<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>last hope at last station</title>
	<atom:link href="http://adikristanto.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adikristanto.net</link>
	<description>adikristanto personal blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 13:08:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Memeluk Awan di Negeri Dewa Dewi</title>
		<link>http://adikristanto.net/memeluk-awan-di-negeri-dewa-dewi/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/memeluk-awan-di-negeri-dewa-dewi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 12:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[dieng]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>
		<category><![CDATA[wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=2135</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan kali ini adalah jawaban dari pertanyaan seorang teman ketika saya mengunjungi Desa Sawarna di bulan Februari. Jawaban itu adalah perjalanan ke Dieng. Entah apa yang membuat saya menyebut tempat yang berada tepat di tengah pulau Jawa ini, sebuah negeri yang jauh bersembunyi di antara lembah-lembah. Reflek, spontan, semuanya terucap begitu saja. Sungguh, saya seperti tidak bisa berhenti dari kesenangan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan kali ini adalah jawaban dari pertanyaan seorang teman ketika saya mengunjungi Desa Sawarna di bulan Februari. Jawaban itu adalah perjalanan ke Dieng. Entah apa yang membuat saya menyebut tempat yang berada tepat di tengah pulau Jawa ini, sebuah negeri yang jauh bersembunyi di antara lembah-lembah. Reflek, spontan, semuanya terucap begitu saja. Sungguh, saya seperti tidak bisa berhenti dari kesenangan ini. Kata Kanjeng Ibu, “Menikmati perjalanan ketika sudah waktunya itu sulit sekali untuk berhenti, tapi tetep yah… jangan lupa nabung”. Haha…</p>
<p>Seperti biasa, membuat rencana perjalanan adalah bagian yang paling sulit sekaligus menarik. Baca beberapa blog perjalanan, ngobrol dengan teman yang sudah pernah kesana, mencatat tempat-tempat menarik sampai membandingkan beberapa penginapan. Intinya adalah mendapatkan rekomendasi terbaik. Hasilnya, dua minggu sebelum keberangkatan semuanya sudah beres. Ditambah atasan yang sangat pengertian, sisa cuti 2011 langsung saya habiskan untuk perjalanan ke Dieng.</p>
<p>Perjalanan menuju tempat yang berada di Kecamatan Kejajar Wonosobo ini tidaklah sulit. Banyak pilihan moda transportasi seperti bus, kereta maupun pesawat, tinggal disesuaikan dengan biaya dan rencana perjalanan. Kalau menggunakan kereta, bisa turun di stasiun Purwokerto, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus menuju Wonosobo. Jika ingin menggunakan pesawat bisa memilih rute Jakarta-Semarang ataupun Jakarta-Yogyakarta, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus atau jasa travel menuju Wonosobo. Saya sendiri memilih menggunakan bus. Cukup murah dan pas dengan rencana perjalanan yang sudah saya buat. Berangkat jam 5 sore dari Pasar Minggu, sampai di Terminal Mendolo Wonosobo sekitar jam 9 pagi.</p>
<p>Dari Wonosobo perjalanan saya lanjutkan menuju Dieng menggunakan Mikro Bus, semacam minibus yang memuat hingga 18 orang penumpang. Waktu tempuh perjalanan lebih kurang 1 jam hingga sampai di pertigaan Dieng. Sesekali saya mengingatkan pak supir untuk menurunkan saya di depan penginapan Bu Djono, tempat saya menginap selama di Dieng.</p>
<p>Sepanjang perjalanan yang menanjak dan berkelok-kelok, saya tak henti-hentinya mengagumi keindahan dari balik jendela. Semilir angin yang sejuk dengan hamparan perkebunan hijau yang luas. Dari lereng bukit, kabut-kabut mulai berjalan beriringan dan beringsut naik hingga menutupi permukaan atas bukit. Rumah-rumah penduduk terlihat begitu kecil di antara lembah perbukitan. Sungguh, bagaikan sebuah lukisan yang hidup.</p>
<p>Tepat di pertigaan Dieng, pak supir memberitahu saya, “Mas, ini pertigaan Dieng, penginapan Bu Djono ada di sebelah kanan”. Perjalanan saya langsung disambut oleh sebuah batu buatan yang cukup besar yang bertuliskan Dieng Plateau. Di penginapan Bu Djono, akhirnya saya bertemu juga dengan Mas Dwi. Salah satu pemandu yang banyak direkomendasikan Backpacker. Sebelumnya kami hanya berkomunikasi melalui telepon dan email. Reputasi Mas Dwi sudah terkenal hingga Lonely Planet, bahkan Dinas Pariwisata Jawa Tengah sangat merekomendasikan nama ini jika ada wisatawan yang akan mengunjungi Dieng. Sebelum keberangkatan, saya mengutarakan niat saya ke Dieng tidak hanya sekadar jalan-jalan, tetapi juga bisa menggali informasi mengenai keindahan Dieng. Syukurlah, orang paling ramah sedunia ini mengiyakan permintaan saya untuk menjadi pemandu selama saya di Dieng.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2183" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_01.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_01.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Penginapan Bu Djono</div>
</div>
<p>Nasi goreng Dieng khas Bu Djono menjadi santapan pertama saya. Sambil makan siang, Mas Dwi memberikan saya selembar kertas yang bergambar peta wisata kawasan Dieng. Dari peta itu, Mas Dwi memberikan saran mengenai hari dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata. Di hari pertama, Mas Dwi menyarankan saya untuk berjalan kaki mengelilingi Dieng. Di tengah serunya diskusi, tiba-tiba Mas Dwi berkata &#8220;Ngomong-ngomong, kok kesininya sendiri, mbaknya mana, katanya mau kesini berdua&#8221;. Saya hanya bisa menjawab &#8220;Mbaknya sibuk, mas. Lain waktu nanti saya ajak kesini&#8221;. Tadinya, rencana perjalanan ke Dieng sudah saya siapkan dengan seorang teman, karena ada sesuatu hal akhirnya saya harus merelakan diri lagi untuk jadi <em>single fighter backpacker</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Telaga Warna dan Dieng Plateau Theater</strong></p>
<p>Tepat jam 1 siang, saya mulai melakukan perjalanan. Cuaca siang itu cukup terik. Berbekal peta wisata yang diberikan Mas Dwi, saya mulai menyusuri jalan raya yang sepi dengan hawa pegunungan yang sejuk dan bau belerang yang cukup menyengat, hingga akhirnya bertemu <strong>Telaga Warna</strong>. Dinamakan demikian karena telaga ini memiliki keunikan dari warna telaga. Terkadang berwarna hijau dan terkadang berwarna kuning.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2184" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_02.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_02.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Telaga Warna</div>
</div>
<p>Di sekitaran Telaga Warna terdapat beberapa Gua yang dijadikan tempat untuk bermeditasi, seperti Gua Semar, Gua Sumur, dan Gua Jaran Resi. Saya melihat jelas sisa-sisa sesajen yang belum dibersihkan di depan Gua.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2185" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_03.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_03.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Gua Semar</div>
</div>
<p>Mengitari seluruh telaga sambil berjalan kaki terasa kurang puas. Saya harus berada di bukit yang lebih tinggi untuk bisa melihat seluruh telaga. Entah bagaimana caranya. Tidak ada satupun jalan yang bisa mengarahkan saya untuk bisa ke atas bukit. Memaksa untuk menanjak lereng perbukitan jelas bukan pilihan yang oke. Terlalu beresiko. Ahh.. sudahlah.</p>
<p>Tempat berikutnya adalah <strong>Dieng Plateau Theater</strong>. Lokasinya persis berada di samping Telaga Warna. Disini tidak ada informasi mengenai jadwal pemutaran film. Jika sudah lebih dari 10 orang, maka film akan langsung diputar. Film yang berdurasi 30 menit ini bercerita mengenai Dataran Tinggi Dieng dari sudut pandang sejarah dan budaya. Bagaimana terjadinya Dataran Tinggi Dieng yang berawal dari letusan Gunung api yang besar, potensi alam Dieng yang banyak dimanfaatkan untuk perkebunan sayur dan buah, gejala-gejala vulkanologi dan pemanfaatan panas bumi yang ada di Dieng, tragedi Kawah Sinila pada tahun 1979 yang memakan korban jiwa, kesenian tradisional, sejarah rambut gimbal anak-anak Dieng dan tradisi ruwatan pemotongan rambut gimbal serta kondisi cuaca di dataran tinggi Dieng yang suhunya bisa mencapai 0 (nol) derajat celcius di musim kemarau. Semuanya tersaji secara singkat, menarik dan informatif.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2186" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_05.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_05.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Dieng Plateau Theater</div>
</div>
<p>Selepas nonton film, saya berniat untuk membeli kentang goreng yang lokasinya berada di samping Theater. Orang-orang di Dieng menamainya Kendi atau Kentang Dieng. Belum saja sampai di penjual kentang, tiba-tiba ada seorang pemandu yang mendekati saya sambil menunjukkan beberapa gambar di ponselnya. &#8220;Mas, suka foto ya. Mau tidak saya temani ke atas bukit, nanti mas bisa foto seperti ini&#8221;. Wuaahh&#8230; ternyata Tuhan mengabulkan doa saya. Ini dia yang saya cari. &#8220;Baiklah Mas!&#8221;. Pemandu itu bernama Mas Giat. Beliau sering berada di Dieng Plateau Theater, membantu wisatawan yang ingin menuju ke atas bukit untuk melihat Telaga Warna dari ketinggian.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2187" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_06.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_06.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Kentang Goreng dan Keripik Kentang Khas Dieng</div>
</div>
<p>Sambil menapaki undakan bebatuan, Mas Giat bercerita mengenai Dieng. Kata Dieng berasal dari gabungan dua kata, yaitu &#8220;Di&#8221; yang berarti tempat dan &#8220;Hyang&#8221; yang berarti khayangan, tempat kediaman sang Dewa Pencipta. Secara keseluruhan dapat diartikan, Dieng adalah tempat bersemayamnya para dewa dewi.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2188" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_07.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_07.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon</div>
</div>
<p>Setibanya di puncak, saya berteriak dengan sebegitu kerasnya.&#8221;Whooooww!&#8221;. Meluapkan emosi kegembiraan sekaligus kekaguman, melihat luar biasa indahnya Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kawah Sikidang dan Komplek Candi Arjuna</strong></p>
<p>Indahnya Telaga Warna membuat saya hampir lupa diri, hingga Mas Giat menyadarkan saya&#8230; &#8220;Mas Adi, setelah ini mau kemana?&#8221;. Kami kembali turun ke Dieng Plateau Theater, saya mohon pamit ke Mas Giat dan langsung bergegas menuju tempat berikutnya, Kawah Sikidang.</p>
<p>Memasuki kawasan <strong>Kawah Sikidang</strong>, saya dihadapkan pada hamparan luas yang dikelilingi perbukitan dengan beberapa uap panas dan bau belerang yang sangat menyengat. Pemandangan hijau yang saya temui sebelumnya mendadak lenyap begitu saya memasuki kawasan ini. Tepat di ujung, tampak sebuah kolam besar dengan air bercampur lumpur berwarna abu-abu yang terus bergolak. Disekelilingnya terdapat pagar bambu untuk menjaga keselamatan pengunjung. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (<em>kidang</em> dalam bahasa jawa). Di tengah perbukitan, saya mendapati seorang wanita paruh baya dengan caping dan syal menutupi hampir separuh wajahnya. Wanita itu berjualan batu dan air belerang sebagai cinderamata khas Kawah Sikidang.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2189" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_09.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_09.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Kawah Sikidang</div>
</div>
<p>Gerimis membawa saya menuju kompleks <strong>Candi Arjuna</strong> yang terletak persis di depan <strong>Museum Kaliasa</strong>. Candi Arjuna merupakan candi hindu tertua di Pulai Jawa yang diperkirakan dibangun pada tahun 809 M dan merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa. Di candi ini terdapat relief yang memperkuat bahwa Candi Arjuna merupakan candi Hindu, yaitu Dewa Siwa, Wisnu dan Brahma.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2190" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_10.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_10.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Candi Bima</div>
</div>
<p>Salah satu cara untuk melihat apakah candi tersebut candi Hindu atau bukan adalah dengan mengecek dalamnya Candi. Jika ditemukan lingga, maka dapat dipastikan Candi tersebut merupakan Candi Hindu. Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Selain Candi Arjuna, terdapat Candi Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2191" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_13.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_13.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Komplek Candi Arjuna</div>
</div>
<p>Semakin sore, komplek Candi Arjuna semakin ramai oleh wisatawan. Selain tempatnya yang luas dan pemandangannya yang indah untuk berfoto-foto, suasananya juga sangat pas untuk bersantai setelah seharian mengelilingi Dieng. Kentang goreng panas menjadi penutup jalan-jalan saya di hari ini.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-2192" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_12.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_12.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Kentang Goreng Ala Dieng</div>
</div>
<p>Sambil bersantai makan malam, saya bercerita mengenai perjalanan saya seharian ini ke Mas Dwi termasuk pertemuan saya dengan Mas Giat di Dieng Plateau. Tiba-tiba Mas Dwi berkata “Oh iya, Mas Adi khan mau lihat anak rambut gimbal. Anaknya Mas Giat itu gimbal lho”. “Wahh… pas tuh Mas, gimana kalo kita ke rumahnya?”, timpal saya dengan penuh semangat. Beberapa kali Mas Dwi mencoba untuk menghubungi Mas Giat, tapi ponsel Mas Giat selalu tidak aktif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari Kedua</strong></p>
<p>Alarm sudah saya set pukul 05.00, tetapi tidak punya andil sedikitpun hingga setengah sadar saya mendengar beberapa kali ketukan pintu kamar. Segelas teh panas dengan aroma yang kuat dan wangi khas dieng menyambut saya di meja makan. Sambil memanaskan sepeda motor, saya dan Mas Dwi bersiap untuk perjalanan hari ini.</p>
<p>Udara sangat dingin pagi itu. Saya dan Mas Dwi menuju kompleks Candi Arjuna dengan mengendarai sepeda motor. Kata Mas Dwi, kalau beruntung kami bisa melihat Silver Sunrise dari kompleks Candi Arjuna. Sayang, cuaca tidak bersahabat pagi ini. Kabut tebal turun dari perbukitan dan menyelimuti kompleks Candi. Sinar matahari pun terhalang awan hitam di ufuk timur.</p>
<p>Sambil menunggu terang, kami ngobrol-ngobrol di pelataran candi. Mulai dari pekerjaan, keluarga, sampai ngobrolin jodoh. Gara-gara gagal dapat Silver Sunrise, pagi-pagi buta jadi ajang curhat-curhatan. Hahaha. Jam 6 pagi, rombongan bis wisatawan mulai banyak berdatangan menuju Candi Arjuna. Memaksa kami meninggalkan kompleks yang hampir seluruhnya tertutupi oleh kabut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perkebunan Teh Tambi</strong></p>
<p>Skuter Matik warna biru melaju di jalan utama Dieng yang berkelok-kelok menuju kota Wonosobo. Beberapa kali kami harus menembus kabut dan berjalan pelan karena jarak pandang yang terbatas. Hampir separuh perjalanan kami berbelok ke kiri menuju perkebunan teh Tambi atau<strong> </strong>yang biasa dikenal dengan nama <strong>Kawasan Agrowisata Tambi</strong>. Letak penghasil teh terbesar di propinsi Jawa Tengah ini berada di lereng sebelah barat Gunung Sindoro dengan nuansa panorama pegunungan. Disini saya bisa melihat langsung aktifitas ibu-ibu pemetik teh dan beberapa pekebun yang sedang memanen sayurannya.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2193" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_14.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_14.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Ibu-Ibu Pemanen Teh di Perkebunan Teh Tambi</div>
</div>
<p>Dulunya perkebunan teh ini merupakan milik pemerintah Belanda dengan nama Bagelen Thee &amp; Kina Maatschappij yang dikelola oleh NV John Peet. Pada masa kemerdekaan perusahaan diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan semua pekerjanya diangkat menjadi  Pegawai Perkebunan Negara (PPN). Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1950, perusahaan diserahkan kembali kepada Bagelen Thee &amp; Kina Maatschappij. Pada tahun 1954, perusahaan dijual kepada NV Eks PPN Sindoro Sumbing. Kemudian pada tahun 1957, NV Eks PPN Sindoro Sumbing bekerjasama dengan Pemda Wonosobo mendirikan perusahaan baru dengan nama PT. Perkebunan Tambi.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2194" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_15.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_15.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Si Mbah, Biar Tua Tapi Masih Kuat</div>
</div>
<p>Setelah puas mengelilingi perkebunan teh, saya menyempatkan diri berbelanja teh di Koperasi Pegawai yang lokasinya persis disamping pabrik pengolahan teh. Kualitas citarasa teh Tambi sudah tidak diragukan lagi, sebagian besar produksinya diekspor ke beberapa negara. Tapi sayang untuk pemasaran lokal, pengemasannya masih sangat sederhana.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2195" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_16.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_16.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Motor Yang Selalu Menemani Perjalanan Kami</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Telaga Menjer</strong></p>
<p>Dari perkebunan teh Tambi, kami mulai memasuki jalan kejajar yang cukup sepi menuju Telaga Menjer. Pemandangan Gunung Sindoro yang tertutup awan dari kejauhan terlihat begitu indah dengan hamparan perkebunan.</p>
<p><strong>Telaga Menjer</strong> terletak di desa Maron kecamatan Garung. Telaga ini berjarak sekitar 2 km dari ibukota kecamatan Garung. Dinamakan telaga menjer karena desa Maron sebenarnya merupakan desa baru yang dulunya merupakan wilayah desa Menjer. Telaga ini merupakan tempat penampungan sementara yang dibuka setiap 6 jam sekali untuk mengalirkan air menuju PLTA Garung. Untuk mengalirkan air dari telaga ini menuju PLTA, dibendunglah sebagian kecil dari telaga dan di bawahnya dipasang pipa dengan diameter mencapai ± 3m menuju ke PLTA yang berjarak sekitar 2 km.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2196" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_19.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_19.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Telaga Menjer</div>
</div>
<p>Tidak ada fasilitas wisata yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung seperti bangku ataupun taman selain perahu yang disewakan untuk mengelilingi telaga. Pengunjung hanya bisa melihat pemandangan di pinggiran telaga. Itu pun tanpa pagar pengaman.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2197" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_20.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_20.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Pipa PLTA dari Telaga Menjer hingga PLTA Garung</div>
</div>
<p>Pipa PLTA di Telaga Menjer membuat saya penasaran, sampai mana pipa ini berakhir. Saya dan Mas Dwi kembali menyusuri jalan kejajar dimana pipa PLTA persis berada di samping jalan, hingga akhirnya kami menemui PLTA Garung, tempat pipa berakhir.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mie Ongklok</strong></p>
<p>Jalan-jalan ke Wonosobo, tak lengkap rasanya kalau belum menyicipi <strong>Mie Ongklok</strong>. Begitu banyak Mie Ongklok di kota Wonosobo. Menurut Mas Dwi, yang terkenal adalah Mie Ongklok Pak Muhadi dan Mie Ongklok Longkrang. Di kesempatan kali ini, saya menyambangi Mie Ongklok Longkrang yang terletak di Jl. Pasukan Ronggolawe 14. Tidak perlu menunggu lama, kami langsung memesan 2 mangkok Mie Ongklok. Mie kuning ditaruh ke dalam wadah yang berbentuk saringan kemudian direndam ke dalam kuah panas berkaldu ayam. Mie lalu diongklok-ongklok atau digoyang-goyang hingga matang, Dari proses inilah, maka disebut Mie Ongklok. Berbeda dengan mie pada umumnya, Mie Ongklok tidak menggunakan sawi sebagai sayurannya, melainkan kubis dan kucai mentah.Setelah matang, mie lalu dituang ke dalam mangkok dan ditambahi beberapa bumbu, kemudian disiram dengan kuah kental (campuran saripati singkok, gula merah, ebi dan resep rahasia) dan sambal kacang. Terakhir, mie ditaburi bawang goreng dan siap untuk disajikan.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2198" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_21.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_21.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Mie Ongklok, Wisata Kuliner Kota Wonosobo</div>
</div>
<p>Ada satu menu pelengkap yang menemani Mie Ongklok, yaitu Sate Sapi berbumbu sambal kacang. Sekilas agak aneh, mie dipadukan dengan sate kambing. Tapi setelah menyicipi mie dan kuahnya yang kental, hmm… terasa begitu gurih dan manis di mulut. Kunyahan sate menambah lezatnya Mie Ongklok. Makanan pelengkap yang lain yaitu  Geblek atau cireng (e pertama sama ketika membaca gelap dan e kedua sama ketika membaca imlek) dan Tempe Kemul, tempe yang ditepungin/ diselimutin dengan tepung dan daun kucai (kemul dalam bahasa jawa berarti selimut) sehigga berwarna kuning dengan belang-belang hijau warna kucai. Semua kelezatan bercampur menjadi satu. Maknyuusss tenan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemandian Air Panas Kalianget</strong></p>
<p>Matahari tepat berada di atas kepala. Terik siang yang menikam kepala tidak menghalangi kami untuk terus berkeliling. Mas Dwi membawa saya menuju <strong>Pemandian Air Panas Kalianget</strong>. Katanya… “siang-siang gini paling enak kalo mandi disini”. Pemandian Air Panas Kalianget merupakan salah satu tempat rekreasi yang paling banyak dikunjungi warga Wonosobo. Karena siang itu saya tidak berniat mandi sama sekali, akhirnya Mas Dwi langsung mengajak saya ke sumber mata airnya langsung yang jaraknya tidak jauh dari lokasi Pemandian Kalianget.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2199" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_22.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_22.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Sumber Mata Air Pemandian Kalianget</div>
</div>
<p>Menyusuri jalan setapak diantara pematang sawah dan beberapa jembatan kecil, akhirnya kami tiba di lokasi pemandian yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan Pemandian Kalianget. Tempatnya cukup terbuka dan hanya ada satu bangunan kecil tempat menitipkan pakaian. Hihihi… sedikit pornoaksi kalo mandi disini. Justru pemandian sederhana inilah sumber dari Pemandian Kalianget. Empat pancuran besar keluar dari sebuah bak besar yang alirannya tidak pernah berhenti. Dari salah satu pipa inilah, air kemudian disalurkan menuju Pemandian Kalianget melewati pipa bawah tanah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Gardu Pandang dan Pemandian Bimalukar</strong></p>
<p>Ketika kami turun menuju kota Wonosobo di pagi hari, kami melewati sebuah <strong>Gardu Pandang</strong> di pinggir jalan raya Dieng. Saat itu Gardu Pandang tertutup kabut tebal, jadi kami lewatkan begitu saja. Dalam perjalanan pulang menuju Dieng, kami menyempatkan kembali ke Gardu Pandang.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2200" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_25.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_25.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Gardu Pandang Tieng</div>
</div>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2201" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_24.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_24.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Pemandangan Dari Gardu Pandang</div>
</div>
<p>Gardu Pandang merupakan sebuah tempat peristirahatan (Rest Area) bagi wisatawan yang mengunjungi Dieng. Letaknya sekitar 6 kilometer dari kota Wonosobo dan berada di kanan jalan dengan ketinggian 1800 meter. Satu jam kami habiskan di Gardu Pandang Dari bangunan yang terdiri dari dua tingkat ini kami bisa menikmati pedesaan dan pemandangan alam Dieng yang indah dengan latar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2203" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_27.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_27.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Mas Dwi, Orang Paling Ramah Se-Dieng</div>
</div>
<p>Waktu semakin sore dan kami masih masih menyisakan satu tempat untuk perjalanan hari ini. Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah <strong>Tuk Bimalukar</strong>. Lokasinya berada di sebelah kanan sebelum memasuki gerbang Dieng. Tuk Bimalukar merupakan adalah sebuah mata air (Tuk,= air, bahasa jawa) yang diyakini memiliki khasiat awet muda. Barangsiapa yang mandi atau mencuci muka dengan air dari Tuk Bimalukar, maka orang tersebut akan awet muda. Percaya gak percaya, saya langsung mencuci wajah saya di mata air Tuk Bimalukar dan jreng… jreng.. wajah saya langsung terlihat muda kembali. Haha..</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2204" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_29.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_29.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Tuk Bimalukar</div>
</div>
<p>Ada dua versi cerita menarik terjadinya mata air Tuk Bimalukar. Yang pertama, penduduk Dieng yakin bawah mata air ini berasal dari air kencing Bhima Sena (tokoh pandawa dalam pewayangan) yang sedang berlomba dengan para Kurawa untuk membuat sungai. Pada saat ia membuka pakaiannya, Bhima Sena melihat perempuan cantik yang mengganggunya dan ia berkata “Sira Ayu” (artinya kamu cantik, dalam bahasa jawa). Setelah itu air Bhima Sena menjadi sebuah mata air dan menjadi sumber dari Sungai Serayu, yang diambil dari kata Sira Ayu.</p>
<p>Lain halnya dengan cerita kedua, yang juga diceritakan oleh Mas Dwi. Pada suatu ketika, ada seorang pemuda bernama Bimalukar. Pemuda ini membuat sayembara, bagi siapa yang bisa membuatkan mata air, jika pria akan dijadikan saudara dan jika wanita akan dijadikan istri. Dari sayembara itu, ada seorang wanita yang berhasil membuatkan mata air untuk Bimalukar. Tapi tak lama kemudian, Bimalukar mengetahui kalau wanita itu adalah Siluman Ular dan Bimalukar mengingkari janjinya. Wanita itu pun marah dan kecewa terhadap Bimalukar, karena tidak ada pengecualian untuk kaum siluman dalam sayembara itu. Dengan penuh rasa kecewa wanita itu pergi lalu menjelma menjadi ular yang besar dan panjang. Bimalukar melihat dari kejauhan keindahan dan kecantikan  lenggak-lenggok siluman ular yang merubah dirinya menjadi sungai yang besar. Sungai itulah yang kini dinamakan Sungai Serayu, yang diambil dari kata Shri dan Ayu (Shri berarti lenggok dan Ayu berarti cantik). Sungai Serayu merupakan sungai dengan aliran terpanjang di Jawa Tengah.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2206" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_30.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_30.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Tugu Selamat Datang di Dieng Plateau</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh-oleh Khas Trisakti</strong></p>
<p>Meskipun jaket sudah dua lapis, tetap saja dinginnya angin malam membuat badan ini beberapa kali menggigil kedinginan. Malam ini kami berkunjung ke rumah Bapak …, pemilik perusahaan Trisakti yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Dieng.</p>
<p>Kebetulan, ketika kami mampir, pemilik rumah sedang merebus puluhan Carica di dalam panci besar. Carica (dibaca karika) adalah pepaya khas Dieng. Salah satu tanaman endemik Dieng yang hanya tumbuh di daerah dingin. Sekilas buah ini mirip sekali dengan buah pepaya (Carica Papaya) hanya saja bentuknya lebih kecil seukuran labusiam. Carica ini diolah menjadi manisan Carica yang dikemas dalam botol.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2205" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_31.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_31.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Carica Yang Sedang Dipanaskan Dalam Panci Besar</div>
</div>
<p>Oleh-oleh yang lain adalah Keripik Jamur dan Keripik Kentang. Sejak dulu, jamur merupakan salah satu tanaman yang dibudidayakan di Dieng. Selain sebagai makanan, jamur juga diolah menjadi kripik. Keripik kentangnya membuat saya ketagihan. Tanpa sadar, sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik rumah, saya menghabiskan setengah toples tester. Haha..</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2212" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_37.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_37.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Pohon Carica</div>
</div>
<p>Yang paling menarik ketika saya menyicipi semua oleh-oleh adalah minuman khas Dieng yang bernama Purwaceng. Pemilik nama latin <em>Pimpinella Fraucan</em> ini adalah sejenis tanaman “ginseng” ala Dieng. Selain sebagai obat tradisional, Purwaceng juga dipercaya sebagai penambah vitalitas. Bentuknya berupa bubuk yang bisa ditambahkan ke dalam teh atau kopi. Kalau tidak mau repot, sudah dibuatkan dalam bentuk kemasan teh celup dan kopi bubuk.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2207" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_35.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_35.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Oleh-Oleh Khas Dieng</div>
</div>
<p>Ada cerita unik dan menarik mengenai Purwaceng. Suatu ketika pekebun-pekebun Dieng sedang beristirahat setelah seharian lelah mengurus kebun mereka. Sebelum pulang ke rumah, mereka menemukan tanaman dan iseng memakan tanaman tersebut sambil bersenda gurau. Keesokan harinya, semua pekebun memiliki pengalaman yang sama, yaitu istri mereka senyum-senyum gembira di pagi harinya. Sejak saat itu Purwaceng dipercaya sebagai obat kuatnya masyarakat Dieng.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengejar Sunrise di Gunung Sikunir</strong></p>
<p>Bangun pagi menjadi terbiasa di hari ketiga. Jam 04.30 saya sudah bersiap untuk menuju <strong>Gunung Sikunir</strong>. “Pagi ini cerah Mas Adi, semoga kita bisa dapet sunrise yang bagus pagi ini”. Kata-kata Mas Dwi langsung memberikan saya semangat pagi itu.</p>
<p>Melihat matahari terbit adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Beberapa tempat wisata boleh saja terlewat, tapi Sunrise di Gunung Sikunir pantang untuk dilewatkan. Dengan menggunakan sepeda motor, 20 menit kami sudah mencapai kaki Gunung Sikunir. Halaman parkir yang cukup luas sudah terisi puluhan sepeda motor dan beberapa mobil wisatawan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Sikunir. Hanya perlu waktu 30 menit saja dengan berjalanan santai untuk sampai ke puncak. Kondisi saat itu masih gelap dengan jalan tanah yang licin dan penuh dengan semak belukar. Sesampainya di puncak, saya mulai mencari tempat terbaik untuk mengambil gambar.</p>
<p>Akhirnya, waktu yang ditunggu datang juga. Perlahan dengan pasti, semburat kuning kemerahan mulai menampakkan diri di ufuk timur. Siluet Sindoro mulai terlihat jelas di hadapan saya dengan Sumbing dibelakangnya. Di kejauhan tampak pula kegagahan Merapi dan Merbabu.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2208" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_32.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_32.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Menunggu Matahari Terbit</div>
</div>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2209" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_33.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_33.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Memeluk Awan di Negeri Dewa Dewi</div>
</div>
<p>Tak ingin ketinggalan, iringan kabut mulai merangkak naik membentuk gumpalan hingga sejajar dengan kaki ini menapak. Semuanya menyatu dalam pertunjukan alam yang luar biasa. Kuasa sang pencipta. Imajinasi liar mulai menggeliat di kepala, seandainya saya bisa melompat dan tidur diantara gumpalan awan. Kelelahan tergantikan dengan kepuasan.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2210" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_34.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_34.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>The Romantic Couple</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kawah Sileri dan Sumur Jalatunda</strong></p>
<p>Berbeda dengan Kawah Sikidang, yang begitu ramai pengunjung, makanan dan cinderamata. <strong>Kawah Sileri</strong> benar-benar sepi. Tidak ada orang sama sekali. Lahan parkirnya pun sempit dan terletak di pinggir jalan. Untuk sampai ke kawah, kami harus menuruni tangga yang jauhnya lebih kurang 300 meter. Di perjalanan turun, saya menemui kamar mandi/ toilet yang dalam kondisi mengenaskan. Tepat di depan kawah terdapat gardu pandang untuk melihat Kawah Sileri dari ketinggian. Kondisinya sama dengan toilet, tidak terawat sama sekali. Walaupun sudah diberi peringatan untuk tidak mendekat ke lokasi, pengunjung bisa saja mendekat hingga bibir kawah karena tidak ada pagar penghalang seperti di Kawah Sikidang.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2211" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_39.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_39.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Pemandangan Kawah Sileri</div>
</div>
<p>Sama dengan Kawah Sikidang sebagai fenomena alam yang menakjubkan, Kawah sileri juga berbahaya. Kawah Sileri merupakan kawah terluas di Dieng. Luasnya sekitar dua hektar. Dinamakan Sileri karena warnanya yang kelabu kental mirip dengan leri (leri, bahasa jawa yang berarti cucian beras). Kawah Sileri pernah meletus beberapa kali di tahun 1944, 1964, 1984, 2003 dan terakhir September 2009.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-2213" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_40.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_40.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Dimohon Tidak Terlalu Dekat Dengan Bibir Kawah</div>
</div>
<p>Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah <strong>Sumur Jalatunda</strong>. Sumur ajaib ini sangat populer di Dieng. Meski memakai istilah sumur, namun bentuknya tidak seperti sumur pada umumnya. Sumur Jalatunda merupakan kepundan gunung berapi yang meletus dan menjadi sumur dengan kedalaman 100 meter. Airnya berwarna hijau dengan dinding dari batu dan semak belukar.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2214" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_43.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_43.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Sumur Jalatunda</div>
</div>
<p>Lagi-lagi mengenai mitos. Apabila kita melempar batu dan sampai ke ujung sumur, maka keinginan kita akan terkabul. Tidak heran jika ketika sampai di lokasi ada beberapa penjual batu. Satu batu dihargai seribu rupiah.  Target lemparan juga dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Kalo pria harus sampai ujung, sedangkan wanita cukup separuh sumur.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2215" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_42.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/05/Dieng_42.jpg" alt="" width="500" height="302" /></a>
	<div>Mitos Melempar Batu di Sumur Jalatunda</div>
</div>
<p>Dari hari pertama, saya seperti terjebak ke dalam beberapa mitos percaya tidak percaya. Tapi entah kenapa, disini saya tidak tertarik sama sekali untuk mencoba melempar batu. Hihi.. Saya hanya jadi penonton beberapa pengunjung yang sekuat tenaga melempar batu. Tidak satupun dari mereka yang berhasil. Saya sempat berpikir, jika banyak yang melempar batu selama bertahun-tahun ke depan, apakah sumur itu nantinya akan menjadi dangkal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>The Traveler</strong></p>
<p>Sumur Jalatunda menjadi tempat terakhir saya menjelajahi Dieng. Banyak tempat yang bisa saya kunjungi walaupun tidak semuanya. Tiga hari terasa kurang untuk menjelajahi luasnya Dieng. Kesabaran Mas Dwi memandu saya selama tiga hari banyak memberikan pelajaran berharga bagi saya mengenai keindahan dan keramahan masyarakat Dieng.</p>
<p>Mas Dwi berkata kepada saya sebelum kaki ini beranjak menuju bus yang sudah menunggu di depan penginapan Bu Djono, “Mas Adi, nanti kesini lagi yah. Jangan lupa pujaan hatinya juga diajak”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/memeluk-awan-di-negeri-dewa-dewi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Megalitikum Gunung Padang</title>
		<link>http://adikristanto.net/situs-megalitikum-gunung-padang/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/situs-megalitikum-gunung-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 14:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1939</guid>
		<description><![CDATA[Dugaan kuat mengenai adanya bangunan piramida di situs Gunung Padang membuat kontroversi di kalangan arkeologi dan geologi. Pemberitaan yang gencar dari beberapa media mengundang rasa ingin tahu masyarakat mengenai keberadaan situs Gunung Padang. Gunung Padang mendadak terkenal. Saya sendiri hanya melihat hasil liputannya dari teman-teman di forum National Geographic Indonesia.

Jumat sore selepas pulang kantor, Budhi Wardhana, seorang teman yang saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dugaan kuat mengenai adanya bangunan piramida di situs Gunung Padang membuat kontroversi di kalangan arkeologi dan geologi. Pemberitaan yang gencar dari beberapa media mengundang rasa ingin tahu masyarakat mengenai keberadaan situs Gunung Padang. Gunung Padang mendadak terkenal. Saya sendiri hanya melihat hasil liputannya dari teman-teman di forum <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/">National Geographic Indonesia</a>.<br />
<span id="more-1939"></span><br />
Jumat sore selepas pulang kantor, <a href="http://www.kompasiana.com/budhi_kw">Budhi Wardhana</a>, seorang teman yang saya kenal ketika melakukan perjalanan ke <a href="http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/">sawarna</a> mengajak saya untuk mengunjungi Situs Gunung Padang. Walaupun mendadak dan ada beberapa rencana di hari sabtu, tetap saja sulit untuk menolak ajakan mas Budhi.</p>
<p>Perjalanan menuju Gunung Padang tidaklah sulit. Dari Jakarta menuju Cianjur dapat ditempuh dalam waktu 2 jam. Usahakan berangkat agak pagi jika tidak ingin terkena macet di daerah puncak. Setelah bertemu pertigaan Cianjur, ambil arah kanan menuju Warungkondang. Di sebelah kiri jalan terdapat plang yang bertuliskan &#8220;Situs Megalith Gunung Padang&#8221;. Masuk dan ikuti jalan tersebut hingga sampai di Situs Gunung Padang. Kondisi jalan beragam, kadang bagus dan kadang agak sedikit rusak, tapi cukup aman untuk dilalui mobil sekelas sedan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Stasiun dan Terowongan Lampegan</strong></p>
<p>Sebelum menuju ke Situs Gunung Padang, kami menyempatkan diri menyambangi stasiun dan terowongan Lampegan, salah satu stasiun dan terowongan tertua di Indonesia. Stasiun Lampegan terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Stasiun Lampegan merupakan salah satu stasiun yang dilalui kereta api rute Bandung &#8211; Sukabumi. Latitude: -6.94991 dan Longitude: 107.06121.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-2001" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan-Tampak-Depan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan-Tampak-Depan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Tampak Depan Stasiun Lampegan</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2002" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Stasiun Lampegan Rute Bandung - Sukabumi</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2003" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan-Tampak-Samping.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Stasiun-Lampegan-Tampak-Samping.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Terowongan Lampegan dari Kejauhan </div>
</div>
<p style="text-align: left;">Stasiun Lampegan dan terowongan Lampegan dibangun dari tahun 1879 hingga 1882 oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen (SS) dan saat ini masuk sebagai kawasan Cagar Budaya. Panjang terowongan yang membobol Bukit Kencana ini tadinya 686 meter, namun karena peristiwa gempa bumi yang mengakibatkan tanah longsor kini panjang terowongan Lampegan menjadi 415 meter. Paska rangkaian peristiwa longsor pada tahun 2001 dan 2006, kondisi terowongan Lampegan saat ini sudah diperbaiki dan direnovasi kembali pada tahun 2010, namun masih belum dilalui kereta api. Ketika saya berada di dalam terowongan, masih terlihat beberapa bekas tambalan semen di atap terowongan.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2004" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Terowongan-Lampegan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Terowongan-Lampegan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Terowongan Lampegan</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2005" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Terowongan-Lampegan-415m.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Terowongan-Lampegan-415m.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Terowongan Lampegan Dengan Panjang 415 Meter</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Situs Megalitikum Gunung Padang</strong></p>
<p>Perjalanan dari Lampegan menuju Gunung Padang sekitar 15 menit dengan pemandangan perkebunan teh dan karet serta kontur jalan aspal yang cukup bagus dan berkelok kelok. Perjalanan kami disambut oleh gapura besar yang bertuliskan &#8220;Situs Megalith Gunung Padang Cianjur&#8221;. Gapura tersebut langsung membawa kami menuju tempat parkir yang cukup luas di sebelah kiri jalan. Sebenarnya kami bisa melanjutkan hingga pintu masuk Situs Gunung Padang, tetapi karena medan yang terjal akhirnya kami memutuskan untuk parkir di bawah. Jika anda membawa sepeda motor, anda bisa melanjutkan perjalanan hingga sampai ke atas. Dari sini kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 1 KM untuk sampai di depan pintu masuk Situs Gunung Padang.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2006" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Gapura-Situs-Megalith-Gunung-Padang.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Gapura-Situs-Megalith-Gunung-Padang.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Gapura Situs Megalith Gunung Padang Cianjur</div>
</div>
<p>Situs Megalitikum Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Latitude: -6.9946 dan Longitude: 107.05641. Hasil uji karbon dengan menggunakan Radioisotop Carbon C14 menunjukkan Situs Gunung Padang dibangun sekitar 4700 SM, lebih tua dari Piramid Giza di Mesir yang dibangun sekitar 2650 SM. Dari Februari sampai awal Maret 2012, tim Katastropik Purba melakukan penelitian dan pengeboran sedalam 20 meter. Dari hasil penelitian sementara, terdapat ruang/ rongga di bawah situs Gunung Padang. Selain itu juga diketemukannya pasir yang diduga sebagai teknologi anti gempa.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2007" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pos-Gunung-Padang.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pos-Gunung-Padang.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Pos Pintu Masuk Situs Gunung Padang</div>
</div>
<p>Sebelum masuk ke situs, kami dipersilahkan mengisi buku tamu dan membayar biaya perawatan sebesar 1000 rupiah. Tepat di pintu masuk, kami melihat sebuah sumber mata air yang berbentuk sumur yang dinamakan Cikahuripan atau air kehidupan. Untuk menuju ke atas, kami harus meniti anak tangga yang cukup terjal. Batu-batu persegi tersusun rapih membentuk undakan. Piuhhh&#8230; kelelahan kami terbayar dengan pemandangan menakjubkan. Bukit yang penuh dengan batu-batuan andesit persegi.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2008" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Halaman-Pintu-Masuk-Situs-Gunung-Padang.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Halaman-Pintu-Masuk-Situs-Gunung-Padang.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Halaman Pintu Masuk Situs Gunung Padang</div>
</div>
<p>Sambil beristirahat, saya dan mas Budhi bertemu dengan Pak Nanang. Salah satu Jupel atau Juru Pelihara Situs Gunung Padang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang. Kami meminta Pak Nanang untuk menjelaskan mengenai situs Gunung Padang. Syukurlah, Pak Nanang tidak berkeberatan. Bahkan beliau dengan senang hati mengajak kami kembali ke teras pertama dan menceritakan sejarah Situs Gunung Padang.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2009" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Situs-Megalitikum-Gunung-Padang.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Situs-Megalitikum-Gunung-Padang.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Situs Megalitikum Gunung Padang</div>
</div>
<p>Situs yang luasnya lebih kurang 900 m² ini pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda, N.J. Krom pada tahun 1914. Kemudian situs ini kembali dilaporkan pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemerintah daerah. Para Arkeolog mulai meneliti secara intensif <em></em>sejak tahun 1980. Ekskavasi (penggalian yang dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala) pertama dilakukan pada tahun 1982. Karena ada bencana alam Gunung Galunggung di tahun tersebut, ekskavasi dihentikan dan dilanjutkan kembali pada tahun 1985. Saat ini kegiatan penelitian mulai diadakan kembali secara intensif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Filosofi Gunung Padang</strong></p>
<p>Padang artinya tanah yang luas. Bisa juga berarti terang dalam bahasa Sunda. Interpretasi dari Gunung Padang adalah tempat yang bisa memberikan penerangan atau pencerahan. Bisa juga disebut sebagai Gunung yang bercahaya. Walaupun namanya gunung, situs ini lebih menyerupai bukit yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun di sekelilingnya.</p>
<p>&#8220;Ada angka unik yang ditemukan di sini, semua serba 5&#8243;, ujar Pak Nanang. Situs Gunung Padang terdiri dari 5 teras dimana terdapat 5 undakan batu untuk menuju dari satu teras ke teras berikutnya. Hampir 95% semua batuan mempunyai 5 sudut atau segilima. Situs ini dikelilingi oleh 5 bukit; Karuhun, Emped, Gunung Batu, Gunung Malati dan Pasir Malang serta berorientasi atau mengarah ke 5 gunung secara sejajar; Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Pada jamannya, situs Gunung Padang dibuat dan digunakan sebagai tempat persembahan dan peribadatan.</p>
<p>Sebelum masuk ke dalam teras pertama ini, orang diwajibkan untuk mandi terlebih dahulu di sumur Cikahuripan atau air kehidupan yang lokasinya berada di pintu masuk situs Gunung Padang. Nama lain dari sumur ini adalah Banyu Susuk Tungga (Banyu artinya air, Susuk artinya menancap, Tungga artinya satu). Filosofinya adalah sebelum orang melakukan peribadatan, orang tersebut harus menyucikan dirinya terlebih dahulu. Kebersihan hati harus menancap/ mengarah kepada yang satu.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2010" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Sumur-Cikahuripan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Sumur-Cikahuripan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Banyu Susuk Tungga - Sumur Cikahuripan</div>
</div>
<p>Setelah melewati sumur Cikahuripan, barulah masuk ke teras pertama yang disebut juga sebagai Pamuka Lawang yang ditandai dengan 2 buah batu menyerupai tiang yang berdiri miring. Di teras ini terdapat Gunung Masigit yang berada di tengah-tengah, sebuah ruangan dengan dolmen dan 2 buah batu gamelan atau <em>Sound Stone</em>. Saya mengambil batu  kecil dan mencoba memukul-mukulkannya ke <em>Sound Stone</em>. Luar biasa, terdengar suara nyaring dari batu tersebut. Di tempat ini juga disediakan palu kayu yang bisa digunakan oleh pengunjung.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2011" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pamuka-Lawan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pamuka-Lawan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Pamuka Lawang</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2012" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Ruang-Persembahan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Ruang-Persembahan.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Ruang Persembahan dengan Batu Dolmen di Pojok Belakang</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2013" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Dolmen.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Dolmen.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Batu Dolmen</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2014" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Sound-Stone.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Sound-Stone.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Sound Stone - Mengeluarkan Bunyi Nyaring Jika Dipukul</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2022" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pintu-Masuk-Gunung-Masigit.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Pintu-Masuk-Gunung-Masigit.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Pintu Masuk Menuju Gunung Masigit</div>
</div>
<p>Di teras kedua, terdapat batuan yang disebut Eyang Mahkota Dunia. Awalnya Pak Nanang tidak mengerti kenapa dinamakan demikian. Kemudian pada suatu malam, Pak Nanang datang kemari sambil berdiam dan merenung. Lalu ia merasakan suatu bisikan yang mengatakan bahwa mahkota dunia adalah kehormatan dunia. Seseorang yang memperoleh kehormatan di dunia bukanlah orang-orang yang memiliki kekayaan, tetapi orang yang berbagi dari hasil kekayaan tersebut untuk orang lain. Berbeda dengan teras lainnya, untuk masuk ke dalam teras kedua ini harus memutar terlebih dahulu dan masuk melalui selatan. Di teras ini juga terdapat Batu Kursi yang digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah dan Batu Lumbung sebagai lambang kesejahteraan.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2016" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Kursi.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Kursi.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Batu Kursi Untuk Tempat Duduk Seorang Pemimpin</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2017" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Lumbung.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Lumbung.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Batu Lumbung Sebagai Lambang Kesejahteraan</div>
</div>
<p>Di teras ketiga, ada batu yang disebut Kramat Tungga, yaitu batu dengan legok atau cetakan seperti kujang pada permukaannya. Kramat berarti tempat dan tunggal adalah satu. Sedangkan kujang menurut budaya sunda artinya sesuatu untuk dipegang atau &#8220;peganglah!&#8221;. Filosofi dari teras ini adalah untuk mengingatkan manusia kepada yang satu. Batu legok lainnya adalah Tapak Maung, sebuah batu besar dengan legok atau cetakan tapak kaki harimau.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2018" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Kujang.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Kujang.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Batu Kujang</div>
</div><div class="img aligncenter size-full wp-image-2019" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Tapak-Maung.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Tapak-Maung.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Tapak Maung dengan Legok Menyerupai Tapak Harimau</div>
</div>
<p>Di teras keempat terdapat Bandung Tungga atau Batu Gendong. Bandung berarti agung dan Tungga berarti satu. Filosofi dari batu ini adalah agungkan yang satu. Beberapa kali saya melihat pengunjung mencoba untuk mengangkat batu tersebut. Banyak yang berpikiran, kalau berhasil mengangkat batu tersebut maka keinginan kita akan terkabul. Menurut Pak Nanang, batu tersebut merupakan sebuah &#8220;sambutan&#8221;, yaitu untuk menuju ke teras kelima seseorang harus kuat terlebih dahulu dan telah selesai menjalani proses dari teras pertama hingga teras keempat.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2020" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Gendong.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Gendong.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Batu Gendong Yang Sangat Berat</div>
</div>
<p>Teras kelima atau teras terakhir disebut juga sebagai Tempat Singgasana, sekaligus sebagai tempat akhir peribadatan. Disini terdapat sebuah tempat duduk yang disebut sebagai Batu Pandaringan. Batu panjang yang terbaring ini menghadap lurus ke arah 5 gunung (Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango). Singgasana ini digunakan sebagai tempat berdoa ke arah Gunung Gede. Dapat dibayangkan ketika jaman dahulu, sebuah gunung dianggap sebagi kekuatan yang besar, dapat memberikan kesuburan di daerah sekitarnya sekaligus bisa memberikan bencana akibat letusannya.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-2021" style="width:500px;">
	<img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/03/Batu-Pandaringan.jpg" alt="" width="500" height="310" />
	<div>Batu Pandaringan</div>
</div>
<p>Pak Nanang yang telah bekerja di situs Gunung Padang selama 18 tahun ini pernah beberapa kali diundang ke Jakarta untuk memberikan informasi mengenai situs Gunung Padang. Pengunjung terbanyak biasanya terjadi di hari sabtu dan minggu dimana bisa terdapat 1200 pengunjung dalam satu hari. Kebanyakan pengunjung dari beberapa daerah di sekitar Cianjur. Pak Nanang sering menjumpai turis mancanegara seperti Amerika, Belanda, Jepang, Korea, Spanyol, Perancis dan Rusia.</p>
<p>Penafsiran filosofi dari Gunung Padang masih menjadi misteri. Ada beberapa penafsiran yang dihubungkan dengan Kerajaan Pajajaran, padahal situs ini dibangun jauh sebelom nenek moyang Kerajaan Pajajaran lahir. Beberapa riset mengenai situs Gunung Padang ditemukan bahwa Situs Megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs prasejarah yang dibangun untuk keperluan peribadatan dengan memperhatikan harmoni geomantik (posisi bangunan terhadap unsur-unsur alam di Bumi seperti gunung dan mata angin) dan astromantik (posisi bangunan terhadap garis edar rasi-rasi bintang, planet atau Matahari). Sebuah kearifan lokal dimana pada jaman dahulu, tanpa teknologi canggih, orang bisa membuat batu dengan ukuran segi lima yang tersusun rapih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/situs-megalitikum-gunung-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prapaskah, Sebuah Refleksi Diri</title>
		<link>http://adikristanto.net/prapaskah-sebuah-refleksi-diri/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/prapaskah-sebuah-refleksi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 06:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[Rabu Abu merupakan hari pertama bagi umat Gereja Katolik menjalankan Pantang dan Puasa. Penerimaan Abu di dahi sebagai simbol bahwa manusia berawal dari debu dan akan kembali menjadi debu, cinis ad cinerem pulvis ad pulverem. Kita mempergunakan abu yang berasal dari daun palma pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar.

Yesus berkata, &#8220;Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu Abu merupakan hari pertama bagi umat Gereja Katolik menjalankan Pantang dan Puasa. Penerimaan Abu di dahi sebagai simbol bahwa manusia berawal dari debu dan akan kembali menjadi debu, <em>cinis ad cinerem pulvis ad pulverem</em>. Kita mempergunakan abu yang berasal dari daun palma pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar.<br />
<span id="more-1911"></span><br />
Yesus berkata, &#8220;Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu&#8221; (bdk. Mat 11:21). Tradisi ini terus dilakukan mulai dari Gereja perdana, abad pertengahan hingga hari ini. Abu merupakan lambang ketidakabadian dan pertobatan. Rabu Abu menjadi pintu masuk menuju masa Pra-Paskah dimana Gereja menyebutnya sebagai &#8220;Retret Agung&#8221;, karena selama 40 hari kita diajak untuk semakin mengenal Yesus dan diri kita dan juga semakin menyadari segala kelemahan dan dosa-dosa kita. Kita diajak untuk semakin mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1925" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/daun_palma_bakar.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/daun_palma_bakar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Daun Palma Yang Dibakar Untuk Dijadikan Abu</div>
</div>
<p>Angka 40 diambil dari beberapa kisah Alkitab, yaitu sebagai lambang masa pengujian dan persiapan. 40 hari lamanya Musa berada di Gunung Sinai (bdk. Kel 34:28), 40 tahun lamanya umat Israel di padang gurun, 40 hari penduduk Niniwe berpuasa menyesali dosa (bdk. Yun 3:1-10), 40 hari Yesus berpuasa sebelum memulai karya-Nya (bdk. Mat 4:2).</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1926" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/rabu_abu_abu.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/rabu_abu_abu.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Abu</div>
</div>
<div>
<div>Selama masa Prapaskah ini kita semua diarahkan kepada tiga kegiatan penting yang patut kita lakukan, yaitu berdoa, beramal, dan berpuasa. Sebagaimana ditulis oleh Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dalam Surat Gembala Keuskupan Bogor 2012:<span style="opacity: 0.25;"><br />
</span></div>
</div>
<div>
<ul>
<li>Yesus mengajarkan supaya kita berdoa dengan tulus hati “jangan berdoa seperti orang munafik yang mengucapkan doanya supaya dilihat orang dan bertele-tele” (bdk. Mat 6:5). Dapatkah kita mengambil tekad agar selama masa puasa ini kita rajin berdoa apalagi berdoa bersama di keluarga masing-masing, ikut dalam kegiatan di paroki, mengikuti Jalan Salib dan renungan-renungan di lingkungan.</li>
<li>Setiap masa Prapaskah mengundang kita untuk lebih solider berarti lebih peduli terhadap sesama terutama yang berkekurangan, yang sakit dan lemah melalui karya amal, berbagi dengan menyisihkan sedikit dari milik kita. Dalam hal ini pun Yesus memberikan nasehat : ”apabila engkau memberi sedekah berilah dengan tulus hati, jangan menggembar-gemborkan itu; janganlah diketahui tangan kirimu apa yang dilakukan tangan kananmu.” (bdk. Mat 6:23)</li>
<li>Dalam hal berpuasa, Yesus memberikan pedoman praktis bagaimana orang harus berpuasa yang mengantar dia kepada penyangkalan diri dengan kata-kata berikut “jangan berpura-pura, jangan pula supaya dilihat orang, tetapi apabila engkau berpuasa minyakilah kepalamu, cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa” (bdk Mat 16:17-18)</li>
</ul>
<p>Mengenai ketentuan pantang dan puasa, Gereja merumuskannya dalam Kitab Hukum Kanonik (Kanon 1249 -1253) berikut ini:</p>
<ul>
<li><span style="color: black;">Kanon 1249: Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari- hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.</span></li>
<li><span style="color: black;">Kanon 1250: Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.</span></li>
<li><span style="color: black;">Kanon 1251: Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.</span></li>
<li><span style="color: black;">Kanon 1252: Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.</span></li>
<li><span style="color: black;">Kanon 1253: Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti- kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.</span></li>
</ul>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1927" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/penerimaan-abu.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/penerimaan-abu.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Penerimaan Abu di Dahi</div>
</div>
<p>Penerapan pantang dan puasa:</p>
<ol>
<li>Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaskah.</li>
<li>Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.</li>
<li>Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.</li>
<li>Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaskah (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaskah).</li>
<li>Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.</li>
<li>Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)</li>
<li>Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (<em>prudence</em>) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.</li>
</ol>
</div>
<p>&#8220;Memento, homo, quia pulvis es, et in pulverem reverteris&#8221;. Remember, human, that you are dust, and to dust you will return  &#8212;Genesis 3:19</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><span><a class="smarterwiki-linkify" href="http://keuskupanbogor.org/vdokumen/surgempp2012.htm">http://keuskupanbogor.org/vdokumen/surgempp2012.htm</a></span></p>
<p><span><a class="smarterwiki-linkify" href="http://katolisitas.org/1914/berpuasa-dan-berpantang-menurut-gereja-katolik">http://katolisitas.org/1914/berpuasa-dan-berpantang-menurut-gereja-katolik</a></span></p>
<p><span><a class="smarterwiki-linkify" href="http://ekaristi.org/khk/index.php">http://ekaristi.org/khk/index.php</a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Gambar:</strong></p>
<p><span><a class="smarterwiki-linkify" href="http://photogallery.thestar.com/">http://photogallery.thestar.com/</a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span class="smarterwiki-popup-bubble smarterwiki-popup-bubble-active" style="top: 34px; left: 446px; margin-left: -54px; margin-top: -60px; opacity: 0.25;"><span class="smarterwiki-popup-bubble-body"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-container"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Google" href="http://www.google.com/search?q=perayaan" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://www.google.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Surf Canyon" href="http://search.surfcanyon.com/search?f=nrl1&amp;q=perayaan&amp;partner=fastestfox" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="data:image/x-icon;base64,AAABAAEAEBAAAAEAIABoBAAAFgAAACgAAAAQAAAAIAAAAAEAIAAAAAAAAAQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8AycnKOmdmaastLTDuIB8j/yAfI/87Oz7eg4OFi+no6Rj///8A////AP///wD///8A////AP///wD6+voDfHx+kyAfI/8gHyP/LCsv+FJRVPhHRkr6IiEl/SAfI/8tLTDuuLe5T////wD///8A////AP///wD///8AfHx+kyAfI/8wLzP4qqqr+Pv7+////////////+3t7f+Dg4X9IB8j/yMiJvq/vr9H////AP///wD///8AyMfIPyIhJf8wLzP429vb+P///////////////////////////////66ur/0gHyP/ODc74////wD///8A////AHRzda4wLjH/rKyt+P/////8/Pz/h4eJ/z8+Qv9GRUn/rq6v////////////iIiK/6ijnP/269Y/////AP///wBQTlDzR0VI+vv7+///////oqGh/zg2Of8hICT/IB8j/yAfI//c3Nz/7de7/9alX//GfhL/48KOfv///wD///8AWFZX/3Vzdfr//////////4iGhv9SUFL/MC8z/2ZlaP+1jmz/unMv/7NjFf+zYxX/s2MV/9atin7WrYp+1q2KfmdlZf91c3T8//////////+npaT/bWtr/0tJS/81Mzf/jIB5/9Gidv+/eDD/v3gw/8B6M//NlWD/x4pO/8WFRvqLiIjXbmxs/+rq6v//////6Ofn/4yJiP9lY2T/Q0JE/0tKTf/09PT/9uvc/+K5gP/apFL/9+zaP////wD///8AwcDAe357e/+koqL9///////////09PT/zs3N/8jHx//5+fn//////+7u7/9/f4H/4tfC//rv2T////8A////APb29g+YlZXjhYKB/7W0s//9/f3//////////////////////+vr6/9paGn/NTQ3/319f6f///8A////AP///wD///8A6OjnMpmWle6MiYf/lZOS/8XEw//b2tr/0dHR/6elpv9hYGH/TkxO/25sb8L09PQM////AP///wD///8A////AP///wDv7+4jsa6tu5KPjf+Kh4b/gX59/3h2df9vbW3/amho96alpof4+PgH////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wDs6+srz87Nb8XDw37Av75+zMvKXvLy8hT///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A//8AAPA/AADAHwAAgA8AAIAHAAAABwAAAAcAAAAHAAAAAAAAAAcAAIAHAACABwAAwA8AAOAfAAD//wAA//8AAA%3D%3D" alt="" /></a></span><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search DuckDuckGo" href="http://duckduckgo.com/?q=perayaan" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://ff.duckduckgo.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Wikipedia" href="http://www.google.com/search?hl=en&amp;btnI=I%27m+Feeling+Lucky&amp;q=perayaan+wikipedia" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABQAAAATCAYAAACQjC21AAAAAXNSR0IArs4c6QAAAAZiS0dEAP8A/wD/oL2nkwAAAAlwSFlzAAAIpwAACKcBMsYCAwAAAAd0SU1FB9kFEwgQLXKnj9oAAAPsSURBVDiNdVRZSGRXEH1Joz8icSIMJsEQEvKvov4ICoOYIAp+KKISkLiAgij5UGOMjgoug6CiKC64i/sSpVHcl7jv7W6722pcWmyNoqBW6hRpyYSZC8W7975bdU+dOrcUIlL+axYWFq+SkpLybWxsYo17VlZWX/H6DebOzs4/ent7/+Lu7v7z/31h7y8U5fvV1VWNra3tIObGvZqamtaHh4fHxMTExb29vcejoyMKCwt7jIqKWuD/bz4Y0MXF5e319bU2JyfngA99x/YJ22empqZuERERKwcHB9Td3U37+/u0srJCc3NzNDIyQk1NTVcqleonPvv6JSCPL87OznQ8p+TkZC2vv2GzcnNz+83a2joqLy9vCQFnZ2dpfX2dlpaWqLe3lzo7O+WStLS0ORMTE7+XgCkpKTX07/Dz86PIyEhDVlaWISMjgxISEmRfp9PRzs4O7e7uEtMi6EZHRyVweHg4gp6bm5tbKK958PlbODES+ZmZmQmkxjsE2d3dHWm1WsrOzqa6ujoaGhqigYEBGh4epvT0dCovLyd7e3sfhR3fGR0vLy9fULa0tMj8/PycNBoNcVGIi0NxcXHU09NDY2Nj1N/fL2mXlZXJJV5eXkXK9va2DojggIDPz8/iuLGxQcvLy8IXEN7c3JBer5f14uKiIOzr66P29naqqqqiiooK8vf3n1aYbP3ExIQcZkkIKgcHBwJ/BoNB1ltbW8IbF466urrk3OTkpFhDQ4MEZA7Jx8fnSGEJ6I2pHh4eyvf2ViglVBbBwBMQb25u0sLCgnAXExMjVLS1tVFJSYmkHRoa+pfCmydwPjk5EYf7+3txwBoVRTFmZmZetFdcXEyBgYGUm5srVa6traWioiIqKCig4ODgVYVJnUE6LGpBhLQQDMjAHeaQzPT0tASG7iorK0U2kAwC4hIE9PT0HFZYvB7j4+NPQHlxcSGFOD4+Fvnw8xKOUGnwxAWkqakpqSz7CJ/V1dXEmiV+/+To6Pi7CJvFq356ehIHaA2ogPjq6krSRlVbW1ulqoODgyIbyMfX15dKS0spNjYWAf+2tLT8UgLyJAIPHinPz89LFcEXJIJUcdHa2ppIBAjVajWlpqYSNwcqLCwUdEFBQX9+ysP4llXcSf7gFO6A8PT0lJqbm4UXvB6kBc6QKgz/sAfu8Ers7OzecYxv3+s2PD53dXX9FVUFCiCqr6+njo4OSRMBwSN3FylKfn4+MQgKCAhAC1N9rB+aODk5vWUU5+ARUoHu8CpQ0cbGRjFcxA3kkjtRAft8/dEGazRuRabcZH8ICQkpjo6OVjNHmvj4+GXuiyMeHh453ATCzMzMXn3I9x8oCiuuorpqawAAAABJRU5ErkJggg==" alt="" /></a></span></span></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/prapaskah-sebuah-refleksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Santai di Pantai Surga Sawarna</title>
		<link>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[Ciantir]]></category>
		<category><![CDATA[Karang Taraje]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Sawarna]]></category>
		<category><![CDATA[Pasir Putih]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Layar]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1858</guid>
		<description><![CDATA[Hujan deras belum ada tanda-tanda akan mereda. Jalanan yang macet ditambah beberapa genangan melengkapi indahnya Jakarta di jumat sore. Antrian Transjakarta mulai mengular hingga jembatan di Kuningan Timur. Tepat di bus ke-12 akhirnya saya bisa memasukkan diri melalui pintu belakang, berjejal menahan pegal hingga halte Ragunan. Keberangkatan belum dimulai, tetapi saya sudah menikmati serunya perjalanan.

Hari ini, jumat tanggal 4 februari, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan deras belum ada tanda-tanda akan mereda. Jalanan yang macet ditambah beberapa genangan melengkapi indahnya Jakarta di jumat sore. Antrian Transjakarta mulai mengular hingga jembatan di Kuningan Timur. Tepat di bus ke-12 akhirnya saya bisa memasukkan diri melalui pintu belakang, berjejal menahan pegal hingga halte Ragunan. Keberangkatan belum dimulai, tetapi saya sudah menikmati serunya perjalanan.<br />
<span id="more-1858"></span><br />
Hari ini, jumat tanggal 4 februari, saya akan kembali melakukan perjalanan. Kali ini bersama teman-teman dari komunitas <a href="http://backpackerindonesia.com/">Backpacker Indonesia (BPI)</a></p>
<p>Entah apa yang membuat saya terdampar di website BPI. Oh Tuhan, sepertinya saya mulai terkena virus perjalanan. Baru saja pulang dari <a href="http://adikristanto.net/singapore-city-explore/">Singapura</a>, tidak ada 3 hari saya mulai mencari ide mengenai perjalanan selanjutnya. Di website BPI, saya melihat salah satu thread mengenai Desa Sawarna yang dibuat oleh Cendy. Cerita mengenai keindahan Sawarna sepertinya sudah tersebar. Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sangat dekat dengan objek wisata Pelabuhan Ratu.</p>
<p>Banyaknya website yang mengulas indahnya pantai disana membuat rasa penasaran saya semakin memuncak. Itinerary yang dibuat oleh Cendy benar-benar membuat pengunjung terpikat. Biayanya pun cukup terjangkau bagi Traveller berkantong tipis, 360 ribu saja, sudah termasuk biaya akomodasi, makan, tempat wisata dan pemandu. Ditambah dengan senior member yang melekat pada Cendy semakin meyakinkan saya untuk mengikuti perjalanan ke Sawarna.</p>
<p>Keberangkatan menuju Sawarna dimulai dari Warung Bakso di depan Terminal Kampung Rambutan, meeting point kami. Sambil menunggu teman yang lain, saya berjumpa dengan Yani, <a href="http://adipersada.wordpress.com/">Bayu</a>, <a href="http://silverscratchonpapersketch.wordpress.com/">Nata</a> dan <a href="http://www.kompasiana.com/budhi_kw">Budi</a>. Kami tidak saling mengenal sebelumnya, hanya tas besar di punggung kami yang mampu memberikan tanda kalau kami semua memiliki tujuan yang sama. Yani bercerita kalau ini adalah kali kedua Backpacker’an dengan teman-teman BPI. Sedangkan Saya, Bayu, Nata dan Budi, ini adalah pengalaman pertama kami. Cerita diantara kami tidak jauh dari tema perjalanan. Saya hampir dibuat minder dengan mereka, perjalanan-perjalanan mereka sebelumnya luar biasa. Budi bercerita dengan antusias tentang perjalanannya menjelajahi kota Bangkok, sedangkan Bayu sudah menjelajahi 4 negara di Asia Tenggara. Sungguh, awal perjumpaan yang menyenangkan dengan mereka.</p>
<p>Pukul 23.30, bus kami pun tiba. Cendy yang sudah terbiasa mengadakan perjalanan bagi komunitas Backpacker mulai mengecek dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam Bus. Saya kebagian duduk di belakang bus, bersama dengan Bayu, Nata dan Budi. Ah… saya paling tidak suka duduk di belakang. Total peserta sebanyak 24 orang.</p>
<p>Perjalanan yang memakan waktu hampir 9 jam benar-benar membuat badan saya pegal. Apalagi ketika bus memasuki ruas jalan yang rusak, posisi di belakang adalah posisi yang paling menderita dimana guncangannya paling kuat terasa. Beberapa kali saya melihat kepala Budi terpentok jendela. Hahaha…  ya sudahlah.. dinikmati saja. Rute perjalanan: Jakarta &#8211; Tangerang &#8211; Rangkasbitung &#8211; Malimping &#8211; Bayah &#8211; Desa Sawarna.</p>
<p>Tepat pukul 9, kami tiba di Desa Sawarna… yeaaay!! Kami langsung menuju Homestay Java Beach yang terletak di Desa Sawarna. Untuk menuju ke Homestay, kami harus melewati jembatan gantung dan menyusuri gang yang hanya cukup untuk motor. Setelah pembagian kamar, kami diberi waktu hingga jam 12 untuk makan siang dan bersiap melakukan perjalanan.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img size-full wp-image-1876 aligncenter" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Gantung.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Gantung.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Bergoyang di Jembatan Gantung Sawarna</div>
</div>
<p>Desa Sawarna menyediakan banyak Homestay atau Guest House dengan beragam pilihan mulai dari harga, tempat dan fasilitas. Homestay yang saya tempati cukup nyaman, halaman dan terasnya sangat luas. Pemandangannya langsung menuju ke pematang sawah. Terdapat fasilitas olahraga dan dapur jika sewaktu waktu kami ingin memesan makanan atau minuman. Rombongan kami menempati 3 kamar untuk laki-laki dan 2 kamar untuk perempuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Goa Lalay</strong></p>
<p>Semua peserta sudah bersiap. Kebanyakan teman-teman yang hobi perjalanan juga memiliki hobi fotografi. Saya melihat ada 10 orang yang membawa DSLR. Saya, Bayu dan Budi menggunakan Canon, sedangkan Nata dan Yani berbeda agama, mereka menggunakan Nikon. Lain halnya dengan Adri dan Fayong, mereka benar-benar seorang fotografer. Persenjataan fotografi mereka sangat lengkap, tripod, lampu flash dan beberapa filter lensa. Sebelum memulai perjalanan, kami saling bertukar pikiran mengenai fotografi.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1877" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pematang-Sawah.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pematang-Sawah.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Melintasi Sungai dan Pematang Sawah</div>
</div>
<p>Perjalanan menuju Goa Lalay lebih kurang 2KM. Kami kembali melewati jembatan gantung, kemudian masuk kembali ke dalam desa. Disini kami harus menyeberangi sungai dan menyusuri sawah-sawah. Senang sekali bisa melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain air sedangkan ibu mereka tidak jauh dari mereka sedang mencuci pakaian. Tampak di kanan dan kiri kami, hamparan sawah yang hijau nan asri. Banyak di antara kami yang menjadi bahan kecengan karena terpeleset atau terperosok masuk ke dalam sawah. Senda gurau dan indahnya alam pedesaan membuat perjalanan kami semakin seru dan menyenangkan.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1879" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Goa-Lalay.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Goa-Lalay.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Memasuki Goa Lalay Yang Gelap</div>
</div>
<p>Goa Lalay merupakan goa batu gamping. Dalam bahasa sunda, lalay artinya kelelawar. Untuk masuk ke dalam goa diperlukan senter, karena goa ini gelap sekali. Atasnya terdapat stalaktit yang mengucurkan air yang dingin. Sedangkan dasarnya merupakan sungai bawah tanah yang mengalir cukup deras dan berlumpur. Perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke dalam. Dari sekian banyak peserta, hanya saya yang memberanikan diri membawa kamera ke dalam. Hahaha… takut kali yah, kalo kameranya tercebur ke sungai. Terpaksa deh… jadi fotografer seorang diri di dalam goa. Huehuehe…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pantai Laguna Pari</strong></p>
<p>Setelah puas menikmati gelapnya Goa Lalay, kami kembali lagi melewati pematang sawah dan menyeberang sungai. Di tengah pematang sawah, saya melihat gubuk tua dengan bapak-bapak yang sedang mengasah arit. Saat itu juga saya langsung meminta ijin untuk mengabadikan momen tersebut. Syukurlah bapak itu tidak keberatan.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1880" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Petani-Sawarna.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Petani-Sawarna.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Petani Sawarna</div>
</div>
<p>Pantai sudah terlihat dari atas bukit yang dipenuhi pohon kelapa. Saya percepat langkah kaki yang sudah tebal dengan tanah berlumpur, mendaki bukit berbatu dan akhirnya turun dengan jalan tanah yang becek dan licin, hingga akhirnya mencapai pantai. Medan yang cukup berat membuat banyak peserta jatuh terpeleset.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1881" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Laguna-Pari.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Laguna-Pari.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Jejeran Perahu di Laguna Pari</div>
</div>
<p>Pantai Laguna Pari sangat indah, pantainya luas, sepi dan bersih. &#8220;Hidden Beach&#8221; memang pantas disematkan kepada Laguna Pari. Di pinggiran pantai banyak sekali jejeran rapih perahu nelayan yang sedang berlabuh. Seketika langsung menjadi bidikan favorit untuk mengabadikan gambar. Perahu nelayan yang berwarna warni menjadi pemanis indahnya Laguna Pari.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1882" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Perahu-Nelayan-Laguna-Pari.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Perahu-Nelayan-Laguna-Pari.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Perahu Nelayan Laguna Pari</div>
</div>
<p>Tak terasa, Saya, Bayu dan Nata mulai menjauh dari rombongan. Kami begitu asyik dengan kamera kami. Dari kajauhan, beberapa teman memanggil kami untuk kembali.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ciantir, Karang Taraje dan Tanjung Layar</strong></p>
<p>Di tengah panas yang sangat terik, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Layar untuk mengejar Sunset. Untuk menuju kesana, kami harus melewati Pantai Ciantir dan Karang Taraje. Berbeda dengan Laguna Pari, Ciantir memiliki ombak yang  tinggi. Medan yang kami tempuh pun cukup terjal, banyak sekali karang dan batu-batu besar di bibir pantai dan akhirnya kami harus melintasi bukit yang cukup curam. Ciri khas dari pantai Tanjung Layar ini adalah 2 karang besar.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1883" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Karang-Tanjung-Layar.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Karang-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Karang Tanjung Layar</div>
</div>
<p>Tak terasa, jalan panjang yang kami tempuh cukup menguras tenaga. Makan siang dengan porsi besar tidak mampu menahan rasa lapar di sore hari. Untungnya di Tanjung Layar terdapat sebuah gubuk yang menjual makanan dan aneka minuman. Sambil menunggu sunset, kelaparan yang sangat ini memaksa saya menghabiskan satu mangkok mie rebus. Hihihi…</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1884" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sunset-Tanjung-Layar.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sunset-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Sunset Tanjung Layar</div>
</div>
<p>Semburat jingga mulai terlihat. Teman-teman mulai memilih posisi terbaik untuk mengabadikan sunset. Suasana mendadak sunyi, semua orang begitu serius dengan kameranya masing-masing. Beberapa kali saya mengambil gambar untuk mendapatkan momen terbaik. Selesai matahari terbenam, kami masih menikmati lembayung senja yang terukir di ufuk barat. Thanks God… sunset yang menakjubkan. Benar-benar surga yang tersembunyi.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1885" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lembayung-Senja-Tanjung-Layar.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lembayung-Senja-Tanjung-Layar.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Lembayung Senja Tanjung Layar</div>
</div>
<p>Waktu santai di homestay kami manfaatkan untuk makan malam dan sharing mengenai perjalanan-perjalanan sebelumnya. Jagung bakar dan ikan sudah disiapkan untuk acara barbeque nanti malam. Sedangkan saya… sudah jauh mengelana dalam dekapan mimpi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perkenalan</strong></p>
<p>Setelah sarapan pagi, kami berkumpul bersama di teras rumah. Waktunya acara perkenalan. Seharusnya acara perkenalan diadakan ketika barbeque tadi malam. Tapi karena teman-teman banyak yang bertumbangan akhirnya acara perkenalan dipindahkan ke pagi ini.</p>
<p>Satu per satu, teman-teman mulai memperkenalkan diri. Kebanyakan dari mereka dari Jakarta, ada juga yang dari Bekasi, Serang dan Bandung. Ada salah satu peserta yang agak mencolok diantara kami. Namanya Pak Soewandi dan kami memanggilnya Abah. Walaupun sudah tua, ternyata Abah masih memiliki jiwa muda untuk bergabung dengan kami.</p>
<p>Abah yang juga teman sekamar, mulai bercerita kepada saya. Kata Abah, anak-anak muda jaman sekarang lebih melek teknologi dibandingkan dengan generasi dahulu, sekarang anak-anak muda sudah punya smartphone dan kamera yang canggih. Menyalurkan hobi dengan kegiatan yang positif.</p>
<p>Awalnya Abah merasa canggung dan memiliki perasaan tidak diterima ketika mengikuti perjalanan dengan anak-anak muda. Ternyata persepesi Abah salah, anak-anak muda yang menyukai perjalanan mempunyai jiwa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Abah bahkan berencana untuk mengikuti perjalanan-perjalanan berikutnya bersama teman-teman Backpacker Indonesia. Semangat Abaaah!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pasir Putih</strong></p>
<p>Tidak seperti hari kemarin ketika kami menuju Tanjung Layar. Untuk menuju ke Pasir Putih, kami langsung melewati pintu belakang. Lebih kurang 10 menit, kami sudah mencapai pantai. Pantai Pasir Putih memang luar biasa indah. Garis pantainya panjang. Di depan sebuah gubuk terdapat satu buah tanaman dan bangku kayu. Beberapa teman mulai bercerita mengenai keberadaan tanaman dan bangku kayu tersebut. Menurut mereka dua objek itu merupakan objek terkenal di Pasir Putih dan sebagai tempat foto wajib yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Pasir Putih.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1886" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pasir-Putih.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Salah Satu Objek Terkenal di Pasir Putih</div>
</div>
<p>Waktu yang cukup banyak, saya manfaatkan untuk mengambil gambar beberapa teman dan berguru fotografi bersama Adri. Hasil fotonya Adri memang bagus. Membuat kami semua terpana. Adri yang pernah belajar ke Darwis Triadi ini mulai mengajarkan kepada kami, bagaimana cara mengambil foto yang bagus di pantai. Adri bahkan meminjamkan lampu flash dan mengatur beberapa setingan yang pas di kamera saya. Wow… hasil jepretan saya mendadak lebih bagus kali ini. Hihihi…</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1887" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Foto-Bersama-Pasir-Putih.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Foto-Bersama-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Foto Bersama di Pasir Putih</div>
</div>
<p>Lagi-lagi, saya orang terakhir yang pulang menuju Homestay. Di tengah perjalanan menuju Homestay, saya dan Cendy mengobrol mengenai kondisi Sawarna. Cendy yang sudah pernah ke pantai Sawarna menyayangkan perubahan drastis di Sawarna. Masyarakat sudah tahu mengenai bisnis, harga sewa homestay dan guide mulai meroket naik. Beberapa tempat yang dulunya kosong, saat ini sudah berdiri beberapa homestay. Beberapa kali saya melihat bekas bungkus permen, coklat dan botol air mineral di tepi jalan, ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Semakin banyak orang mengunjungi Sawarna, semakin terkenal pula Sawarna. Semoga saja, Sawarna akan tetap seperti ini.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-2128" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Berpose-di-Pasir-Putih.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Berpose-di-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="500" height="310" /></a>
	<div>Berpose di Pasir Putih</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Traveller</strong></p>
<p>Perjalanan bersama teman-teman Backpacker benar-benar memberikan pengalaman baru bagi saya. Bertemu teman-teman baru yang hebat, rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat dan sarana bertukar pikiran bagi sesama pencinta fotografi.</p>
<p>Barang-barang sudah kami kemasi. Bus pun sudah menunggu kami di ujung jembatan gantung Sawarna. Makan siang saat itu terlihat begitu akrab. Setiap orang mulai bertanya “Kemana nih, travelling selanjutnya?” Seolah menjadi pertanyaan wajib seorang Traveller.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span class="smarterwiki-popup-bubble smarterwiki-popup-bubble-active" style="top: 1313px; left: 29px; margin-left: -54px; margin-top: -60px; opacity: 0.25;"><span class="smarterwiki-popup-bubble-body"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-container"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links"><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Google" href="http://www.google.com/search?q=dia" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://www.google.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Surf Canyon" href="http://search.surfcanyon.com/search?f=nrl1&amp;q=dia&amp;partner=fastestfox" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="data:image/x-icon;base64,AAABAAEAEBAAAAEAIABoBAAAFgAAACgAAAAQAAAAIAAAAAEAIAAAAAAAAAQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8AycnKOmdmaastLTDuIB8j/yAfI/87Oz7eg4OFi+no6Rj///8A////AP///wD///8A////AP///wD6+voDfHx+kyAfI/8gHyP/LCsv+FJRVPhHRkr6IiEl/SAfI/8tLTDuuLe5T////wD///8A////AP///wD///8AfHx+kyAfI/8wLzP4qqqr+Pv7+////////////+3t7f+Dg4X9IB8j/yMiJvq/vr9H////AP///wD///8AyMfIPyIhJf8wLzP429vb+P///////////////////////////////66ur/0gHyP/ODc74////wD///8A////AHRzda4wLjH/rKyt+P/////8/Pz/h4eJ/z8+Qv9GRUn/rq6v////////////iIiK/6ijnP/269Y/////AP///wBQTlDzR0VI+vv7+///////oqGh/zg2Of8hICT/IB8j/yAfI//c3Nz/7de7/9alX//GfhL/48KOfv///wD///8AWFZX/3Vzdfr//////////4iGhv9SUFL/MC8z/2ZlaP+1jmz/unMv/7NjFf+zYxX/s2MV/9atin7WrYp+1q2KfmdlZf91c3T8//////////+npaT/bWtr/0tJS/81Mzf/jIB5/9Gidv+/eDD/v3gw/8B6M//NlWD/x4pO/8WFRvqLiIjXbmxs/+rq6v//////6Ofn/4yJiP9lY2T/Q0JE/0tKTf/09PT/9uvc/+K5gP/apFL/9+zaP////wD///8AwcDAe357e/+koqL9///////////09PT/zs3N/8jHx//5+fn//////+7u7/9/f4H/4tfC//rv2T////8A////APb29g+YlZXjhYKB/7W0s//9/f3//////////////////////+vr6/9paGn/NTQ3/319f6f///8A////AP///wD///8A6OjnMpmWle6MiYf/lZOS/8XEw//b2tr/0dHR/6elpv9hYGH/TkxO/25sb8L09PQM////AP///wD///8A////AP///wDv7+4jsa6tu5KPjf+Kh4b/gX59/3h2df9vbW3/amho96alpof4+PgH////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wDs6+srz87Nb8XDw37Av75+zMvKXvLy8hT///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A////AP///wD///8A//8AAPA/AADAHwAAgA8AAIAHAAAABwAAAAcAAAAHAAAAAAAAAAcAAIAHAACABwAAwA8AAOAfAAD//wAA//8AAA%3D%3D" alt="" /></a></span><span class="smarterwiki-popup-bubble-links-row"><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search DuckDuckGo" href="http://duckduckgo.com/?q=dia" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="https://ff.duckduckgo.com/favicon.ico" alt="" /></a><a class="smarterwiki-popup-bubble-link" title="Search Wikipedia" href="http://www.google.com/search?hl=com&amp;btnI=I%27m+Feeling+Lucky&amp;q=dia+wikipedia" target="_blank"><img class="smarterwiki-popup-bubble-link-favicon" src="data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABQAAAATCAYAAACQjC21AAAAAXNSR0IArs4c6QAAAAZiS0dEAP8A/wD/oL2nkwAAAAlwSFlzAAAIpwAACKcBMsYCAwAAAAd0SU1FB9kFEwgQLXKnj9oAAAPsSURBVDiNdVRZSGRXEH1Joz8icSIMJsEQEvKvov4ICoOYIAp+KKISkLiAgij5UGOMjgoug6CiKC64i/sSpVHcl7jv7W6722pcWmyNoqBW6hRpyYSZC8W7975bdU+dOrcUIlL+axYWFq+SkpLybWxsYo17VlZWX/H6DebOzs4/ent7/+Lu7v7z/31h7y8U5fvV1VWNra3tIObGvZqamtaHh4fHxMTExb29vcejoyMKCwt7jIqKWuD/bz4Y0MXF5e319bU2JyfngA99x/YJ22empqZuERERKwcHB9Td3U37+/u0srJCc3NzNDIyQk1NTVcqleonPvv6JSCPL87OznQ8p+TkZC2vv2GzcnNz+83a2joqLy9vCQFnZ2dpfX2dlpaWqLe3lzo7O+WStLS0ORMTE7+XgCkpKTX07/Dz86PIyEhDVlaWISMjgxISEmRfp9PRzs4O7e7uEtMi6EZHRyVweHg4gp6bm5tbKK958PlbODES+ZmZmQmkxjsE2d3dHWm1WsrOzqa6ujoaGhqigYEBGh4epvT0dCovLyd7e3sfhR3fGR0vLy9fULa0tMj8/PycNBoNcVGIi0NxcXHU09NDY2Nj1N/fL2mXlZXJJV5eXkXK9va2DojggIDPz8/iuLGxQcvLy8IXEN7c3JBer5f14uKiIOzr66P29naqqqqiiooK8vf3n1aYbP3ExIQcZkkIKgcHBwJ/BoNB1ltbW8IbF466urrk3OTkpFhDQ4MEZA7Jx8fnSGEJ6I2pHh4eyvf2ViglVBbBwBMQb25u0sLCgnAXExMjVLS1tVFJSYmkHRoa+pfCmydwPjk5EYf7+3txwBoVRTFmZmZetFdcXEyBgYGUm5srVa6traWioiIqKCig4ODgVYVJnUE6LGpBhLQQDMjAHeaQzPT0tASG7iorK0U2kAwC4hIE9PT0HFZYvB7j4+NPQHlxcSGFOD4+Fvnw8xKOUGnwxAWkqakpqSz7CJ/V1dXEmiV+/+To6Pi7CJvFq356ehIHaA2ogPjq6krSRlVbW1ulqoODgyIbyMfX15dKS0spNjYWAf+2tLT8UgLyJAIPHinPz89LFcEXJIJUcdHa2ppIBAjVajWlpqYSNwcqLCwUdEFBQX9+ysP4llXcSf7gFO6A8PT0lJqbm4UXvB6kBc6QKgz/sAfu8Ers7OzecYxv3+s2PD53dXX9FVUFCiCqr6+njo4OSRMBwSN3FylKfn4+MQgKCAhAC1N9rB+aODk5vWUU5+ARUoHu8CpQ0cbGRjFcxA3kkjtRAft8/dEGazRuRabcZH8ICQkpjo6OVjNHmvj4+GXuiyMeHh453ATCzMzMXn3I9x8oCiuuorpqawAAAABJRU5ErkJggg==" alt="" /></a></span></span></span></span></span><span class="smarterwiki-popup-bubble smarterwiki-popup-bubble-active smarterwiki-popup-bubble-detailed" style="margin-top: -150px; margin-left: -300px; top: 1313px; left: 29px; opacity: 0.25;"><span class="smarterwiki-popup-bubble-body"><span class="smarterwiki-popup-bubble-definition"><strong>Wookieepedia:</strong> Dia was a Human woman from Taris, who worked in Javyar&#8217;s Cantina as a waitress. <a id="dd-cite-link" href="http://duckduckgo.com/?q=dia"><strong>?</strong></a></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/santai-di-pantai-surga-sawarna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Singapore City Explore</title>
		<link>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 14:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1768</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kali pertama saya mengunjungi negara Singapura. Awalnya karena diajak oleh sahabat yang baru saja menetap disana untuk bekerja, selain itu juga karena cuti kantor yang masih tersisa 7 hari. Cuti akhir tahun yang biasa saya ambil menjelang natal hingga tahun baru sengaja tidak saya ambil. Rencana akan saya gunakan di liburan imlek selama 2 hari (20 dan 24 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah kali pertama saya mengunjungi negara Singapura. Awalnya karena diajak oleh sahabat yang baru saja menetap disana untuk bekerja, selain itu juga karena cuti kantor yang masih tersisa 7 hari. Cuti akhir tahun yang biasa saya ambil menjelang natal hingga tahun baru sengaja tidak saya ambil. Rencana akan saya gunakan di liburan imlek selama 2 hari (20 dan 24 Januari) dan sisa 5 hari akan saya gunakan untuk traveling berikutnya. Ahh.. emang paling enak deh kalo punya cuti tidak hangus di tahun baru.</p>
<p><strong>Persiapan</strong></p>
<p>Persiapan pertama adalah akomodasi, baik tiket pesawat maupun penginapan. Karena disana saya menginap di apartemen teman, jadi biaya penginapan bisa saya skip.. yeaay. Setelah membandingkan harga Air Asia (1,1 juta), Lion Air (1,2 juta) dan Garuda Indonesia (1,3 juta), akhirnya pilihan jatuh ke.. hmm.. saya kira anda sudah bisa menebak maskapai mana yang akan saya pilih. Hahaha&#8230;</p>
<p>Persiapan berikutnya adalah mata uang. Saya terlalu mengganggap remeh untuk hal yang satu ini. Seringnya saya melihat 2 money changer di lobby kantor, membuat saya berpikiran &#8220;nanti aja deh, besok juga masih ada waktu&#8221; setiap ada kesempatan untuk menukar mata uang. Hasilnya, satu hari menjelang keberangkatan 2 money changer itu kehabisan stok Singapore Dollar dan waktu menunjukkan jam 5 sore. Selesai jam kantor, saya langsung menuju Mall Ambassador dan mendapatkan S$300. Semoga cukup untuk 5 hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keberangkatan/ Hari 1</strong></p>
<p>Jam 10 pagi saya sudah berada di halte Damri depan terminal Blok M. Cuaca pagi itu sangat cerah dan jalanan cukup lengang. Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta Terminal 2E ditempuh dalam waktu 45 menit. Waktu luang di bandara saya sempatkan untuk mengecek beberapa email dan kerjaan kantor. Ketika check-in, saya hanya menunjukkan passport kepada petugas dan tiket langsung dicetak. Tidak ada lagi pertanyaan mengenai booking code dan tiket dicetak sangat minimalis.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1800" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Garuda-Indonesia.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Garuda-Indonesia.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Garuda Indonesia Terminal 2E</div>
</div>
<p>Akhirnya, saya bisa juga merasakan maskapai kebanggaan bangsa ini. Haha.. lebay dikit boleh dong yah. Sampai teman-teman kantor tidak ada yang mau menyebut saya backpacker. Mereka bilang, saya lebih cocok jadi turis ketimbang backpacker. &#8220;Backpacker mana ada yang naik Garuda Indonesia&#8221;. Hahaha&#8230; Yah, buat sebagian orang merasa bahwa terbang dengan Garuda Indonesia adalah sesuatu hal yang mewah dan tidak terjangkau, apalagi untuk backpacker. Kalo kita jeli, terkadang harga tiket Garuda Indonesia tidak terpaut jauh dengan maskapai lainnya.</p>
<p>Makan siang dan minuman yang bisa kita pilih sendiri, in-flight entertainment dan pramugrari yang ramah.  Baru kali itu seorang pramugari menyapa dan memanggil nama saya dengan ramah, hanya untuk meyakinkan apakah saya memesan makan siang khusus atau tidak. Absolutely.. Garuda Indonesia Experience.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Changi Airport</strong></p>
<p>Wah, kalo udah di Changi Airport, bandara tercinta Soekarno Hatta berasa gak ada apa-apanya. Bandara yang pernah menyandang &#8220;The Best Airport In The World&#8221; ini benar-benar mewah dan memanjakan pengunjung.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1801" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Changi Airport</div>
</div>
<p>Di Terminal 3, semua tersaji dengan lengkap, mulai dari restoran, lounge, coffee shop, boutiqe, business center, duty free, free internet access, quite room hingga kamar mandi pun tersedia. Untuk berpindah antar terminal, Changi memiliki fasilitas transportasi yang dinamakan Skytrain. Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum, bandara sebegitu luasnya&#8230; karpet semua!!</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1802" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport3.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport3.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Suasana di Changi Airport</div>
</div>
<p>Kekaguman saya pada bandara Changi hampir melupakan saya untuk menghubungi Indra, sahabat saya, yang sudah menunggu di foodcourt, tepat di bawah bandara.  Ehh.. ternyata ada Indri, adiknya Indra, yang sedang liburan selama 3 minggu. Sambil ngobrol kami bertiga makan malam di pastamania yang merenggut S$9 pertama saya.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1803" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Airport2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Suasana di Changi Airport</div>
</div>
<p>Untuk komunikasi, kebetulan operator yang saya gunakan memberikan gratis roaming selama 3 hari untuk pelanggan BB full service. Tapi&#8230;tapi&#8230; kenapa BBM tidak online di BB saya?!!! Kekesalan ini memaksa saya membeli Starhub Prepaid seharga S$15.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MRT</strong></p>
<p>Salah satu transportasi utama di Singapura adalah Mass Rapid Trans (MRT). Dengan MRT, kita bisa mengelilingi negara yang luasnya sedikit lebih besar dari Jakarta ini, dimana jaringannya menjangkau hampir seluruh Singapura, dari Utara ke Selatan dan dari Timur ke Barat. Kita tidak akan kesulitan untuk mencapai tempat dimanapun, sebab Singapura memiliki sistem transportasi publik yang terintegraasi. Jadi tidak mungkin kalau ada orang nyasar di Singapura. Hahaha&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1804" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Mass Rapid Transit</div>
</div>
<p>Indra menyarankan saya untuk membeli EZ-link, prepaid card seperti BCA Flazz yang akan terdebet automatis setiap kali menggunakan MRT atau Bus. Harganya S$12 yang dapat dibeli di setiap loket stasiun. S$5 untuk harga kartu dan S$7 untuk deposit.</p>
<p>MRT Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu tranportasi massal terbaik. Keamanan, kenyamanan, kebersihan dan juga panduan bagi pengunjung patut diacungi jempol. Kata Indra, kebetulan hari ini adalah hari libur sebelum tahun baru Sincia, jadi MRT agak kosong dan tidak padat seperti hari kerja. Stasiun MRT di Singapura umumnya  menyatu dengan pusat-pusat perbelanjaan dan terintegrasi dengan Bus yang sama-sama menggunakan EZ-link.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1805" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Mass Rapid Transit</div>
</div>
<p>Indra mengajak saya ke <strong>City Hall</strong> terlebih dahulu sebelum kami pulang menuju apartemen yang terletak di<strong> Telok Blangah Way</strong>. Disini kami berjalan hingga Esplanade dan beristirahat di pinggiran sungai sambil memandangi indahnya gedung-gedung pencakar langit di malam hari. Di sebelah kiri tampak Marina Bay Sands dan di sebelah kanan tampak dari kejauhan, ikon negara Singapura, Merlion. City Hall menjadi tempat pertama yang saya kunjungi di Singapura.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1838" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Night-City.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Night-City.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Night City</div>
</div><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Apartemen</strong></p>
<p>Betapa beruntungnya saya, jalan-jalan ke Singapura tidak perlu lagi memusingkan biaya pengingapan. Ada benarnya juga kata teman, jalan-jalan kali ini saya tidak pantas disebut Backpacker ataupun Flashpacker. Lebih tepatnya… Turis! Hahaha&#8230;</p>
<p>Apartemen Indra terletak di Telok Blangah Way, cukup besar dengan 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Saya mencoba mencari-cari dimana tempat untuk menjemur pakaian karena semua apartemen tidak ada satu pun yang memiliki teras atau balkon. Setelah saya melongok ke luar jendela, barulah saya menemukan jawabannya. Ternyata masing-masing apartemen disediakan 3 sampai 4 lubang di sisi luar jendela, yang nantinya lubang-lubang itu bisa dimasukkan bambu yang cukup panjang. Masing-masing bambu cukup untuk 4 sampai 5 potong pakaian. Jemuran yang unik dan kreatif.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1806" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Apartment.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Apartment.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Apartemen di Telok Blangah</div>
</div>
<p>Walaupun di kawasan ini banyak sekali blok apartemen, tetapi ruang terbuka hijau tetap diperhatikan dengan baik dan kondisinya sangat terawat. Tamannya terlihat asri. Areal parkir pun tidak terlalu luas dan tertata dengan rapih. Sangat kontras dengan kondisi kebanyakan apartemen di Indonesia. Jangankan ruang terbuka hijau, areal parkir sepertinya tidak mampu menampung semua penghuni. Hihihi&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 2</strong></p>
<p>Pagi ini kami berencana sarapan di jembatan <strong>Henderson Wave</strong>. Sarapan yang kami bawa berupa roti Prata yang berasal dari India dengan isi sayuran, telur dan daging. Ditambah dengan siomay cepat saji yang sudah kami masak terlebih dahulu.</p>
<p>Untuk menuju ke Henderson Wave, kami harus menyusuri <strong>Mount Faber Park</strong> terlebih dahulu dengan menapaki undakan anak tangga yang sepertinya tidak ada habisnya. Mount Faber merupakan bukit tertinggi yang ada di Singapura. Di Mount Faber terdapat <strong>Singapore Cable Car</strong> atau biasa yang kita kenal dengan kereta gantung. Ya.. kurang lebih mirip dengan kereta gantung yang ada di taman mini atau di ancol.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1808" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Mount Faber</div>
</div>
<p>Dengan kereta gantung ini kita bisa melihat pemandangan kota, pelabuhan, Sentosa Island dan juga pulau Batam. Untuk tiketnya sendiri sebesar S$24 untuk sekali jalan dan S$26 untuk bolak balik ke Mount Faber. Disini juga terdapat teropong yang terletak di Mount Faber Loop untuk melihat selatan Singapura. Jangan lupa siapkan koin untuk menggunakan teropong tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1807" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mount-Faber.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Mount Faber Park</div>
</div>
<p>Henderson Wave merupakan jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapura. Tingginya 36 meter dari permukaan jalan dan panjangnya 300 meter. Jembatan ini menghubungkan taman di Mount Faber dan Telok Blangah Hill. Disebut wave karena desainnya yang unik, mirip dengan bentuk gelombang.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1809" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Henderson Wave</div>
</div>
<p>Dengan napas yang terengah-engah, akhirnya kami sampai juga diujung jembatan. Cukup banyak pengunjung yang berada di Henderson Wave, ada yang jogging, ada juga yang duduk sambil makan-makan (waah.. samaan nih) dan beberapa turis yang sedang asik berfoto. Kebersihannya sangat terjaga, tidak ada sampah sedikitpun dan keamanannya juga mantap. Setiap masing-masing lengkungan/ tempat duduk terpasang CCTV dan pagarnya pun cukup tinggi, sehingga aman untuk anak-anak. Material jembatannya itu lhooo… kayu semua. Walaupun terbuat dari kayu, saya tidak mendengar bunyi decitan atau suara “ngeekk.. ngeekk” sedikitpun. Kuereenn banget deh. Kapan yah negara Indonesia bisa bikin jembatan sekeren itu. Hahaha…</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1810" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Henderson-Wave2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Bersantai di Henderson Wave</div>
</div>
<p>Perut kenyang ditambah semilir angin hutan yang sejuk membuat saya sedikit agak mengantuk dan malas untuk kembali ke apartemen. Di tengah perjalanan Indra menanyakan itinerary/ rencana perjalanan saya selama di Singapura. Bingung juga jawabnya, karena saya hanya mencatat semua Place of Interest yang saya dapat dari internet. Mengenai harus kemana terlebih dahulu, saya benar-benar tidak tahu. Iwan melemparkan ide ke saya “Bagaimana kalo kita ke Bugis Street dan Mustafa Centre, gw mo beli oleh-oleh buat keluarga gw di Jakarta, selebihnya nanti kita bisa jalan-jalan ke tempat lain”. Ah… good idea, Iwan!</p>
<p>Kali ini hanya saya, Iwan dan Indri yang pergi ke Bugis. Untuk menuju ke sana, kami harus menuju ke Tiong Bahru Plaza terlebih dahulu menggunakan bus. “Tut..” terdengar suara EZ-link yang saya tap di mesin pencatat automatis ketika saya masuk ke dalam bus. Sebelum turun dari bus, saya harus menge”tap” lagi ke mesin tersebut. Di mesin tersebut akan terlihat berapa tarif dari Telok Blangah hingga Tiong Bahru dan sisa saldo yang saya miliki. Benar-benar &#8220;Kondektur-less&#8221; Hihihi&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1813" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT-Bus.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/MRT-Bus.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>MRT Bus</div>
</div>
<p><strong>Bugis Street</strong><strong> </strong>merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal selain Orchard. Letaknya berada di antara Victoria, Queen dan Rocchor Street. Dulunya, sekitar tahun 1950-an, kawasan ini adalah pasar malam yang menawarkan pilihan berbagai jenis pakaian dan jajanan murah. Sebelum masuk ke dalam, saya sudah disapa oleh kanopi besar yang bertuliskan <strong>“Bugis Street: the Largest Street Shopping Location in Singapore”</strong>. Wedew!! Kawasan Bugis lebih mirip seperti Tanah Abang, Mangga Dua ataupun Blok M. Barang dagangan yang ditawarkan berupa souvenir seperti gantungan kunci dan boneka mungil hasil kerajinan tangan, t-shirt yang bertuliskan khas Singapura, jam tangan serta pakaian. Beberapa kali saya mendengar celotehan orang Indonesia di Bugis. Wow, banyak juga orang Indonesia dimari. Hasil muter-muter di Bugis, saya membeli 3 kaos seharga S$10 dan gantungan kunci sebanyak 15 buah seharga S$10. Selain Bugis Street, juga terdapat pusat perbelanjaan modern <strong>Bugis Junction</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1811" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Bugis.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Bugis.jpg" alt="" width="500" height="280" /></a>
	<div>Bugis Street</div>
</div>
<p>Dari Bugis, kami langsung menuju <strong>Mustafa Centre</strong>. Tidak jauh berbeda dengan Bugis, di Mustafa Centre adalah surganya belanja. Supermarketnya guede bangeeed. Lokasinya berada di Syed Ali Road di kawasan <strong>Little India</strong>. Mustafa Centre adalah satu-satunya tempat belanja di Singapura yang buka 24 jam. Kalau mau berburu oleh-oleh coklat atau cemilan, disinilah tempatnya. Semua cokelat dan makanan tumplek blek jadi satu. Saya, Iwan dan Indri mulai berpencar dan sibuk sendiri-sendiri. Saking banyaknya coklat dan harga yang beragam, Indri mulai kebingungan. Iwan mulai mengambil beberapa bungkus coklat kesukaan untuk keluarga. Sedangkan saya mengambil 1 bungkus besar dan 1 bungkus kecil cokelat Herseys, ditambah 2 kacang campur ukuran besar. Total S$30.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1812" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mustafa-Centre.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Mustafa-Centre.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Mustafa Centre</div>
</div>
<p>Mendung hitam sudah bergelayut di atas kepala ketika kami keluar dari Mustafa Centre. Kami bertiga mulai melapar. Iwan mengajak kami untuk makan Nasi Briyani yang lokasinya tidak jauh dari Serangoon Plaza. Woow.. 1 porsi Nasi Briyani memang luar biasa. Nasi yang dicampur dengan Ayam Kari ini memang lebih cocok untuk 3 orang. Hahaha.. harganya pun sangat murah, cukup S$3 saja.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1814" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Nasi-Briyani.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Nasi-Briyani.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Nasi Briyani</div>
</div>
<p>Kami tidak berhenti sampai disini untuk berburu oleh-oleh. Tujuan berikutnya adalah <strong>Chinatown</strong>. Di kawasan ini semuanya serba merah dengan pernak-pernik khas China. Semua jalan disini disulap menjadi lapak-lapak kecil yang menjual souvenir, cinderamata dan perlengkapan imlek. Saya tiba-tiba melihat sebuah souvenir gantungan kunci dengan tulisan “30 for $10”. Hahh… ternyata disini lebih murah dibandingkan dengan di Bugis! Penjual di Chinatown rata-rata fasih berbahasa Indonesia. Berasa di Glodok atau Pasar Pagi Mangga Dua. Hahaha&#8230;</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1815" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Chinatown</div>
</div>
<p>Di tengah hiruk pikuk Chinatown, Indra menghubungi kami dan berencana ke <strong>Sentosa Island</strong> untuk menonton pertunjukkan Songs of the Sea. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 5.30 sore, sedangkan pertunjukan dimulai jam 8.40. Saat itu juga kami bergegas ke sana. Untuk menuju Sentosa, kami harus terlebih dahulu ke Vivo City. Hmm… saya mencoba mengingat-ingat.. “Sepertinya ada National Geographic disini”. “Iyah, ada di Lantai 2” sahut Indri. Cool… semuanya serba National Geographic, mulai dari tas, sepatu, kaos, celana, kemeja sampai majalah. Tapi..  harganya benar-benar membuat saya galau… satu kaos dihargai S$50. Aiiih… mahalnya.</p>
<p>Tiket pertunjukkan Song of the Sea di Sentosa Island dapat dibeli di Vivo City seharga S$10. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan Sentosa Express dan turun di Beach Station. Karena waktu pertunjukkan masih lama, perjalanan kami teruskan hingga Waterfront Station. Disini kami manfaatkan untuk berfoto-foto di depan halaman Universal Studio.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1817" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sentosa-Island.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Sentosa-Island.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Sentosa Island</div>
</div>
<p><strong>Songs of the Sea</strong> adalah atraksi pantai yang merupakan gabungan antara pertunjukan musik, permainan air dan cahaya laser yang spektakuler serta kembang api yang memukau. Benar-benar canggih! Pertunjukan ini bercerita tentang seorang pemuda bersuara merdu bernama Li. Bersama teman-temannya, mereka bernyanyi dalam usaha untuk membangunkan Putri Ami yang terkena kutukan. Maskot Songs of the Sea adalah seekor ikan yang bernama Oscar.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1816" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Song-of-the-Sea.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Song-of-the-Sea.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Song of the Sea</div>
</div>
<p>Kalau di Indonesia, mungkin lebih mirip dengan air mancur yang ada Grand Indonesia. Hanya saja Songs of the Sea ada alur ceritanya. Saya mencoba membayangkan, seandainya di Indonesia ada pertunjukkan serupa di sekitar Monas atau Bundaran HI. Pasti seru abis dan tentunya… gratis!</p>
<p>Luar biasa hari ini, dari pagi sampai malam, tidak ada istirahat sedikitpun. Kaki berasa mau copot dan badan serasa remuk redam. Pertunjukan Songs of the Sea menutup perjalanan saya di hari pertama. Piuuuuhhh…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 3</strong></p>
<p>Lelahnya jalan-jalan kemarin, membuat saya bangun agak siang hari ini. Sambil berleha-leha di atas tempat tidur, saya ambil tablet dan menandai beberapa tempat yang sudah saya kunjungi kemarin.</p>
<p>Pada awalanya saya mencoba membuat itinerary sebaik mungkin, tetapi semuanya menjadi tidak berguna sama sekali. Sekarang saya hanya memperhatikan, tempat mana yang sudah dan yang belum saya kunjungi. Menurut saya itu lebih baik dengan 5 hari yang saya miliki.</p>
<p>Selesai makan siang, saya dan Indra segera menuju <strong>Clarke Quay</strong> menggunakan Bus. Letaknya berada di pinggir sungai Singapura atau biasa disebut dengan Riverside. Dari <strong>Riverside point</strong>, saya menyeberang sungai menuju Roberton Quey, Liang Court dan beristirahat sejenak di Clarke Quay.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1819" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Clarke Quay</div>
</div>
<p>Tampak <strong>River Cruise</strong> atau <strong>River Boat Tours</strong> berjejer rapih menunggu penumpang. Dengan River Cruise kita bisa melihat banyak Place of Interest sekaligus dengan melintasi sungai Singapura, dari Riverview hingga Singapore Flyer. Saya dan Indra tidak jauh berbeda dengan kebanyakan wisatawan yang ada di perahu tersebut, hanya saja kami berjalan kaki. Hahaha&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1820" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Clarke-Quay.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Clarke Quay</div>
</div>
<p>Dari Clarke Quay, perjalanan saya lanjutkan hingga ketemu perempatan Hill Street dan River Valley Road. Menyeberang North Bridge Road, saya bertemu gedung <strong>Parliament House</strong>. Salah satu lanskap kota Singapura yang tidak boleh anda lewatkan. Saya kembali menyeberang menuju <strong>Boat Quay</strong> dan masuk ke jalan kecil dimana kanan dan kiri saya banyak sekali rumah makan dengan pemandangan sungai Singapura.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1823" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Boat-Quay.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Boat-Quay.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Parliament House &amp; Boat Quay</div>
</div>
<p>Di pinggiran sungai, saya menemukan patung <strong>People of The River</strong> yang bercerita mengenai anak laki-laki berjumlah 5 orang dengan telanjang meloncat untuk berenang di sungai.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1821" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Fullerton.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Fullerton.jpg" alt="" width="500" height="280" /></a>
	<div>The Fullerton &amp; People of The River</div>
</div>
<p>Setelah puas mengambil gambar, saya lanjutkan kembali menuju <strong>The Fullerton Singapore</strong> dan akhirnya berhenti di Merlion. <strong>Merlion</strong> menjadi salah satu titik destinasi favorit para wisatawan. Lokasi ini mampu membingkai lanskap cantik di sekitarnya, seperti <strong>Esplanade</strong> dan <strong>Marina Bay Sands</strong>, entah itu siang ataupun malam hari. Saat itu banyak sekali wisatawan yang berburu foto dengan latar belakang Merlion. Saya dan Indra harus bersabar dan sigap untuk mendapatkan gambar terbaik. Alih-alih menunggu wisatawan selesai berfoto, saya dan Indra malah diminta untuk mengambil gambar mereka. Hahaha&#8230;</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1822" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Merlion.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Merlion.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Merlion</div>
</div>
<p>Panas yang cukup terik tidak menghalangi niat saya menyusuri sungai yang indah ini. Setelah menyebrangi <strong>Esplanade Bridge</strong>, saya beristirahat sejenak di Esplande. Cesss… adem. Makan siang sebentar di Thai Express, lalu melanjutkan jalan kaki hingga <strong>Singapore Flyer</strong>, melintasi jembatan <strong>The Helix</strong> yang unik, masuk ke <strong>Art Science Museum</strong> dan berakhir di <strong>Marina Bay Sands</strong>.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1839" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/The-Helix.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/The-Helix.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>The Helix</div>
</div>
<p>Sayang sekali, ketika kami mengunjungi Singapore Flyer, wahana ini sedang ditutup karena cuaca buruk. Huhuhu… gagal deh melihat Singapura dari ketinggian.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1824" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Flyer.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Flyer.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Singapore Flyer and Museum</div>
</div>
<p>Kemarin malam, Indra bercerita mengenai mal <strong>Lucky Plaza</strong> yang berada di <strong>Orchard</strong>. Di mal itu banyak sekali orang-orang Indonesia dan ada beberapa tempat yang menjual makanan Indonesia. Dengan kaki yang masih agak pegal, saya pun mengiyakan ajakan Indra untuk makan malam disana. Sekilas Lucky Plaza tidak jauh berbeda dengan ITC-ITC yang ada di Jakarta dan ternyata benar&#8230; banyak juga orang Indonesia disini. Apalagi ketika saya menuju ke lantai 2, suara riuh dengan bahasa yang saya kenal semakin jelas.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1825" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Orchard Road di Malam Hari</div>
</div>
<p>Kami berhenti di salah satu tempat makan yang bernama <strong>Resto Surabaya</strong>. Wow.. restoran ini penuh sekali dan tentu saja isinya orang Indonesia semua. Resto Surabaya dan Indo Kitchen merupakan tempat makan yang wajib anda kunjungi jika anda berkunjung ke Lucky Plaza.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1826" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lucky-Plaza.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Lucky-Plaza.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Lucky Plaza - Ayam Penyet Resto Surabaya</div>
</div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hari 4</strong></p>
<p>Entah kapan hujan mulai membasahi bumi. Suara rintik hujan makin lama semakin jelas, membuat saya terjaga. Ah… bangun siang lagi! Melihat ke luar jendela, sepertinya hujan akan awet hingga sore, ditambah udara dingin yang membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Sambil mengecek beberapa tempat yang belum saya kunjungi di tablet, saya teringat kata-kata teman kantor yang bercerita mengenai bangunan Gereja di sekitar Victoria Street.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1827" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Halte-Bus.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Halte-Bus.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Waiting for the Bus</div>
</div>
<p>Di tengah rintik hujan, saya tetap memaksakan diri untuk pergi. Sesampainya di Raffles City Shopping Center, saya sedikit agak bingung mau kemana, sampai-sampai saya melewatkan dua kali lampu hijau di persimpangan jalan. Hihi..</p>
<p>Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah <strong>Chijmes</strong>. Lokasinya persis di seberang <strong>Raffles City Shopping Centre</strong>. Kalo kita masuk dari pintu samping atau Bras Basah Road, tidak ada kesan istimewa dari tempat ini, yang terlihat hanya café dengan beberapa meja dan kursi yang tersusun rapih. Tetapi begitu melangkahkan kaki ke dalam, barulah terlihat bangunan utama dari Chijmes dengan atap yang menjulang tinggi dan pilar-pilar yang besar. Sekilas tempat dengan gaya artistektur neo-klasik ini tidak ada kesan sebagai rumah makan, tetapi begitu saya menuju ke tengah halaman, mulailah terlihat beberapa restoran, café dan bar di dalamnya. Chijmes diambil dari <strong>CHIJ</strong>, akronim dari <strong>Convent of the Holy Infant Jesus</strong> atau Biara Bayi Kudus Yesus. Chijmes dulunya adalah biara dan kapel Gereja katolik.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1828" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Church.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Church.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Cathedral</div>
</div>
<p>Tepat di seberang Chijmes berdiri<strong> Cathedral of the Good Shepherd </strong>yang merupakan<strong> </strong>Gereja Katolik tertua di Singapura. Berbeda dengan Chijmes, gaya arsitektur Cathedral of the Good Shepherd lebih dipengaruhi gaya Rennaisance. Tidak jauh dari situ, terdapat <strong>St. Joseph Church</strong> yang mengadopsi gaya arsitektur Gothic dengan dominasi warna putih. Berjalan ke Queen Street, saya menyambangi <strong>Church of St Peter and St Paul</strong> yang lokasinya berdampingan dengan <strong>Singapore Art Museum</strong>.</p>
<p>Kembali lagi ke Victoria Street, saya mengambil arah menuju Stamford Road dan bertemu <strong>St. Andrew’s Cathedral</strong>. Tadinya saya pikir, ini Gereja Katolik juga. Ternyata bukan. St. Andrew&#8217;s Cathedral adalah Gereja Anglikan terbesar dan pertama di Singapura. Gereja yang baru saja merayakan hari jadinya ke 150 tahun ini memiliki halaman yang sangat luas dengan gaya arsitektur neo-gothic dan eksterior serba putih. Terlihat begitu megah, sekaligus menawan. Sayang sekali, St. Andrew&#8217;s Cathedral sedang tutup selama 2 hari.</p>
<p>Setelah puas memanjakan mata dengan berbagai macam arsitektur Gereja, saya kembali lagi menuju MRT City Hall yang letaknya persis disamping St. Andrew’s Cathedral. Kali ini saya ingin ke Orchard Road. Yaa.. baru saja kemarin malam saya berjalan di Orchard Road selepas makan malam di Lucky Plaza, hanya saja kali ini saya ingin merasakan suasananya di sore hari. Turun di MRT Dhoby Ghaut, saya menyusuri Orchard Road, mulai dari Plaza Singapura dan berakhir di Tangs. Dari Tangs, saya kembali lagi Chinatown untuk kedua kalinya. Soalnya ketika jalan bareng Iwan dan Indri, ada beberapa tempat yang terlewat saya kunjungi. Hihi… niat!</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1834" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard_Afternoon.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Orchard_Afternoon.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Orchard Road di Sore Hari</div>
</div>
<p>Tempat pertama adalah Kuil <strong>Shri Mariamman</strong>. Shri Mariamman merupakan kuil Hindu tertua dan terbesar di Singapura. Di depan pintu masuk terdapat relief pada kubah kuil dengan patung figuratif dewa dewi dan binatang mitologis. Tempat kedua adalah kuil <strong>Buddha Tooth Relic</strong>. Bangunannya terlihat megah dengan dominasi warna merah dan emas.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1829" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown_Day4.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinatown_Day4.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Shri Mariamman &amp; Buddha Tooth Relic</div>
</div>
<p>Gerimis masih belum berhenti. Nyanyian perut semakin terdengar jelas ketika saya menapaki jalan kecil di Chinatown. Ah, saya tidak beruntung sore ini, restoran dan kios-kios kecil kebanyakan masih tutup di suasana tahun baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hari 5</strong></p>
<p>Hari ini adalah hari terakhir. Barang-barang sudah saya kemas dengan rapih. Tas terlihat menggembung dan membuat pundak tidak nyaman ketika saya coba menggendongnya. Saya sendiri tidak percaya, semua oleh-oleh yang saya beli mampu saya jejali ke dalam backpack yang pas-pasan itu. Hmm… sepertinya saya perlu membeli tas yang lebih besar. Mudah-mudahan saja tidak robek di tengah jalan.</p>
<p>Pagi ini saya manfaatkan untuk berwisata ke daerah <strong>Lakeside</strong>. Hasil googling ditemukan kalau disitu ada sebuah taman yang cantik, namanya <strong>Chinese &#8211; Japanese Garden</strong>. Untuk menuju ke sana sangat mudah, karena sudah ada MRT tepat di jalan masuk ke Chinnese Garden.</p>
<div class="img aligncenter size-full wp-image-1830" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>
	<div>Chinnese Garden</div>
</div>
<p>Saya sudah berada di Chinnese Garden jam 9, tapi suasananya terlihat sepi dan hanya ada satu petugas jaga di depan pintu masuk yang tertutup rapat. Saya coba tanya ke petugas tersebut, ternyata loket baru dibuka jam 10. Hihihi&#8230; kepagian. Hmm… tahu begitu, saya bisa sarapan dulu di Tiong Bahru Plaza.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1831" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden2.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Chinnese-Garden2.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Pagoda Chinnese Garden</div>
</div>
<p>Tepat jam 10, loket dibuka. Sepertinya saya adalah pengunjung pertama di tempat itu. Hihihi…  Di tengah perjalanan mengelilingi taman, tiba-tiba Indra, Dini dan Indri sudah berada di depan gerbang. Rupanya mereka menyusul saya. Chinnese Garden menutup perjalanan saya di Singapura. Kami makan siang bersama di Bugis Junction dan mereka menemani saya hingga Bandara Changi Terminal 3.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Terminal 3</strong></p>
<p>Ada pengalaman menarik ketika berada di Terminal 3. Ketika saya sedang duduk di ruang tunggu, datanglah seorang wanita sambil membawa map lalu meminta ijin untuk duduk disamping saya. Wanita tersebut memberi salam dan langsung mengenalkan diri sebagai petugas bandara Changi. Dia meminta ijin kepada saya untuk menjawab kuesioner mengenai pengalaman saya di bandara Changi. Saya pun menyanggupinya dan pertanyaan demi pertanyaan mulai diajukan, mulai dari kondisi bandara, keramahan petugas, kebersihan kamar mandi, akses internet, penunjuk arah sampai hal-hal detail seperti makan dimana, mahal atau murah, belanja apa. Woww! Kebanyakan jawaban saya Satisfied dan ada beberapa yang Very Satisfied. Di akhir kuesioner, petugas itu mengucapkan salam dengan ramah dan memberikan saya kenang-kenangan berupa pena ekslusif Changi. Yeaahh…</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1832" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Ballpoint.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/02/Changi-Ballpoint.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Changi Souvenir</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/singapore-city-explore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kawah Putih dan Situ Patengan</title>
		<link>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/</link>
		<comments>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 03:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vlado</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lifestream]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[kawah putih]]></category>
		<category><![CDATA[situ patengan]]></category>
		<category><![CDATA[travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikristanto.net/?p=1730</guid>
		<description><![CDATA[Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke Pangalengan, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.

Jumat pagi packing, masuk kantor seperti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Daerah Bandung Selatan memang mempunyai daya tarik tersendiri. Selain udaranya yang sejuk, dataran tinggi Bandung Selatan terlihat begitu cantik dan seksi. Setelah minggu lalu jalan-jalan ke <a href="http://adikristanto.net/hijaunya-pangalengan/">Pangalengan</a>, entah rejeki apa minggu ini, tiba-tiba sahabat saya Panji dan Riri mengajak saya ke Ciwidey. Yihaaa&#8230; yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah Strawberry dan Kawah Putih.<br />
<span id="more-1730"></span><br />
Jumat pagi packing, masuk kantor seperti biasanya, pulang kantor langsung menuju meeting point di halte busway ragunan. Sambil menunggu di pinggir jalan, di bawah pohon nangka yang lebat, tiba-tiba Mitsubishi Galant berwarna biru dongker berhenti dan kaca mobil pun terbuka&#8230; terlihat sesosok pria besar memanggil..&#8221;Masuk sob!&#8221;. &#8220;Heh.. ganti mobil sob?&#8221;, kata saya. Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Ini mobil kita sob?&#8221;. &#8220;Mobil kita gimana?&#8221;, jawab saya dengan penasaran. Dan lagi-lagi Panji pun menjawab dengan santainya &#8220;Iyaa&#8230; ini mobil dagangan kita&#8221;. What?!!</p>
<p>Saya dan Panji cukup lama bersahabat sejak kami masih sama-sama kost di depok. Karena kedekatan dan &#8220;kenekatan&#8221; kami, akhirnya kami mencoba untuk membuka bisnis jual beli mobil second. Nah, kalo tuh mobil belom laku, biasanya suka kami&#8230;(hmmm.. lebih tepatnya Panji) pake terlebih dahulu.</p>
<p>Tol Cikampek dan Cipularang cukup lancar di jumat malam. Perjalanan menuju Ciwidey kami tempuh dalam waktu 3 jam. Malam itu kami menginap di Kampung Pago yang berlokasi di Pasir Jambu. Kampung pago menyuguhkan suasana pegunungan yang asri dan sejuk. Tempatnya dibuat mirip seperti kampung di pegunungan. Yang membuat menarik di tempat ini adalah bangunan rumahnya yang unik ditambah dengan kolam ikan yang cukup besar di halaman depan. Saatnya beristirahat.</p>
<p>Saya kira, saya yang paling pertama bangun pagi diantara kami bertiga, ternyata Panji sudah jalan-jalan terlebih dahulu sambil membawa kamera mengelilingi Kampung Pago.  Semalem kami hanya melihat di halaman depan dan pagi ini kami menyusuri Kampung Pago hingga ke belakang yang jalannya sedikit menanjak. Ternyata Kampung Pago luas juga.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1740" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kampung_pago.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Penginapan Kampung Pago</div>
</div>
<p>Setelah sarapan dan packing, kami langsung tancap gas menuju Kawah Putih. Kami harus menempuh jarak lebih dari 10Km. Sepanjang jalan raya Ciwidey, banyak sekali pekarangan strawberry. Daya tarik tempat ini adalah kita bisa memetik strawberry langsung dari kebunnya atau biasa disebut &#8220;Strawberry Walk&#8221;.</p>
<p>Taraaa&#8230; akhirnya kami sampai juga di tempat wisata Kawah Putih. Karena Panji sudah pernah kesini terlebih dahulu, dia menyarankan untuk parkir mobil saja disini. Nantinya kami bisa naik angkutan menuju Kawah Putih. Biaya untuk masuknya 16 ribu saja&#8230; cring! Tapi.. tapi.. biaya masuk untuk mobil itu lhoo&#8230; 150 ribu. Hahaha&#8230; mahal gila! Itulah kenapa kami memutuskan untuk memarkir mobil di bawah saja, cukup 5 ribu&#8230; cring!</p>
<p>Perjalanan dari tempat parkir menuju tempat yang terletak pada ketinggian 2430 mdpl ini sekitar 15 menit dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan menanjak. Jalannya pun cukup sempit. Jadi kalo ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya mau nggak mau harus menepi.</p>
<p>Gerimis yang tidak henti-hentinya mengguyur menjelang siang, membuat udara disekitar Kawah Putih sangat dingin. Menyesal kami tidak bawa payung. Ojek payung disini cukup mahal, 7 ribu.. cring! dan dibayar dimuka. Kabut yang cukup tebal membuat pemandangan di sekitat kawah sangat terbatas. Air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di pinggiran danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna abu-abu yang ditumbuhi lumut. Kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha itu memiliki dinding kawah dan air yang berwarna putih.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1741" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawahputih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Kawah Putih</div>
</div>
<p>Ahh&#8230; rugi berat deh pokoknya, gara-gara hujan pula, niat kami untuk berfoto-foto disekitar kawah batal seketika. Kawah Putih yang berwarna kehijauan itu kali ini berubah menjadi benar-benar putih.. Hahaha. Satu-satunya objek yang bisa dinikmati di kawasan tersebut hanya kawah&#8230; yup cuma kawah&#8230; dan kondisi saat itu sedang hujan, berkabut&#8230; tapi anehnya tetap saja pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Ketika perjalanan pulang, saya mendengaar celotehan rasa kecewa pengunjung lain yang berkata &#8220;ah.. cuma gini doang?&#8221;. Sepertinya Kawah Putih akan indah dinikmati kalo musim kemarau atau cuaca cerah.. nggak recommended deh kalo musim hujan.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1757" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/kawah__putih.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Pintu Masuk Menuju Kawah Putih</div>
</div>
<p>Antara puas dan tidak puas menikmati Kawah Putih, kami turun kembali menuju parkiran dan perjalanan kami lanjutkan ke Situ Patengan (atau dibaca Situ Patenggang). Lokasinya tidak jauh dari Kawah Putih. Jadi, dengan mengunjungi satu lokasi, kami bisa menikmati 2 objek wisata sekaligus. Sebelum berangkat, saya, Panji dan Riri menyempatkan diri membeli strawberry di area parkir, 25 ribu per kilo.. cring!</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1746" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situpatengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Situ Patengan</div>
</div>
<p>Berdasarkan informasi yang tertera di lokasi wisata, situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, <em>pateangan-teangan</em> (artinya: saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri titisan Dewi yang besar bersama alam, yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lamanya. Karena cintanya yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganispun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/ Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka. Aihhh&#8230; romantis.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="img aligncenter size-full wp-image-1747" style="width:500px;">
	<a href="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg"><img src="http://adikristanto.net/wp-content/uploads/2012/01/situ_patengan.jpg" alt="" width="500" height="300" /></a>
	<div>Bukit Cinta</div>
</div>
<p>Untuk sampai ke Bukit Cinta kami harus menyewa perahu dengan harga sewa 20 ribu per orang. Karena terlalu lama menunggu penumpang lainnya, akhirnya perahu kami sewa untuk bertiga. Tawar menawar pun terjadi diantara Panji dan tukang perahu. Yang tadinya 100 ribu, akhirnya perahu bisa kami sewa 75 ribu untuk kami bertiga&#8230; yeaaay&#8230; cring! Si Akang Tukang Perahu (panjang bener ye namanya) ini ternyata hapal betul dengan legenda di daeraeh Situ Patengan. Sambil mengantarkan kami menuju Bukit Cinta, Si Akang Tukang Perahu juga sambil bercerita mengenai legenda Bukit Cinta.</p>
<p>Setelah mengitari Situ Patengan, kami beristirahat sebentar sambil menyantap ayam dan ikan bakar di pinggiran danau. Perjalanan masih jauh menuju jakarta&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikristanto.net/kawah-putih-dan-situ-patengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

