Megahnya Kota Bandung dari Tebing Keraton

Bandung memang selalu punya cara memikat agar orang selalu datang ke kota ini. Biarpun macet sudah menghadang di depan gerbang tol pasteur, tetap saja Bandung menjadi primadona di akhir pekan. Sekadar mencicipi makanan baru, gudangnya factory outlet ataupun wisata alam yang seakan tidak ada habisnya untuk ditemukan. Salah satunya adalah lokasi wisata yang lagi hits saat ini, yaitu Tebing Keraton.

Kepergian saya ke Bandung adalah untuk menjemput Titis yang sedang ada acara Kick Off Meeting dari kantornya. Kebetulan Ibunya Titis sedang berada di Jakarta dan adiknya, Bagus sedang tidak ada kuliah. Asik deh, ada yang menemani saya selama 2,5 jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Daripada bingung mau kemana, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Tebing Keraton. Walaupun tujuannya Tebing Keraton, tetep yaa kalau di Bandung itu belum pas kalau belum kulineran sama belanja-belanja.

 

Pemandangan kota Bandung dari penginapan di Dago Pakar

Pemandangan kota Bandung dari penginapan di Dago Pakar

 

Lokasi

Dari Bandung ambil arah menuju Dago. Jalan terus sampai melewati Dago Tea House dan Terminal Dago sampai menemukan jalan bercabang. Ke kiri menuju Dago Giri dan ke kanan menuju Dago Pakar. Ambil arah menuju Dago Pakar sampai bertemu cabang berikutnya, ke kiri menuju Dago Bengkok, ke kanan menuju Bukit Dago Pakar, ambil arah menuju Dago Pakar. Jalan terus sampai bertemu Indomaret di kiri jalan lalu ambil ke arah kiri menuju Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda.

Anda akan menemui kontur jalan menanjak dan bertemu dengan pintu masuk Tahura. Jalan terus sampai Anda bertemu dengan jalan yang semakin menanjak dan kondisinya cukup rusak. Ikuti jalan sampai bertemu percabangan dengan penunjuk jalan Tebing Keraton ke arah kiri.

Tepat jam 5 pagi, kami berangkat dari penginapan yang terletak di Dago Pakar. Bermodal GPS, kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di Desa Ciburial. Lokasinya tidak sulit untuk ditemukan. Cukup ketik Tebing Keraton di Google Maps, Voilaa! Jika masih kesulitan juga, cobalah untuk bertanya dengan penduduk sekitar. Suasana pagi waktu itu cukup ramai. Jalan-jalan dipenuhi orang-orang yang berolahraga.

Kami tidak menyangka, jam 5.30 pagi area parkir sudah penuh oleh sepeda motor dan mobil. Seorang tukang ojek menghampiri saya, “Ojek kang, 30 ribu sekali jalan. Kalau bolak balik 50 ribu”. Dengan situasi jalan yang gelap dan kami sama sekali tidak tahu kondisi jalan seperti apa, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa 2 motor. Okaaaii.. ternyata jalannya jauh juga. Jalan berbatu dan menanjak sepanjang 2 kilometer! Untuk memasuki lokasi ini, kami dikenakan biaya sebesar 11 ribu. Fasilitasnya terbilang cukup baik. Toilet di depan pintu masuk dan jalan konblok untuk menuju lokasi.

 

Sejarah Tebing Keraton

Pak Asep sebagai sang penemu Tebing Keraton menuturkan di dalam tulisannya bahwa Keraton adalah sebuah kemewahan alam, kemegahan alam dan keindahan alam yang bisa kita nikmati bersama. Pak Asep awalnya adalah seorang tukang ojek di Desa Ciburial. Karena kejeliannya, Pak Asep mengubah tempat yang tadinya pemukiman penduduk ini menjadi wisata baru. Sekitar akhir Agustus 2014 tempat ini mulai menjadi wisata resmi oleh pemerintah daerah. Berikut adalah catatan sejarah Tebing Keraton yang saya sadur apa adanya dari Tebing Keraton.

Sejarah Tebing Keraton

 

Sedikit cerita tentang Tebing Karaton, mula-mula nama Tebing Karaton muncul pada awal Mei 2014 tepatnya pulul 24.00. Pada saat itu pula saya langsung menulis nama Tebing Karaton, lalu keesokan harinya saya simpan didepan rumah dilengkapi petunjuk arah, dan setelah nama tersebut dipasang setiap harinya pengunjung mulai berdatangan. Terkadang ada 2 motor, 3 motor, 5 motor dan seterusnya.

 

Maka sayapun punya inisiatip untuk membersihkan halaman rumahku, lalu diperlebar. Sedikit demi sedikit semakin lama semakin banyak pengunjung yang datang lalau saya punya ide untuk membuat kotak uang dengan dalih untuk kebersihan dan perawatan jalan yang sampai saat ini kotak tersebut masih tersimpan dengan rapi sebagai saksi dan bukti yang nyata.

 

Maka dengan hati yang tulus sayapun membuat jalan setapak ke tempat tujuan berikut lahan parkir tanpa seorangpun yang membantu, akhirnya Tebung Karaton terkenal kemana-mana. Namun disisi lain banyak orang bertanya-tanya, kenapa sih namanya Tebing Karaton? Tebing (Sunda) Gawir, Karaton adalah sebuah kemewahan alam, kemegahan alam dan keindahan alam yang bisa kita nikmati bersama.

 

Maka saya tidak menulis keraton yang indentik dengan gedung yang layaknya istana tetapi karaton Sunda banget. Dan sejak dulu memang sudah ada, cuman namanya bukan Tebing Keraton melainkan Cadas Jontor yang artinya Cadas tersebut menonjol kedepan dan mempunyai ketinggian yang berbeda diantara cadas – cadas lainnya, itulah sedikit tentang riwayat Tebing Karaton, semoga pengunjung puas.

 

Marilah kita nikmati, marilah kita jaga bersama kebesaran yang telah Allah berikan kepada kita semua, semoga anda tidak bosan untuk datang dan mentaati semua aturan.
1. Buanglah sampah pada tempatnya yang telah kami sediakan.
2. Jaga diri masing-masing / hati – hati.
3. Jangan gaduh, jangan berdesak-desakan.
4. Jangan melewati pagar, ikuti aturan pemandu.
5. Batas Waktu jam 05.00 s/d jam 18.00.

 

Terimakasih atas kunjungannya,
Asep Sobana,

 

Bandung, 1 Mei 2014
Kampung Ciharegem Puncak, Rt 03/10, Desa Wisata Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung 40198

 

Pemandangan lampu rumah-rumah penduduk dari Tebing Keraton

 

Morning Fog Tebing Keraton

Kabut pagi di Taman Hutan Raya Djuanda

 

Taman Hutan Raya Djuanda

Pemandangan Taman Hutan Raya Djuanda

 

Suasana di sekitar Tebing Keraton

Suasana di sekitar Tebing Keraton

 

Pemandangan Sekitar Tebing Keraton

 

Tebing yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda ini memiliki pemandangan spektakuler. Pagi cukup cerah. Dari ufuk timur matahari terlihat malu-malu tertutup semburat kuning, ditingkahi semilir angin pagi nan sejuk, menjadikan suasana pagi itu begitu menakjubkan.

Batu di ujung tebing merupakan tempat foto selfie super kece bagi kebanyakan pengunjung. Foto dan langsung upload di instagram atau di path. Kalo belom selfie di batu itu, belum sah mengunjungi tebing keraton.

Selfie di Tebing Keraton

Selfie super kece di Tebing Keraton. Tetap berhati hati!

Jaman sekarang, “the power of social media” itu besar banget ya. Saya ke Tebing Keraton gara-gara foto instagram dan juga beberapa teman yang sudah kesana sebelumnya. Tebing yang memiliki ketinggian 1200 mdpl ini bisa menjadi alternatif wisata di akhir pekan dimana kota Bandung saat ini sepertinya sulit terhindar dari kemacetan.

Leave a Reply