<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>last hope at last station</title>
	<atom:link href="http://adikristanto.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adikristanto.net</link>
	<description>adikristanto personal blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 04:25:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kawah Putih dan Situ Patengan</title>
		<link>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 03:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[kawah putih]]></category>
		<category><![CDATA[situ patengan]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1730</guid>
		<description><![CDATA[Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke Pangalengan, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.
Jumat pagi packing, masuk kantor seperti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke <a href="http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/">Pangalengan</a>, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.</p>
<p>Jumat pagi packing, masuk kantor seperti biasanya, pulang kantor langsung menuju meeting point di halte busway ragunan. Sambil menunggu di pinggir jalan, di bawah pohon nangka yang lebat, tiba-tiba Mitsubishi Galant berwarna biru dongker berhenti dan kaca mobil pun terbuka&#8230; terlihat sesosok pria besar memanggil..&#8221;Masuk sob!&#8221;. &#8220;Heh.. ganti mobil sob?&#8221;, kata saya. Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Ini mobil kita sob?&#8221;. &#8220;Mobil kita gimana?&#8221;, jawab saya dengan penasaran. Dan lagi-lagi Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Iyaa&#8230; ini mobil dagangan kita&#8221;. What?!!</p>
<p>Saya dan Panji cukup lama bersahabat sejak kami masih sama-sama kost di depok. Karena kedekatan dan &#8220;kenekatan&#8221; kami, akhirnya kami mencoba untuk membuka bisnis jual beli mobil second. Nah, kalo tuh mobil belom laku, biasanya suka kami&#8230;(hmmm.. lebih tepatnya Panji) pake terlebih dahulu.</p>
<p>Tol Cikampek dan Cipularang cukup lancar di jumat malam. Perjalanan menuju Ciwidey kami tempuh dalam waktu 3 jam. Malam itu kami menginap di Kampung Pago yang berlokasi di Pasir Jambu. Kampung pago menyuguhkan suasana pegunungan yang asri dan sejuk. Tempatnya dibuat mirip seperti kampung di pegunungan. Yang membuat menarik di tempat ini adalah bangunan rumahnya yang unik ditambah dengan kolam ikan yang cukup besar di halaman depan. Saatnya beristirahat.</p>
<p>Saya kira, saya yang paling pertama bangun pagi diantara kami bertiga, ternyata Panji sudah jalan-jalan terlebih dahulu sambil membawa kamera mengelilingi Kampung Pago.  Semalem kami hanya melihat di halaman depan dan pagi ini kami menyusuri Kampung Pago hingga ke belakang yang jalannya sedikit menanjak. Ternyata Kampung Pago luas juga.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1740" title="kampung_pago" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Setelah sarapan dan packing, kami langsung tancap gas menuju Kawah Putih. Kami harus menempuh jarak lebih dari 10Km. Sepanjang jalan raya Ciwidey, banyak sekali pekarangan strawberry. Daya tarik tempat ini adalah kita bisa memetik strawberry langsung dari kebunnya atau biasa disebut &#8220;Strawberry Walk&#8221;.</p>
<p>Taraaa&#8230; akhirnya kami sampai juga di tempat wisata Kawah Putih. Karena Panji sudah pernah kesini terlebih dahulu, dia menyarankan untuk parkir mobil saja disini. Nantinya kami bisa naik angkutan menuju Kawah Putih. Biaya untuk masuknya 16 ribu saja&#8230; cring! Tapi.. tapi.. biaya masuk untuk mobil itu lhoo&#8230; 150 ribu. Hahaha&#8230; mahal gila! Itulah kenapa kami memutuskan untuk memarkir mobil di bawah saja, cukup 5 ribu&#8230; cring!</p>
<p>Perjalanan dari tempat parkir menuju tempat yang terletak pada ketinggian 2430 mdpl ini sekitar 15 menit dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan menanjak. Jalannya pun cukup sempit. Jadi kalo ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya mau nggak mau harus menepi.</p>
<p>Gerimis yang tidak henti-hentinya mengguyur menjelang siang, membuat udara disekitar Kawah Putih sangat dingin. Menyesal kami tidak bawa payung. Ojek payung disini cukup mahal, 7 ribu.. cring! dan dibayar dimuka. Kabut yang cukup tebal membuat pemandangan di sekitat kawah sangat terbatas. Air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di pinggiran danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna abu-abu yang ditumbuhi lumut. Kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha itu memiliki dinding kawah dan air yang berwarna putih.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1741" title="kawahputih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Ahh&#8230; rugi berat deh pokoknya, gara-gara hujan pula, niat kami untuk berfoto-foto disekitar kawah batal seketika. Kawah Putih yang berwarna kehijauan itu kali ini berubah menjadi benar-benar putih.. Hahaha. Satu-satunya objek yang bisa dinikmati di kawasan tersebut hanya kawah&#8230; yup cuma kawah&#8230; dan kondisi saat itu sedang hujan, berkabut&#8230; tapi anehnya tetap saja pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Ketika perjalanan pulang, saya mendengaar celotehan rasa kecewa pengunjung lain yang berkata &#8220;ah.. cuma gini doang?&#8221;. Sepertinya Kawah Putih akan indah dinikmati kalo musim kemarau atau cuaca cerah.. nggak recommended deh kalo musim hujan.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1757" title="kawah__putih" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Antara puas dan tidak puas menikmati Kawah Putih, kami turun kembali menuju parkiran dan perjalanan kami lanjutkan ke Situ Patengan (atau dibaca Situ Patenggang). Lokasinya tidak jauh dari Kawah Putih. Jadi, dengan mengunjungi satu lokasi, kami bisa menikmati 2 objek wisata sekaligus. Sebelum berangkat, saya, Panji dan Riri menyempatkan diri membeli strawberry di area parkir, 25 ribu per kilo.. cring!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1746" title="situpatengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi wisata, situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, <em>pateangan-teangan</em> (artinya: saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/ Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka. Aihhh&#8230; romantis.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1747" title="situ_patengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Untuk sampai ke Bukit Cinta kami harus menyewa perahu dengan harga sewa 20 ribu per orang. Karena terlalu lama menunggu penumpang lainnya, akhirnya perahu kami sewa untuk bertiga. Tawar menwar pun terjadi diantara Panji dan tukang perahu. Yang tadinya 100 ribu, akhirnya perahu bisa kami sewa 75 ribu untuk kami bertiga&#8230; yeaaay&#8230; cring! Si Akang Tukang Perahu (panjang bener ye namanya) ini ternyata hapal betul dengan legenda di daeraeh Situ Patengan. Sambil mengantarkan kami menuju Bukit Cinta, Si Akang Tukang Perahu juga sambil bercerita mengenai legenda Bukit Cinta.</p>
<p>Setelah mengitari Situ Patengan, kami beristirahat sebentar sambil menyantap ayam dan ikan bakar di pinggiran danau. Perjalanan masih jauh menuju jakarta&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hijaunya Pangalengan</title>
		<link>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 05:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[pangalengan]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang pergantian tahun, biasanya keluarga besar sudah merencanakan acara malam tahun baru. Berhubung tempat tinggal saudara yang tidak terlalu berjauhan, kami selalu menggilir rumah siapa yang akan menjadi ketempatan. Kebetulan sekali, tahun ini, rumah saya yang akan menjadi &#8220;korban&#8221; keramaian. Haha..
Saya pesimis, tahun ini kami bisa berkumpul bersama di rumah. Dua kakak sepupu masing-masing punya bayi dan sepertinya agak kerepotan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pergantian tahun, biasanya keluarga besar sudah merencanakan acara malam tahun baru. Berhubung tempat tinggal saudara yang tidak terlalu berjauhan, kami selalu menggilir rumah siapa yang akan menjadi ketempatan. Kebetulan sekali, tahun ini, rumah saya yang akan menjadi &#8220;korban&#8221; keramaian. Haha..</p>
<p>Saya pesimis, tahun ini kami bisa berkumpul bersama di rumah. Dua kakak sepupu masing-masing punya bayi dan sepertinya agak kerepotan kalo membawa mereka. Beberapa adik sepupu punya acara tahun baru dengan teman-temannya. Adik baru saja menikah dan punya acara tahun baruan sendiri. Sedangkan Om baru saja selesai pulang dari rumah sakit karena menderita typhus selama 4 hari.</p>
<p>Di tengah kegalauan, tiba-tiba tante menghubungi saya. &#8220;Di, gimana kalo tahun baruan, kita jalan-jalan ke Pangalengan, kebetulan cuti sakit om masih ada sisa 2 hari&#8221;. Yess! akhirnya kesampean juga pergi ke Pangalengan. Kalo mendengar cerita 3 adik sepupu tentang indahnya Pangalengan membuat saya iri sekali. Ajakan tante ternyata ada maunya. Saya diminta untuk menjadi supir selama perjalanan. Haha.. Karena saya menolak, akhirnya adik ipar yang harus menerima nasib sial menjadi supir selama perjalanan. Pangalengan terletak di sebelah selatan kota Bandung. Lokasinya berjarak 45Km dari pusat kota Bandung.</p>
<p>Perjalanan kami mulai sabtu pagi. Dengan menggunakan MPV yang berisikan 8 orang, kami pun menuju Pangalengan. Rute perjalanan: Citeureup &#8211; Jagorawi &#8211; JORR &#8211; Cikampek &#8211; Cipularang &#8211; Moh. Toha &#8211; Dayeuh Kolot &#8211; Banjaran &#8211; Pangalengan. Perjalanan kami tempuh selama 4 jam. Keluar tol Moh. Toha sampai daerah Banjaran agak sedikit macet karena kami harus melewati beberapa pasar tumpah. Ketika memasuki jalan raya pangalengan, jalanan mulai lengang dan menanjak menuju perbukitan. Berasa seperti di puncak, dengan pemandangan kebun teh dan terasering sepanjang perjalanan. Saya pun menjumpai beberapa tempat penginapan sepanjang jalan raya pangalengan. Kata tante, daerah di sini sudah menjadi objek wisata dan banyak dibangun vila atau residence sepanjang jalan raya pangalengan. Pangalengan mempunyai banyak objek wisata, seperti perkebunan teh Malabar yang dikelola oleh PTPN VIII, makam KAR Bosscha yang lokasinya berada di perkebunan teh Malabar, kolam pemandian air panas Cibolang dan Situ Cileunca.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/pangalengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1714" title="pangalengan" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/pangalengan.jpg" alt="" width="500" height="166" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/terasering.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1715" title="terasering" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/terasering.jpg" alt="" width="500" height="165" /></a></p>
<p><strong>Perkebunan Teh Malabar</strong></p>
<p>Sesampainya disana, kami tidak ingin membuang waktu begitu saja. Kami langsung menuju perkebunan teh Malabar yang lokasinya hanya berjarak 500 meter dari rumah Om. Dari pintu gerbang, kami berbelok ke kanan menuju Malabar. Ongkos masuknya 2000 rupiah saja.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/malabar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1716" title="malabar" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/malabar.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh yang menghijau dan dari kejauhan tampak pemetik teh dengan topi khas mereka. Udara begitu dingin dan kabut mulai menyeruak dari lembah perbukitan, padahal jam di tangan menunjukkan pukul 12 siang. Cuaca disini tidak bisa diprediksi, kadang gerimis.. kadang cerah.. eh tiba-tiba gerimis lagi. Malabar terletak di ketinggian 1.550 mdpl dan cuaca berkisar dari 16 hingga 26 derajat celcius. Brrr&#8230; dingin. Di tempat ini, terdapat Wisma Malabar, yang aslinya dibangun pada 1894 sebagai kantor administratur perkebunan teh Malabar sekaligus sebagai rumah tinggal KAR Bosscha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/bosscha.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1717" title="bosscha" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/bosscha.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><strong>K.A.R. Bosscha</strong></p>
<p>Karel Albert Rudolf Bosscha (Den Haag, 15 Mei 1865 – Malabar Bandung, 26 November 1928) merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kar_bosscha.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1718" title="kar_bosscha" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kar_bosscha.jpg" alt="" width="500" height="185" /></a></p>
<p>Pada bulan Agustus 1896 Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh ini, ia telah mendirikan dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar yang saat ini dikenal dengan nama Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan juga Pabrik Teh Tanara yang saat ini dikenal dengan nama Pabrik Teh Malabar.</p>
<p>Setelah puas menikmati panorama perkebunan teh Malabar, kami kembali ke rumah om. Karena rumah om akan dijadikan tempat ngumpul acara tahun baruan, terpaksa kami pun mengungsi ke tempat saudara di daerah Wanasuka. Kalo perkebunan Malabar menuju ke kanan dari pintu gerbang perkebunan, kami berbelok ke kiri menuju Wanasuka. Di sini kami melewati perkebunan teh dan pemandian air panas Cibolang. Sayang, jalan menuju Wanasuka agak rusak, tidak sebagus jalan menuju Malabar.</p>
<p>Di Wanasuka, kami menyempatkan diri beristirahat. Uniknya disini, tidak ada sumur sama sekali, sumber air bener-bener berasal dari mata air. Mata air ini kemudian disalurkan ke rumah-rumah menggunakan selang dan air dibiarkan begitu saja mengalir di kamar mandi. Suhu airnya sendiri bisa mencapai 10 derajat celcius. Hmm.. cukup membuat saya ragu untuk mandi. Kalo gak mandi, badan gak enak. Kalo mandi.. berasa mandi di kulkas. Hahaha. Akhirnya&#8230; saya memberanikan diri juga untuk mandi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/wanasuka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1719" title="wanasuka" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/wanasuka.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Tepat jam 12 malam, terdengar suara kembang api yang bersahutan. Terdengar jelas keriuhan dan keceriaan anak-anak dari halaman rumah, sedangkan saya&#8230; meringkuk kedinginan dan enggan beranjak dari tempat tidur. Suara SMS dan BBM kalah ditelan hingar bingarnya kembang api yang serasa tidak ada habisnya dan saya&#8230; masih meringkuk kedinginan. Tahun baru yang aneh..</p>
<p><strong>Situ Cileunca</strong></p>
<p>Rencana awal berangkat jam 6 menuju pemandian air panas Cibolang rusak sudah. Cuaca yang dingin membuat kami susah beranjak dari tempat tidur. Karena sudah agak siang, kami memutuskan untuk melewatkan air panas Cibolang dan langsung menuju Situ Cileunca.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_cileunca.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1720" title="situ_cileunca" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_cileunca.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Situ Cileunca terletak tidak jauh dari Kecamatan Pangalengan. Situ ini diapit oleh dua desa yaitu Desa Wanasari dan Desa Pulosari. Sama dengan Malabar, Situ ini juga sebelumnya dikelola oleh warga Belanda. Harga tiket masuknya tergolong murah, cukup 3000 rupiah saja. Disini pengunjung disediakan saung untuk beristirahat dan jasa penyewaan perahu untuk mengelilingi Situ. Dan lagi-lagi.. gerimis <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> kalo jalan-jalan di awal musim hujan, siap-siap aja dengan cuaca yang tidak menentu di Pangalengan. Kalo tidak beruntung, seharian bisa hujan. Percuma deh bawa kamera canggih, kalo seharian hujan mulu.. Hahaha.</p>
<p><strong>Oleh-oleh Serba Susu</strong></p>
<p>Susu merupakan salah satu penghasilan terbesar masyarakat Pangalengan. Disini kami banyak menjumpai toko-toko yang menjual produk olahan susu, seperti dodol susu, karamel, yoghurt, kerupuk susu dan permen susu. Tante memborong banyak sekali karamel dan dodol susu. Sedangkan saya memborong 3 dodol susu dan 3 permen susu nasional yang saya jadikan oleh-oleh untuk teman-teman di kantor.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/oleh_oleh_susu.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1721" title="oleh_oleh_susu" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/oleh_oleh_susu.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan jam 3 sore. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk mampir ke kampus Telkom di daerah Buah Batu, Bandung. Kalo yang ini, pesenan adik sepupu yang ingin melihat kampusnya sebelum kuliah nanti. Hehe..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamselinas 2011</title>
		<link>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 07:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Happening]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[foldingbike]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1648</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menunggu 1 bulan setelah masa pendaftaran, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah momen untuk pertama kalinya dimana komunitas sepeda lipat indonesia berkumpul bersama dalam sebuah acara yang dinamakan Jamselinas 2011 (Jambore Sepeda Lipat Nasional 2011). Jamselinas 2011 kali ini diselenggarakan pada 15 dan 16 Oktober 2011 di   Vidi Arena, Hanggar Teras MBAU, Jalan Gatot Subroto Kav. 72, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menunggu 1 bulan setelah masa pendaftaran, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah momen untuk pertama kalinya dimana komunitas sepeda lipat indonesia berkumpul bersama dalam sebuah acara yang dinamakan Jamselinas 2011 (Jambore Sepeda Lipat Nasional 2011). Jamselinas 2011 kali ini diselenggarakan pada 15 dan 16 Oktober 2011 di   Vidi Arena, Hanggar Teras MBAU, Jalan Gatot Subroto Kav. 72, Jakarta   Selatan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas_poster.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1655" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas_poster.jpg" alt="" width="500" height="278" /></a></p>
<p>Sepeda kesayangan Speed P8 sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Hari sabtu pagi, tepat jam 8, sepeda saya gowes dari Kalibata City menuju Vidi Arena yang terletak di Hanggar Teras Pancoran. Perjalanan santai dari Kalibata menuju Pancoran saya tempuh dalam waktu 10 menit.</p>
<p>Setibanya di Vidi Arena, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa sepeda yang parkir di dalam lapangan futsal ini. Ketika waktu mulai mendekati pukul 10, mulai satu per satu rombongan wilayah berdatangan. Yang pertama datang adalah rombongan dari JFB (Jogja Folding Bike), kemudian disusul rombongan Bekasi yang menamakan dirinya Romli Seksi (Rombongan Sepeda Lipat Sekitaran Bekasi) yang bagian dari RoBek (Rombongan Bekasi). Terus ada Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) dan Sel-B (Sepeda Lipat Bandung). Disusul lagi oleh Konslet (Komunitas Sepeda Lipat Tasik), Gowel Bogor, BeFoCyCo (Bekasi FoldingBike Cycling Community), BikeBerry dan SFB (Surabaya Folding Bike) yang sama-sama berasal dari Surabaya. Ada juga komunitas yang berdasarkan merek sepeda seperti ID-Dahon dan ID-Brompton. Sebenernya ada satu wilayah lagi dari Bali, tapi berhalangan hadir karena adanya gempa. Sebanyak lebih dari 500 sepeda dari berbagai wilayah tumpah ruah memadati Vidi Arena.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1656" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/jamselinas.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Om Antoboty, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Om Mada Mubina selaku ketua Jamselinas 2011. Dalam sambutannya, Om Mada mengatakan bahwa ajang Jamselinas ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, sebagai tempat untuk bersilatuhrami antara sesama  pengguna sepeda lipat, membangkitkan dan meningkatkan minat untuk  menjadikan sepeda lipat sebagai sarana transportasi publik. Kemudian sambutan dilanjutkan oleh Om Azwar a.k.a Om Bugs selaku ketua id-foldingbike. Om Bug bercerita mengenai sejarah berdirinya id-foldingbike. Dari mulai terbentuk tanggal 11 Maret 2007 yang anggotanya saat itu hanya 20 orang, kini anggota id-foldingbike sudah menembus angka 2000 yang tersebar di seluruh Indonesia. id-foldingbike mempunyai berbagai macam media seperti <a href="http://groups.yahoo.com/group/id-foldingbike">milis</a>, <a href="http://idfoldingbike.multiply.com/">website</a> dan <a href="http://twitter.com/idfoldingbike">twitter</a>. Oh iya, di id-foldingbike, sapaan untuk memanggil adalah Om dan Tante <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/big_grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dari siang hingga sore hari, acara diisi oleh perlombaan dan talkshow mengenai sepeda lipat. Dilanjutkan dengan makan malam bersama sambil menunggu pembagian doorprize berupa 1 buah sepeda Strida. Kemudian dilanjutkan Night Rider (NR) menuju Bundaran HI. Rute NR: Hanggar &#8211; Kuningan &#8211; Jembatan Rasuna Said &#8211; Taman Lawang &#8211; Sunda Kelapa &#8211; Taman Suropati &#8211; Teuku Umar &#8211; Sam Ratulangi &#8211; Kamboja &#8211; Cendana &#8211; Suwiryo &#8211; Prof. Moch. Yamin (Taman  Menteng) &#8211; H. Agus Salim (lampu merah Mandarin) &#8211; Bundaran HI.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1657" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1658" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/night_rider2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Ada kejadian menarik setelah pulang Night Rider. Harusnya semua peserta kembali lagi menuju Pancoran, tetapi saya melihat beberapa rombongan Komselis mengikuti rombongan Sel-B yang akan langsung pulang menuju Sudirman Park. Saya mencoba mengikuti pelan-pelan dari kejauhan.. dan ternyata benar, ada 2 peserta dari Komselis yang tersasar hingga Sudirman Park. &#8220;Om, kesasar ya?&#8221; tanya saya dengan yakin. &#8220;Iya om, keikut rombongannya Sel-B nih&#8221;. Hahaha.. sudah saya duga! &#8220;Ayo om, ikutin saya, kita bareng-bareng ke Pancoran&#8221; (sok-sok&#8217;an mentang-mentang tau jalan.. haha). Nggak lama 2 peserta ini mengikuti saya, 100 meter kemudian ketemu lagi 3 peserta Komselis yang tersasar. Haiyaaaahh.</p>
<p>Minggu paginya kami Gowes Heritage ke kota tua. Rute Heritage Trip: Hanggar &#8211; Sudirman Park (menjemput rombongan Sel-B) &#8211; Bundaran HI (disini kami berkumpul dan untuk pertama kalinya lebih dari 500 sepeda menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin sama Om antoboty.. kereeen) &#8211; Gajah mada &#8211; Kemurnian IV &#8211; Kemenangan (petak 9) &#8211; Pelabuhan Sunda Kelapa.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1659" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1660" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/10/heritage_trip2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/jamselinas-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panggilan Tak Terjawab</title>
		<link>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2011 12:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1636</guid>
		<description><![CDATA[Tidak seperti biasanya malam itu saya pulang begitu cepat. Belum pernah saya rasakan lelah seperti ini, merangsek dari atas kepala hingga ujung kaki. Sesampainya di depan kamar, sahabat saya Panji mulai memanggil. Wajah optimis dan penuh semangat yang selalu Panji perlihatkan kepada saya, seketika mengalahkan energi negatif yang ada di pikiran saya saat itu. &#8220;Sob, makan bareng nyok, roti bakar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak seperti biasanya malam itu saya pulang begitu cepat. Belum pernah saya rasakan lelah seperti ini, merangsek dari atas kepala hingga ujung kaki. Sesampainya di depan kamar, sahabat saya Panji mulai memanggil. Wajah optimis dan penuh semangat yang selalu Panji perlihatkan kepada saya, seketika mengalahkan energi negatif yang ada di pikiran saya saat itu. &#8220;Sob, makan bareng nyok, roti bakar edi di lenteng agung kayaknya enak nih?&#8221;. Hmm.. ajakan yang sulit untuk ditolak.</p>
<p>Mercedes Benz CLK250 pun melaju dengan kencangnya, tersamar di gelapnya malam. Entah kenapa, pikiran saya saat itu tiba-tiba berkecamuk, masih saja memikirkan satu panggilan tak terjawab yang saya dapat menjelang pagi, dimana separuh nyawa masih berada di alam mimpi.</p>
<p>Entah karena kami membawa CLK atau memang dibolehkan parkir di depan, petugas parkir pun langsung sigap mengarahkan kami. Posisi parkir yang paling menyebalkan untuk saya, tapi tidak untuk Panji. Suasana roti bakar malam itu cukup ramai. Kami memilih untuk duduk halaman luar.</p>
<p>Sambil menunggu makanan datang, tiba-tiba ponsel berdering. &#8220;Ah, nomor yang sama!&#8221; Panggilan pertama tidak saya jawab, sulit rasanya jari ini menekan gambar gagang telepon berwarna hijau. Panggilan kedua mulai menggoda saya, tetapi yang ini sengaja tidak saya jawab. Semakin lama saya mendengar dering ponsel, semakin kuat rasa ingin tahu saya. 3 kali miscall berlalu begitu saja dan saya mulai melahap roti bakar pisang coklat keju.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_call.jpg"><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_callll.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1645" title="bb_missed_callll" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/07/bb_missed_callll.jpg" alt="" width="480" height="103" /></a><br />
</a>Saat pandangan saya tujukan ke pojok halaman, rasa ingin tahu saya hilang seketika. &#8220;Ahh.. rupanya dia, jadi ini toh yang memenuhi pikiranku seharian ini dan kau baru saja meneleponku&#8221;. Sungguh kebetulan yang luar biasa bisa mempertemukan kami di satu tempat. Wajah cantiknya masih sama seperti dulu, terlihat anggun dengan balutan kerudung hijau.</p>
<p>Saya sadar, di tempat duduk itu dia tidak sendiri. Seorang pria yang ada di hadapannya mulai memegang tangannya dan membersihkan remah roti di ujung bibirnya. Tapi kenapa.. di tengah adegan itu dia menatap saya, seakan ingin menunjukkan sisa-sisa kekecewaan, sedangkan waktu saya sudah habis untuk menyapu kekecewaan itu.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya dapati satu pesan masuk di ponsel. &#8220;Doakan aku, semoga aku bahagia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya.. pasti, dan kau akan bahagia&#8221;. Saya hanya bisa menjawab dalam hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/panggilan-tak-terjawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bernostalgia ke Gunung Gede</title>
		<link>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 08:47:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[gunung gede]]></category>
		<category><![CDATA[suryakencana]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya, ada pesan nostalgia di dalamnya. Sebuah rasa rindu yang menggebu-gebu dari dalam jiwa yang membuat hari-hari kami terasa begitu cepat. Sedikit demi sedikit, rasa tidak sabar itu mulai sirna ketika perjalanan akan dimulai.
Setelah pulang dari Air Terjun Cibeureum dua bulan yang lalu, terbesit di pikiran saya untuk kembali lagi ke sini. Tapi tidak ke ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya, ada pesan nostalgia di dalamnya. Sebuah rasa rindu yang menggebu-gebu dari dalam jiwa yang membuat hari-hari kami terasa begitu cepat. Sedikit demi sedikit, rasa tidak sabar itu mulai sirna ketika perjalanan akan dimulai.</em></p>
<p>Setelah pulang dari <a href="http://adikristanto.net/air-terjun-cibeureum-dan-safari-malam/">Air Terjun Cibeureum</a> dua bulan yang lalu, terbesit di pikiran saya untuk kembali lagi ke sini. Tapi tidak ke Air Terjun, melainkan mendaki ke <a href="http://gedepangrango.org/">Gunung Gede</a>. Hmm.. rasanya sudah lama sekali saya tidak lagi ke Gede. Rencana itu pun akhirnya saya lemparkan ke <a href="http://rheys.com">Rhea</a> dan <a href="http://tissasasnida.net">Tissa</a> sepulang dari <a href="http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/">Cicatih</a>, dan mereka sangat antusias sambil bercerita mengenai kenangan terakhir mereka ke Gede. Yes, toss dulu ahhh!</p>
<p>Segala persiapan pun kami lakukan. Mulai dari pemilihan hari keberangkatan, ijin cuti ke atasan kami masing-masing sampai pembelian perlengkapan pendakian. Saking lamanya kami tidak mendaki, barang-barang yang dipinjam oleh beberapa teman sampai sekarang tidak ada satupun yang kembali. Tak apalah, mungkin sudah menjadi hak milik. Beruntung, toko perlengkapan outdoor yang terletak di jalan raya Ciledug sedang ada diskon 50%. Saya dan Rhea tidak melewatkan kesempatan emas ini begitu saja. Saya memilih Deuter Futura 32 dan Rhea memilih Deuter Futura 24, sleeping bag, sepatu dan ditambah beberapa printilan. Sedangkan Tissa lebih memilih meminjam ke teman-teman Mapala di kampusnya. Untuk logistik, kami menyempatkan diri berbelanja di supermarket sepulang kantor, seperti kentang goreng, mie instan, spaghetti, sarden, chicken nugget, buah-buahan dan beberapa cemilan. Semuanya sudah lengkap, saatnya berangkaaat.</p>
<p>Gelap dan dinginnya pagi mulai menyapa. Semburat tipis kemerahan mulai menyeruak dari ufuk timur. Diawali dengan sebuah doa, kami pun bersiap memulai perjalanan panjang hari ini. Di tengah perjalanan menuju Kampung Rambutan, kami menjemput satu orang lagi yang akan menemani kami selama perjalanan. Agak sulit rasanya, kalo kami harus berangkat bertiga tanpa pendaki senior yang berpengalaman. Teman kami itu bernama Eko.</p>
<p>Tepat pukul 07.00, bus Warga Baru Ekonomi keluar dari terminal dan itu satu-satunya bus yang kami lihat begitu kami turun dari taksi. Tadinya kami akan menggunakan bus AC, tapi mengingat waktu yang akan terbuang begitu saja karena jeda waktu bus berikutnya yang cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk menaiki bus yang berangkat terlebih dahulu. Wuaaahh.. sepertinya kami kurang beruntung menaiki bus ini, angin yang bertiup kencang dari jendela pintu, ditambah asap knalpot yang sepertinya bocor di bagian belakang. Ahh.. sudahlah, dibawa tidur saja, paling juga masuk angin. Hahaha.</p>
<p>Pukul 09.30, akhirnya kami terlepas juga dari &#8216;siksaan&#8217;. Angkot kuning mulai membawa kami dari pertigaan Cibodas menuju Kebun Raya Cibodas di tengah rasa kantuk dan lemas yang masih menderu. Sesampainya disana, kami langsung menuju kantor Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) untuk mengurus surat ijin pendakian. Tissa yang mengurus surat pendakian sedikit mengalami masalah karena bukti transfer kami tidak ada. Bukti transfer itu hilang di kantor, tercecer dengan kertas-kertas dan sepertinya terbuang ke tempat sampah. Benar-benar kecerobohan yang menjengkelkan, karena kami harus beradu argumen hanya untuk membuktikan kalo kami sudah membayar biaya pendakian TNGP. Satu jam kami habiskan hanya untuk menunggu surat ijin pendakian. Suara perut semakin melengking dan memaksa kami menuju tempat makan yang letaknya berada di belakang jalan Cibodas. Saya dan Rhea memesan nasi rames, sedangkan Tissa dan Eko memesan Nasi Goreng.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1616" title="Gede01" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede01.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1617" title="Gede02" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede02.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Tepat pukul 12.30, perjalanan menuju puncak Gede pun dimulai. Dengan langkah perlahan tapi pasti, kami mulai meniti satu per satu undakan berbatu. Sesekali kami beristirahat sambil melepas dahaga dan memakan cemilan. Pendakian menuju puncak Gede yang kami rencanakan ini benar-benar tanpa target waktu. Kami berempat hanya ingin menikmati pemandangan, menikmati makanan yang kami bawa, menikmati kenangan-kenangan dulu, mengambil gambar sebanyak mungkin dan menikmati perjalanan. Kata Tissa, kami ini tidak sedang mendaki, tapi piknik. Entah kapan kami bisa berada di atas sana. Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede03.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1618" title="Gede03" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede03.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Tissa yang menganggap pendakian ini sebagai piknik dan beratnya tas yang dibawa mulai sedikit mempengaruhi irama perjalanan kami. Seharusnya kami terus melakukan pendakian, tapi Tissa mendadak berhenti&#8230; membuka daypack dan mengeluarkan beberapa makanan. Huahaha.. kacau. Bahkan di shelter Payangcangan, kami menyempatkan untuk makan nasi goreng dan memasak Spaghetti.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede04.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1619" title="Gede04" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede04.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede05.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1620" title="Gede05" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede05.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede06.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1621" title="Gede06" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede06.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>45 menit kami habiskan di shelter Payangcangan sampai udara dingin benar-benar terasa di kulit kami. Kami mulai berkemas kembali dan meninggalkan shelter Payangcangan sebelum gelap. Perjalanan mulai agak terjal dan sulit, banyak batu-batu dan akar pohon yang menghalangi di jalur pendakian. Pendakian benar-benar menghabiskan cukup banyak tenaga dan memaksa kami beristirahat setiap 20 menit. Sinar matahari sore yang jatuh di antara dedaunan pohon semakin lama semakin meredup. Kami pun mulai menyiapkan peralatan penerangan seperti senter dan lampu kepala.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 19.00, kami beristirahat kembali sambil membuat mie instan dan teh manis. Tadinya kami mengira jam segini kami bisa berada di shelter Kandang Batu atau Kandang Badak, tapi itu masih jauh sekali dari tempat kami sekarang berada.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede07.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1622" title="Gede07" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede07.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Menyusuri undakan-undakan batu yang terjal di tengah kegelapan memang membutuhkan konsentrasi dan stamina yang tinggi. Terkadang rasa lelah mulai sedikit menyurutkan mental kami. Saya, Tissa, Rhea dan Eko tidak henti-hentinya saling menyemangati. Beberapa kali kami mencoba untuk berbarengan dengan rombongan lain, supaya lebih rame dan bisa menjaga irama perjalanan. Tapi sekuat apapun kami berusaha, rasa lelah terkadang lebih mudah mengalahkan semangat. Tissa yang mulai melemah, membuat kami berjalan agak pelan dan ekstra hati-hati terhadap keadaan. Setelah melewati Air Panas, akhirnya kami tiba di shelter Kandang Batu dan tiba-tiba Tissa memutuskan untuk mengakhiri pendakian dan melanjutkan kembali keesokan harinya. Sedangkan saya dan Rhea bersikeras untuk melanjutkan perjalanan hingga shelter Kandang Badak. &#8220;Keributan&#8221; kecil pun terjadi di antara kami. Kami terdiam sejenak, menenangkan pikirian dan akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Kandang Batu. Saya dan Rhea sedikit kecewa, tapi saya bisa memahami argumen Tissa yang tidak memungkinkan kami untuk bisa lanjut ke Kandang Badak.</p>
<p>Setelah kami mendirikan tenda, Tissa dengan sigapnya langsung membuatkan sayur asem dan kentang goreng untuk  makan malam kami. Obrolan santai sambil menikmati makan malam bersama berhasil menghilangkan ketegangan di antara kami. Wajah kecewa Rhea perlahan mulai memudar di tengah dinginnya malam. It&#8217;s time to take a rest &#8230;</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede08.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1623" title="Gede08" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede08.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Dinginnya malam membuat saya beberapa kali terjaga sambil berharap pagi datang dengan cepat. Bahu dan kaki masih sedikit terasa pegal. Jam 6 pagi, Tissa mulai menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan saya, Rhea dan Eko mencari air untuk persiapan perjalanan berikutnya. Di tengah kesibukan kami masing-masing, datanglah &#8220;bala bantuan&#8221; yaitu Yudi dan Abdul, yang berhasil kami hubungi sebelum mulai pendakian ke Gede. Syukurlah, dengan kedatangan mereka, setidaknya bisa meringankan beban kami berempat. Tas daypack kecil yang Yudi bawa dibawa oleh Tissa, sedangkan tas perbekalan yang berisi makanan dibawa oleh Yudi. Inti dari kedatangan mereka berdua hanya satu, membawa tas besar kami. Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede09.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1624" title="Gede09" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede09.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 09.30, tenda dan perlengkapan sudah kami masukkan ke tas masing-masing. Kali ini kami harus terus mendaki hingga sampai ke puncak, jadi sore harinya kami bisa menginap di alun-alun Suryakencana. Selepas Kandang Batu, pendakian mulai sedikit agak terjal. Sedikit demi sedikit, kami melewati Kandang Badak, persimpangan antara Gede dan Pangrango, sampai kami masuk ke dalam hutan dan akhirnya bertemu.. &#8220;Waaaaah&#8230; akhirnya Tanjakan Setan!&#8221; Saya, Rhea dan Eko begitu bersemangat mendaki Tanjakan Setan. Sedangkan Rhea, Yudi dan Abdul mengambil jalur lain untuk sampai ke atas.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1625" title="Gede10" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede10.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1626" title="Gede11" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede11.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Matahari berada tepat di atas kepala, rindangnya pepohonan tak mampu menutup cuaca panas yang kami hadapi. Perlahan-lahan, aroma belerang mulai tercium. &#8220;Woii.. sedikit lagi, belerengnya udah mulai kecium&#8221;, teriak Rhea yang sepertinya sudah berada jauh di depan saya. Langkah kaki mulai saya percepat, setelah melewati semak-semak terakhir dan jalur pendakian mulai berpasir, akhirnya &#8220;Phiuuuh&#8230;. akhirnya sampai juga&#8221;. Gak nyangka, kita bisa sampai di puncak Gede selama ini, 24 Jam! Hahaha.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1627" title="Gede12" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede12.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Sambil menyusuri tanah berpasir, kami terus melangkahkan kaki kami hingga benar-benar berada di puncak. Wow, sungguh pemandangan yang luar biasa. Dari atas sini kami bisa melihat Gunung Pangrango yang dikelilingi awan dan melihat luasnya alun-alun Suryakencana. Tenda-tenda pendaki yang berjajar tampak begitu kecil dari atas sini.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1630" title="Gede15" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede15.jpg" alt="" width="500" height="188" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1628" title="Gede13" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede13.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Setelah puas berada di puncak, kami harus menuruni bukit menuju Suryakencana karena ditempat itu kami bisa bermalam. Bagi kebanyakan pendaki, Suryakencana sudah menjadi rumah kedua mereka. Padang rumput yang luas terbentang dengan hamparan bunga abadi edelweiss yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang. Di tengah kesunyian dan dinginnya malam, kami bisa melihat hamparan bintang-bintang di atas cakrawala. Perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari 24 jam, akhirnya terbayar sudah.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1629" title="Gede14" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/Gede14.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Rute Gunung Putri menjadi pilihan kami untuk perjalanan pulang. Berbeda dengan waktu yang harus kami habiskan ketika pendakian, waktu tempuh yang kami habiskan untuk menuju Cipanas hanya 5 jam saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/bernostalgia-ke-gunung-gede/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengarungi 20 Jeram Sungai Cicatih</title>
		<link>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 10:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[cicatih]]></category>
		<category><![CDATA[riam jeram]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1548</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari 2 buah voucher Riam Jeram yang saya dan Tissa dapet dari undian pameran DEEP &#38; EXTREME Indonesia 2011 tanggal 31 Maret. Kami pun mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk menggunakan voucher gratisan ini sambil mengajak teman-teman kantor, berharap kita bisa pergi rame-rame berarung jeram. Hmm.. tapi apa daya, ternyata cuma Rhea saja yang mau ikut dengan kami. Setelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari 2 buah voucher <a href="http://www.riamjeram.com">Riam Jeram</a> yang saya dan <a href="http://tissasasnida.net">Tissa</a> dapet dari undian pameran <a href="http://www.deepandextremeindonesia.com">DEEP &amp; EXTREME Indonesia 2011</a> tanggal 31 Maret. Kami pun mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk menggunakan voucher gratisan ini sambil mengajak teman-teman kantor, berharap kita bisa pergi rame-rame berarung jeram. Hmm.. tapi apa daya, ternyata cuma <a href="http://rheys.com">Rhea</a> saja yang mau ikut dengan kami. Setelah kami bertiga berembug, akhirnya kami memutuskan untuk pergi di awal Juni, yeaay&#8230; pas banget ada long weekend.</p>
<p>Perjalanan kami mulai dari terminal Kampung Rambutan. Rhea dan Tissa berusaha mencari-cari bus AC yang menuju Sukabumi. Tapi sayang, tidak ada satupun bus AC yang menuju Sukabumi, hanya bus Langgeng Jaya yang masih sepi penumpang dihadapan kami. Satu jam kami bersabar menunggu sampai bus terisi penuh. Tepat pukul 08.30 perlahan-lahan bus mulai bergerak keluar terminal.</p>
<p>Setelah memasuki Ciawi, tiba-tiba minibus MGI menyalip bus kami&#8230; wushhh.. serentak kami melihat tulisan &#8220;Pelabuhan Ratu &#8211; Bogor&#8221; di kaca belakang bus dan kami pun saling berpandangan. &#8220;Ahh&#8230; kenapa tadi kita nggak ke Bogor aja yah, kita naik kereta dari Stasiun Cawang&#8221;. Sedikit menyesal, tapi&#8230; ya sudahlah.</p>
<p>Sesampainya di pertigaan Cibadak, kami harus menyambung lagi menuju Meeting Point Riam Jeram yang berada di Jalan Raya Pelabuhan Ratu. Tadinya kami akan menggunakan angkot berwarna putih yang menuju Riam Jeram, tapi tiba-tiba bus MGI nongol begitu saja di hadapan kami. Yeaay&#8230; akhirnya kami pun kesampaian juga naik bus ini. Hahaha. Ketika tiba di Meeting Point, kami disambut oleh Kang Kubil, salah satu petugas Riam Jeram. Kang Kubil mempersilahkan kami untuk beristirahat sejenak dan mengganti pakaian.</p>
<p>Dengan mobil pick-up kami diantarkan menuju sungai Cicatih yang terletak di desa Bojongkerta. Perjalanan kami tempuh selama 20 menit melewati pemandangan hutan karet dan hamparan sawah yang menghijau. Jalan aspal yang rusak dan berbatu tidak membuat pak supir melambatkan kendaraannya sedikitpun. Tadinya saya pikir sungai Cicatih itu bening karena dari namanya &#8220;WhiteWater Rafting&#8221;. Ternyata saya salah, sungai Cicatih begitu coklat karena endapan lumpur dan erosi tanah yang terbawa dari hulu.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1559" title="riam_jeram1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram1.jpg" alt="" width="300" height="309" /></a></p>
<p>Dari kejauhan tampak perahu karet berwarna jingga, berbaris rapih menanti kedatangan kami. Sebelum pengarungan dimulai, saya berkenalan dengan Kang Wawan dan Kang Asep, yang akan menjadi pemandu dan <em>skipper</em> kami selama pengarungan. Kang Wawan mulai memberikan instruksi dan mengenalkan aba-aba kepada kami. Awalnya saya begitu senang dan tidak sabar berada di atas perahu, tapi begitu kaki mulai menginjak perahu, kok jadi deg-deg&#8217;an yah.. hahaha. Kang Wawan mulai memberikan aba-aba &#8220;dayung maju 1.. 2.. 1.. 2..&#8221; dan perahu mulai bergerak maju di tengah riaknya sungai Cicatih. Perasaan deg-deg&#8217;an sirna begitu saja dan perahu kami menjadi perahu pertama yang memulai pengarungan.</p>
<p>Sebelum menikmati jeram pertama, Kang Wawan meminta kami untuk nyebur ke sungai. Selain untuk merasakan sungai Cicatih, kami pun diajari posisi badan ketika kami terlempar atau keluar dari perahu dan bagaimana caranya mengangkat teman yang tercebur ke atas perahu.</p>
<p>Menuju jeram pertama, Kang Asep mengatakan bahwa kami akan mengarungi 20 jeram sejauh 12KM, yang akan kami tempuh selama lebih kurang 2,5 jam. Ketika kami sedang asyik memandangi tebing-tebing tinggi dan beberapa biawak yang sedang bercengkrama di pinggir sungai, tiba-tiba Kang Wawan berteriak &#8220;Jeram slalom, dayung maju!&#8221;. Wow, perasaan senang campur dag dig dug mulai berkecamuk, saya mulai mendayung sekuat tenaga. Ketika jeram mulai terlihat, Kang Wawan mulai memberi kami aba-aba &#8220;Stop&#8221; dan dayung pun langsung kami angkat. Siap-siap&#8230; byuuuurrr&#8230; perahu kami menerjang jeram dengan cepatnya, perahu terombang ambing dan cipratan air membasahi wajah saya. Wuuuoow.. luar biasa! Tak sabar menanti jeram berikutnya.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1560" title="riam_jeram2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram2.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Setiap jeram mempunyai nama yang unik, seperti: Jeram ngehe, serius,  jontor, kuku patah, under cut, pabeulit/ ruwet, asmara, gerbang, zigzag,  warok, marzuki, gigi, rollercoaster, blender, panjang, terlena, cihuy,  kerinduan, maskot dan harga diri. Jeram tersebut dinamai karena ada  peristiwa atau kejadian unik yang terjadi selama pengarungan.</p>
<p>Jeram Ngehe adalah jeram yang paling nyebelin karena sering banget  perahu terbalik di jeram ini. Lain halnya dengan Jeram kuku patah,  dinamakan demikian karena ada seorang wanita yang pernah jatuh dan  kukunya patah. Wanita itu pun tidak henti-hentinya menangis sampai tiba  di jeram terakhir. Adalagi Jeram asmara, perahu yang berisi pasangan  kekasih pernah terbalik di jeram ini, kemudian setiap laki-laki berusaha  mencari pasangannya masing-masing. Bahkan ada jeram yang dinamakan dari  nama Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada Kabinet Reformasi,  yaitu Bapak Marzuki Usman. Di jeram ini, pak Marzuki pernah mencicipi segarnya sungai Cicatih.</p>
<p>Tidak terasa kami sudah melewai jeram kesepuluh atau Jeram ZigZag. Perahu kami pun menepi, mengarah ke sebuah gubuk di tepi sungai. Kelapa muda dan bakwan menemani kami sambil beristirahat. Beberapa pemandu mulai mengecek dan memompa kembali perahu mereka.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1561" title="riam_jeram3" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram3.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1562" title="riam_jeram4" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram4.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan. Setelah melewati Jeram Warok, Marzuki, Gigi, Rollercoaster, Blender, Panjang, Terlena, dan  Cihuy, sungai tampak kian melebar karena bertemu dengan sungai Cimandiri yang berasal dari Gunung Gede Pangarango. Tak lupa, Kang Asep selalu menyemangati kami dengan tos dayung setiap usai melewati jeram.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1563" title="riam_jeram5" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram5.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1564" title="riam_jeram6" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram6.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Dari belakang, Kang Wawan berteriak kembali &#8220;Jeram Kerinduan&#8221; dilanjutkan dengan Kang Asep yang mulai bercerita mengenai sejarah Jeram Kerinduan. Dinamakan Jeram kerinduan karena river guide/skipper selalu memberikan permainan sebelum menuju jeram terakhir. Dan ini merupakan jeram favorit saya! Keahlian skipper mampu membuat perahu kami berputar sampai 4 kali di atas derasnya jeram. Woow.. luar biasa! Pas dengan namanya.. membuat kami rindu untuk mengulanginya lagi. Sungguh, jeram yang mampu mewakili perasaan hati.</p>
<p>Setelah melewati Jeram Harga Diri, kami melabuhkan perahu kami di Kampung Jeram di Desa Leuwilalay. Puas, senang, gembira, ceria.. begitulah yang terpancar dari wajah kami. Kami dipersilakan mandi dan berganti pakaian, lalu menikmati makan prasmanan khas sunda sambil bersantai di atas saung dan melihat foto-foto selama pengarungan. Saya pikir, saya bisa mengkopi foto-foto yang diambil selama pengarungan, ternyata saya harus membeli foto itu seharaga 10 ribu per foto dan total ada 31 foto. Ketika saya bertanya &#8220;Sabaraha sadayana?&#8221;. Entah karena efek bahasa sunda atau apa, petugas disitu menjawab &#8220;Ya sudah, untuk Kang Adi, semuanya 100 ribu saja&#8221;. Yeaaay!</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1565" title="riam_jeram9" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/06/riam_jeram9.jpg" alt="" width="500" height="315" /></a></p>
<p>Waktu menunjukkan jam 5 sore dan sepertinya kami peserta terakhir yang berada di tempat itu. Setelah berkemas, Kang Kubil memberikan kami sertifikat sebagai bukti partisipasi, setelah itu mengantarkan kami kembali ke Cibadak. Pas turun di pasar Cibadak, tiba-tiba&#8230; yeaay (again!) bus MGI itu lagi. Hahaha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/mengarungi-20-jeram-sungai-cicatih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Terjun Cibeureum dan Safari Malam</title>
		<link>http://adikristanto.net/air-terjun-cibeureum-dan-safari-malam/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/air-terjun-cibeureum-dan-safari-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 09:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun cibeureum]]></category>
		<category><![CDATA[safari malam]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1510</guid>
		<description><![CDATA[Beruntung rasanya bisa menemukan office-mate yang benar-benar bisa menjadi teman, baik di kantor maupun di luar kantor. Teman yang bisa diajak diskusi apa aja, mulai dari hal-hal yang nggak penting sampe hal yang serius. Entah kapan kami mulai menikmati kebersamaan ini, semuanya mengalir begitu saja.
Office-mate itu adalah Welly, Rhea dan Tari. Welly adalah seorang Account Manager, merupakan orang yang paling ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beruntung rasanya bisa menemukan office-mate yang benar-benar bisa menjadi teman, baik di kantor maupun di luar kantor. Teman yang bisa diajak diskusi apa aja, mulai dari hal-hal yang nggak penting sampe hal yang serius. Entah kapan kami mulai menikmati kebersamaan ini, semuanya mengalir begitu saja.</p>
<p>Office-mate itu adalah Welly, <a href="http://www.rheys.com">Rhea</a> dan <a href="http://trilestari.blogspot.com">Tari</a>. Welly adalah seorang Account Manager, merupakan orang yang paling dituakan di antara kami selain memang usianya yang jauh lebih tua dari kami bertiga. Hahaha. Rhea adalah seorang Technical Writer. Sedangkan Tari adalah seorang Mobile Application Engineer.</p>
<p>Sesekali kami punya rencana untuk jalan-jalan bareng, entah itu ke Bandung, Lembang, ataupun sekadar jalan ke Puncak. Tapi kami pesimis, semunya itu akan tetap menjadi rencana karena kesibukan kami masing-masing. Dan tiba-tiba keajaiban datang begitu saja. Hari sabtu yang biasanya menjadi hari yang penuh dengan kesibukan pribadi menjadi kosong seketika bagi kami berempat. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini, akhirnya kami memutuskan untuk berwisata Safari Malam.</p>
<p>Berangkat pagi dari Gedung Patra Jasa, Gatot Subroto, kami berangkat menggunakan mobil. Walaupun cuaca agak mendung tapi kami cukup beruntung, perjalanan menuju puncak sesuai rencana. Kami bisa menuju puncak dengan satu arah. Yeay.. lancar jaya cuy! Sekadar informasi, satu arah menuju Puncak dibuka pukul 09.00 &#8211; 11.30. Sedangkan satu arah dari Puncak dibuka pukul 15.00-17.00.</p>
<p>Karena niat awal kami adalah mengisi kegiatan sebelum Safari Malam, tentu saja kami melewatkan Cisarua dan bablas menuju Cibodas. Setibanya di Kebun Raya Cibodas, hujan gerimis langsung menyambut kami, ditambah dengan suhu udara yang cukup dingin, menambah rasa lapar  semakin menjadi-jadi.</p>
<p><strong>Air Terjun Cibeureum</strong></p>
<p>Tujuan wisata kami yang pertama adalah air terjun Cibeureum, yang berlokasi di Cibodas, kabupaten Cianjur. Tempat ini kami pilih selain suasananya yang masih alami karena berada di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, juga lokasinya yang tidak jauh dari Cisarua untuk Safari Malam.</p>
<p>Untuk bisa menuju air terjun Cibeureum, kami cukup membayar Rp. 3000 per orang. Untuk turis internasional harganya beda lagi, yaitu Rp. 20.500 per orang. Harga yang cukup murah untuk bisa menikmati wisata alam bukan? Jarak dari pintu masuk hingga sampai ke air terjun lebih kurang 2,9 Km yang dapat ditempuh dengan 1 jam perjalanan.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/29kilometer.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1524" title="29kilometer" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/29kilometer.jpg" alt="" width="500" height="188" /></a></p>
<p>Meniti jalan berundak-undak dan berbatu, ditambah dengan pepohonan rindang di kanan dan kiri jalan, memberikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Jalur yang disediakan pengelola terbilang sangat bersahabat. Banyak bebatuan kecil yang digunakan sebagai pijakan. Jadi, pengunjung hanya perlu mengikuti lintasan yang sudah ditata hingga ke lokasi air terjun.</p>
<p>Di tengah perjalanan, kami berjumpa dengan Telaga Biru. Dinamakan demikian karena danau tersebut dipenuhi alga di dasarnya. Di depan danau, terdapat pos untuk beristirahat yang kebetulan sedang dipakai oleh rombongan pecinta alam dengan tas-tas besarnya. Ahh.. membuat saya iri untuk bisa kembali ke puncak Gede.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/telaga_biru.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1525" title="telaga_biru" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/telaga_biru.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/telaga_biru2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1526" title="telaga_biru2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/telaga_biru2.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a></p>
<p>Setelah melewati Telaga Biru, sampailah kami di jembatan Rawa Gayonggong. Jembatan panjang yang terbuat dari kayu ini dibangun untuk memudahkan pengunjung melintasi rawa yang ditumbuhi oleh rumput-rumput gayonggong. Kalau cuaca sedang cerah, anda bisa melihat pemandangan puncak Gunung Gede dari jembatan ini. Sayang, kami tidak bisa melihat Gunung Gede karena tertutup oleh tebalnya kabut.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/jembatan_gayonggong.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1527" title="jembatan_gayonggong" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/jembatan_gayonggong.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/jembatan_gayonggong2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1528" title="jembatan_gayonggong2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/jembatan_gayonggong2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Ahh.. dari kejauhan sudah terdengar suara gemuruh, langkah kaki pun kami percepat dan akhirnya kami tiba juga di air terjun Cibeureum. Perjalanan yang harusnya bisa kami tempuh dalam waktu 1 jam, ternyata harus kami tempuh dalam waktu 2 jam! Hahaha.. kebanyakan foto-fotonya. Akhirnya.. semua kelelahan pun terbayar. Air terjun Cibeureum mempunyai ketinggian 50 meter. Selain itu, terdapat air terjun lainnya di sisi kiri. Sungguh pemandangan yang indah.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/air_terjun_cibeureum.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1529" title="air_terjun_cibeureum" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/air_terjun_cibeureum.jpg" alt="" width="500" height="320" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/air_terjun_cibeureum2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1530" title="air_terjun_cibeureum2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/air_terjun_cibeureum2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sekadar tips untuk anda yang akan mengunjungi air terjun Cibeureum. Karena yang kita kunjungi adalah daerah pegunungan, baju hangat, sweater atau jaket wajib anda pakai. Jangan lupa untuk membawa payung atau jas hujan,<br />
mengingat cuaca disini yang cepat berubah. Gunakan sandal atau sepatu gunung supaya aman dalam melakukan pendakian. Selain itu, bawa juga makanan dan minuman. Perjalanan jauh dan menanjak sudah pasti akan menguras tenaga. Sesekali anda bisa beristirahat di Telaga Biru dan jembatan Gayonggong. Oh iya, jangan khawatir kalau anda kebelet ingin buang air. Karena di lokasi air terjun disediakan dua toilet yang cukup bersih.</p>
<p><strong>Safari Malam<br />
</strong></p>
<p>Hujan besar langsung menyapa kami kembali begitu keluar dari Cibodas. Lokasi kami berikutnya adalah Taman Safari. Berhubung masih jam 5 sore, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan (bingung juga nyebutnya, antara makan siang yang telat dan makan malam yang kecepetan) <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/big_grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Safari Malam dibuka pukul 19.00. Harga tiketnya sebesar Rp. 100.000 untuk turis domestik dewasa dan Rp 75.000 untuk turis domestik di bawah umur 5 tahun. Sedangkan untuk turis internasional dewasa sebesar Rp. 150.000 dan Rp. 125.000 untuk turis internasioanl di bawah umur 5 tahun. Untuk kendaraan dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 10.000</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/safari_malam.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1531" title="safari_malam" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/safari_malam.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Setelah masuk, kami berada di area parkir. Di area inilah kami menunggu kereta yang akan membawa kami mengelilingi Taman Safari. Sebelum bisa naik ke kereta, kami harus menukarkan tiket terlebih dahulu dengan nomor antrian. Setelah itu kami harus mengenakan pita Safari Malam di pergelangan tangan. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lonceng. Waah.. kereta yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang.</p>
<p>Ketika kereta mulai mulai memasuki gerbang besar, semilir angin hutan mulai terasa. Dengan kereta kami diajak menerobos kegelapan malam. Suasana begitu mencekam, seru, sekaligus menegangkan, karena kami serasa berada di alam liar. Sesekali kami mendengar suara gemericik air di bawah kereta. Sambil ditemani seorang pemandu, tampak di sebelah kiri dan kanan terlihat bermacam-macam binatang liar.</p>
<p>Safari Malam memberikan sensasi yang berbeda jika dibandingkan siang hari. Cahaya remang membuat kami semakin penasaran, berusaha mencari-cari binatang di  balik batu dan pepohonan. Ada yang sedang makan, tidur, bahkan kami menjumpai  sepasang anoa yang sedang kawin, uhuuy.. malem mingguan ni yee. Gerombolan rusa di rerumputan, gagahnya cheetah yang duduk di bebatuan, serunya orang utan yang bergelantungan, dan sorot cahaya membuat beruang begitu menakutkan. Baru kali itu saya melihat binatang-binatang liar dari jarak dekat.</p>
<p>Di akhir perjalanan, kami disuguhkan suasana perburuan di alam liar. Tampak api-api yang menyembur diselingi  suara dentuman keras yang mengagetkan seisi kereta, dan Safari Malam pun berakhir. Perjalanan seru itu memakan waktu lebih  kurang 45 menit, dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer.</p>
<p>Selesai dengan Safari Malam, kami diarahkan ke Baby Zoo atau tempat bayi-bayi binatang. Disini kami diberikan kesempatan untuk berfoto dengan anak singa dan harimau. Dan tak kalah menariknya, kami bisa menikmati wahana yang ada secara gratis. Tapi sayang, ada beberapa wahana yang mengharuskan kami untuk membayar.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/teo_the_lion.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1532" title="teo_the_lion" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/teo_the_lion.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/baby_zoo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1534" title="baby_zoo" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/baby_zoo.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Sambil ditemani jagung keju, kami menunggu jam 9 malam sambil duduk-duduk di depan panggung terbuka. Apalagi kalau bukan pertunjukan satwa. Pertunjukkan bercerita mengenai seorang pemburu yang mencoba untuk membunuh dan mengambil satwa-satwa liar di dalam hutan. Satwa-satwa itu pun mulai terusik dan akhirnya menyatukan kekuatan untuk melawan si pemburu. Selama 1 jam, kami disuguhi atraksi menarik dari hewan-hewan terlatih. Pertunjukan yang sarat dengan pesan pendidikan, &#8220;save our wildlife&#8221;.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/panggung_terbuka_safari.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1533" title="panggung_terbuka_safari" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/panggung_terbuka_safari.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a></p>
<p>Setelah pertunjukan di panggung terbuka selesai, kami diarahkan untuk menuju halaman depan. Kali ini kami melihat pertunjukan Fire Dance atau tarian api.  Warna api terlihat begitu indah di gelapnya malam. Saking hebohnya, pertunjukkan ini membuat saya terpana. Tanpa sadar, teman-teman mulai menghilang dan meninggalkan saya sendirian di depan panggung. Hahaha.. sial. Di akhir pertunjukan, pengunjung bisa diajak menari bersama di atas panggung.</p>
<p>Tepat pukul 23.00, saya dan teman-teman menutup Safari Malam. Saatnya kembali menuju Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/air-terjun-cibeureum-dan-safari-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-Jalan ke Pulau Bangka</title>
		<link>http://adikristanto.net/jalan-jalan-ke-pulau-bangka/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/jalan-jalan-ke-pulau-bangka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 07:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[amui]]></category>
		<category><![CDATA[asui]]></category>
		<category><![CDATA[bangka]]></category>
		<category><![CDATA[parai]]></category>
		<category><![CDATA[pasir padi]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1473</guid>
		<description><![CDATA[Pagi terasa begitu menyenangkan, walaupun lelah telah menderu semalaman. Daypack pun menunggu di samping pintu kamar, tak sabar rasanya ingin lepas dari penatnya rutinitas. Yeaay, pagi ini saya akan menuju ke Pulau Bangka. Acara tahunan kantor yang lebih dikenal dengan istilah Outing atau Kick-off Meeting.
Tak ingin mengulang kejadian tahun lalu dimana saya harus terburu-buru ditambah dengan perut melilit sepanjang perjalanan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi terasa begitu menyenangkan, walaupun lelah telah menderu semalaman. Daypack pun menunggu di samping pintu kamar, tak sabar rasanya ingin lepas dari penatnya rutinitas. Yeaay, pagi ini saya akan menuju ke Pulau Bangka. Acara tahunan kantor yang lebih dikenal dengan istilah Outing atau Kick-off Meeting.</p>
<p>Tak ingin mengulang kejadian tahun lalu dimana saya harus terburu-buru ditambah dengan perut melilit sepanjang perjalanan, pagi ini saya terpaksa harus berangkat lebih awal. Di kegelapan pagi, saya bergegas menuju halte kampus UI, deretan Burung Biru siap mengantarkan saya menuju bandara. Beruntung, pak supir cukup sigap menghadapi kemacetan jalan raya. Yaaa.. walaupun telat untuk sarapan pagi bersama, setidaknya roti dan susu yang saya makan di tengah perjalanan, cukup untuk mengganjal perut sesampainya di Bangka.</p>
<p>10.45 CGK &#8211; PGK.</p>
<p><strong>Day1</strong><br />
Waktu menunjukkan pukul 11.45, cuaca cukup bersahabat ketika kami tiba di bandara Depati Amir, Pangkal Pinang. Rombongan kami yang berjumlah 25 orang disambut dengan hangat oleh pemandu wisata yang siap mengantarkan kami ke beberapa objek wisata di Pangkal Pinang. Dengan menggunakan minibus, perjalanan wisata kami pun dimulai. Dian, seorang pemandu wisata yang akan memandu kami selama 2 hari kedepan mulai bercerita sepanjang perjalanan mengenai pulau Bangka. Dengan gaya bahasa yang lucu dan sedikit agak narsis, Dian mulai menjadi sasaran empuk untuk menjadi bahan kecengan selama perjalanan. Lulusan Akuntansi Universitas Padjajaran ini lebih memilih bekerja di pemerintahan daerah dan menjadi pemandu wisata karena kecintaannya akan pulau Bangka. Hmm.. sepertinya kami memliki pemandu wisata yang mumpuni untuk mengenal lebih jauh mengenai pulau ini.</p>
<p>Menempuh waktu selama 30 menit dari bandara Depati Amir, akhirnya kami sampai di tujuan pertama, Pantai Pasir Padi. Pantai yang berjarak 7 Km dari Pangkal Pinang, ibu kota Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini merupakan tempat pertama yang kami kunjungi karena lokasinya yang masih berada di kota dan sangat mudah untuk dijangkau. Hampir semua wisatawan yang tiba dari bandara Depati Umar, pasti mengunjungi Pasir Padi terlebih dahulu sebagai persinggahan pertama. Keunikan Pantai Pasir Padi  adalah ombak yang tenang dan kontur pasir yang padat, putih dan halus. Kata Dian, saat air laut mengalami pasang surut, pantai ini bisa digunakan sebagai arena lomba balap motor.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1481" title="pasir_padi" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1482" title="pasir_padi2" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi2.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1483" title="pasir_padi3" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/pasir_padi3.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Selain Pasir Padi, banyak pantai indah yang dimiliki oleh Pulau Bangka, seperti Pantai Parai, Tanjung Pesona, Pantai Matras, Pantai Rebo, Tanjung Ular, Tanjung Kalian, Air Anyir dan Romodong. Waah.. bakalan nggak cukup 3 hari nih untuk menikmati semua wisata pantai. Istirahat di Pasir Padi kami manfaatkan untuk makan siang di Rumah Makan Biru Laut.</p>
<p>Setelah puas makan siang dan berfoto-foto, perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Kali ini kami akan mengunjungi Museum Timah. Dalam perjalanan menuju Museum, Dian bercerita mengenai kondisi alam di Pulau Bangka yang saat ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Tampak oleh kami, beberapa tempat di pinggir jalan raya, banyak dijumpai bekas penambangan timah yang sepertinya ditinggal begitu saja.</p>
<p>Letaknya yang strategis di jalan raya Pangkal Pinang, membuat Museum Timah sangat mudah untuk ditemui, ditambah dengan kereta timah yang terpajang di depan gedung Museum, semakin menguatkan identitas dari sebuah Museum. Sesampainya di Museum Timah, pemandu museum yang ramah dan penuh semangat menjelaskan kepada kami mengenai sejarah penambangan timah di Pulau Bangka. Semua peninggalan dan cerita sejarah tersimpan rapih di museum ini.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/museum_timah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1484" title="museum_timah" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/museum_timah.jpg" alt="" width="500" height="386" /></a></p>
<p>Museum yang dibuka sejak tahun 1997 ini menempati bangunan bekas rumah karasidenan zaman belanda. Sebelum menjadi museum, rumah ini merupakan rumah tempat tinggal karyawan perusahaan BTW ( Banka Tin Winning). Dari museum ini kita bisa mengetahui kalau timah pertama kali digali di Pulau Bangka pada tahun 1709. Pulau Bangka Belitung memang sangat terkenal dengan timahnya. Jadi, kalau anda ke pulau Bangka, anda wajib mengunjungi Museum Timah.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/museum_timah1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1485" title="museum_timah1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/museum_timah1.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Tak ingin menyia-nyiakan waktu hari ini, kami meyempatkan diri mengunjungi pengrajin kain Ishadi Cual yang menjual pakaian dan kain khas Bangka. Letaknya berada di Jl. Ahmad Yani No. 46. Ishadi merupakan nama dari Isnawati dan Abdul Hadi (telah meninggal Januari 2006). Cual sendiri merupakan kain adat yang sudah berkembang sejak abad XVI di pulau Bangka, hanya saja masyarakat disini lebih mengenal songket palembang karena sebelumnya kepulauan Bangka Belitung masuk ke dalam propinsi Sumatera Selatan. Kain cual pada dasarnya adalah kain tenun seperti songket, dengan warna-warna yang cerah dan menyala, khas kain tradisional Melayu. Tak banyak yang bisa kami lakukan disini selain melihat-lihat beberapa hasil kerajinan kain cual.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/ishadi_cual.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1486" title="ishadi_cual" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/ishadi_cual.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Tempat berikutnya adalah Otak Otak Amui. Kata Dian, disini adalah otak-otak terenak di pulau Bangka, walaupun yang saya rasakan sama aja dengan otak-otak yang saya beli di Jakarta, hanya saja variasi otak-otaknya lebih banyak. Sambil ngobrol santai dengan teman, hampir semua mengatakan &#8220;yang bikin enak sambelnya&#8221;. Yup, rasa otak-otaknya sih sama aja dengan kebanyakan otak-otak, hanya saja sambelnya yang membuat saya tidak bisa berhenti menguyah. Makan otak-otak disini belum lengkap rasanya kalu belum ditemani dengan es kacang merah. Anyway buswaaay, sepertinya ini tempat terlama yang kami kunjungi sebelum kami menuju ke hotel untuk beristirahat. Rombongan kami pun memesan otak-otak yang diantarkan di hari terakhir sebagai oleh-oleh.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/otak_otak_amui.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1487" title="otak_otak_amui" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/otak_otak_amui.jpg" alt="" width="500" height="103" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/otak_otak_amui1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1488" title="otak_otak_amui1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/otak_otak_amui1.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Hanya 2 jam waktu yang bisa kami manfaatkan untuk beristirahat di kamar hotel. Pada saat keluar hotel, minibus sudah siap mengantarkan kami. Kata Dian, kami akan makan malam di salah satu tempat makan yang wajib dikunjungi di pulau Bangka, namanya Rumah Makan Mr. Asui.  Mr. Asui terletak di tengah kota Pangkal Pinang, tepatnya di Yang Zubaidah. Dari plang nama yang kami lihat, kami kira rumah makan ini berada di  pinggir jalan, ternyata kami harus memasuki sebuah gang untuk menuju  tempat makan tersebut. Ada tiga rumah makan dalam satu deret rumah yang menyatu.  Mr. Asui berada di rumah kedua.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/rm_mr_asui.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1489" title="rm_mr_asui" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/rm_mr_asui.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Lagi-lagi, kami disuguhi makanan laut seperti di Pasir Padi. Hadir dihadapan saya, buntut ikan tenggiri bakar, kepiting saus tiram dan cah kangkung. Kombinasi yang pas ditambah dengan cocolan sambal terasi khas bangka. Makan malam di Rumah Makan Ashuy menjadi tempat wisata terakhir di hari ini. Satu kata untuk hari ini, kenyang <img src='http://adikristanto.net/wp-content/plugins/smilies-themer/vlado-smiley/happy.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/rm_mr_asui1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1490" title="rm_mr_asui1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/rm_mr_asui1.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a></p>
<p>Malam mulai mengusik rasa ingin tahu saya mengenai kehidupan malam di kota Pangkal Pinang. Setelah mencoba mengendap-ngendap dan mencari tahu dari beberapa pegawai hotel, akhirnya supir hotel mulai mengantarkan kami ke tempat karaoke di salah satu hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Dari luar, suasana begitu sepi. Tapi siapa sangka, begitu kami masuk, phiuuuhhh.. suara sayup-sayup musik mulai terdengar dan gadis-gadis berpakaian seksi berlalu lalang sambil menatap dengan senyuman nakal. Salah satu wanita mulai mengantarkan kami menyusuri lorong demi lorong. Wooow, belom pernah saya melihat tempat karaoke seperti ini. Ruangannya lumayan besar dengan sofa kulit memanjang yang terlihat sobek disana sini. Beberapa lantai keramik terlihat pecah. Di pojok ruangan terdapat meja yang sepertinya mirip meja makan dengan beberapa bangku dan kamar mandinya yang jauh dari kesan terawat. Peralatan karaoke pun seadanya, televisi 50 inchi dengan monitor komputer CRT 14 inchi sebagai operator. Ya.. sudahlah.. nikmati saja.</p>
<p><strong>Day2:</strong><br />
Tidak puas kami mengunjungi Pasir Padi di hari pertama, kali ini kami akan mengunjungi Parai. Salah satu pantai terindah di Pulau Bangka. Tapi sebelum menuju kesana, kami harus lebih dulu mengunjungi dua tempat wisata, yaitu Desa Gedong dan Phak Kak Liang. Perjalanan menuju Desa Gedong kami tempuh selama 2 jam dari Pangkal Pinang. Kendaraan hanya diijinkan untuk masuk sampai dengan Gapura.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/gapura_desa_gedong.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1491" title="gapura_desa_gedong" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/gapura_desa_gedong.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Selanjutnya kami harus berjalan kaki untuk menyusuri tempat ini. Desa Gedong merupakan kampung Cina tertua di Pulau Bangka yang saat  ini ditetapkan sebagai Desa Wisata. Letaknya berada di wilayah Lumut,  kecamatan Belinyu. Warga di Desa Gedong adalah generasi penambang  terakhir di Pulau Bangka. Kehidupan mereka rata-rata berdagang dan  pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang dan getas.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/desa_gedongg.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1492" title="desa_gedongg" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/desa_gedongg.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a></p>
<p>Di kampung inilah kami mengunjungi salah satu pembuat kerupuk getas, makanan khas Bangka Belitung yang terbuat dari ikan tenggiri dan kerupuk kricu yang terbuat dari cumi-cumi. Sayang, kami tidak diijinkan untuk melihat langsung pembuatan kerupuk ini dengan alasan rahasia perusahaan. Dari kampung inilah, kerupuk Getas dan Kricu didistribusikan ke seluruh Bangka. Sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik rumah, mulut ini sepertinya tidak mau berhenti menyicipi &#8216;kerupuk gratisan&#8217;. Alhasil, setiap orang  setidaknya membeli minimal 3 kerupuk untuk dijadikan oleh-oleh.</p>
<p>Tempat kedua yang kami kunjungi masih berhubungan dengan kebudayaan China, namanya Phak Kak Liang. Phak Kak Liang merupakan tempat wisata yang dibangun di atas bekas penambangan timah. Lokasinya berada di kecamatan Belinyu. Untuk menuju Phak Kak Liang, kami harus melewati penambangan timah. Di kanan kiri jalan, terlihat jelas sisa-sisa penambangan timah yang membentuk kubangan besar dan timbunan pasir yang tinggi.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/eks_tambang_timah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1499" title="eks_tambang_timah" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/eks_tambang_timah.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Daya tarik lain bagi wisatawan disini yang tak kalah menariknya adalah ikan air tawar yang berada di danau ini. Pengunjung dapat memberi makan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Menurut cerita yang sampai saat ini masih diyakini, ikan-ikan yang ada di danau ini tidak boleh dipancing atau dimakan.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/phak_kak_liang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1493" title="phak_kak_liang" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/phak_kak_liang.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan menuju pantai Parai. Perjalanan terasa begitu membosankan. Yang kami lihat sepanjang perjalanan hanya hutan, sesekali terlihat beberapa pemukiman penduduk dan penambangan timah. Pemandangan yang monoton membuat kami tertidur sepanjang perjalanan. Suasana yang tadinya riang dan penuh riuh canda, sekejap berubah menjadi sunyi senyap. Setelah satu jam kami lalui, tiba-tiba dari kejauhan terlihat pesisir pantai. Ahh.. Parai! Pantainya cukup terlihat indah dengan beberapa batuan yang menjadi tempat favorit kami untuk berfoto-foto. Parai menjadi penutup perjalanan wisata kami di pulau Bangka.</p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1494" title="parai_tenggiri1" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri1.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1495" title="parai_tenggiri5" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri5.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1496" title="parai_tenggiri3" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri3.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p><a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1500" title="parai_tenggiri6" src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2011/05/parai_tenggiri6.jpg" alt="" width="500" height="237" /></a></p>
<p>Tidak puas dengan pengalaman malam kemarin, kali ini saya mencoba menyambangi salah satu klub malam dan tempat billiard yang cukup terkenal di Pangkal Pinang. Hahaha&#8230; teteuuu. Saya dan teman-teman menghabiskan malam terakhir di tempat ini dan keesokan hari kami harus berkemas kembali dan bersiap menuju Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/jalan-jalan-ke-pulau-bangka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

