Situs Megalitikum Gunung Padang

Dugaan kuat mengenai adanya bangunan piramida di situs Gunung Padang membuat kontroversi di kalangan arkeologi dan geologi. Pemberitaan yang gencar dari beberapa media mengundang rasa ingin tahu masyarakat mengenai keberadaan situs megalitikum Gunung Padang. Gunung Padang mendadak terkenal. Saya sendiri hanya melihat hasil liputannya dari teman-teman di forum National Geographic Indonesia.

Jumat sore selepas pulang kantor, Budhi Wardhana, seorang teman yang saya kenal ketika melakukan perjalanan ke Sawarna mengajak saya untuk mengunjungi Situs Gunung Padang. Walaupun mendadak dan ada beberapa rencana di hari sabtu, tetap saja sulit untuk menolak ajakan mas Budhi.

Perjalanan menuju Gunung Padang tidaklah sulit. Dari Jakarta menuju Cianjur dapat ditempuh dalam waktu 2 jam. Usahakan berangkat agak pagi jika tidak ingin terkena macet di daerah puncak. Setelah bertemu pertigaan Cianjur, ambil arah kanan menuju Warungkondang. Di sebelah kiri jalan terdapat plang yang bertuliskan “Situs Megalith Gunung Padang”. Masuk dan ikuti jalan tersebut hingga sampai di Situs Gunung Padang. Kondisi jalan beragam, kadang bagus dan kadang agak sedikit rusak, tapi cukup aman untuk dilalui mobil sekelas sedan.

 

Stasiun dan Terowongan Lampegan

Sebelum menuju ke Situs Gunung Padang, kami menyempatkan diri menyambangi stasiun dan terowongan Lampegan, salah satu stasiun dan terowongan tertua di Indonesia. Stasiun Lampegan terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Stasiun Lampegan merupakan salah satu stasiun yang dilalui kereta api rute Bandung – Sukabumi. Latitude: -6.94991 dan Longitude: 107.06121.

Tampak Depan Stasiun Lampegan

Stasiun Lampegan Rute Bandung – Sukabumi

Terowongan Lampegan dari Kejauhan

Stasiun Lampegan dan terowongan Lampegan dibangun dari tahun 1879 hingga 1882 oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen (SS) dan saat ini masuk sebagai kawasan Cagar Budaya. Panjang terowongan yang membobol Bukit Kencana ini tadinya 686 meter, namun karena peristiwa gempa bumi yang mengakibatkan tanah longsor kini panjang terowongan Lampegan menjadi 415 meter. Paska rangkaian peristiwa longsor pada tahun 2001 dan 2006, kondisi terowongan Lampegan saat ini sudah diperbaiki dan direnovasi kembali pada tahun 2010, namun masih belum dilalui kereta api. Ketika saya berada di dalam terowongan, masih terlihat beberapa bekas tambalan semen di atap terowongan.

Terowongan Lampegan

Terowongan Lampegan Dengan Panjang 415 Meter

 

Situs Megalitikum Gunung Padang

Perjalanan dari Lampegan menuju Gunung Padang sekitar 15 menit dengan pemandangan perkebunan teh dan karet serta kontur jalan aspal yang cukup bagus dan berkelok kelok. Perjalanan kami disambut oleh gapura besar yang bertuliskan “Situs Megalith Gunung Padang Cianjur”. Gapura tersebut langsung membawa kami menuju tempat parkir yang cukup luas di sebelah kiri jalan. Sebenarnya kami bisa melanjutkan hingga pintu masuk Situs Gunung Padang, tetapi karena medan yang terjal akhirnya kami memutuskan untuk parkir di bawah. Jika anda membawa sepeda motor, anda bisa melanjutkan perjalanan hingga sampai ke atas. Dari sini kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 1 KM untuk sampai di depan pintu masuk Situs Gunung Padang.

Gapura Situs Megalith Gunung Padang Cianjur

Situs Megalitikum Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Latitude: -6.9946 dan Longitude: 107.05641. Hasil uji karbon dengan menggunakan Radioisotop Carbon C14 menunjukkan Situs Gunung Padang dibangun sekitar 4700 SM, lebih tua dari Piramid Giza di Mesir yang dibangun sekitar 2650 SM. Dari Februari sampai awal Maret 2012, tim Katastropik Purba melakukan penelitian dan pengeboran sedalam 20 meter. Dari hasil penelitian sementara, terdapat ruang/ rongga di bawah situs Gunung Padang. Selain itu juga diketemukannya pasir yang diduga sebagai teknologi anti gempa.

Pos Pintu Masuk Situs Gunung Padang

Sebelum masuk ke situs, kami dipersilahkan mengisi buku tamu dan membayar biaya perawatan sebesar 1000 rupiah. Tepat di pintu masuk, kami melihat sebuah sumber mata air yang berbentuk sumur yang dinamakan Cikahuripan atau air kehidupan. Untuk menuju ke atas, kami harus meniti anak tangga yang cukup terjal. Batu-batu persegi tersusun rapih membentuk undakan. Piuhhh… kelelahan kami terbayar dengan pemandangan menakjubkan. Bukit yang penuh dengan batu-batuan andesit persegi.

Halaman Pintu Masuk Situs Gunung Padang

Sambil beristirahat, saya dan mas Budhi bertemu dengan Pak Nanang. Salah satu Jupel atau Juru Pelihara Situs Gunung Padang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang. Kami meminta Pak Nanang untuk menjelaskan mengenai situs Gunung Padang. Syukurlah, Pak Nanang tidak berkeberatan. Bahkan beliau dengan senang hati mengajak kami kembali ke teras pertama dan menceritakan sejarah Situs Gunung Padang.

Situs Megalitikum Gunung Padang

Situs yang luasnya lebih kurang 900 m² ini pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda, N.J. Krom pada tahun 1914. Kemudian situs ini kembali dilaporkan pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemerintah daerah. Para Arkeolog mulai meneliti secara intensif sejak tahun 1980. Ekskavasi (penggalian yang dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala) pertama dilakukan pada tahun 1982. Karena ada bencana alam Gunung Galunggung di tahun tersebut, ekskavasi dihentikan dan dilanjutkan kembali pada tahun 1985. Saat ini kegiatan penelitian mulai diadakan kembali secara intensif.

 

Filosofi Gunung Padang

Padang artinya tanah yang luas. Bisa juga berarti terang dalam bahasa Sunda. Interpretasi dari Gunung Padang adalah tempat yang bisa memberikan penerangan atau pencerahan. Bisa juga disebut sebagai Gunung yang bercahaya. Walaupun namanya gunung, situs ini lebih menyerupai bukit yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun di sekelilingnya.

“Ada angka unik yang ditemukan di sini, semua serba 5”, ujar Pak Nanang. Situs Gunung Padang terdiri dari 5 teras dimana terdapat 5 undakan batu untuk menuju dari satu teras ke teras berikutnya. Hampir 95% semua batuan mempunyai 5 sudut atau segilima. Situs ini dikelilingi oleh 5 bukit; Karuhun, Emped, Gunung Batu, Gunung Malati dan Pasir Malang serta berorientasi atau mengarah ke 5 gunung secara sejajar; Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Pada jamannya, situs Gunung Padang dibuat dan digunakan sebagai tempat persembahan dan peribadatan.

Sebelum masuk ke dalam teras pertama ini, orang diwajibkan untuk mandi terlebih dahulu di sumur Cikahuripan atau air kehidupan yang lokasinya berada di pintu masuk situs Gunung Padang. Nama lain dari sumur ini adalah Banyu Susuk Tungga (Banyu artinya air, Susuk artinya menancap, Tungga artinya satu). Filosofinya adalah sebelum orang melakukan peribadatan, orang tersebut harus menyucikan dirinya terlebih dahulu. Kebersihan hati harus menancap/ mengarah kepada yang satu.

Banyu Susuk Tungga – Sumur Cikahuripan

Setelah melewati sumur Cikahuripan, barulah masuk ke teras pertama yang disebut juga sebagai Pamuka Lawang yang ditandai dengan 2 buah batu menyerupai tiang yang berdiri miring. Di teras ini terdapat Gunung Masigit yang berada di tengah-tengah, sebuah ruangan dengan dolmen dan 2 buah batu gamelan atau Sound Stone. Saya mengambil batu  kecil dan mencoba memukul-mukulkannya ke Sound Stone. Luar biasa, terdengar suara nyaring dari batu tersebut. Di tempat ini juga disediakan palu kayu yang bisa digunakan oleh pengunjung.

Pamuka Lawang

Ruang Persembahan dengan Batu Dolmen di Pojok Belakang

Batu Dolmen

Sound Stone – Mengeluarkan Bunyi Nyaring Jika Dipukul

Pintu Masuk Menuju Gunung Masigit

Di teras kedua, terdapat batuan yang disebut Eyang Mahkota Dunia. Awalnya Pak Nanang tidak mengerti kenapa dinamakan demikian. Kemudian pada suatu malam, Pak Nanang datang kemari sambil berdiam dan merenung. Lalu ia merasakan suatu bisikan yang mengatakan bahwa mahkota dunia adalah kehormatan dunia. Seseorang yang memperoleh kehormatan di dunia bukanlah orang-orang yang memiliki kekayaan, tetapi orang yang berbagi dari hasil kekayaan tersebut untuk orang lain. Berbeda dengan teras lainnya, untuk masuk ke dalam teras kedua ini harus memutar terlebih dahulu dan masuk melalui selatan. Di teras ini juga terdapat Batu Kursi yang digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah dan Batu Lumbung sebagai lambang kesejahteraan.

Batu Kursi Untuk Tempat Duduk Seorang Pemimpin

Batu Lumbung Sebagai Lambang Kesejahteraan

Di teras ketiga, ada batu yang disebut Kramat Tungga, yaitu batu dengan legok atau cetakan seperti kujang pada permukaannya. Kramat berarti tempat dan tunggal adalah satu. Sedangkan kujang menurut budaya sunda artinya sesuatu untuk dipegang atau “peganglah!”. Filosofi dari teras ini adalah untuk mengingatkan manusia kepada yang satu. Batu legok lainnya adalah Tapak Maung, sebuah batu besar dengan legok atau cetakan tapak kaki harimau.

Batu Kujang

Tapak Maung dengan Legok Menyerupai Tapak Harimau

 

Di teras keempat terdapat Bandung Tungga atau Batu Gendong. Bandung berarti agung dan Tungga berarti satu. Filosofi dari batu ini adalah agungkan yang satu. Beberapa kali saya melihat pengunjung mencoba untuk mengangkat batu tersebut. Banyak yang berpikiran, kalau berhasil mengangkat batu tersebut maka keinginan kita akan terkabul. Menurut Pak Nanang, batu tersebut merupakan sebuah “sambutan”, yaitu untuk menuju ke teras kelima seseorang harus kuat terlebih dahulu dan telah selesai menjalani proses dari teras pertama hingga teras keempat.

Batu Gendong Yang Sangat Berat

 

Teras kelima atau teras terakhir disebut juga sebagai Tempat Singgasana, sekaligus sebagai tempat akhir peribadatan. Disini terdapat sebuah tempat duduk yang disebut sebagai Batu Pandaringan. Batu panjang yang terbaring ini menghadap lurus ke arah 5 gunung (Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango). Singgasana ini digunakan sebagai tempat berdoa ke arah Gunung Gede. Dapat dibayangkan ketika jaman dahulu, sebuah gunung dianggap sebagi kekuatan yang besar, dapat memberikan kesuburan di daerah sekitarnya sekaligus bisa memberikan bencana akibat letusannya.

Batu Pandaringan

 

Pak Nanang yang telah bekerja di situs Gunung Padang selama 18 tahun ini pernah beberapa kali diundang ke Jakarta untuk memberikan informasi mengenai situs Gunung Padang. Pengunjung terbanyak biasanya terjadi di hari sabtu dan minggu dimana bisa terdapat 1200 pengunjung dalam satu hari. Kebanyakan pengunjung dari beberapa daerah di sekitar Cianjur. Pak Nanang sering menjumpai turis mancanegara seperti Amerika, Belanda, Jepang, Korea, Spanyol, Perancis dan Rusia.

Penafsiran filosofi dari Gunung Padang masih menjadi misteri. Ada beberapa penafsiran yang dihubungkan dengan Kerajaan Pajajaran, padahal situs ini dibangun jauh sebelom nenek moyang Kerajaan Pajajaran lahir. Beberapa riset mengenai situs Gunung Padang ditemukan bahwa Situs Megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs prasejarah yang dibangun untuk keperluan peribadatan dengan memperhatikan harmoni geomantik (posisi bangunan terhadap unsur-unsur alam di Bumi seperti gunung dan mata angin) dan astromantik (posisi bangunan terhadap garis edar rasi-rasi bintang, planet atau Matahari). Sebuah kearifan lokal dimana pada jaman dahulu, tanpa teknologi canggih, orang bisa membuat batu dengan ukuran segi lima yang tersusun rapih.

Leave a Reply