Pengalaman Mengambil Sertifikasi Scrum Master

Ini adalah sertifikasi saya yang kedua di Agile Professional Development setelah SAFe. Sebenarnya sudah sangat lama saya mengenal Scrum, tepatnya di tahun 2008 ketika ada project besar di salah satu client. Barulah di 2 tahun belakangan ini mulai serius belajar lagi dan ikut kelas. Ya, sekadar refreshing knowledge di software development.

Saat ini terdapat 2 sertifikasi Scrum Master yang populer, yaitu Certified Scrum Master (CSM) yang dikeluarkan oleh Scrum Alliance, dan Professional Scrum Master (PSM) yang dikeluarkan oleh Scrum.org. Keduanya sama-sama menunjukan pengetahuan kita mengenai Scrum secara fundamental.

The Professional Scrum Masterâ„¢ level I (PSM I) assessment is available to anyone who wishes to validate his or her depth of knowledge of the. Scrum framework and its application. Those who pass the assessment will receive the industry recognized PSM I Certification to demonstrate their fundamental level of Scrum mastery.

https://www.scrum.org/professional-scrum-master-i-certification

Saya memilih untuk mengambil PSM karena biaya ujiannya yang murah dan tidak ada expiry date, walaupun hampir semua yang mengambil PSM bilang kalau ujiannya termasuk sulit. Selain itu teman-teman yang sudah mengambil sertifikasi Scrum di komunitas yang saya temui kebanyakan juga mengambil PSM. Jadi bisa dibilang cukup memberikan pengaruh ke saya dalam mengambil keputusan.

Persiapan yang saya tempuh untuk mengambil sertifikasi adalah 1 minggu. Sangat jauh sekali bila dibandingkan dengan persiapan sertifikasi PMP yang hampir 4 bulan.

  1. Saya coba review kembali pelatihan Scrum yang sudah saya ikuti. Apa yang dipelajari dan apa yang saya dapat sepulang dari pelatihan.
  2. Punya background sebagai Software Development tidak menjadi keharusan, tapi sangat membantu. Kebetulan lingkungan kerja saat ini dikelilingi oleh teman-teman Developer dan mayoritas dari mereka menggunakan Scrum.
  3. Being Agile dengan memahami 4 Agile Manifesto dan 12 Agile Principles.
  4. Scrum Guide. Saya baca sehari 2 kali. Pagi sebelum mulai bekerja dan malam sebelum tidur.
  5. Open Assessment. Scrum.org menyediakan 30 soal open assessment. Saya ambil beberapa kali untuk mengetes pemahaman saya setelah membaca Scrum Guide. Sayang, banyak pertanyaan yang berulang setiap kali mengambil open assessment. Tip: ada beberapa pertanyaan dari open assessment yang muncul pada saat ujian.
  6. Blog Mikhail Lapshin. Mikhail Laphshin ini baik banget. Dia menyediakan simulator yang bisa diakses secara gratis. Terdapat Learning Mode (LM) dan Real Mode (RM) yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan.
  7. Buat saya, 3 material di atas sudah cukup dalam menghadapi ujian. Jika dirasa masih kurang untuk latihan soal, teman-teman bisa membeli PSM Exam Preparation di Udemy. Ada yang menyediakan 240 soal (3 x Mock Exam), ada juga yang menyediakan 480 soal (6 x Mock Exam)
  8. Buy Assessment PSM I di Scrum.org sebesar $150. Setelah sukses, Scrum.org akan mengirimkan password yang akan valid sampai kita ambil ujian.
  9. Untuk focus area yang akan diujikan, Scrum.org sudah membuat Professional Scrum Competencies yang menjadi dasar untuk ujian PSM.
  10. Ujian deh. 80 questions with 60-minute time-box.

Work From Home adalah waktu yang tepat untuk mengambil sertifikasi. Saya ambil ujian jam 10 malam dengan harapan koneksi internet sudah stabil, dan semua orang di rumah sudah istirahat. Jadi, saya bisa mengerjakan ujian dengan tenang. Tapi yang terjadi adalah, interface Scrum.org lambat bangeeeeet. Saya agak khawatir karena hampir setiap lanjut ke soal berikutnya, halaman loading bisa memakan waktu 30 detik sampai 1 menit. Huh, padahal koneksi internet lancar jaya. Yang paling menyebalkan adalah waktu loading ternyata memakan waktu ujian. Keseel!

Saya pernah baca di forum scrum.org, kalau banyak orang yang mengalami performance issue pada saat ujian. Dan ini terjadi pada saya. Kuncinya adalah tetap tenang dan jawab soal secepat mungkin. Saran saya, kalau teman-teman ingin mengambil ujian, ada baiknya mengetes koneksi dengan melakukan Open Assessment terlebih dahulu. Jika lancar, bisa dipastikan ujian juga lancar.

Akhirnya, di soal terakhir saya masih menyisakan waktu 1 menit. Tanpa review kembali soal-soal yang sudah dijawab, saya memberanikan diri untuk menyudahi ujian. Hah lega, akhirnya Passed juga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.