<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>last hope at last station</title>
	<atom:link href="http://adikristanto.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adikristanto.net</link>
	<description>adikristanto personal blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Feb 2012 03:46:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Santai di Pantai Surga Sawarna</title>
		<link>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[Ciantir]]></category>
		<category><![CDATA[Karang Taraje]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Sawarna]]></category>
		<category><![CDATA[Pasir Putih]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Layar]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1858</guid>
		<description><![CDATA[Hujan deras belum ada tanda-tanda akan mereda. Jalanan yang macet ditambah beberapa genangan melengkapi indahnya Jakarta di jumat sore. Antrian Transjakarta mulai mengular hingga jembatan di Kuningan Timur. Tepat di bus ke-12 akhirnya saya bisa memasukkan diri melalui pintu belakang, berjejal menahan pegal hingga halte Ragunan. Keberangkatan belum dimulai, tetapi saya sudah menikmati serunya perjalanan.
Hari ini, jumat tanggal 4 februari, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan deras belum ada tanda-tanda akan mereda. Jalanan yang macet ditambah beberapa genangan melengkapi indahnya Jakarta di jumat sore. Antrian Transjakarta mulai mengular hingga jembatan di Kuningan Timur. Tepat di bus ke-12 akhirnya saya bisa memasukkan diri melalui pintu belakang, berjejal menahan pegal hingga halte Ragunan. Keberangkatan belum dimulai, tetapi saya sudah menikmati serunya perjalanan.</p>
<p>Hari ini, jumat tanggal 4 februari, saya akan kembali melakukan perjalanan. Kali ini bersama teman-teman dari komunitas <a href="http://backpackerindonesia.com/">Backpacker Indonesia (BPI)</a></p>
<p>Entah apa yang membuat saya terdampar di website BPI. Oh Tuhan, sepertinya saya mulai terkena virus perjalanan. Baru saja pulang dari Singapura, tidak ada 3 hari saya mulai mencari ide mengenai perjalanan selanjutnya. Di website BPI, saya melihat salah satu thread mengenai Desa Sawarna yang dibuat oleh Cendy. Cerita mengenai keindahan Sawarna sepertinya sudah tersebar. Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sangat dekat dengan objek wisata Pelabuhan Ratu.</p>
<p>Banyaknya website yang mengulas indahnya pantai disana membuat rasa penasaran saya semakin memuncak. Itinerary yang dibuat oleh Cendy benar-benar membuat pengunjung terpikat. Biayanya pun cukup terjangkau bagi Traveller berkantong tipis, 360 ribu saja, sudah termasuk biaya akomodasi, makan, tempat wisata dan pemandu. Ditambah dengan Senior member yang melekat pada Cendy semakin meyakinkan saya untuk mengikuti perjalanan ke Sawarna.</p>
<p>Keberangkatan menuju Sawarna dimulai dari Warung Bakso di depan Terminal Kampung Rambutan, meeting point kami. Sambil menunggu teman yang lain, saya berjumpa dengan Yani, Bayu, Nata dan Budi. Kami tidak saling mengenal sebelumnya, hanya tas besar di punggung kami yang mampu memberikan tanda kalau kami semua memiliki tujuan yang sama. Yani bercerita kalau ini adalah kali kedua Backpacker’an dengan teman-teman BPI. Sedangkan Saya, Bayu, Nata dan Budi, ini adalah pengalaman pertama kami. Cerita diantara kami tidak jauh dari tema perjalanan. Saya hampir dibuat minder dengan mereka, perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya luar biasa. Budi bercerita dengan antusias tentang perjalanannya menjelajahi kota Bangkok, sedangkan Bayu sudah menjelajahi 4 negara di Asia Tenggara. Sungguh, awal perjumpaan yang menyenangkan dengan mereka.</p>
<p>Pukul 23.30, bus kami pun tiba. Cendy yang sudah terbiasa mengadakan perjalanan bagi komunitas Backpacker mulai mengecek dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam Bus. Saya kebagian duduk di belakang bus, bersama dengan Bayu, Nata dan Budi. Ah… saya paling tidak suka duduk di belakang. Total peserta sebanyak 24 orang.</p>
<p>Perjalanan yang memakan waktu hampir 9 jam benar-benar membuat badan saya pegal. Apalagi ketika bus memasuki ruas jalan yang rusak, posisi di belakang adalah posisi yang paling menderita dimana guncangannya paling kuat terasa. Beberapa kali saya melihat kepala Budi terpentok jendela. Hahaha…  ya sudahlah.. dinikmati saja. Rute perjalanan: Jakarta &#8211; Tangerang &#8211; Rangkasbitung &#8211; Malimping &#8211; Bayah &#8211; Desa Sawarna.</p>
<p>Tepat pukul 9, kami tiba di Desa Sawarna… yeaaay!! Kami langsung menuju Homestay Java Beach yang terletak di Desa Sawarna. Untuk menuju ke Homestay, kami harus melewati jembatan gantung dan menyusuri gang yang hanya cukup untuk motor. Setelah pembagian kamar, kami diberi waktu hingga jam 12 untuk makan siang dan bersiap melakukan perjalanan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Gantung.jpg"><img class="size-full wp-image-1876 aligncenter" title="Bergoyang di Jembatan Gantung Sawarna" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Gantung.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Desa Sawarna menyediakan banyak Homestay atau Guest House dengan beragam pilihan mulai dari harga, tempat dan fasilitas. Homestay yang saya tempati cukup nyaman, halaman dan terasnya sangat luas. Pemandangannya langsung menuju ke pematang sawah. Terdapat fasilitas olahraga dan dapur jika sewaktu waktu kami ingin memesan makanan atau minuman. Rombongan kami menempati 3 kamar untuk laki-laki dan 2 kamar untuk perempuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Goa Lalay</strong></p>
<p>Semua peserta sudah bersiap. Kebanyakan teman-teman yang hobi perjalanan juga memiliki hobi fotografi. Saya melihat ada 10 orang yang membawa DSLR. Saya, Bayu, Nata dan Yani menggunakan Canon, sedangkan Nata berbeda agama, dia menggunakan Nikon. Lain halnya dengan Adri dan Fayong, mereka benar-benar seorang fotografer. Persenjataan fotografi mereka sangat lengkap, tripod, lampu flash dan beberapa filter lensa. Sebelum memulai perjalanan, kami saling bertukar pikiran mengenai fotografi.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pematang-Sawah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1877" title="Melintasi Sungai dan Pematang Sawah" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pematang-Sawah.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Perjalanan menuju Goa Lalay lebih kurang 2KM. Kami kembali melewati jembatan gantung, kemudian masuk kembali ke dalam desa. Disini kami harus menyeberangi sungai dan menyusuri sawah-sawah. Senang sekali bisa melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain air sedangkan ibu mereka tidak jauh dari mereka sedang mencuci pakaian. Tampak di kanan dan kiri kami, hamparan sawah yang hijau nan asri. Banyak di antara kami yang menjadi bahan kecengan karena terpeleset atau terperosok masuk ke dalam sawah. Senda gurau dan indahnya alam pedesaan membuat perjalanan kami semakin seru dan menyenangkan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Goa-Lalay.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1879" title="Memasuki Goa Lalay Yang Gelap" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Goa-Lalay.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Goa Lalay merupakan goa batu gamping. Dalam bahasa sunda, lalay artinya kelelawar. Untuk masuk ke dalam goa diperlukan senter, karena goa ini gelap sekali. Atasnya terdapat stalaktit yang mengucurkan air yang dingin. Sedangkan dasarnya merupakan sungai bawah tanah yang mengalir cukup deras dan berlumpur. Perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke dalam. Dari sekian banyak peserta, hanya saya yang memberanikan diri membawa kamera ke dalam. Hahaha… takut kali yah, kalo kameranya tercebur ke sungai. Terpaksa deh… jadi fotografer seorang diri di dalam goa. Huehuehe…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pantai Laguna Pari</strong></p>
<p>Setelah puas menikmati gelapnya Goa Lalay, kami kembali lagi melewati pematang sawah dan menyeberang sungai. Di tengah pematang sawah, saya melihat gubuk tua dengan bapak-bapak yang sedang mengasah arit. Saat itu juga saya langsung meminta ijin untuk mengabadikan momen tersebut. Syukurlah bapak itu tidak keberatan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Petani-Sawarna.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1880" title="Petani Sawarna" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Petani-Sawarna.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Pantai sudah terlihat dari atas bukit yang dipenuhi pohon kelapa. Saya percepat langkah kaki yang sudah tebal dengan tanah berlumpur, mendaki bukit berbatu dan akhirnya turun dengan jalan tanah yang becek dan licin, hingga akhirnya mencapai pantai. Medan yang cukup berat membuat banyak peserta jatuh terpeleset.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Laguna-Pari.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1881" title="Jejeran Perahu di Laguna Pari" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Laguna-Pari.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Pantai Laguna Pari sangat indah, pantainya luas, sepi dan bersih. &#8220;Hidden Beach&#8221; memang pantas disematkan kepada Laguna Pari. Di pinggiran pantai banyak sekali jejeran rapih perahu nelayan yang sedang berlabuh. Seketika langsung menjadi bidikan favorit untuk mengabadikan gambar. Perahu nelayan yang berwarna warni menjadi pemanis indahnya Laguna Pari.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Perahu-Nelayan-Laguna-Pari.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1882" title="Perahu Nelayan Laguna Pari" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Perahu-Nelayan-Laguna-Pari.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Tak terasa, Saya, Bayu dan Nata mulai menjauh dari rombongan. Kami begitu asyik dengan kamera kami. Dari kajauhan, beberapa teman memanggil kami untuk kembali.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ciantir, Karang Taraje dan Tanjung Layar</strong></p>
<p>Di tengah panas yang sangat terik, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Layar untuk mengejar Sunset. Untuk menuju kesana, kami harus melewati Pantai Ciantir dan Karang Taraje. Berbeda dengan Laguna Pari, Ciantir memiliki ombak yang  tinggi. Medan yang kami tempuh pun cukup terjal, banyak sekali karang dan batu-batu besar di bibir pantai dan akhirnya kami harus melintasi bukit yang cukup curam. Ciri khas dari pantai Tanjung Layar ini adalah 2 karang besar.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Karang-Tanjung-Layar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1883" title="Karang Tanjung Layar" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Karang-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Tak terasa, jalan panjang yang kami tempuh cukup menguras tenaga. Makan siang dengan porsi besar tidak mampu menahan rasa lapar di sore hari. Untungnya di Tanjung Layar terdapat sebuah gubuk yang menjual makanan dan aneka minuman. Sambil menunggu sunset, kelaparan yang sangat ini memaksa saya menghabiskan satu mangkok mie rebus. Hihihi…</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sunset-Tanjung-Layar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1884" title="Sunset Tanjung Layar" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sunset-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Semburat jingga mulai terlihat. Teman-teman mulai memilih posisi terbaik untuk mengabadikan sunset. Suasana mendadak sunyi, semua orang begitu serius dengan kameranya masing-masing. Beberapa kali saya mengambil gambar untuk mendapatkan momen terbaik. Selesai matahari terbenam, kami masih menikmati lembayung senja yang terukir di ufuk barat. Thanks God… sunset yang menakjubkan. Benar-benar surga yang tersembunyi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lembayung-Senja-Tanjung-Layar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1885" title="Lembayung Senja Tanjung Layar" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lembayung-Senja-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Waktu santai di homestay kami manfaatkan untuk makan malam dan sharing mengenai perjalanan-perjalanan sebelumnya. Jagung bakar dan ikan sudah disiapkan untuk acara barbeque nanti malam. Sedangkan saya… sudah jauh mengelana dalam dekapan mimpi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perkenalan</strong></p>
<p>Setelah sarapan pagi, kami berkumpul bersama di teras rumah. Waktunya acara perkenalan. Seharusnya acara perkenalan diadakan ketika barbeque tadi malam. Tapi karena teman-teman banyak yang bertumbangan akhirnya acara perkenalan dipindahkan ke pagi ini.</p>
<p>Satu per satu, teman-teman mulai memperkenalkan diri. Kebanyakan dari mereka dari Jakarta, ada juga yang dari Bekasi, Serang dan Bandung. Ada salah satu peserta yang agak mencolok diantara kami. Namanya Pak Soewandi dan kami memanggilnya Abah. Walaupun sudah tua, ternyata Abah masih memiliki jiwa muda untuk bergabung dengan kami.</p>
<p>Abah yang juga teman sekamar, mulai bercerita kepada saya. Kata Abah, anak-anak muda jaman sekarang lebih melek teknologi dibandingkan dengan generasi dahulu, sekarang anak-anak muda sudah punya smartphone dan kamera yang canggih. Menyalurkan hobi dengan kegiatan yang positif.</p>
<p>Awalnya Abah merasa canggung dan memiliki perasaan tidak diterima ketika mengikuti perjalanan dengan anak-anak muda. Ternyata persepesi Abah salah, anak-anak muda yang menyukai perjalanan mempunyai jiwa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Abah bahkan berencana untuk mengikuti perjalanan-perjalanan berikutnya bersama teman-teman Backpacker Indonesia. Semangat Abaaah!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pasir Putih</strong></p>
<p>Tidak seperti hari kemarin ketika kami menuju Tanjung Layar. Untuk menuju ke Pasir Putih, kami langsung melewati pintu belakang. Lebih kurang 10 menit, kami sudah mencapai pantai. Pantai Pasir Putih memang luar biasa indah. Garis pantainya panjang. Di depan sebuah gubuk terdapat satu buah tanaman dan bangku kayu. Beberapa teman mulai bercerita mengenai keberadaan tanaman dan bangku kayu tersebut. Menurut mereka dua objek itu merupakan objek terkenal di Pasir Putih dan sebagai tempat foto wajib yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Pasir Putih.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pasir-Putih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1886" title="Bangku Pasir Putih Yang Terkenal" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Waktu yang cukup banyak, saya manfaatkan untuk mengambil gambar beberapa teman dan berguru fotografi bersama Adri. Hasil fotonya Adri memang bagus. Membuat kami semua terpana. Adri yang pernah belajar ke Darwis Triadi ini mulai mengajarkan kepada kami, bagaimana cara mengambil foto yang bagus di pantai. Adri bahkan meminjamkan lampu flash dan mengatur beberapa setingan yang pas di kamera saya. Wow… hasil jepretan saya mendadak lebih bagus kali ini. Hihihi…</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Foto-Bersama-Pasir-Putih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1887" title="Foto Bersama di Pasir Putih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Foto-Bersama-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Lagi-lagi, saya orang terakhir yang pulang menuju Homestay. Di tengah perjalanan menuju Homestay, saya dan Cendy mengobrol mengenai kondisi Sawarna. Cendy yang sudah pernah ke pantai Sawarna menyayangkan perubahan drastis di Sawarna. Masyarakat sudah tahu mengenai bisnis, harga sewa homestay dan guide mulai meroket naik. Beberapa tempat yang dulunya kosong, saat ini sudah berdiri beberapa homestay. Beberapa kali saya melihat bekas bungkus permen, coklat dan botol air mineral di tepi jalan, ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Semakin banyak orang mengunjungi Sawarna, semakin terkenal pula Sawarna. Semoga saja, Sawarna akan tetap seperti ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Vlado-Pose-Pasir-Putih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1888" title="Berpose di Pasir Putih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Vlado-Pose-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Traveller</strong></p>
<p>Perjalanan bersama teman-teman Backpacker benar-benar memberikan pengalaman baru bagi saya. Bertemu teman-teman baru yang hebat, rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat dan sarana bertukar pikiran bagi sesama pencinta fotografi.</p>
<p>Barang-barang sudah kami kemasi. Bus pun sudah menunggu kami di ujung jembatan gantung Sawarna. Makan siang saat itu terlihat begitu akrab. Setiap orang mulai bertanya “Kemana nih, travelling selanjutnya?” Seolah menjadi pertanyaan wajib seorang Traveller.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Singapore City Explore</title>
		<link>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 14:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1768</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kali pertama saya mengunjungi negara Singapura. Awalnya karena diajak oleh sahabat yang baru saja menetap disana untuk bekerja, selain itu juga karena cuti kantor yang masih tersisa 7 hari. Cuti akhir tahun yang biasa saya ambil menjelang natal hingga tahun baru sengaja tidak saya ambil. Rencana akan saya gunakan di liburan imlek selama 2 hari (20 dan 24 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah kali pertama saya mengunjungi negara Singapura. Awalnya karena diajak oleh sahabat yang baru saja menetap disana untuk bekerja, selain itu juga karena cuti kantor yang masih tersisa 7 hari. Cuti akhir tahun yang biasa saya ambil menjelang natal hingga tahun baru sengaja tidak saya ambil. Rencana akan saya gunakan di liburan imlek selama 2 hari (20 dan 24 Januari) dan sisa 5 hari akan saya gunakan untuk traveling berikutnya. Ahh.. emang paling enak deh kalo punya cuti tidak hangus di tahun baru.</p>
<p><strong>Persiapan</strong></p>
<p>Persiapan pertama adalah akomodasi, baik tiket pesawat maupun penginapan. Karena disana saya menginap di apartemen teman, jadi biaya penginapan bisa saya skip.. yeaay. Setelah membandingkan harga Air Asia (1,1 juta), Lion Air (1,2 juta) dan Garuda Indonesia (1,3 juta), akhirnya pilihan jatuh ke.. hmm.. saya kira anda sudah bisa menebak maskapai mana yang akan saya pilih. Hahaha&#8230;</p>
<p>Persiapan berikutnya adalah mata uang. Saya terlalu mengganggap remeh untuk hal yang satu ini. Seringnya saya melihat 2 money changer di lobby kantor, membuat saya berpikiran &#8220;nanti aja deh, besok juga masih ada waktu&#8221; setiap ada kesempatan untuk menukar mata uang. Hasilnya, satu hari menjelang keberangkatan 2 money changer itu kehabisan stok Singapore Dollar dan waktu menunjukkan jam 5 sore. Selesai jam kantor, saya langsung menuju Mall Ambassador dan mendapatkan S$300. Semoga cukup untuk 5 hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keberangkatan/ Hari 1</strong></p>
<p>Jam 10 pagi saya sudah berada di halte Damri depan terminal Blok M. Cuaca pagi itu sangat cerah dan jalanan cukup lengang. Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta Terminal 2E ditempuh dalam waktu 45 menit. Waktu luang di bandara saya sempatkan untuk mengecek beberapa email dan kerjaan kantor. Ketika check-in, saya hanya menunjukkan passport kepada petugas dan tiket langsung dicetak. Tidak ada lagi pertanyaan mengenai booking code dan tiket dicetak sangat minimalis.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Garuda-Indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1800" title="Garuda Indonesia" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Garuda-Indonesia.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Akhirnya, saya bisa juga merasakan maskapai kebanggaan bangsa ini. Haha.. lebay dikit boleh dong yah. Sampai teman-teman kantor tidak ada yang mau menyebut saya backpacker. Mereka bilang, saya lebih cocok jadi turis ketimbang backpacker. &#8220;Backpacker mana ada yang naik Garuda Indonesia&#8221;. Hahaha&#8230; Yah, buat sebagian orang merasa bahwa terbang dengan Garuda Indonesia adalah sesuatu hal yang mewah dan tidak terjangkau, apalagi untuk backpacker. Kalo kita jeli, terkadang harga tiket Garuda Indonesia tidak terpaut jauh dengan maskapai lainnya.</p>
<p>Makan siang dan minuman yang bisa kita pilih sendiri, in-flight entertainment dan pramugrari yang ramah.  Baru kali itu seorang pramugari menyapa dan memanggil nama saya dengan ramah, hanya untuk meyakinkan apakah saya memesan makan siang khusus atau tidak. Absolutely.. Garuda Indonesia Experience.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Changi Airport</strong></p>
<p>Wah, kalo udah di Changi Airport, bandara tercinta Soekarno Hatta berasa gak ada apa-apanya. Bandara yang pernah menyandang &#8220;The Best Airport In The World&#8221; ini benar-benar mewah dan memanjakan pengunjung.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1801" title="Changi Airport" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Di Terminal 3, semua tersaji dengan lengkap, mulai dari restoran, lounge, coffee shop, boutiqe, business center, duty free, free internet access, quite room hingga kamar mandi pun tersedia. Untuk berpindah antar terminal, Changi memiliki fasilitas transportasi yang dinamakan Skytrain. Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum, bandara sebegitu luasnya&#8230; karpet semua!!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1802" title="Changi Airport3" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport3.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Kekaguman saya pada bandara Changi hampir melupakan saya untuk menghubungi Indra, sahabat saya, yang sudah menunggu di foodcourt, tepat di bawah bandara.  Ehh.. ternyata ada Indri, adiknya Indra, yang sedang liburan selama 3 minggu. Sambil ngobrol kami bertiga makan malam di pastamania yang merenggut S$9 pertama saya.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1803" title="Changi Airport2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Untuk komunikasi, kebetulan operator yang saya gunakan memberikan gratis roaming selama 3 hari untuk pelanggan BB full service. Tapi&#8230;tapi&#8230; kenapa BBM tidak online di BB saya?!!! Kekesalan ini memaksa saya membeli Starhub Prepaid seharga S$15.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MRT</strong></p>
<p>Salah satu transportasi utama di Singapura adalah Mass Rapid Trans (MRT). Dengan MRT, kita bisa mengelilingi negara yang luasnya sedikit lebih besar dari Jakarta ini, dimana jaringannya menjangkau hampir seluruh Singapura, dari Utara ke Selatan dan dari Timur ke Barat. Kita tidak akan kesulitan untuk mencapai tempat dimanapun, sebab Singapura memiliki sistem transportasi publik yang terintegraasi. Jadi tidak mungkin kalau ada orang nyasar di Singapura. Hahaha&#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1804" title="MRT" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Indra menyarankan saya untuk membeli EZ-link, prepaid card seperti BCA Flazz yang akan terdebet automatis setiap kali menggunakan MRT atau Bus. Harganya S$12 yang dapat dibeli di setiap loket stasiun. S$5 untuk harga kartu dan S$7 untuk deposit.</p>
<p>MRT Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu tranportasi massal terbaik. Keamanan, kenyamanan, kebersihan dan juga panduan bagi pengunjung patut diacungi jempol. Kata Indra, kebetulan hari ini adalah hari libur sebelum tahun baru Sincia, jadi MRT agak kosong dan tidak padat seperti hari kerja. Stasiun MRT di Singapura umumnya  menyatu dengan pusat-pusat perbelanjaan dan terintegrasi dengan Bus yang sama-sama menggunakan EZ-link.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1805" title="MRT2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Indra mengajak saya ke <strong>City Hall</strong> terlebih dahulu sebelum kami pulang menuju apartemen yang terletak di<strong> Telok Blangah Way</strong>. Disini kami berjalan hingga Esplanade dan beristirahat di pinggiran sungai sambil memandangi indahnya gedung-gedung pencakar langit di malam hari. Di sebelah kiri tampak Marina Bay Sands dan di sebelah kanan tampak dari kejauhan, ikon negara Singapura, Merlion. City Hall menjadi tempat pertama yang saya kunjungi di Singapura.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Night-City.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1838" title="Night City" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Night-City.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Apartemen</strong></p>
<p>Betapa beruntungnya saya, jalan-jalan ke Singapura tidak perlu lagi memusingkan biaya pengingapan. Ada benarnya juga kata teman, jalan-jalan kali ini saya tidak pantas disebut Backpacker ataupun Flashpacker. Lebih tepatnya… Turis! Hahaha&#8230;</p>
<p>Apartemen Indra terletak di Telok Blangah Way, cukup besar dengan 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Saya mencoba mencari-cari dimana tempat untuk menjemur pakaian karena semua apartemen tidak ada satu pun yang memiliki teras atau balkon. Setelah saya melongok ke luar jendela, barulah saya menemukan jawabannya. Ternyata masing-masing apartemen disediakan 3 sampai 4 lubang di sisi luar jendela, yang nantinya lubang-lubang itu bisa dimasukkan bambu yang cukup panjang. Masing-masing bambu cukup untuk 4 sampai 5 potong pakaian. Jemuran yang unik dan kreatif.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Apartment.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1806" title="Apartment" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Apartment.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Walaupun di kawasan ini banyak sekali blok apartemen, tetapi ruang terbuka hijau tetap diperhatikan dengan baik dan kondisinya sangat terawat. Tamannya terlihat asri. Areal parkir pun tidak terlalu luas dan tertata dengan rapih. Sangat kontras dengan kondisi kebanyakan apartemen di Indonesia. Jangankan ruang terbuka hijau, areal parkir sepertinya tidak mampu menampung semua penghuni. Hihihi&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 2</strong></p>
<p>Pagi ini kami berencana sarapan di jembatan <strong>Henderson Wave</strong>. Sarapan yang kami bawa berupa roti Prata yang berasal dari India dengan isi sayuran, telur dan daging. Ditambah dengan siomay cepat saji yang sudah kami masak terlebih dahulu.</p>
<p>Untuk menuju ke Henderson Wave, kami harus menyusuri <strong>Mount Faber Park</strong> terlebih dahulu dengan menapaki undakan anak tangga yang sepertinya tidak ada habisnya. Mount Faber merupakan bukit tertinggi yang ada di Singapura. Di Mount Faber terdapat <strong>Singapore Cable Car</strong> atau biasa yang kita kenal dengan kereta gantung. Ya.. kurang lebih mirip dengan kereta gantung yang ada di taman mini atau di ancol.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1808" title="Mount Faber2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Dengan kereta gantung ini kita bisa melihat pemandangan kota, pelabuhan, Sentosa Island dan juga pulau Batam. Untuk tiketnya sendiri sebesar S$24 untuk sekali jalan dan S$26 untuk bolak balik ke Mount Faber. Disini juga terdapat teropong yang terletak di Mount Faber Loop untuk melihat selatan Singapura. Jangan lupa siapkan koin untuk menggunakan teropong tersebut.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1807" title="Mount Faber" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Henderson Wave merupakan jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapura. Tingginya 36 meter dari permukaan jalan dan panjangnya 300 meter. Jembatan ini menghubungkan taman di Mount Faber dan Telok Blangah Hill. Disebut wave karena desainnya yang unik, mirip dengan bentuk gelombang.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1809" title="Henderson Wave" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Dengan napas yang terengah-engah, akhirnya kami sampai juga diujung jembatan. Cukup banyak pengunjung yang berada di Henderson Wave, ada yang jogging, ada juga yang duduk sambil makan-makan (waah.. samaan nih) dan beberapa turis yang sedang asik berfoto. Kebersihannya sangat terjaga, tidak ada sampah sedikitpun dan keamanannya juga mantap. Setiap masing-masing lengkungan/ tempat duduk terpasang CCTV dan pagarnya pun cukup tinggi, sehingga aman untuk anak-anak. Material jembatannya itu lhooo… kayu semua. Walaupun terbuat dari kayu, saya tidak mendengar bunyi decitan atau suara “ngeekk.. ngeekk” sedikitpun. Kuereenn banget deh. Kapan yah negara Indonesia bisa bikin jembatan sekeren itu. Hahaha…</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1810" title="Henderson Wave2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Perut kenyang ditambah semilir angin hutan yang sejuk membuat saya sedikit agak mengantuk dan malas untuk kembali ke apartemen. Di tengah perjalanan Indra menanyakan itinerary/ rencana perjalanan saya selama di Singapura. Bingung juga jawabnya, karena saya hanya mencatat semua Place of Interest yang saya dapat dari internet. Mengenai harus kemana terlebih dahulu, saya benar-benar tidak tahu. Iwan melemparkan ide ke saya “Bagaimana kalo kita ke Bugis Street dan Mustafa Centre, gw mo beli oleh-oleh buat keluarga gw di Jakarta, selebihnya nanti kita bisa jalan-jalan ke tempat lain”. Ah… good idea, Iwan!</p>
<p>Kali ini hanya saya, Iwan dan Indri yang pergi ke Bugis. Untuk menuju ke sana, kami harus menuju ke Tiong Bahru Plaza terlebih dahulu menggunakan bus. “Tut..” terdengar suara EZ-link yang saya tap di mesin pencatat automatis ketika saya masuk ke dalam bus. Sebelum turun dari bus, saya harus menge”tap” lagi ke mesin tersebut. Di mesin tersebut akan terlihat berapa tarif dari Telok Blangah hingga Tiong Bahru dan sisa saldo yang saya miliki. Benar-benar &#8220;Kondektur-less&#8221; Hihihi&#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT-Bus.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1813" title="MRT Bus" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT-Bus.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p><strong>Bugis Street</strong><strong> </strong>merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal selain Orchard. Letaknya berada di antara Victoria, Queen dan Rocchor Street. Dulunya, sekitar tahun 1950-an, kawasan ini adalah pasar malam yang menawarkan pilihan berbagai jenis pakaian dan jajanan murah. Sebelum masuk ke dalam, saya sudah disapa oleh kanopi besar yang bertuliskan <strong>“Bugis Street: the Largest Street Shopping Location in Singapore”</strong>. Wedew!! Kawasan Bugis lebih mirip seperti Tanah Abang, Mangga Dua ataupun Blok M. Barang dagangan yang ditawarkan berupa souvenir seperti gantungan kunci dan boneka mungil hasil kerajinan tangan, t-shirt yang bertuliskan khas Singapura, jam tangan serta pakaian. Beberapa kali saya mendengar celotehan orang Indonesia di Bugis. Wow, banyak juga orang Indonesia dimari. Hasil muter-muter di Bugis, saya membeli 3 kaos seharga S$10 dan gantungan kunci sebanyak 15 buah seharga S$10. Selain Bugis Street, juga terdapat pusat perbelanjaan modern <strong>Bugis Junction</strong>.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Bugis.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1811" title="Bugis" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Bugis.jpg" alt="" width="500" height="280" /></a></p>
<p>Dari Bugis, kami langsung menuju <strong>Mustafa Centre</strong>. Tidak jauh berbeda dengan Bugis, di Mustafa Centre adalah surganya belanja. Supermarketnya guede bangeeed. Lokasinya berada di Syed Ali Road di kawasan <strong>Little India</strong>. Mustafa Centre adalah satu-satunya tempat belanja di Singapura yang buka 24 jam. Kalau mau berburu oleh-oleh coklat atau cemilan, disinilah tempatnya. Semua cokelat dan makanan tumplek blek jadi satu. Saya, Iwan dan Indri mulai berpencar dan sibuk sendiri-sendiri. Saking banyaknya coklat dan harga yang beragam, Indri mulai kebingungan. Iwan mulai mengambil beberapa bungkus coklat kesukaan untuk keluarga. Sedangkan saya mengambil 1 bungkus besar dan 1 bungkus kecil cokelat Herseys, ditambah 2 kacang campur ukuran besar. Total S$30.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mustafa-Centre.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1812" title="Mustafa Centre" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mustafa-Centre.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Mendung hitam sudah bergelayut di atas kepala ketika kami keluar dari Mustafa Centre. Kami bertiga mulai melapar. Iwan mengajak kami untuk makan Nasi Briyani yang lokasinya tidak jauh dari Serangoon Plaza. Woow.. 1 porsi Nasi Briyani memang luar biasa. Nasi yang dicampur dengan Ayam Kari ini memang lebih cocok untuk 3 orang. Hahaha.. harganya pun sangat murah, cukup S$3 saja.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Nasi-Briyani.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1814" title="Nasi Briyani" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Nasi-Briyani.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Kami tidak berhenti sampai disini untuk berburu oleh-oleh. Tujuan berikutnya adalah <strong>Chinatown</strong>. Di kawasan ini semuanya serba merah dengan pernak-pernik khas China. Semua jalan disini disulap menjadi lapak-lapak kecil yang menjual souvenir, cinderamata dan perlengkapan imlek. Saya tiba-tiba melihat sebuah souvenir gantungan kunci dengan tulisan “30 for $10”. Hahh… ternyata disini lebih murah dibandingkan dengan di Bugis! Penjual di Chinatown rata-rata fasih berbahasa Indonesia. Berasa di Glodok atau Pasar Pagi Mangga Dua. Hahaha&#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1815" title="Chinatown" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Di tengah hiruk pikuk Chinatown, Indra menghubungi kami dan berencana ke <strong>Sentosa Island</strong> untuk menonton pertunjukkan Songs of the Sea. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 5.30 sore, sedangkan pertunjukan dimulai jam 8.40. Saat itu juga kami bergegas ke sana. Untuk menuju Sentosa, kami harus terlebih dahulu ke Vivo City. Hmm… saya mencoba mengingat-ingat.. “Sepertinya ada National Geographic disini”. “Iyah, ada di Lantai 2” sahut Indri. Cool… semuanya serba National Geographic, mulai dari tas, sepatu, kaos, celana, kemeja sampai majalah. Tapi..  harganya benar-benar membuat saya galau… satu kaos dihargai S$50. Aiiih… mahalnya.</p>
<p>Tiket pertunjukkan Song of the Sea di Sentosa Island dapat dibeli di Vivo City seharga S$10. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan Sentosa Express dan turun di Beach Station. Karena waktu pertunjukkan masih lama, perjalanan kami teruskan hingga Waterfront Station. Disini kami manfaatkan untuk berfoto-foto di depan halaman Universal Studio.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sentosa-Island.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1817" title="Sentosa Island" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sentosa-Island.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p><strong>Songs of the Sea</strong> adalah atraksi pantai yang merupakan gabungan antara pertunjukan musik, permainan air dan cahaya laser yang spektakuler serta kembang api yang memukau. Benar-benar canggih! Pertunjukan ini bercerita tentang seorang pemuda bersuara merdu bernama Li. Bersama teman-temannya, mereka bernyanyi dalam usaha untuk membangunkan Putri Ami yang terkena kutukan. Maskot Songs of the Sea adalah seekor ikan yang bernama Oscar.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Song-of-the-Sea.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1816" title="Song of the Sea" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Song-of-the-Sea.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Kalau di Indonesia, mungkin lebih mirip dengan air mancur yang ada Grand Indonesia. Hanya saja Songs of the Sea ada alur ceritanya. Saya mencoba membayangkan, seandainya di Indonesia ada pertunjukkan serupa di sekitar Monas atau Bundaran HI. Pasti seru abis dan tentunya… gratis!</p>
<p>Luar biasa hari ini, dari pagi sampai malam, tidak ada istirahat sedikitpun. Kaki berasa mau copot dan badan serasa remuk redam. Pertunjukan Songs of the Sea menutup perjalanan saya di hari pertama. Piuuuuhhh…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 3</strong></p>
<p>Lelahnya jalan-jalan kemarin, membuat saya bangun agak siang hari ini. Sambil berleha-leha di atas tempat tidur, saya ambil tablet dan menandai beberapa tempat yang sudah saya kunjungi kemarin.</p>
<p>Pada awalanya saya mencoba membuat itinerary sebaik mungkin, tetapi semuanya menjadi tidak berguna sama sekali. Sekarang saya hanya memperhatikan, tempat mana yang sudah dan yang belum saya kunjungi. Menurut saya itu lebih baik dengan 5 hari yang saya miliki.</p>
<p>Selesai makan siang, saya dan Indra segera menuju <strong>Clarke Quay</strong> menggunakan Bus. Letaknya berada di pinggir sungai Singapura atau biasa disebut dengan Riverside. Dari <strong>Riverside point</strong>, saya menyeberang sungai menuju Roberton Quey, Liang Court dan beristirahat sejenak di Clarke Quay.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1819" title="Clarke Quay2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Tampak <strong>River Cruise</strong> atau <strong>River Boat Tours</strong> berjejer rapih menunggu penumpang. Dengan River Cruise kita bisa melihat banyak Place of Interest sekaligus dengan melintasi sungai Singapura, dari Riverview hingga Singapore Flyer. Saya dan Indra tidak jauh berbeda dengan kebanyakan wisatawan yang ada di perahu tersebut, hanya saja kami berjalan kaki. Hahaha&#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1820" title="Clarke Quay" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Dari Clarke Quay, perjalanan saya lanjutkan hingga ketemu perempatan Hill Street dan River Valley Road. Menyeberang North Bridge Road, saya bertemu gedung <strong>Parliament House</strong>. Salah satu lanskap kota Singapura yang tidak boleh anda lewatkan. Saya kembali menyeberang menuju <strong>Boat Quay</strong> dan masuk ke jalan kecil dimana kanan dan kiri saya banyak sekali rumah makan dengan pemandangan sungai Singapura.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Boat-Quay.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1823" title="Boat Quay" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Boat-Quay.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Di pinggiran sungai, saya menemukan patung <strong>People of The River</strong> yang bercerita mengenai anak laki-laki berjumlah 5 orang dengan telanjang meloncat untuk berenang di sungai.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Fullerton.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1821" title="Fullerton" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Fullerton.jpg" alt="" width="500" height="280" /></a></p>
<p>Setelah puas mengambil gambar, saya lanjutkan kembali menuju <strong>The Fullerton Singapore</strong> dan akhirnya berhenti di Merlion. <strong>Merlion</strong> menjadi salah satu titik destinasi favorit para wisatawan. Lokasi ini mampu membingkai lanskap cantik di sekitarnya, seperti <strong>Esplanade</strong> dan <strong>Marina Bay Sands</strong>, entah itu siang ataupun malam hari. Saat itu banyak sekali wisatawan yang berburu foto dengan latar belakang Merlion. Saya dan Indra harus bersabar dan sigap untuk mendapatkan gambar terbaik. Alih-alih menunggu wisatawan selesai berfoto, saya dan Indra malah diminta untuk mengambil gambar mereka. Hahaha&#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Merlion.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1822" title="Merlion" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Merlion.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Panas yang cukup terik tidak menghalangi niat saya menyusuri sungai yang indah ini. Setelah menyebrangi <strong>Esplanade Bridge</strong>, saya beristirahat sejenak di Esplande. Cesss… adem. Makan siang sebentar di Thai Express, lalu melanjutkan jalan kaki hingga <strong>Singapore Flyer</strong>, melintasi jembatan <strong>The Helix</strong> yang unik, masuk ke <strong>Art Science Museum</strong> dan berakhir di <strong>Marina Bay Sands</strong>.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/The-Helix.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1839" title="The Helix" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/The-Helix.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sayang sekali, ketika kami mengunjungi Singapore Flyer, wahana ini sedang ditutup karena cuaca buruk. Huhuhu… gagal deh melihat Singapura dari ketinggian.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Flyer.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1824" title="Flyer" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Flyer.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Kemarin malam, Indra bercerita mengenai mal <strong>Lucky Plaza</strong> yang berada di <strong>Orchard</strong>. Di mal itu banyak sekali orang-orang Indonesia dan ada beberapa tempat yang menjual makanan Indonesia. Dengan kaki yang masih agak pegal, saya pun mengiyakan ajakan Indra untuk makan malam disana. Sekilas Lucky Plaza tidak jauh berbeda dengan ITC-ITC yang ada di Jakarta dan ternyata benar&#8230; banyak juga orang Indonesia disini. Apalagi ketika saya menuju ke lantai 2, suara riuh dengan bahasa yang saya kenal semakin jelas.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1825" title="Orchard" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Kami berhenti di salah satu tempat makan yang bernama <strong>Resto Surabaya</strong>. Wow.. restoran ini penuh sekali dan tentu saja isinya orang Indonesia semua. Resto Surabaya dan Indo Kitchen merupakan tempat makan yang wajib anda kunjungi jika anda berkunjung ke Lucky Plaza.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lucky-Plaza.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1826" title="Lucky Plaza" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lucky-Plaza.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hari 4</strong></p>
<p>Entah kapan hujan mulai membasahi bumi. Suara rintik hujan makin lama semakin jelas, membuat saya terjaga. Ah… bangun siang lagi! Melihat ke luar jendela, sepertinya hujan akan awet hingga sore, ditambah udara dingin yang membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Sambil mengecek beberapa tempat yang belum saya kunjungi di tablet, saya teringat kata-kata teman kantor yang bercerita mengenai bangunan Gereja di sekitar Victoria Street.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Halte-Bus.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1827" title="Halte Bus" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Halte-Bus.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Di tengah rintik hujan, saya tetap memaksakan diri untuk pergi. Sesampainya di Raffles City Shopping Center, saya sedikit agak bingung mau kemana, sampai-sampai saya melewatkan dua kali lampu hijau di persimpangan jalan. Hihi..</p>
<p>Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah <strong>Chijmes</strong>. Lokasinya persis di seberang <strong>Raffles City Shopping Centre</strong>. Kalo kita masuk dari pintu samping atau Bras Basah Road, tidak ada kesan istimewa dari tempat ini, yang terlihat hanya café dengan beberapa meja dan kursi yang tersusun rapih. Tetapi begitu melangkahkan kaki ke dalam, barulah terlihat bangunan utama dari Chijmes dengan atap yang menjulang tinggi dan pilar-pilar yang besar. Sekilas tempat dengan gaya artistektur neo-klasik ini tidak ada kesan sebagai rumah makan, tetapi begitu saya menuju ke tengah halaman, mulailah terlihat beberapa restoran, café dan bar di dalamnya. Chijmes diambil dari <strong>CHIJ</strong>, akronim dari <strong>Convent of the Holy Infant Jesus</strong> atau Biara Bayi Kudus Yesus. Chijmes dulunya adalah biara dan kapel Gereja katolik.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Church.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1828" title="Church" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Church.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Tepat di seberang Chijmes berdiri<strong> Cathedral of the Good Shepherd </strong>yang merupakan<strong> </strong>Gereja Katolik tertua di Singapura. Berbeda dengan Chijmes, gaya arsitektur Cathedral of the Good Shepherd lebih dipengaruhi gaya Rennaisance. Tidak jauh dari situ, terdapat <strong>St. Joseph Church</strong> yang mengadopsi gaya arsitektur Gothic dengan dominasi warna putih. Berjalan ke Queen Street, saya menyambangi <strong>Church of St Peter and St Paul</strong> yang lokasinya berdampingan dengan <strong>Singapore Art Museum</strong>.</p>
<p>Kembali lagi ke Victoria Street, saya mengambil arah menuju Stamford Road dan bertemu <strong>St. Andrew’s Cathedral</strong>. Tadinya saya pikir, ini Gereja Katolik juga. Ternyata bukan. St. Andrew&#8217;s Cathedral adalah Gereja Anglikan terbesar dan pertama di Singapura. Gereja yang baru saja merayakan hari jadinya ke 150 tahun ini memiliki halaman yang sangat luas dengan gaya arsitektur neo-gothic dan eksterior serba putih. Terlihat begitu megah, sekaligus menawan. Sayang sekali, St. Andrew&#8217;s Cathedral sedang tutup selama 2 hari.</p>
<p>Setelah puas memanjakan mata dengan berbagai macam arsitektur Gereja, saya kembali lagi menuju MRT City Hall yang letaknya persis disamping St. Andrew’s Cathedral. Kali ini saya ingin ke Orchard Road. Yaa.. baru saja kemarin malam saya berjalan di Orchard Road selepas makan malam di Lucky Plaza, hanya saja kali ini saya ingin merasakan suasananya di sore hari. Turun di MRT Dhoby Ghaut, saya menyusuri Orchard Road, mulai dari Plaza Singapura dan berakhir di Tangs. Dari Tangs, saya kembali lagi Chinatown untuk kedua kalinya. Soalnya ketika jalan bareng Iwan dan Indri, ada beberapa tempat yang terlewat saya kunjungi. Hihi… niat!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard_Afternoon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1834" title="Orchard_Afternoon" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard_Afternoon.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Tempat pertama adalah Kuil <strong>Shri Mariamman</strong>. Shri Mariamman merupakan kuil Hindu tertua dan terbesar di Singapura. Di depan pintu masuk terdapat relief pada kubah kuil dengan patung figuratif dewa dewi dan binatang mitologis. Tempat kedua adalah kuil <strong>Buddha Tooth Relic</strong>. Bangunannya terlihat megah dengan dominasi warna merah dan emas.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown_Day4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1829" title="Chinatown_Day4" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown_Day4.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Gerimis masih belum berhenti. Nyanyian perut semakin terdengar jelas ketika saya menapaki jalan kecil di Chinatown. Ah, saya tidak beruntung sore ini, restoran dan kios-kios kecil kebanyakan masih tutup di suasana tahun baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 5</strong></p>
<p>Hari ini adalah hari terakhir. Barang-barang sudah saya kemas dengan rapih. Tas terlihat menggembung dan membuat pundak tidak nyaman ketika saya coba menggendongnya. Saya sendiri tidak percaya, semua oleh-oleh yang saya beli mampu saya jejali ke dalam backpack yang pas-pasan itu. Hmm… sepertinya saya perlu membeli tas yang lebih besar. Mudah-mudahan saja tidak robek di tengah jalan.</p>
<p>Pagi ini saya manfaatkan untuk berwisata ke daerah <strong>Lakeside</strong>. Hasil googling ditemukan kalau disitu ada sebuah taman yang cantik, namanya <strong>Chinese &#8211; Japanese Garden</strong>. Untuk menuju ke sana sangat mudah, karena sudah ada MRT tepat di jalan masuk ke Chinnese Garden.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1830" title="Chinnese Garden" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Saya sudah berada di Chinnese Garden jam 9, tapi suasananya terlihat sepi dan hanya ada satu petugas jaga di depan pintu masuk yang tertutup rapat. Saya coba tanya ke petugas tersebut, ternyata loket baru dibuka jam 10. Hihihi&#8230; kepagian. Hmm… tahu begitu, saya bisa sarapan dulu di Tiong Bahru Plaza.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1831" title="Chinnese Garden2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Tepat jam 10, loket dibuka. Sepertinya saya adalah pengunjung pertama di tempat itu. Hihihi…  Di tengah perjalanan mengelilingi taman, tiba-tiba Indra, Dini dan Indri sudah berada di depan gerbang. Rupanya mereka menyusul saya. Chinnese Garden menutup perjalanan saya di Singapura. Kami makan siang bersama di Bugis Junction dan mereka menemani saya hingga Bandara Changi Terminal 3.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Terminal 3</strong></p>
<p>Ada pengalaman menarik ketika berada di Terminal 3. Ketika saya sedang duduk di ruang tunggu, datanglah seorang wanita sambil membawa map lalu meminta ijin untuk duduk disamping saya. Wanita tersebut memberi salam dan langsung mengenalkan diri sebagai petugas bandara Changi. Dia meminta ijin kepada saya untuk menjawab kuesioner mengenai pengalaman saya di bandara Changi. Saya pun menyanggupinya dan pertanyaan demi pertanyaan mulai diajukan, mulai dari kondisi bandara, keramahan petugas, kebersihan kamar mandi, akses internet, penunjuk arah sampai hal-hal detail seperti makan dimana, mahal atau murah, belanja apa. Woww! Kebanyakan jawaban saya Satisfied dan ada beberapa yang Very Satisfied. Di akhir kuesioner, petugas itu mengucapkan salam dengan ramah dan memberikan saya kenang-kenangan berupa pena ekslusif Changi. Yeaahh…</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Ballpoint.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1832" title="Changi Ballpoint" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Ballpoint.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawah Putih dan Situ Patengan</title>
		<link>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 03:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[kawah putih]]></category>
		<category><![CDATA[situ patengan]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1730</guid>
		<description><![CDATA[Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke Pangalengan, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.
Jumat pagi packing, masuk kantor seperti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke <a href="http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/">Pangalengan</a>, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.</p>
<p>Jumat pagi packing, masuk kantor seperti biasanya, pulang kantor langsung menuju meeting point di halte busway ragunan. Sambil menunggu di pinggir jalan, di bawah pohon nangka yang lebat, tiba-tiba Mitsubishi Galant berwarna biru dongker berhenti dan kaca mobil pun terbuka&#8230; terlihat sesosok pria besar memanggil..&#8221;Masuk sob!&#8221;. &#8220;Heh.. ganti mobil sob?&#8221;, kata saya. Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Ini mobil kita sob?&#8221;. &#8220;Mobil kita gimana?&#8221;, jawab saya dengan penasaran. Dan lagi-lagi Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Iyaa&#8230; ini mobil dagangan kita&#8221;. What?!!</p>
<p>Saya dan Panji cukup lama bersahabat sejak kami masih sama-sama kost di depok. Karena kedekatan dan &#8220;kenekatan&#8221; kami, akhirnya kami mencoba untuk membuka bisnis jual beli mobil second. Nah, kalo tuh mobil belom laku, biasanya suka kami&#8230;(hmmm.. lebih tepatnya Panji) pake terlebih dahulu.</p>
<p>Tol Cikampek dan Cipularang cukup lancar di jumat malam. Perjalanan menuju Ciwidey kami tempuh dalam waktu 3 jam. Malam itu kami menginap di Kampung Pago yang berlokasi di Pasir Jambu. Kampung pago menyuguhkan suasana pegunungan yang asri dan sejuk. Tempatnya dibuat mirip seperti kampung di pegunungan. Yang membuat menarik di tempat ini adalah bangunan rumahnya yang unik ditambah dengan kolam ikan yang cukup besar di halaman depan. Saatnya beristirahat.</p>
<p>Saya kira, saya yang paling pertama bangun pagi diantara kami bertiga, ternyata Panji sudah jalan-jalan terlebih dahulu sambil membawa kamera mengelilingi Kampung Pago.  Semalem kami hanya melihat di halaman depan dan pagi ini kami menyusuri Kampung Pago hingga ke belakang yang jalannya sedikit menanjak. Ternyata Kampung Pago luas juga.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1740" title="kampung_pago" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Setelah sarapan dan packing, kami langsung tancap gas menuju Kawah Putih. Kami harus menempuh jarak lebih dari 10Km. Sepanjang jalan raya Ciwidey, banyak sekali pekarangan strawberry. Daya tarik tempat ini adalah kita bisa memetik strawberry langsung dari kebunnya atau biasa disebut &#8220;Strawberry Walk&#8221;.</p>
<p>Taraaa&#8230; akhirnya kami sampai juga di tempat wisata Kawah Putih. Karena Panji sudah pernah kesini terlebih dahulu, dia menyarankan untuk parkir mobil saja disini. Nantinya kami bisa naik angkutan menuju Kawah Putih. Biaya untuk masuknya 16 ribu saja&#8230; cring! Tapi.. tapi.. biaya masuk untuk mobil itu lhoo&#8230; 150 ribu. Hahaha&#8230; mahal gila! Itulah kenapa kami memutuskan untuk memarkir mobil di bawah saja, cukup 5 ribu&#8230; cring!</p>
<p>Perjalanan dari tempat parkir menuju tempat yang terletak pada ketinggian 2430 mdpl ini sekitar 15 menit dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan menanjak. Jalannya pun cukup sempit. Jadi kalo ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya mau nggak mau harus menepi.</p>
<p>Gerimis yang tidak henti-hentinya mengguyur menjelang siang, membuat udara disekitar Kawah Putih sangat dingin. Menyesal kami tidak bawa payung. Ojek payung disini cukup mahal, 7 ribu.. cring! dan dibayar dimuka. Kabut yang cukup tebal membuat pemandangan di sekitat kawah sangat terbatas. Air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di pinggiran danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna abu-abu yang ditumbuhi lumut. Kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha itu memiliki dinding kawah dan air yang berwarna putih.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1741" title="kawahputih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Ahh&#8230; rugi berat deh pokoknya, gara-gara hujan pula, niat kami untuk berfoto-foto disekitar kawah batal seketika. Kawah Putih yang berwarna kehijauan itu kali ini berubah menjadi benar-benar putih.. Hahaha. Satu-satunya objek yang bisa dinikmati di kawasan tersebut hanya kawah&#8230; yup cuma kawah&#8230; dan kondisi saat itu sedang hujan, berkabut&#8230; tapi anehnya tetap saja pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Ketika perjalanan pulang, saya mendengaar celotehan rasa kecewa pengunjung lain yang berkata &#8220;ah.. cuma gini doang?&#8221;. Sepertinya Kawah Putih akan indah dinikmati kalo musim kemarau atau cuaca cerah.. nggak recommended deh kalo musim hujan.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1757" title="kawah__putih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Antara puas dan tidak puas menikmati Kawah Putih, kami turun kembali menuju parkiran dan perjalanan kami lanjutkan ke Situ Patengan (atau dibaca Situ Patenggang). Lokasinya tidak jauh dari Kawah Putih. Jadi, dengan mengunjungi satu lokasi, kami bisa menikmati 2 objek wisata sekaligus. Sebelum berangkat, saya, Panji dan Riri menyempatkan diri membeli strawberry di area parkir, 25 ribu per kilo.. cring!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1746" title="situpatengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi wisata, situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, <em>pateangan-teangan</em> (artinya: saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/ Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka. Aihhh&#8230; romantis.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1747" title="situ_patengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Untuk sampai ke Bukit Cinta kami harus menyewa perahu dengan harga sewa 20 ribu per orang. Karena terlalu lama menunggu penumpang lainnya, akhirnya perahu kami sewa untuk bertiga. Tawar menawar pun terjadi diantara Panji dan tukang perahu. Yang tadinya 100 ribu, akhirnya perahu bisa kami sewa 75 ribu untuk kami bertiga&#8230; yeaaay&#8230; cring! Si Akang Tukang Perahu (panjang bener ye namanya) ini ternyata hapal betul dengan legenda di daeraeh Situ Patengan. Sambil mengantarkan kami menuju Bukit Cinta, Si Akang Tukang Perahu juga sambil bercerita mengenai legenda Bukit Cinta.</p>
<p>Setelah mengitari Situ Patengan, kami beristirahat sebentar sambil menyantap ayam dan ikan bakar di pinggiran danau. Perjalanan masih jauh menuju jakarta&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hijaunya Pangalengan</title>
		<link>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 05:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[pangalengan]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang pergantian tahun, biasanya keluarga besar sudah merencanakan acara malam tahun baru. Berhubung tempat tinggal saudara yang tidak terlalu berjauhan, kami selalu menggilir rumah siapa yang akan menjadi ketempatan. Kebetulan sekali, tahun ini, rumah saya yang akan menjadi &#8220;korban&#8221; keramaian. Haha..
Saya pesimis, tahun ini kami bisa berkumpul bersama di rumah. Dua kakak sepupu masing-masing punya bayi dan sepertinya agak kerepotan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pergantian tahun, biasanya keluarga besar sudah merencanakan acara malam tahun baru. Berhubung tempat tinggal saudara yang tidak terlalu berjauhan, kami selalu menggilir rumah siapa yang akan menjadi ketempatan. Kebetulan sekali, tahun ini, rumah saya yang akan menjadi &#8220;korban&#8221; keramaian. Haha..</p>
<p>Saya pesimis, tahun ini kami bisa berkumpul bersama di rumah. Dua kakak sepupu masing-masing punya bayi dan sepertinya agak kerepotan kalo membawa mereka. Beberapa adik sepupu punya acara tahun baru dengan teman-temannya. Adik baru saja menikah dan punya acara tahun baruan sendiri. Sedangkan Om baru saja selesai pulang dari rumah sakit karena menderita typhus selama 4 hari.</p>
<p>Di tengah kegalauan, tiba-tiba tante menghubungi saya. &#8220;Di, gimana kalo tahun baruan, kita jalan-jalan ke Pangalengan, kebetulan cuti sakit om masih ada sisa 2 hari&#8221;. Yess! akhirnya kesampean juga pergi ke Pangalengan. Kalo mendengar cerita 3 adik sepupu tentang indahnya Pangalengan membuat saya iri sekali. Ajakan tante ternyata ada maunya. Saya diminta untuk menjadi supir selama perjalanan. Haha.. Karena saya menolak, akhirnya adik ipar yang harus menerima nasib sial menjadi supir selama perjalanan. Pangalengan terletak di sebelah selatan kota Bandung. Lokasinya berjarak 45Km dari pusat kota Bandung.</p>
<p>Perjalanan kami mulai sabtu pagi. Dengan menggunakan MPV yang berisikan 8 orang, kami pun menuju Pangalengan. Rute perjalanan: Citeureup &#8211; Jagorawi &#8211; JORR &#8211; Cikampek &#8211; Cipularang &#8211; Moh. Toha &#8211; Dayeuh Kolot &#8211; Banjaran &#8211; Pangalengan. Perjalanan kami tempuh selama 4 jam. Keluar tol Moh. Toha sampai daerah Banjaran agak sedikit macet karena kami harus melewati beberapa pasar tumpah. Ketika memasuki jalan raya pangalengan, jalanan mulai lengang dan menanjak menuju perbukitan. Berasa seperti di puncak, dengan pemandangan kebun teh dan terasering sepanjang perjalanan. Saya pun menjumpai beberapa tempat penginapan sepanjang jalan raya pangalengan. Kata tante, daerah di sini sudah menjadi objek wisata dan banyak dibangun vila atau residence sepanjang jalan raya pangalengan. Pangalengan mempunyai banyak objek wisata, seperti perkebunan teh Malabar yang dikelola oleh PTPN VIII, makam KAR Bosscha yang lokasinya berada di perkebunan teh Malabar, kolam pemandian air panas Cibolang dan Situ Cileunca.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/pangalengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1714" title="pangalengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/pangalengan.jpg" alt="" width="500" height="166" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/terasering.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1715" title="terasering" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/terasering.jpg" alt="" width="500" height="165" /></a></p>
<p><strong>Perkebunan Teh Malabar</strong></p>
<p>Sesampainya disana, kami tidak ingin membuang waktu begitu saja. Kami langsung menuju perkebunan teh Malabar yang lokasinya hanya berjarak 500 meter dari rumah Om. Dari pintu gerbang, kami berbelok ke kanan menuju Malabar. Ongkos masuknya 2000 rupiah saja.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/malabar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1716" title="malabar" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/malabar.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh yang menghijau dan dari kejauhan tampak pemetik teh dengan topi khas mereka. Udara begitu dingin dan kabut mulai menyeruak dari lembah perbukitan, padahal jam di tangan menunjukkan pukul 12 siang. Cuaca disini tidak bisa diprediksi, kadang gerimis.. kadang cerah.. eh tiba-tiba gerimis lagi. Malabar terletak di ketinggian 1.550 mdpl dan cuaca berkisar dari 16 hingga 26 derajat celcius. Brrr&#8230; dingin. Di tempat ini, terdapat Wisma Malabar, yang aslinya dibangun pada 1894 sebagai kantor administratur perkebunan teh Malabar sekaligus sebagai rumah tinggal KAR Bosscha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/bosscha.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1717" title="bosscha" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/bosscha.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><strong>K.A.R. Bosscha</strong></p>
<p>Karel Albert Rudolf Bosscha (Den Haag, 15 Mei 1865 – Malabar Bandung, 26 November 1928) merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kar_bosscha.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1718" title="kar_bosscha" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kar_bosscha.jpg" alt="" width="500" height="185" /></a></p>
<p>Pada bulan Agustus 1896 Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh ini, ia telah mendirikan dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar yang saat ini dikenal dengan nama Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan juga Pabrik Teh Tanara yang saat ini dikenal dengan nama Pabrik Teh Malabar.</p>
<p>Setelah puas menikmati panorama perkebunan teh Malabar, kami kembali ke rumah om. Karena rumah om akan dijadikan tempat ngumpul acara tahun baruan, terpaksa kami pun mengungsi ke tempat saudara di daerah Wanasuka. Kalo perkebunan Malabar menuju ke kanan dari pintu gerbang perkebunan, kami berbelok ke kiri menuju Wanasuka. Di sini kami melewati perkebunan teh dan pemandian air panas Cibolang. Sayang, jalan menuju Wanasuka agak rusak, tidak sebagus jalan menuju Malabar.</p>
<p>Di Wanasuka, kami menyempatkan diri beristirahat. Uniknya disini, tidak ada sumur sama sekali, sumber air bener-bener berasal dari mata air. Mata air ini kemudian disalurkan ke rumah-rumah menggunakan selang dan air dibiarkan begitu saja mengalir di kamar mandi. Suhu airnya sendiri bisa mencapai 10 derajat celcius. Hmm.. cukup membuat saya ragu untuk mandi. Kalo gak mandi, badan gak enak. Kalo mandi.. berasa mandi di kulkas. Hahaha. Akhirnya&#8230; saya memberanikan diri juga untuk mandi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/wanasuka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1719" title="wanasuka" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/wanasuka.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Tepat jam 12 malam, terdengar suara kembang api yang bersahutan. Terdengar jelas keriuhan dan keceriaan anak-anak dari halaman rumah, sedangkan saya&#8230; meringkuk kedinginan dan enggan beranjak dari tempat tidur. Suara SMS dan BBM kalah ditelan hingar bingarnya kembang api yang serasa tidak ada habisnya dan saya&#8230; masih meringkuk kedinginan. Tahun baru yang aneh..</p>
<p><strong>Situ Cileunca</strong></p>
<p>Rencana awal berangkat jam 6 menuju pemandian air panas Cibolang rusak sudah. Cuaca yang dingin membuat kami susah beranjak dari tempat tidur. Karena sudah agak siang, kami memutuskan untuk melewatkan air panas Cibolang dan langsung menuju Situ Cileunca.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_cileunca.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1720" title="situ_cileunca" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_cileunca.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Situ Cileunca terletak tidak jauh dari Kecamatan Pangalengan. Situ ini diapit oleh dua desa yaitu Desa Wanasari dan Desa Pulosari. Sama dengan Malabar, Situ ini juga sebelumnya dikelola oleh warga Belanda. Harga tiket masuknya tergolong murah, cukup 3000 rupiah saja. Disini pengunjung disediakan saung untuk beristirahat dan jasa penyewaan perahu untuk mengelilingi Situ. Dan lagi-lagi.. gerimis <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> kalo jalan-jalan di awal musim hujan, siap-siap aja dengan cuaca yang tidak menentu di Pangalengan. Kalo tidak beruntung, seharian bisa hujan. Percuma deh bawa kamera canggih, kalo seharian hujan mulu.. Hahaha.</p>
<p><strong>Oleh-oleh Serba Susu</strong></p>
<p>Susu merupakan salah satu penghasilan terbesar masyarakat Pangalengan. Disini kami banyak menjumpai toko-toko yang menjual produk olahan susu, seperti dodol susu, karamel, yoghurt, kerupuk susu dan permen susu. Tante memborong banyak sekali karamel dan dodol susu. Sedangkan saya memborong 3 dodol susu dan 3 permen susu nasional yang saya jadikan oleh-oleh untuk teman-teman di kantor.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/oleh_oleh_susu.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1721" title="oleh_oleh_susu" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/oleh_oleh_susu.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan jam 3 sore. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk mampir ke kampus Telkom di daerah Buah Batu, Bandung. Kalo yang ini, pesenan adik sepupu yang ingin melihat kampusnya sebelum kuliah nanti. Hehe..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamselinas 2011</title>
		<link>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 07:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Happening]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[foldingbike]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1648</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menunggu 1 bulan setelah masa pendaftaran, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah momen untuk pertama kalinya dimana komunitas sepeda lipat indonesia berkumpul bersama dalam sebuah acara yang dinamakan Jamselinas 2011 (Jambore Sepeda Lipat Nasional 2011). Jamselinas 2011 kali ini diselenggarakan pada 15 dan 16 Oktober 2011 di   Vidi Arena, Hanggar Teras MBAU, Jalan Gatot Subroto Kav. 72, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menunggu 1 bulan setelah masa pendaftaran, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah momen untuk pertama kalinya dimana komunitas sepeda lipat indonesia berkumpul bersama dalam sebuah acara yang dinamakan Jamselinas 2011 (Jambore Sepeda Lipat Nasional 2011). Jamselinas 2011 kali ini diselenggarakan pada 15 dan 16 Oktober 2011 di   Vidi Arena, Hanggar Teras MBAU, Jalan Gatot Subroto Kav. 72, Jakarta   Selatan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas_poster.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1655" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas_poster.jpg" alt="" width="500" height="278" /></a></p>
<p>Sepeda kesayangan Speed P8 sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Hari sabtu pagi, tepat jam 8, sepeda saya gowes dari Kalibata City menuju Vidi Arena yang terletak di Hanggar Teras Pancoran. Perjalanan santai dari Kalibata menuju Pancoran saya tempuh dalam waktu 10 menit.</p>
<p>Setibanya di Vidi Arena, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa sepeda yang parkir di dalam lapangan futsal ini. Ketika waktu mulai mendekati pukul 10, mulai satu per satu rombongan wilayah berdatangan. Yang pertama datang adalah rombongan dari JFB (Jogja Folding Bike), kemudian disusul rombongan Bekasi yang menamakan dirinya Romli Seksi (Rombongan Sepeda Lipat Sekitaran Bekasi) yang bagian dari RoBek (Rombongan Bekasi). Terus ada Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) dan Sel-B (Sepeda Lipat Bandung). Disusul lagi oleh Konslet (Komunitas Sepeda Lipat Tasik), Gowel Bogor, BeFoCyCo (Bekasi FoldingBike Cycling Community), BikeBerry dan SFB (Surabaya Folding Bike) yang sama-sama berasal dari Surabaya. Ada juga komunitas yang berdasarkan merek sepeda seperti ID-Dahon dan ID-Brompton. Sebenernya ada satu wilayah lagi dari Bali, tapi berhalangan hadir karena adanya gempa. Sebanyak lebih dari 500 sepeda dari berbagai wilayah tumpah ruah memadati Vidi Arena.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1656" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Om Antoboty, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Om Mada Mubina selaku ketua Jamselinas 2011. Dalam sambutannya, Om Mada mengatakan bahwa ajang Jamselinas ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, sebagai tempat untuk bersilatuhrami antara sesama  pengguna sepeda lipat, membangkitkan dan meningkatkan minat untuk  menjadikan sepeda lipat sebagai sarana transportasi publik. Kemudian sambutan dilanjutkan oleh Om Azwar a.k.a Om Bugs selaku ketua id-foldingbike. Om Bug bercerita mengenai sejarah berdirinya id-foldingbike. Dari mulai terbentuk tanggal 11 Maret 2007 yang anggotanya saat itu hanya 20 orang, kini anggota id-foldingbike sudah menembus angka 2000 yang tersebar di seluruh Indonesia. id-foldingbike mempunyai berbagai macam media seperti <a href="http://groups.yahoo.com/group/id-foldingbike">milis</a>, <a href="http://idfoldingbike.multiply.com/">website</a> dan <a href="http://twitter.com/idfoldingbike">twitter</a>. Oh iya, di id-foldingbike, sapaan untuk memanggil adalah Om dan Tante <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/big_grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dari siang hingga sore hari, acara diisi oleh perlombaan dan talkshow mengenai sepeda lipat. Dilanjutkan dengan makan malam bersama sambil menunggu pembagian doorprize berupa 1 buah sepeda Strida. Kemudian dilanjutkan Night Rider (NR) menuju Bundaran HI. Rute NR: Hanggar &#8211; Kuningan &#8211; Jembatan Rasuna Said &#8211; Taman Lawang &#8211; Sunda Kelapa &#8211; Taman Suropati &#8211; Teuku Umar &#8211; Sam Ratulangi &#8211; Kamboja &#8211; Cendana &#8211; Suwiryo &#8211; Prof. Moch. Yamin (Taman  Menteng) &#8211; H. Agus Salim (lampu merah Mandarin) &#8211; Bundaran HI.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1657" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1658" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Ada kejadian menarik setelah pulang Night Rider. Harusnya semua peserta kembali lagi menuju Pancoran, tetapi saya melihat beberapa rombongan Komselis mengikuti rombongan Sel-B yang akan langsung pulang menuju Sudirman Park. Saya mencoba mengikuti pelan-pelan dari kejauhan.. dan ternyata benar, ada 2 peserta dari Komselis yang tersasar hingga Sudirman Park. &#8220;Om, kesasar ya?&#8221; tanya saya dengan yakin. &#8220;Iya om, keikut rombongannya Sel-B nih&#8221;. Hahaha.. sudah saya duga! &#8220;Ayo om, ikutin saya, kita bareng-bareng ke Pancoran&#8221; (sok-sok&#8217;an mentang-mentang tau jalan.. haha). Nggak lama 2 peserta ini mengikuti saya, 100 meter kemudian ketemu lagi 3 peserta Komselis yang tersasar. Haiyaaaahh.</p>
<p>Minggu paginya kami Gowes Heritage ke kota tua. Rute Heritage Trip: Hanggar &#8211; Sudirman Park (menjemput rombongan Sel-B) &#8211; Bundaran HI (disini kami berkumpul dan untuk pertama kalinya lebih dari 500 sepeda menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin sama Om antoboty.. kereeen) &#8211; Gajah mada &#8211; Kemurnian IV &#8211; Kemenangan (petak 9) &#8211; Pelabuhan Sunda Kelapa.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1659" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1660" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panggilan Tak Terjawab</title>
		<link>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2011 12:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1636</guid>
		<description><![CDATA[Tidak seperti biasanya malam itu saya pulang begitu cepat. Belum pernah saya rasakan lelah seperti ini, merangsek dari atas kepala hingga ujung kaki. Sesampainya di depan kamar, sahabat saya Panji mulai memanggil. Wajah optimis dan penuh semangat yang selalu Panji perlihatkan kepada saya, seketika mengalahkan energi negatif yang ada di pikiran saya saat itu. &#8220;Sob, makan bareng nyok, roti bakar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak seperti biasanya malam itu saya pulang begitu cepat. Belum pernah saya rasakan lelah seperti ini, merangsek dari atas kepala hingga ujung kaki. Sesampainya di depan kamar, sahabat saya Panji mulai memanggil. Wajah optimis dan penuh semangat yang selalu Panji perlihatkan kepada saya, seketika mengalahkan energi negatif yang ada di pikiran saya saat itu. &#8220;Sob, makan bareng nyok, roti bakar edi di lenteng agung kayaknya enak nih?&#8221;. Hmm.. ajakan yang sulit untuk ditolak.</p>
<p>Mercedes Benz CLK250 pun melaju dengan kencangnya, tersamar di gelapnya malam. Entah kenapa, pikiran saya saat itu tiba-tiba berkecamuk, masih saja memikirkan satu panggilan tak terjawab yang saya dapat menjelang pagi, dimana separuh nyawa masih berada di alam mimpi.</p>
<p>Entah karena kami membawa CLK atau memang dibolehkan parkir di depan, petugas parkir pun langsung sigap mengarahkan kami. Posisi parkir yang paling menyebalkan untuk saya, tapi tidak untuk Panji. Suasana roti bakar malam itu cukup ramai. Kami memilih untuk duduk halaman luar.</p>
<p>Sambil menunggu makanan datang, tiba-tiba ponsel berdering. &#8220;Ah, nomor yang sama!&#8221; Panggilan pertama tidak saya jawab, sulit rasanya jari ini menekan gambar gagang telepon berwarna hijau. Panggilan kedua mulai menggoda saya, tetapi yang ini sengaja tidak saya jawab. Semakin lama saya mendengar dering ponsel, semakin kuat rasa ingin tahu saya. 3 kali miscall berlalu begitu saja dan saya mulai melahap roti bakar pisang coklat keju.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_call.jpg"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_callll.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1645" title="bb_missed_callll" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_callll.jpg" alt="" width="480" height="103" /></a><br />
</a>Saat pandangan saya tujukan ke pojok halaman, rasa ingin tahu saya hilang seketika. &#8220;Ahh.. rupanya dia, jadi ini toh yang memenuhi pikiranku seharian ini dan kau baru saja meneleponku&#8221;. Sungguh kebetulan yang luar biasa bisa mempertemukan kami di satu tempat. Wajah cantiknya masih sama seperti dulu, terlihat anggun dengan balutan kerudung hijau.</p>
<p>Saya sadar, di tempat duduk itu dia tidak sendiri. Seorang pria yang ada di hadapannya mulai memegang tangannya dan membersihkan remah roti di ujung bibirnya. Tapi kenapa.. di tengah adegan itu dia menatap saya, seakan ingin menunjukkan sisa-sisa kekecewaan, sedangkan waktu saya sudah habis untuk menyapu kekecewaan itu.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya dapati satu pesan masuk di ponsel. &#8220;Doakan aku, semoga aku bahagia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya.. pasti, dan kau akan bahagia&#8221;. Saya hanya bisa menjawab dalam hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bernostalgia ke Gunung Gede</title>
		<link>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 08:47:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[gunung gede]]></category>
		<category><![CDATA[suryakencana]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya, ada pesan nostalgia di dalamnya. Sebuah rasa rindu yang menggebu-gebu dari dalam jiwa yang membuat hari-hari kami terasa begitu cepat. Sedikit demi sedikit, rasa tidak sabar itu mulai sirna ketika perjalanan akan dimulai.
Setelah pulang dari Air Terjun Cibeureum dua bulan yang lalu, terbesit di pikiran saya untuk kembali lagi ke sini. Tapi tidak ke ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya, ada pesan nostalgia di dalamnya. Sebuah rasa rindu yang menggebu-gebu dari dalam jiwa yang membuat hari-hari kami terasa begitu cepat. Sedikit demi sedikit, rasa tidak sabar itu mulai sirna ketika perjalanan akan dimulai.</em></p>
<p>Setelah pulang dari <a href="http://adikristanto.net/air-terjun-cibeureum-dan-safari-malam/">Air Terjun Cibeureum</a> dua bulan yang lalu, terbesit di pikiran saya untuk kembali lagi ke sini. Tapi tidak ke Air Terjun, melainkan mendaki ke <a href="http://gedepangrango.org/">Gunung Gede</a>. Hmm.. rasanya sudah lama sekali saya tidak lagi ke Gede. Rencana itu pun akhirnya saya lemparkan ke <a href="http://rheys.com">Rhea</a> dan <a href="http://tissasasnida.net">Tissa</a> sepulang dari <a href="http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/">Cicatih</a>, dan mereka sangat antusias sambil bercerita mengenai kenangan terakhir mereka ke Gede. Yes, toss dulu ahhh!</p>
<p>Segala persiapan pun kami lakukan. Mulai dari pemilihan hari keberangkatan, ijin cuti ke atasan kami masing-masing sampai pembelian perlengkapan pendakian. Saking lamanya kami tidak mendaki, barang-barang yang dipinjam oleh beberapa teman sampai sekarang tidak ada satupun yang kembali. Tak apalah, mungkin sudah menjadi hak milik. Beruntung, toko perlengkapan outdoor yang terletak di jalan raya Ciledug sedang ada diskon 50%. Saya dan Rhea tidak melewatkan kesempatan emas ini begitu saja. Saya memilih Deuter Futura 32 dan Rhea memilih Deuter Futura 24, sleeping bag, sepatu dan ditambah beberapa printilan. Sedangkan Tissa lebih memilih meminjam ke teman-teman Mapala di kampusnya. Untuk logistik, kami menyempatkan diri berbelanja di supermarket sepulang kantor, seperti kentang goreng, mie instan, spaghetti, sarden, chicken nugget, buah-buahan dan beberapa cemilan. Semuanya sudah lengkap, saatnya berangkaaat.</p>
<p>Gelap dan dinginnya pagi mulai menyapa. Semburat tipis kemerahan mulai menyeruak dari ufuk timur. Diawali dengan sebuah doa, kami pun bersiap memulai perjalanan panjang hari ini. Di tengah perjalanan menuju Kampung Rambutan, kami menjemput satu orang lagi yang akan menemani kami selama perjalanan. Agak sulit rasanya, kalo kami harus berangkat bertiga tanpa pendaki senior yang berpengalaman. Teman kami itu bernama Eko.</p>
<p>Tepat pukul 07.00, bus Warga Baru Ekonomi keluar dari terminal dan itu satu-satunya bus yang kami lihat begitu kami turun dari taksi. Tadinya kami akan menggunakan bus AC, tapi mengingat waktu yang akan terbuang begitu saja karena jeda waktu bus berikutnya yang cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk menaiki bus yang berangkat terlebih dahulu. Wuaaahh.. sepertinya kami kurang beruntung menaiki bus ini, angin yang bertiup kencang dari jendela pintu, ditambah asap knalpot yang sepertinya bocor di bagian belakang. Ahh.. sudahlah, dibawa tidur saja, paling juga masuk angin. Hahaha.</p>
<p>Pukul 09.30, akhirnya kami terlepas juga dari &#8216;siksaan&#8217;. Angkot kuning mulai membawa kami dari pertigaan Cibodas menuju Kebun Raya Cibodas di tengah rasa kantuk dan lemas yang masih menderu. Sesampainya disana, kami langsung menuju kantor Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) untuk mengurus surat ijin pendakian. Tissa yang mengurus surat pendakian sedikit mengalami masalah karena bukti transfer kami tidak ada. Bukti transfer itu hilang di kantor, tercecer dengan kertas-kertas dan sepertinya terbuang ke tempat sampah. Benar-benar kecerobohan yang menjengkelkan, karena kami harus beradu argumen hanya untuk membuktikan kalo kami sudah membayar biaya pendakian TNGP. Satu jam kami habiskan hanya untuk menunggu surat ijin pendakian. Suara perut semakin melengking dan memaksa kami menuju tempat makan yang letaknya berada di belakang jalan Cibodas. Saya dan Rhea memesan nasi rames, sedangkan Tissa dan Eko memesan Nasi Goreng.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1616" title="Gede01" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede01.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1617" title="Gede02" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede02.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Tepat pukul 12.30, perjalanan menuju puncak Gede pun dimulai. Dengan langkah perlahan tapi pasti, kami mulai meniti satu per satu undakan berbatu. Sesekali kami beristirahat sambil melepas dahaga dan memakan cemilan. Pendakian menuju puncak Gede yang kami rencanakan ini benar-benar tanpa target waktu. Kami berempat hanya ingin menikmati pemandangan, menikmati makanan yang kami bawa, menikmati kenangan-kenangan dulu, mengambil gambar sebanyak mungkin dan menikmati perjalanan. Kata Tissa, kami ini tidak sedang mendaki, tapi piknik. Entah kapan kami bisa berada di atas sana. Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede03.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1618" title="Gede03" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede03.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Tissa yang menganggap pendakian ini sebagai piknik dan beratnya tas yang dibawa mulai sedikit mempengaruhi irama perjalanan kami. Seharusnya kami terus melakukan pendakian, tapi Tissa mendadak berhenti&#8230; membuka daypack dan mengeluarkan beberapa makanan. Huahaha.. kacau. Bahkan di shelter Payangcangan, kami menyempatkan untuk makan nasi goreng dan memasak Spaghetti.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede04.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1619" title="Gede04" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede04.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede05.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1620" title="Gede05" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede05.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede06.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1621" title="Gede06" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede06.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>45 menit kami habiskan di shelter Payangcangan sampai udara dingin benar-benar terasa di kulit kami. Kami mulai berkemas kembali dan meninggalkan shelter Payangcangan sebelum gelap. Perjalanan mulai agak terjal dan sulit, banyak batu-batu dan akar pohon yang menghalangi di jalur pendakian. Pendakian benar-benar menghabiskan cukup banyak tenaga dan memaksa kami beristirahat setiap 20 menit. Sinar matahari sore yang jatuh di antara dedaunan pohon semakin lama semakin meredup. Kami pun mulai menyiapkan peralatan penerangan seperti senter dan lampu kepala.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 19.00, kami beristirahat kembali sambil membuat mie instan dan teh manis. Tadinya kami mengira jam segini kami bisa berada di shelter Kandang Batu atau Kandang Badak, tapi itu masih jauh sekali dari tempat kami sekarang berada.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede07.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1622" title="Gede07" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede07.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Menyusuri undakan-undakan batu yang terjal di tengah kegelapan memang membutuhkan konsentrasi dan stamina yang tinggi. Terkadang rasa lelah mulai sedikit menyurutkan mental kami. Saya, Tissa, Rhea dan Eko tidak henti-hentinya saling menyemangati. Beberapa kali kami mencoba untuk berbarengan dengan rombongan lain, supaya lebih rame dan bisa menjaga irama perjalanan. Tapi sekuat apapun kami berusaha, rasa lelah terkadang lebih mudah mengalahkan semangat. Tissa yang mulai melemah, membuat kami berjalan agak pelan dan ekstra hati-hati terhadap keadaan. Setelah melewati Air Panas, akhirnya kami tiba di shelter Kandang Batu dan tiba-tiba Tissa memutuskan untuk mengakhiri pendakian dan melanjutkan kembali keesokan harinya. Sedangkan saya dan Rhea bersikeras untuk melanjutkan perjalanan hingga shelter Kandang Badak. &#8220;Keributan&#8221; kecil pun terjadi di antara kami. Kami terdiam sejenak, menenangkan pikirian dan akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Kandang Batu. Saya dan Rhea sedikit kecewa, tapi saya bisa memahami argumen Tissa yang tidak memungkinkan kami untuk bisa lanjut ke Kandang Badak.</p>
<p>Setelah kami mendirikan tenda, Tissa dengan sigapnya langsung membuatkan sayur asem dan kentang goreng untuk  makan malam kami. Obrolan santai sambil menikmati makan malam bersama berhasil menghilangkan ketegangan di antara kami. Wajah kecewa Rhea perlahan mulai memudar di tengah dinginnya malam. It&#8217;s time to take a rest &#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede08.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1623" title="Gede08" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede08.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Dinginnya malam membuat saya beberapa kali terjaga sambil berharap pagi datang dengan cepat. Bahu dan kaki masih sedikit terasa pegal. Jam 6 pagi, Tissa mulai menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan saya, Rhea dan Eko mencari air untuk persiapan perjalanan berikutnya. Di tengah kesibukan kami masing-masing, datanglah &#8220;bala bantuan&#8221; yaitu Yudi dan Abdul, yang berhasil kami hubungi sebelum mulai pendakian ke Gede. Syukurlah, dengan kedatangan mereka, setidaknya bisa meringankan beban kami berempat. Tas daypack kecil yang Yudi bawa dibawa oleh Tissa, sedangkan tas perbekalan yang berisi makanan dibawa oleh Yudi. Inti dari kedatangan mereka berdua hanya satu, membawa tas besar kami. Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede09.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1624" title="Gede09" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede09.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 09.30, tenda dan perlengkapan sudah kami masukkan ke tas masing-masing. Kali ini kami harus terus mendaki hingga sampai ke puncak, jadi sore harinya kami bisa menginap di alun-alun Suryakencana. Selepas Kandang Batu, pendakian mulai sedikit agak terjal. Sedikit demi sedikit, kami melewati Kandang Badak, persimpangan antara Gede dan Pangrango, sampai kami masuk ke dalam hutan dan akhirnya bertemu.. &#8220;Waaaaah&#8230; akhirnya Tanjakan Setan!&#8221; Saya, Rhea dan Eko begitu bersemangat mendaki Tanjakan Setan. Sedangkan Rhea, Yudi dan Abdul mengambil jalur lain untuk sampai ke atas.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1625" title="Gede10" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede10.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1626" title="Gede11" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede11.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Matahari berada tepat di atas kepala, rindangnya pepohonan tak mampu menutup cuaca panas yang kami hadapi. Perlahan-lahan, aroma belerang mulai tercium. &#8220;Woii.. sedikit lagi, belerengnya udah mulai kecium&#8221;, teriak Rhea yang sepertinya sudah berada jauh di depan saya. Langkah kaki mulai saya percepat, setelah melewati semak-semak terakhir dan jalur pendakian mulai berpasir, akhirnya &#8220;Phiuuuh&#8230;. akhirnya sampai juga&#8221;. Gak nyangka, kita bisa sampai di puncak Gede selama ini, 24 Jam! Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1627" title="Gede12" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede12.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Sambil menyusuri tanah berpasir, kami terus melangkahkan kaki kami hingga benar-benar berada di puncak. Wow, sungguh pemandangan yang luar biasa. Dari atas sini kami bisa melihat Gunung Pangrango yang dikelilingi awan dan melihat luasnya alun-alun Suryakencana. Tenda-tenda pendaki yang berjajar tampak begitu kecil dari atas sini.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1630" title="Gede15" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede15.jpg" alt="" width="500" height="188" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1628" title="Gede13" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede13.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Setelah puas berada di puncak, kami harus menuruni bukit menuju Suryakencana karena ditempat itu kami bisa bermalam. Bagi kebanyakan pendaki, Suryakencana sudah menjadi rumah kedua mereka. Padang rumput yang luas terbentang dengan hamparan bunga abadi edelweiss yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang. Di tengah kesunyian dan dinginnya malam, kami bisa melihat hamparan bintang-bintang di atas cakrawala. Perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari 24 jam, akhirnya terbayar sudah.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1629" title="Gede14" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede14.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Rute Gunung Putri menjadi pilihan kami untuk perjalanan pulang. Berbeda dengan waktu yang harus kami habiskan ketika pendakian, waktu tempuh yang kami habiskan untuk menuju Cipanas hanya 5 jam saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengarungi 20 Jeram Sungai Cicatih</title>
		<link>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 10:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[cicatih]]></category>
		<category><![CDATA[riam jeram]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1548</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari 2 buah voucher Riam Jeram yang saya dan Tissa dapet dari undian pameran DEEP &#38; EXTREME Indonesia 2011 tanggal 31 Maret. Kami pun mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk menggunakan voucher gratisan ini sambil mengajak teman-teman kantor, berharap kita bisa pergi rame-rame berarung jeram. Hmm.. tapi apa daya, ternyata cuma Rhea saja yang mau ikut dengan kami. Setelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari 2 buah voucher <a href="http://www.riamjeram.com">Riam Jeram</a> yang saya dan <a href="http://tissasasnida.net">Tissa</a> dapet dari undian pameran <a href="http://www.deepandextremeindonesia.com">DEEP &amp; EXTREME Indonesia 2011</a> tanggal 31 Maret. Kami pun mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk menggunakan voucher gratisan ini sambil mengajak teman-teman kantor, berharap kita bisa pergi rame-rame berarung jeram. Hmm.. tapi apa daya, ternyata cuma <a href="http://rheys.com">Rhea</a> saja yang mau ikut dengan kami. Setelah kami bertiga berembug, akhirnya kami memutuskan untuk pergi di awal Juni, yeaay&#8230; pas banget ada long weekend.</p>
<p>Perjalanan kami mulai dari terminal Kampung Rambutan. Rhea dan Tissa berusaha mencari-cari bus AC yang menuju Sukabumi. Tapi sayang, tidak ada satupun bus AC yang menuju Sukabumi, hanya bus Langgeng Jaya yang masih sepi penumpang dihadapan kami. Satu jam kami bersabar menunggu sampai bus terisi penuh. Tepat pukul 08.30 perlahan-lahan bus mulai bergerak keluar terminal.</p>
<p>Setelah memasuki Ciawi, tiba-tiba minibus MGI menyalip bus kami&#8230; wushhh.. serentak kami melihat tulisan &#8220;Pelabuhan Ratu &#8211; Bogor&#8221; di kaca belakang bus dan kami pun saling berpandangan. &#8220;Ahh&#8230; kenapa tadi kita nggak ke Bogor aja yah, kita naik kereta dari Stasiun Cawang&#8221;. Sedikit menyesal, tapi&#8230; ya sudahlah.</p>
<p>Sesampainya di pertigaan Cibadak, kami harus menyambung lagi menuju Meeting Point Riam Jeram yang berada di Jalan Raya Pelabuhan Ratu. Tadinya kami akan menggunakan angkot berwarna putih yang menuju Riam Jeram, tapi tiba-tiba bus MGI nongol begitu saja di hadapan kami. Yeaay&#8230; akhirnya kami pun kesampaian juga naik bus ini. Hahaha. Ketika tiba di Meeting Point, kami disambut oleh Kang Kubil, salah satu petugas Riam Jeram. Kang Kubil mempersilahkan kami untuk beristirahat sejenak dan mengganti pakaian.</p>
<p>Dengan mobil pick-up kami diantarkan menuju sungai Cicatih yang terletak di desa Bojongkerta. Perjalanan kami tempuh selama 20 menit melewati pemandangan hutan karet dan hamparan sawah yang menghijau. Jalan aspal yang rusak dan berbatu tidak membuat pak supir melambatkan kendaraannya sedikitpun. Tadinya saya pikir sungai Cicatih itu bening karena dari namanya &#8220;WhiteWater Rafting&#8221;. Ternyata saya salah, sungai Cicatih begitu coklat karena endapan lumpur dan erosi tanah yang terbawa dari hulu.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1559" title="riam_jeram1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram1.jpg" alt="" width="300" height="309" /></a></p>
<p>Dari kejauhan tampak perahu karet berwarna jingga, berbaris rapih menanti kedatangan kami. Sebelum pengarungan dimulai, saya berkenalan dengan Kang Wawan dan Kang Asep, yang akan menjadi pemandu dan <em>skipper</em> kami selama pengarungan. Kang Wawan mulai memberikan instruksi dan mengenalkan aba-aba kepada kami. Awalnya saya begitu senang dan tidak sabar berada di atas perahu, tapi begitu kaki mulai menginjak perahu, kok jadi deg-deg&#8217;an yah.. hahaha. Kang Wawan mulai memberikan aba-aba &#8220;dayung maju 1.. 2.. 1.. 2..&#8221; dan perahu mulai bergerak maju di tengah riaknya sungai Cicatih. Perasaan deg-deg&#8217;an sirna begitu saja dan perahu kami menjadi perahu pertama yang memulai pengarungan.</p>
<p>Sebelum menikmati jeram pertama, Kang Wawan meminta kami untuk nyebur ke sungai. Selain untuk merasakan sungai Cicatih, kami pun diajari posisi badan ketika kami terlempar atau keluar dari perahu dan bagaimana caranya mengangkat teman yang tercebur ke atas perahu.</p>
<p>Menuju jeram pertama, Kang Asep mengatakan bahwa kami akan mengarungi 20 jeram sejauh 12KM, yang akan kami tempuh selama lebih kurang 2,5 jam. Ketika kami sedang asyik memandangi tebing-tebing tinggi dan beberapa biawak yang sedang bercengkrama di pinggir sungai, tiba-tiba Kang Wawan berteriak &#8220;Jeram slalom, dayung maju!&#8221;. Wow, perasaan senang campur dag dig dug mulai berkecamuk, saya mulai mendayung sekuat tenaga. Ketika jeram mulai terlihat, Kang Wawan mulai memberi kami aba-aba &#8220;Stop&#8221; dan dayung pun langsung kami angkat. Siap-siap&#8230; byuuuurrr&#8230; perahu kami menerjang jeram dengan cepatnya, perahu terombang ambing dan cipratan air membasahi wajah saya. Wuuuoow.. luar biasa! Tak sabar menanti jeram berikutnya.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1560" title="riam_jeram2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram2.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Setiap jeram mempunyai nama yang unik, seperti: Jeram ngehe, serius,  jontor, kuku patah, under cut, pabeulit/ ruwet, asmara, gerbang, zigzag,  warok, marzuki, gigi, rollercoaster, blender, panjang, terlena, cihuy,  kerinduan, maskot dan harga diri. Jeram tersebut dinamai karena ada  peristiwa atau kejadian unik yang terjadi selama pengarungan.</p>
<p>Jeram Ngehe adalah jeram yang paling nyebelin karena sering banget  perahu terbalik di jeram ini. Lain halnya dengan Jeram kuku patah,  dinamakan demikian karena ada seorang wanita yang pernah jatuh dan  kukunya patah. Wanita itu pun tidak henti-hentinya menangis sampai tiba  di jeram terakhir. Adalagi Jeram asmara, perahu yang berisi pasangan  kekasih pernah terbalik di jeram ini, kemudian setiap laki-laki berusaha  mencari pasangannya masing-masing. Bahkan ada jeram yang dinamakan dari  nama Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada Kabinet Reformasi,  yaitu Bapak Marzuki Usman. Di jeram ini, pak Marzuki pernah mencicipi segarnya sungai Cicatih.</p>
<p>Tidak terasa kami sudah melewai jeram kesepuluh atau Jeram ZigZag. Perahu kami pun menepi, mengarah ke sebuah gubuk di tepi sungai. Kelapa muda dan bakwan menemani kami sambil beristirahat. Beberapa pemandu mulai mengecek dan memompa kembali perahu mereka.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1561" title="riam_jeram3" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram3.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1562" title="riam_jeram4" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram4.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan. Setelah melewati Jeram Warok, Marzuki, Gigi, Rollercoaster, Blender, Panjang, Terlena, dan  Cihuy, sungai tampak kian melebar karena bertemu dengan sungai Cimandiri yang berasal dari Gunung Gede Pangarango. Tak lupa, Kang Asep selalu menyemangati kami dengan tos dayung setiap usai melewati jeram.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1563" title="riam_jeram5" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram5.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1564" title="riam_jeram6" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram6.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Dari belakang, Kang Wawan berteriak kembali &#8220;Jeram Kerinduan&#8221; dilanjutkan dengan Kang Asep yang mulai bercerita mengenai sejarah Jeram Kerinduan. Dinamakan Jeram kerinduan karena river guide/skipper selalu memberikan permainan sebelum menuju jeram terakhir. Dan ini merupakan jeram favorit saya! Keahlian skipper mampu membuat perahu kami berputar sampai 4 kali di atas derasnya jeram. Woow.. luar biasa! Pas dengan namanya.. membuat kami rindu untuk mengulanginya lagi. Sungguh, jeram yang mampu mewakili perasaan hati.</p>
<p>Setelah melewati Jeram Harga Diri, kami melabuhkan perahu kami di Kampung Jeram di Desa Leuwilalay. Puas, senang, gembira, ceria.. begitulah yang terpancar dari wajah kami. Kami dipersilakan mandi dan berganti pakaian, lalu menikmati makan prasmanan khas sunda sambil bersantai di atas saung dan melihat foto-foto selama pengarungan. Saya pikir, saya bisa mengkopi foto-foto yang diambil selama pengarungan, ternyata saya harus membeli foto itu seharaga 10 ribu per foto dan total ada 31 foto. Ketika saya bertanya &#8220;Sabaraha sadayana?&#8221;. Entah karena efek bahasa sunda atau apa, petugas disitu menjawab &#8220;Ya sudah, untuk Kang Adi, semuanya 100 ribu saja&#8221;. Yeaaay!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1565" title="riam_jeram9" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram9.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan jam 5 sore dan sepertinya kami peserta terakhir yang berada di tempat itu. Setelah berkemas, Kang Kubil memberikan kami sertifikat sebagai bukti partisipasi, setelah itu mengantarkan kami kembali ke Cibadak. Pas turun di pasar Cibadak, tiba-tiba&#8230; yeaay (again!) bus MGI itu lagi. Hahaha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

