Batik, Warisan Bangsa Kita dan Dunia

Hari ini, 2 Oktober 2009, akhirnya Batik resmi dikukuhkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menjadi salah satu warisan budaya dunia (World Heritage). Dengan demikian maka batik menjadi bagian dari 76 warisan dunia dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda (Intangible Heritage) melalui keputusan komite 24 negara yang hingga saat ini sedang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik menyusul Keris dan Wayang yang telah lebih dulu menjadi warisan budaya dunia tak benda. Yang dimaksud dengan budaya tak benda adalah budaya hidup termasuk seni tari, bahasa, wayang, kerajinan tangan maupun adat istiadat. Sedangkan budaya benda berupa monumen atau candi.

Penjelasan batik Indonesia menurut portal UNESCO:

Indonesian Batik – The techniques, symbolism and culture surrounding hand-dyed cotton and silk garments known as Indonesian Batik permeate the lives of Indonesians from beginning to end: infants are carried in batik slings decorated with symbols designed to bring the child luck, and the dead are shrouded in funerary batik.

Himbauan bapak Presiden yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan pakaian batik sepertinya disambut dengan antusias. Ajakan tersebut mulai meluas dari milis-milis di internet sampe jejaring sosial seperti facebook. Bahkan ketika kemarin saya meeting di luar pun, temen-temen kantor tidak henti-hentinya saling mengingatkan untuk memakai batik.

Kalo saya sendiri, hari jumat adalah ‘Batik Day’. Awalnya sih agak malu-malu pake batik ke kantor, tapi lama kelamaan sudah menjadi kebiasaan. Apalagi di gedung tempat saya mengantor hampir semuanya menggunakan batik setiap hari jumat. Seperti ada yang kurang rasanya, kalo hari jumat nggak pake batik. Yang tadinya cuma ada du batik di lemari, sekarang dah ada lima. Dari lima baju batik, yang ketemu kembarannya baru satu, udah gitu satu gedung, ketemu di lift pula. Hahaha.

Yaah, walaupun penggunaan batik saat ini hanya sebatas sosialisasi, mudah-mudahan ‘gerakan’ ini bisa menimbulkan kembali kecintaan kita terhadap batik dan budaya bangsa kita tanpa harus menunggu budaya kita di klaim oleh bangsa lain.

Leave a Reply