik-baik saja secara karir atau pekerjaan, tapi merasa kurang tantangan. Atau mungkin merasa “diam di tempat”, terkungkung dengan zona nyaman, dan akhirnya bingung mau kemana. Jawabannya tentu saja beragam. Menurut Jim Collins, “Good is the enemy of Great”.

Untuk lebih mudahnya, saya membagi apa yang perlu saya pertimbangkan di pekerjaan saat ini ke dalam 5 komponen, yaitu:

  1. Compensation & Benefits
  2. Knowledge & Certification
  3. Experience & Achievement
  4. Award & Appreciation
  5. Environment & Fun

Dari 5 komponen tersebut, buatlah prioritas! Ini penting untuk menentukan batas toleransi dari komponen yang lain. Misal, seorang fresh graduate mungkin akan memberikan prioritas di Experience & Achievement terlebih dahulu dibandingkan Compensation & Benefits. Atau seorang spesialis yang memiliki banyak pengalaman mungkin akan menempatkan prioritas di Compensation & Benefits dan Knowledge & Certification.

Kalau sudah menentukan prioritas, langkah selanjutnya adalah menentukan “Where are you?“. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan ajukan 4 pertanyaan lagi. Hahaha.

  1. Are you dispensable? No, I am expendable
  2. Are you recognized? Yes, a player, not a cheerleader
  3. Do you contribute? Yes, even more than expected
  4. Any target? Bigger me today, and bigger us tomorrow

Dari 2 pertanyaan dasar tersebut, yaitu “Are you feeling good?” dan “Where are you?”, barulah kita menuju ke tahap selanjutnya, yaitu “We have options“. Bahwa kita sebagai pekerja punya pilihan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di luar sana. Punya hak untuk keluar dari pekerjaan sekarang dan beralih ke pekerjaan yang kita inginkan. Biasanya kan kalo ditanya “mau kemana?”. jawaban standar kita pasti bilang “ya, cari yang lebih baik”. Kata “lebih baik” sifatnya memang subjektif, relatif, dan hanya kita sendiri yang bisa mengukur “apanya yang lebih baik dari saat ini”. Kita bisa mengambil 5 komponen di awal tadi. Buatlah prioritas, dan tentukan komponen mana yang menurut kita punya pilihan untuk lebih baik.

Jika pilihannya adalah “Moving Out“, maka langkah selanjutnya adalah: Identification, Preparation, Submission, Interview, dan Negotiation.

 

Identification

  1. Brand: siapa diri kita?, bagaimana cara mengenalkan diri kita ke perusahaan impian kita? Misal: IT/ Telco professional with over 17 years of global experience in Business Development & Operation.
  2. Interesting: tentukan sesuatu yang menarik berdasarkan passion, skill, dan knowledge. Coba lihat kembali diri kita apa yang sudah kita miliki, apakah diri kita seorang spesialis atau generalis?
  3. Suitable: terkadang posisi yang lebih tinggi dari pekerjaa kita saat ini memang menarik, tetapi apakah itu sesuai dengan diri kita? atau posisi yang lebih tinggi bisa kita dapatkan setelah kita bergabung di Company tersebut. Cari tahu mengenai career path. Buatlah mimpi setinggi mungkin. Buat target! Misal: dalam waktu 3 tahun mendatang, saya harus bisa menjadi Manager!
  4. Possibility: Seberapa besar kemungkinan kita diterima di Company yang akan kita tuju. Cari tahu posisi yang kita incar apakah memang posisi yang umum atau punya keahlian khusus yang jarang dimiliki market. Lihat persyaratan yang dibutuhkan, apakah masuk dengan kriteria kita, dan apakah ada syarat pendukung yang bisa menjadi nilai tambah, seperti sertifikasi atau kemampuan bahasa asing.

 

Preparation

  1. Tunjukkan strengths yang kita miliki dengan baik. Menurut saya, ini pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh diri sendiri ketika mendapati pertanyaan “Apa Strengths and Weakness kamu?”. Jujur sama diri sendiri dan buat bagaimana Weakness bisa kita ubah menjadi Strengths.
  2. Isi CV atau Resume dengan apa yang sudah kita kerjakan (Achievement) dan apa yang kita bisa (Professional Skill), termasuk project-project yang pernah kita kerjakan, scope pekerjaan dan deliverable jika ada. Tulis dengan simple tapi tetap bermakna. Buat pencapaian tadi ke dalam kalimat dengan Action Verbs, seperti: Managed, Developed, Enabled. Teman-teman bisa mencari contoh Action Verbs di internet.
  3. Batasi halaman CV sampai dengan 10 halaman. Untuk Resume batasi sampai dengan 2 halaman. Berikan font yang umum dan mudah untuk dibaca, seperti: Arial, Helvetica, Calibri, dan Garamond. Hindari penggunaan warna.
  4. Susun dari yang paling “up-to-date” untuk memudahkan Recruiter melihat posisi kita dari yang terakhir.
  5. Hindari potensi diskriminasi, seperti: wajah, ras, agama, umur, status perkawinan, dan jenis kelamin. Sesuaikan dengan kebutuhan.

CV/ Resume

  1. Personal Info: Tulis nama, alamat, email, dan kontak untuk komunikasi. Jika nomor kontak terlalu panjang, berikan spasi setiap 3-4 angka untuk memudahkan Recruiter mengontak kita.
  2. Professional Summary / Objective: Tulis goal sebagai profesional secara umum. Kita bisa masukkan Brand dan Strengths yang kita miliki disini.
  3. Skill: Professional Skill, Technical Skill, Interpersonal Skill.
  4. Working Experience: Tulis nama perusahaan, periode kerja, posisi, tanggung jawab dan pencapaian. Tambahkan jika ada penghargaan dari perusahaan. Susun dari yang terakhir.
  5. Education & Professional Development: Untuk fresh graduate bisa ditulis IPKnya berapa, tapi untuk pengalaman kerja di atas 3 tahun sepertinya penulisan IPK sudah tidak relevan lagi. Cukup tulis pendidikan terakhir saja.
  6. Awards & Honor: Tulis jika ada.
  7. Personal Interest/ Hobby: Tulis jika ada. Kadang ada beberapa Recruiter yang melihat kepribadian seseorang dari hobby yang kita jalani. Yaa, menurut saya sih tidak relevan ya, tapi sah-sah saja.
  8. Membership & Certification: Masukkan daftar sertifikasi professional dengan informasi license number dan expiry date untuk memudahkan Recruiter mengecek jika ini masuk ke dalam persyaratan mutlak.
  9. Referensi: Saran saya sebaiknya tidak perlu ditulis kecuali diminta oleh Recruiter, dan pastikan kita sudah mengontak nama referensi.

 

Submission

  1. Buat Cover Letter sesimple mungkin sekitar 3 sampai 4 paragraf yang berisi pengenalan siapa diri kita, intensi kita melamar posisi tersebut dan jelaskan bagaimana cara kita berkontribusi, dan harapan untuk assessment lebih lanjut. Kalau pekerjaan yang kita lamar adalah referensi dari teman, jangan lupa untuk tulis nama teman kita.
  2. Pastikan kita tahu nama yang kita tuju, apakah Bapak atau Ibu. Syukur-syukur kita bisa tahu siapa nama yang akan menginterview kita. Kalau mereka bisa profiling kita dengan CV, tidak ada salahnya kita juga profiling balik yang menginterview kita.
  3. Tulis nama file CV dengan baik untuk memudahkan recruiter membaca file CV kita. Misal: cv_nama_posisi.pdf atau cv_nama_posisi_tanggal.pdf
  4. Siapkan nama-nama referensi jika diminta. Usahakan yang memiliki posisi lebih tinggi di perusahaan sebelumnya. Kontak terlebih dahulu, minta ijin dan luangkan waktu untuk diskusi kalau orang tersebut kita masukkan sebagai referensi. Saya sempat diskusi dengan beberapa Recruiter kalau referensi ini bisa memberikan nilai hampir 50% kita diterima atau tidak di perusahaan yang kita lamar. 
  5. Selalu tanamkan mindset kalau CV yang baik adalah untuk mendapatkan Interview, bukan Pekerjaan! CV adalah refleksi dari knowledge, skill, dan capacity sebagai seorang profesional.

 

Interview

  1. Pastikan In time pada saat proses interview. Menurut saya 15 menit waktu yang cukup sebelum interview dimulai.
  2. Pelajari budaya perusahaan yang kita lamar. Lebih baik overdress atau istilahnya “rapih banget sampe pake jas atau blazer” daripada kita berpenampilan seadanya.
  3. Sapa semua orang yang kita temui, dari Satpam sampai Resepsionis. Berikan kesan baik sebagai tamu.
  4. Ingat ya, interview adalah proses evaluation bukan examination. Cobalah untuk menjawab dengan cerita dan study case daripada langsung menjawab dengan jawaban singkat.
  5. Jadilah orang yang baik daripada jadi orang yang sok tahu dengan segala macam pengalaman yang kita miliki. Smart people banyak, tapi yang punya attitude bagus gak banyak.
  6. Akui kalau kita tidak tahu di beberapa hal dan kita punya keinginan untuk belajar.
  7. Kasih tahu apa kontribusi kita terkait posisi yang kita lamar.
  8. Bertanyalah jika kita diberi kesempatan untuk bertanya.

 

Negotiation

  1. Tidak ada teknik negosisasi yang terbaik mengenai Compensation & Benefits. Review kembali interview kita dengan Recruiter, apakah ada hal-hal unik yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk negosiasi. Terkadang negosiasi tidak harus berakhir di akhir sesi interview. Ada kalanya proses negosiasi bisa berlangsung 2-3 kali melalui email atau telepon setelah interview.
  2. Siap-siap kalau ditanya expected salary dan sesuaikan kebutuhan jika kita diminta slip gaji terakhir. Tidak ada hal yang baku atau kaku antara memberikan atau tidak memberikan slip gaji terakhir. Kalau ini bagian dari proses negosiasi, silakan saja. Kalau kamu merasa itu adalah privasi, silakan saja. Terkadang perusahan punya standar umum untuk menaikkan gaji sekitar 20-30% dari gaji terakhir. Kalau kita bisa berani double atau setidaknya 50% kenapa tidak? Jangan pernah terpaku dengan angka sakti 30%. Ingat yaa, selain angka, kita juga negosiasi value. Pastiin kita punya value lebih supaya angka-angka tadi akan lebih mudah mengikuti.
  3. Share semua komponen Compensation & Benefits yang kita punya saat ini. Akan lebih mudah jika kita menjumlahkannya semua komponen (thr + bonus + insurance + training + certification) dalam 1 tahun, dan bagi 12 untuk mendapatkan rata-rata pendapatan selama 1 bulan. Jangan sampai gaji bulanan naik 30%, tapi secara tahunan malah naiknya cuma 10%, huehehehe.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.