Wisata Kuliner Ke Muara Karang

Gara-gara jumat malem gila-gilaan maen billiard sampe badan lemes dan mata ngantuk, sabtunya jadi bangun kesiangan. Niat lari pagi dan naik sepeda kuning keliling UI tinggallah kenangan. Ngobrol-ngobrol sama tetangga kostan, tiba-tiba ada yang nyeletuk “kayaknya enak nih kalo ntar malem makan ikan bakar di muara karang”. Spontan langsung saya jawab “Jadi!!”

Muara karang sendiri saya nggak tau tempatnya di mana. Mendengar namanya aja baru kali ini. Yang saya tau cuma muara angke, itu pun juga nggak tau tempatnya. Setelah mendengar penjelasan dari tetangga kostan yang bernama raden mas panji, akhirnya saya baru tahu kalo muara karang itu merupakan komplek perumahan di kawasan Jakarta Utara. Sedangkan muara angke itu sendiri adalah pelabuhan kapal ikan atau nelayan dan sekaligus pasar ikan. Lokasi muara angke dan muara karang sangat berdekatan.

Waktu sudah menunjukkan jam 10 malem. Saya, panji dan masteg pun bergegas dari kelapa dua menuju muara karang. Masalahnya panji dan masteg yang pernah kesana, sama sekali lupa arahnya. GPS di Nokia E71 yang saya gunakan pun sia-sia, peta hanya menunjukan nama muara karang, tapi tidak ada point of interest dari muara karang itu sendiri. Setelah berputar-putar di perumahan Pantai Indah Kapuk, tanya orang di pinggir jalan dan tukang ojek, akhirnya kami mulai menemukan jalan yang benar menuju muara karang. Perjalanan dari kelapa dua-depok menuju muara karang ditempuh dalam waktu 1 jam.

Perjalanan mulai menyusuri jalan sempit yang pintu masuknya tergenang air laut setinggi betis orang dewasa sampai akhirnya kami menemukan tempat parkir di ujung jalan. Setelah memarkir kendaraan, kami pun kembali menyusuri jalan tadi yang kanan kirinya dipadati pedagang-pedagang ikan. Semua pedagang mulai memanggil manggil kami “Bos, ikannya bos, udang, kepiting, kerang!!”. Nggak puas rasanya kalo belom melihat suasana pasar ikan secara langsung, akhirnya kami memutuskan untuk benar-benar masuk ke lokasi pasar ikan. Woaaaah… salah nih masuk sini, sandal jepit yang saya kenakan langsung bercampur dengan air ikan. Hampir semua orang disitu mengenakan celana panjang dan sepatu bot, sedangkan kami hanya mengenakan celana pendek dan sandal jepit. Target pertama adalah ikan kakap merah. Buruan pertama diawali oleh masteg yang coba menawar ikan kakap merah. Hasilnya 2 ikan kakap seberat 1 kilo lebih seharga 50 ribu. Perburuan berlanjut menuju kepiting yang harus kami tebus 50 ribu untuk 3 kepiting dengan berat 2 kilo, udang laut 2 kilo sebesar 50 ribu dan terakhir kerang bulu 1 kilo lebih seharga 20 ribu.

Setelah puas tawar-menawar dan keliling-keliling, kami membawa hasil ke salah satu warung di depan tempat parkir tadi, namanya Pusat Jajan Serba Ikan. Ada banyak pilihan warung yang buka hingga dini hari. Kami pilih salah satu warung yang masih buka dan kebetulan masih banyak orang yang makan di situ, warung yang lain sudah sepi. Saya baru tau setelah bertanya sana sini, ternyata yang membedakan antara warung yang satu dengan warung yang lain adalah asal tempat tinggal mereka dan khas olahan makanan. Ada jakarta, sunda, bugis, medan dan makasar. Warung yang kami tempati adalah warung makasar, sesuai dengan petunjuk masteg yang sudah pengalaman soal makanan laut. Kami pun ditawari mau dimasak apa.. ikan, kepiting, kerang dan udangnya. Kami memilih saus tiram dan saus padang. Ada dua pilihan tempat makan, bisa lesehan atau pake meja. Kami pilih lesehan biar lebih santai. Dibutuhkan waktu 25 menit untuk mengolah semua makanan. Setelah itu datanglah nasi hangat dan makanan-makanan yang sudah di olah. Rasanya enak, worth it lah dengan perjalanan menuju muara karang dan waktu menunggu yang cukup lama.

Nasi habis, kerang bulu hanya meninggalkan cangkang yang berserakan, kepiting saus tiram ludes, udang tidak bersisa, hanya ikan kakap yang tersisa. Total malam itu kami menghabiskan 304.000 untuk bertiga. 170 ribu untuk beli ikan dan 134 ribu untuk jasa memasak. Sayangnya kami tidak bertanya lebih dulu mengenai harga jasa memasak, setelah tau total harganya, kami hanya bisa terperangah. Huahahaa.. mahal!

Sayang, wisata kuliner yang menarik ini kurang tertata dengan baik. Genangan air yang lumayan tinggi, kurangnya rambu menuju muara karang dan beceknya lokasi membuat muara karang sulit untuk dijangku orang yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Setelah sampe kostan jam setengah empat pagi dengan perut kenyang, terpaksa harus dilanjutkan dengan cuci mobil yang bau amis dan bekas rendaman air laut.

Nice trip 😉

Leave a Reply